
"Dika..." kata Elsa kaget.
"Kayaknya kamu lupa yah kalo di Jakarta itu ada aku El, pasti kamu gak nyangka kalo aku bakalan kesini," kata Dika.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Elsa.
"Kamu lupa? Aku selalu tanyain Ocha sama kamu bertahun-tahun tapi kamu selalu bilang gak tau, sekarang aku disini dan kamu gak bisa ngelak lagi," kata Dika sambil berjalan pelan dan meilhat-lihat pakaian di butik Elsa.
"Seperti yang kamu tahu Elsa aku sangat mencintai Ocha, dan kamu tahu aku berpisah sama dia selama tiga tahun mungkin hampir empat tahun. Sekarang aku ingin tau dimana Ocha," kata Dika.
"Aku... Aku," kata Elsa.
Tiba-tiba Disa datang sambil merangkak dan merengek karena minta di gendong oleh Elsa, Elsa pun menggendong Disa.
Elsa yang sedang repot-repotnya mengurus Disa pun tidak terlalu mendengarkan perkataan Dika. Elsa meminta Dika untuk pergi dan membicarakan soal Ocha nanti.
Dika pun mengerti karena melihat kondisi Elsa yang sedang repot oleh Disa. Dika pun melangkah pergi meninggalkan Elsa dan Disa.
Belum sempat mendengar penjelasan Elsa, Dika pun keluar. Karena tidak mungkin menanyakan Ocha saat Elsa sedang repot.
Dekta pun pulang dari kantor langsung datang ke butik dan berhadapan dengan Dika karena Dika masih ada di depan pintu luar butik.
"Tunggu, kamu suaminya Elsa kan?" tanya Dika menghentikan langkah Dekta.
"Ya..." jawab Dekta.
"Bisa kita bicara sebentar!" kata Dika mengajak Dekta.
"Ya bisa," kata Dekta mengiyakan.
Lalu Dika dan Dekta pun pergi ke Cafe di dekat butik untuk membicarakan apa yang ingin dibicarakan oleh Dika.
"Maaf, sebelumnya ada perlu apa ya kamu mau bicara denganku?" tanya Dekta.
"Begini, apakah kamu tau temannya Elsa yang bernama Ocha?" tanya Dika.
"Oh Ocha, ya aku tau, tapi kamu siapa nya?" tanya Dekta.
"Saya Dika, dulu saya teman satu kelas dengan Ocha dan juga Elsa, saya mau menanyakan apakah kamu tau Ocha ada dimana?" tanya dika.
__ADS_1
"Ohh begini, saya tau dimana Ocha, tapi Ocha pernah bilang pada Elsa bahwa dia tidak ingin keberadaannya ada yang tau selain Elsa. Jadi saya pun akan turuti kemauannya Ocha demi Elsa." Jelas Dekta.
Dika menjelaskan semua apa masalahnya kepada Dekta agar Dekta memberitahu dimana Ocha, tetapi Dekta tidak ingin memberitahu keberadaan Ocha atau nomor ponselnya.
Dika memohon kepada Dekta dan membujuk Dekta supaya memberitahu dia.
Tidak tega melihatnya, akhirnya Dekta memberitahu nomor ponselnya Ocha tetapi tidak memberitahu alamatnya sekarang.
Dengan senang Dika menerima nomor Ocha, karena memang sudah sejak lama Dika menginginkan nomor Ocha agar dia bisa menghubungi Ocha.
"Ya sudah saya banyak urusan, kamu uruslah masalahmu dengan Ocha dan segera selesaikan. Aku berharap kalian bisa berbaikan kembali," kata Dekta.
"Terima kasih Dekta, aku sangat senang. Akan aku hubungi Ocha secepatnya, sekali lagi terima kasih kamu telah membantuku." Ucap Dika.
Dekta pun menepuk pundaknya Dika dan berlalu dari hadapan Dika karena pembicaraan mereka sudah selesai.
Merasa bahagia karena akhirnya Dika mendapatkan apa yang di inginkannya. Lalu Dika pun bergegas pulang dan segera menghubungi nomor yang di berikan Dekta kepadanya.
Beberapa menit tidak ada jawaban dari Ocha, tapi Dika terus mencoba untuk menghubunginya.
