Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 64 Sekarang Waktunya


__ADS_3

"Jadi kamu mau bahas soal apa?" tanya Ocha kepada Arvan.


"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu dan juga Dika karena waktu itu aku sempat suka sama kamu Cha, dan mungkin saat itu perasaan aku salah," kata Arvan.


"Seharusnya kamu itu gak pantes buat dimaafin, suka sama calon istri orang," sambar Dika.


"Diam ah, makan aja habiskan!" perintah Ocha kepada Dika.


Arvan yang melihat Dika kena omelannya Ocha pun hanya tersenyum dan menahan tawa.


Dika pun melanjutkan makannya walaupun sudah kenyang tetapi Dika tidak bisa menolak apa yang sudah dipesan oleh Ocha.


"Cha kamu maafin aku kan atas kejadian waktu itu aku nyatain perasaan sama kamu?" tanya Arvan.


"Aku udah lama maafin kamu, aku ngerti karena kamu lagi terpuruk. Lalu kamu mau bahas apa sekarang?" kata Ocha.


"Aku sengaja undang kamu kesini karena aku mau membicarakan hal penting dan ini menyangkut kamu juga, aku harap kamu gak marah," kata Arvan.


"Dasar, mereka asik ngobrol dan aku dijadikan nyamuk disini. Tahu gini aku gak usah antar Ocha, Ocha benar-benar tega." Batin Dika.


"Aku suka sama Mutiara Cha," kata Arvan blak-blakan.


Ocha kaget mendengarnya, begitupun dengan Dika karena Arvan menyatakan perasaannya langsung kepada kakaknya Mutiara.


"Waah gak bener, waktu itu kamu suka sama Ocha. Sekarang adiknya wah kacau, konsisten dong! Tapi menurut aku hati kamu sedang bermasalah," kata Dika kesal.


Ocha pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung dengan pernyataan Arvan yang menyukai adiknya.


Dengan cepat hati seseorang berubah hanya dengan melihat wajahnya saja. Cinta memang tidak bisa ditebak dari mana asalnya dan dari mana datangnya. Dia datang begitu cepat tanpa melihat siapa yang dicintainya.


Hati seseorang bukan untuk dipermainkan melainkan untuk diperjuangkan, sayangnya mencintai seseorang harus merasakan sakit terlebih dahulu baru akan mendapat kebahagiaan. Itulah ungkapan beberapa orang yang pernah merasakan Cinta.


Cinta bukan hanya untuk sesaat tapi untuk selamanya tapi bukan untuk di sakiti tetapi di pertahankan.


Salah dalam memilih cinta itu sama dengan kita memilih baju yang tidak sesuai dengan ukuran, rasanya tidak pas. Cinta akan datang jika kita yakin mereka adalah orang yang tepat. Tapi akan kecewa jika mereka orang yang salah.


Itulah cinta, cinta yang penuh dengan misteri, penuh dengan teka-teki, pengorbanan, perjuangan dan perubahan.


"Bukan itu maksud aku Dika, tolong jangan salah faham dulu. Cha aku tulus cinta dan sayang sama Mutiara, aku ingin Mutiara jadi pendamping hidup aku," kata Arvan.

__ADS_1


"Jadi ini yang penting menurut kamu? Dulu kamu pernah suka sama aku loh Van, sekarang sama Mutiara. Adik aku bukan untuk pelampiasan!" kata Ocha kesal.


"Aku gak mungkin jadiin Mutiara pelampiasan, ini tulus dari hati aku Cha. Aku ingin menikah dengan Mutiara," kata Arvan.


"Bukan aku yang menentukan, tapi Mutiara sendiri! Kamu..." Ocha kehabisan kata-kata dan benar-benar tidak bisa memberi kan jawaban lagi.


"Udahlah Ocha kita pulang sekarang! Gak usah dengar Arvan, dia gak bener," kata Dika yang sekarang memegang tangan Ocha dan mengajaknya pulang.


"Ocha tunggu!" kata Arvan.


Ocha dan Dika pun berjalan keluar Cafe dan masih tidak menyangka Arvan bisa suka dengan perempuan secepat itu. Apa maksudnya.


