
"Gak usah liatin aku gitu," kata Ocha berkata sambil memejamkan matanya karena Ocha tahu bahwa Dika sedang memperhatikannya.
"Aduh katahuan deh aku perhatiin Ocha," batin Dika.
"Pasti kamu lagi mikir kan, aku ketahuan perhatiin Ocha, ya kan?" kata Ocha masih memejamkan matanya.
Dika yang ketahuan memperhatikan Ocha pun langsung memalingkan wajahnya dan mengusap kasar wajahnya.
"Lebih baik kamu buka mata kamu deh," kata Dika.
Ocha pun membuka matanya dan melihat langit-langit kamar rawatnya tanpa melihat wajah Dika.
"Kamu ngapain kesini? Kamu tinggalin Heln sendiri disana," kata Ocha.
"Bisa gak, gak usah mikirin orang lain terus? Kamu sakit masih aja mikirin orang lain," kata Dika.
"Aku gak mikirin orang lain, aku cuma bilang kamu kenapa tinggalin Heln sendiri?" kata Ocha.
"Aku gak tinggalin Heln, Ocha! Heln udah bersama ibunya, udah gak usah bahas Heln disini!" kata Dika.
Tak lama, Galang pun datang dengan membawa bakso dan kebetulan Galang tidak membeli lebih dan tidak tahu bahwa Dika sudah sampai disini.
"Kak Dika udah sampai disini, aduh maaf banget kak kirain aku belum sampai, jadi aku gak beli bakso buat kakak," kata Galang.
"Gak papa, kamu makan aja," kata Dika.
"Oh ia Dika, kabar mama kamu gimana disana?" tanya Ibu Lina.
"Baik tante, katanya nanti mau kesini," kata Dika.
"Oh gitu, ya udah ditunggu kedatangannya. Ayo makan sama-sama Ka," ajak Ibu Lina.
"Ia tante," kata Dika lalu melihat ke arah Ocha lagi.
Dika pun diam melihat Ocha yang sedari tadi tidak melihat ke arahnya membuatnya terus memandang wajah Ocha walaupun dari samping.
"Kamu gak berubah masih sama," kata Dika yang menopang dagunya dengan tangannya.
"Apanya?" tanya Ocha.
"Wajah kamu, senyum kamu, juteknya kamu, semua masih sama," kata Dika.
"Lebih baik kamu pulang dan tinggalin aku Ka, kamu gak bisa tinggalin Heln disana," kata Ocha.
Ternyata diluar ruang rawat ada yang memperhatikan Ocha dan juga Dika, yaitu Dokter Arvan. Dokter Arvan jadi teringat almarhumah Meisya setiap kali melihat Ocha, tetapi Dokter Arvan tersadar bahwa pada kenyataannya Ocha dan Meisya itu orang yang berbeda.
"Ocha, aku harap kamu stop bicara tentang Heln! Aku disini untuk kamu," kata Dika.
"Tapi adanya kamu disini membuat Heln dan mamahnya..." kata Ocha terputus.
__ADS_1
"Kamu gak perlu khawatir, hari ini, besok, detik ini aku hanya milik kamu seorang. Dan kamu milik aku seorang," kata Dika.
Ocha pun melihat Dika dan heran kenapa Dika berbicara seperti itu, padahal Heln adalah calon istrinya sekarang dan memang Dika harus menikah dengan Heln demi keselamatannya.
Ocha pun hanya diam dan mendengarkan apa kata Dika dan tidak banyak kata. Perlahan Ocha pun memejamkan matanya dan setelah itu terlelap.
Setelah Ocha terlelap, keluarga Ocha pun berbincang dengan Dika dan membicarakan soal Dika dan Heln. Dika pun menjelaskan bahwa Heln sudah menerima keadaannya dan Dika sudah bertanggung jawab sepenuhnya untuk biaya pengobatan Heln.
Orang tua Ocha pun mengerti. Sekarang Dika kembali untuk Ocha dan akan segera melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi.
Pagi harinya, Ocha sudah di perbolehkan pulang. Dika membantu memapah Ocha, sedangkan keluarga Ocha sudah pulang duluan karena harus beristirahat. Dika dan Ocha masih di Rumah Sakit karena harus mengambil obat.
"Kamu duduk dulu disini ya!" kata Dika kepada Ocha.
"Kamu mau kemana?" tanya Ocha.
"Aku mau ambil obat ya," kata Dika lalu membantu Ocha duduk di kursi tunggu dan Dika pun pergi mengambil obat.
Setelah Dika pergi, Dokter Arvan melihat Ocha yang duduk sendiri lalu dihampirinya Ocha dan duduk di samping Ocha.
"Pagi..." sapa Dokter Arvan.
"Pagi Dokter, aku sudah dengar dari Mutiara bahwa Dokter yang sudah menolong aku dan obatin aku, terima kasih Dokter," kata Ocha.
"Ia, sama-sama. Boleh saya mengatakan sesuatu?" kata Dokter Arvan.
"Silahkan!" kata Ocha.
"Maafkan saya, karena saya sudah salah," kata Dokter Arvan.