Galang yang sedang menemani Ocha melihat ponsel kakaknya berdering dan tidak ada namanya. Galang penasaran siapa yang menelepon, berhubung Ocha sedang ada rapat dan ponselnya dititipkan pada Galang, Galang pun mengangkat teleponnya.
"Halo, maaf dengan siapa ya?" tanya Galang.
"Oh, ia betul tapi kak Ocha sedang rapat tidak bisa di ganggu," kata Galang.
"Oh begitu, ya sudah tolong sampaikan kalo aku menelepon Ocha ya!" kata Dika.
"Baiklah." Galang pun menutup telepon dari Dika.
Tak berapa lama, Ocha telah selesai dari rapatnya lalu Galang memberitahukan kepada Ocha bahwa Dika menghubungi dia. Ocha pun kaget mendengarnya kenapa bisa Dika menghubunginya setelah sekian lama.
Ocha dan Galang pun akhirnya pulang ke Yogyakarta karena urusan di Bandung telah selesai. Diperjalanan, Ocha terus memikirkan Dika dan tidak menyangka dia masih mengingatnya.
"Kak lihat deh ada Peuyeum, beli yuk kak buat oleh-oleh mumpung di Bandung." Kata Galang sambil senyum.
Ocha yang sedang menyetir pun langsung melihat ke arah penjual Peuyeum Bandung, lalu Ocha menuruti kemauan Galang dan membeli peuyeum untuk Galang dan untuk oleh-oleh.
"Eummm enak banget," kata Galang sambil memakan Peuyeum yang sudah di belinya.
__ADS_1
"Kamu kayak gak pernah beli aja deh." Kata Ocha sembari tertawa.
Ocha senang meledek Galang karena Galang salah satu keluarga yang selalu banyak bercanda dan ngobrol, berbeda jauh dengan Mutiara.
Dika masih memikirkan Ocha antara bahagia dan khawatir, Dika bahagia karena dia mendapatkan nomornya Ocha dan khawatir karena dia takut Ocha marah dan tidak mau lagi berbicara dengannya.
Di kamarnya, Dika melihat ponselnya berjaga-jaga. Takut Ocha menghubunginya kembali dan tidak terangkat oleh Dika.
Sampai malam Dika memandangi ponsel nya, tetapi tidak ada satupun panggilan yang masuk ke ponselnya membuat Dika frustasi. Akhirnya Dika memberanikan diri untuk menghubungi Ocha kembali.
Kring kring kring..
Panggilan masuk dari nomor tak dikenal membuat Ocha berfikir, nomor itu pasti dari Dika. Dengan jantung berdebar dan perasaan tidak karuan, Ocha pun mengangkat teleponnya.
Setelah tersambung, Dika dan Ocha tidak ada yang mengawali pembicaraan, mereka hanya diam tanpa kata.
Lalu Dika memulai pembicaraan dengan Ocha karena memang yang mempunyai maksud adalah Dika.
"Halo Ocha, kamu... kamu apa kabar Cha?" tanya Dika.
"Aku baik," kata Ocha singkat.
"Ehm.. Apa yah Cha aku jadi bingung mau bilang apa," kata Dika canggung.
Ocha pun hanya tersenyum mendengar Dika.
"Kamu.. Kamu," kata Dika ragu.
"Apa dika? Kabar kamu bagaimana?" tanya Ocha.
"Aku baik Cha," kata Dika.
"Bagus deh kalo kamu baik-baik aja, maaf banget aku gak bisa lama-lama ini udah malam juga. Besok aku ada urusan soalnya," jelas Ocha.
"Tunggu... Tunggu Ocha jangan dulu dimatikan," kata Dika.
Dika benar-benar bingung harus memulai pembicaraan dari mana kepada Ocha. Kesalahannya benar-benar mengalahkan keberaniannya sampai Dika tidak berani berkata apapun pada Ocha.
"Cha aku mau minta maaf sama kamu, kesalahan aku sama kamu itu begitu besar Cha sampai aku membuat kamu terluka," kata Dika.
__ADS_1
"Itu masalah udah lama sekali Dika, kamu tidak perlu minta maaf. Semuanya udah berlalu. Lagi pula aku memaafkanmu jauh sebelum kamu minta maaf," kata Ocha.
Dika tidak menyangka Ocha begitu baik sampai Dika kehabisan kata-kata untuk Ocha, Dika merasa tidak enak kepada Ocha karena telah menyakitinya dan sekarang datang kembali di kehidupannya.