Ocha dan Dika pun menuju ke mobil karena hendak pulang, tetapi Arvan mengejar Ocha dan memohon untuk mengizinkan Arvan bersama Mutiara.


Ocha pun tidak bisa memberikan izin kepada Arvan karena masih tidak menyangka jika Arvan menyukai adiknya.


Ocha dan Dika pun akhirnya pergi meninggalkan Arvan.


"Arvan itu bener-bener yah, kelewatan banget. Dulu sama kamu sekarang Mutiara," cerocos Dika.


"Kamu diam! Aku pusing," kata Ocha.


"Cha aku serius sama Mutiara, aku mohon kamu ngerti Cha," batin Arvan setelah kepergian Ocha.


"Kirain mau nyatain perasaannya lagi sama Ocha, ternyata Arvan sekarang suka sama Mutiara yang benar aja. Cepet banget berpaling," batin Dika.


Melihat Ocha yang gelisah dan hanya diam, Dika menjadi khawatir karena mungkin saat ini Ocha sedang memikirkan ucapannya Arvan yang menyukai adiknya.


Tidak disangka ternyata perasaan seseorang bisa berubah dengan cepat seiring berjalannya waktu dan tanpa bisa ada yang melarang.


Kini Ocha telah sampai di rumah dan segera turun dari mobil.


"Makasih ya kamu udah anterin aku pulang," kata Ocha saat turun dari mobil dan hendak menutup pintu mobil.


"Cha, tunggu!" kata Dika.


"Ia, kenapa?" kata Ocha.


"Nikah yuk!" kata Dika.

__ADS_1


"Hah?" kata Ocha yang langsung melihat ke arah Dika.


"Ia... ayo kita nikah," kata Dika lagi.


"Kamu ceritanya lagi ngelamar aku?" kata Ocha.


"Ia apapun itu namanya, intinya aku mau kita nikah secepatnya," kata Dika lalu turun dari mobil dan menghampiri Ocha.


Ocha yang mendengar pernyataan dari Dika pun kaget dan tidak menyangka akan secepat itu Dika mengajaknya menikah.


Dika pun menggandeng tangan Ocha dan memasuki rumah Ocha untuk bertemu dengan kedua orang tuanya Ocha.


Sesampainya didalam rumah, Pak Fahri dan Ibu Lina pun heran melihat Dika dan Ocha.


"Kalian ada apa?" tanya Pak Fahri


"Ayo duduk dulu Dika," suruh mamahnya Ocha.


Dika dan Ocha pun duduk bersebelahan. Dika yang telah menunggu momen ini pun akhirnya telah sampai juga.


Dika pun meminta izin kepada orang tua Ocha untuk menikahi Ocha karena jika di tunda-tunda lagi takutnya akan tertunda lagi apa yang sudah di rencanakan.


Maka dari itu, Dika ingin segera menikahi Ocha agar mereka bisa bersatu dalam ikatan yang halal dan tidak ada lagi yang mengganggu hubungan keduanya.


Orang tua Ocha yang mendengarnya pun ikut bahagia dan menyetujui niat baik Dika.


Nanti malam Dika akan datang bersama Kedua orang tuanya untuk menentukan tanggal pernikahan yang cocok untuk Dika dan Ocha.


Setelah selesai, Dika pun pamit pulang kepada keluarga Ocha. Ocha kini mengantar Dika sampai ke depan pintu rumahnya.


"Makasih ya kamu udah ngelamar aku," kata Ocha yang masih tidak percaya dengan ini semua. Matanya Ocha pun berkaca-kaca karena tidak mampu menahan kebahagiaan yang selama ini dia tunggu.


"Harusnya aku yang berterima kasih sama kamu karena kamu sudah menunggu aku dengan sabarnya. Maafin aku karena aku selalu buat kesalahan sama kamu," kata Dika.


"Sebenarnya aku belum maafin kamu, tapi melihat kesabaran dan kegigihan kamu aku udah maafin kamu," kata Ocha sambil tersenyum.


"Makasih ya... ya udah kalo gitu aku pamit pulang ya," kata Dika.


Dika pun pulang dan segera memberitahukan kepada Orang tuanya soal tadi yang dia bicarakan dengan keluarga Ocha.

__ADS_1


__ADS_2