"Kok Dokter minta maaf, Dokter kan gak salah apa-apa," kata Ocha.
"Aku minta maaf karena sejak pertama kali saya lihat kamu, saya suka sama kamu dan kamu mengingatkan saya dengan almarhumah calon istri saya. jika boleh, saya ingin meminta izin untuk mencintai kamu. Saya minta maaf sudah bilang seperti ini sama kamu dan terlalu buru-buru," kata Dokter Arvan.
Ocha yang mendengar pernyataan Dokter Arvan pun terbelalak kaget dan tidak menyangka sejujur itu Dokter Arvan kepada Ocha.
Dika yang mendengar Dokter Arvan menyatakan perasaannya kepada Ocha pun langsung menghampiri Ocha dan Dokter Arvan.
Dika pun mengajak Ocha pulang dan tidak menghiraukan Dokter Arvan yang menunggu jawaban dari Ocha. Ocha pun mengikuti Dika yang mengajaknya pulang.
Dika membantu Ocha masuk ke dalam mobil, ternyata Dokter Arvan mengikuti Ocha sampai keluar Rumah Sakit.
"Dokter itu ngikutin kamu tuh Cha," kata Dika berbisik dan merasa cemburu.
Ocha melihat kebelakang setelah masuk ke dalam mobil, lalu Dika pun menutup pintu mobil itu dan hendak pergi.
Terlihat dari raut wajah Dika, cemburu, marah dan kesal tetapi Dika tetap diam tidak berkata dan fokus menyetir.
Ocha hanya diam melihat Dika, karena Ocha pun tahu bahwa sekarang Dika sedang cemburu. Sesampainya di rumah, Dika membantu Ocha. Ocha pun beristirahat dan duduk di kursi.
__ADS_1
Pak Fahri membawakan cemilan untuk Dika dan Ocha sedangkan Ibu Lina membawakan air minum untuk keduanya.
"Tante, boleh Dika membantu merawat Ocha?" kata Dika.
Ibu Lina pun memandang Ocha, sedangkan Ocha hanya diam menunduk tidak melihat mamahnya.
"Boleh, tapi kenapa kalian saling diam, Apa ada masalah?" tanya Ibu Lina.
"Enggak tante, Ocha kan belum minum obat biar Dika yang buat sarapan untuk Ocha ya," kata Dika.
"Buburnya sudah tante siapin di meja, tinggal ambil aja ya," kata Ibu Lina.
Dika pun mengambil bubur yang telah disediakan di meja makan dan dibawakan kepada Ocha, Dika pun membantu menyuapi Ocha sedangkan Ocha terus saja menunduk dan tidak melihat Dika sedikitpun.
"Gak biasanya kayak gini, apa yang salah sama mereka? Tadi pagi baik-baik aja tapi sekarang..." batin Ibu Lina.
"Ada yang aneh dengan mereka, akan aku tanyakan nanti," batin papahnya Ocha.
Setelah selesai membantu Ocha, Pak Fahri mengajak Dika keluar untuk berbicara dengannya dan menanyakan apa yang terjadi antara Ocha dan Dika.
Sementara Ocha, sekarang sudah masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat.
"Kalau om boleh tahu, ada masalah apa kamu sama Ocha?" tanya Pak Fahri.
"gak ada apa-apa kok om, aku sama Ocha baik-baik saja," kata Dika.
"Jangan pernah bohong sama om, katakan saja apa yang terjadi diantara kalian!" kata Pak Fahri.
"Di Rumah Sakit tadi, Dokter yang menangani Ocha bilang, bahwa dia menyukai Ocha," kata Dika.
"Apa?" kata Pak Fahri.
"Ia om, tapi Dika serahkan semuanya kepada Ocha. Mana yang baik untuk Ocha aku akan terima," kata Dika.
Pak Fahri mengusap wajahnya kasar. Mengapa bisa serumit ini kisah cinta Dika dengan putrinya dan ada saja yang ingin memisahkan cinta mereka.
Pak Fahri pun tak habis fikir mengapa bisa seperti ini, Pak Fahri akan memikirkan yang baik untuk putrinya dan juga Dika.
Tak lama, orang tua Dika pun datang dan di sambut oleh keluarga Ocha. Lalu kemudian Ibu Uma menjenguk Ocha dan masuk ke dalam kamarnya.
"Ocha..." kata Ibu Uma yang langsung menghampiri Ocha dan duduk di samping Ocha.
"Tante..." kata Ocha.
"Kamu sakit apa sayang?" tanya Ibu Uma sambil memegang tangannya Ocha.
"Biasa tante maagnya Ocha dan anemia Ocha kambuh," kata Ocha.
"Tante khawatir sekali sama kamu, makanya tante suruh Dika langsung datang kesini. Kamu udah gak marah kan sayang?" tanya Ibu Uma.
__ADS_1
"Ocha gak pernah marah kok tante," kata Ocha.
Ibu Uma pun mencium keningnya Ocha dan bercerita tentang Dika serta mengatakan bahwa antara Dika dan Heln tidak ada hubungan apa-apa. Dika telah bertanggung jawab kepada Heln dan membiayai seluruh pengobatan Heln.