Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 81 Dia Kembali Juga.


__ADS_3

Malam ini hujan turun sangat deras, karena bulan ini sudah memasuki musim penghujan. Diluar sangat sepi dan tidak ada orang yang lewat, biasanya banyak orang berlalu lalang tetapi kali ini jalanan sangat sepi dan hanya ada suara rintik hujan.


Hari ini Ocha dan Dika tidak jadi berangkat ke Yogyakarta karena insiden tadi siang bersama Abyaz. Sekarang Ocha dan Dika sedang menonton televisi bersama dan Ocha bersandar di pundaknya Dika sambil memeluknya dari samping.


“Kamu lapar gak sih?” tanya Dika kepada Ocha.


“Enggak, kamu emang lapar ya?” tanya Ocha kepada Dika sambil memandang wajah suaminya itu dan masih tetap memeluknya dari samping.


“Hmm ia kayaknya, tapi aku pengen Mie ayam. Kayaknya enak ya malam-malam gini makan mie ayam. Tapi Mie ayam si Mas.” Kata Dika.


“Diluar kan lagi hujan, mau banget ya?” tanya Ocha kembali.


Dika pun berfikir emang benar diluar kan sedang hujan tidak mungkin sekarang beli mie ayam, yang ada nanti kehujanan. Dika memikirkan ingin makan apa selain mie ayam.


Ocha masih melihat wajah suaminya yang terlihat sedang berfikir, kasihan juga yang ingin mie ayam seperti ngidam saja fikir Ocha. Ocha pun bangkit dari duduknya dan mengajak Dika ke dapur karena malam ini papah mamah mertuanya sudah tidur jadi harus ditemani ke dapur.


“Kamu mau apa ajakin aku ke dapur?” tanya Dika.


“Aku mau masak buat kamu, masa ia sih lapar tapi gak makan,” kata Ocha. “Mau aku masakin apa?” tanya Ocha sambil membuka kulkas yang sudah penuh dengan stok masakan.


“Mie instan aja deh sayang,” kata Dika.


“Loh kok mie instan?” tanya Ocha.


“Biar romantis kayak di Korea,” jawab Dika sambil tertawa karena melihat wajah Ocha.


Ocha pun menyeduh mie yang diinginkan suaminya itu, Ocha menyeduh mie instan dua bungkus untuk mereka berdua dan Dika membantu istrinya menyiapkan mangkuk untuk wadah mie yang sedang di seduhnya.


Setelah selesai menyeduh mie, mereka makan bersama dan menikmati lezatnya mie yang sudah mereka buat bersama.


Pagi ini, Dika sudah siap untuk berangkat ke kantor. Sebelum ke kantor, seperti biasa mereka sarapan bersama dan Ocha menyiapkan bekal makan untuk suaminya makan siang di kantor agar tidak makan diluar.

__ADS_1


“Harusnya kamu gak usah repot-repot menyiapkan bekal untuk aku sayang,” kata Dika.


“Gak papa sekali-sekali kan,”


Dika pun menurut kepada Ocha dan memasukan bekal makannya kedalam tas untuk dibawa ke kantor. Dika berniat setelah pulang dari kantor untuk mengajaknya jalan-jalan mumpung cuaca sedang cerah tidak hujan seperti kemarin malam.


Mendengar hal itu, Ocha senang dan mengiyakan ajakan suaminya untuk mengajaknya jalan-jalan. Setelah selesai semuanya, Dika pamitan kepada Ocha dan juga kedua orang tuanya karena hendak pergi ke kantor.


Hari ini Ocha tidak ikut karena ingin diam di rumah. Jika pun ikut, Ocha hanya duduk dan melihat berkas kantor milik Dika. Sebenarnya Ocha ingin membantu suaminya di kantor, tetapi urusannya di Resto juga masih ia pegang jadi tidak ingin menambah kegiatan lain. Berhubung mereka punya bisnis sendiri-sendiri, mereka pun fokus dengan bisnis yang sedang mereka jalani.


Di kantor tempat Mutiara bekerja, terlihat Wira yang sedang melamun memikirkan masalah yang sedang menimpanya. Wira merasa bersalah dan merasa bingung untuk saat ini, bagaimana cara menjelaskannya kepada Mutiara padahal Mutiara sangat baik terhadapnya.


Sedangkan Mutiara berkali-kali menelepon Wira tetapi tidak ada jawaban darinya. Mutiara penasaran apa yang terjadi, tidak biasanya Wira seperti ini dan tidak mengangkat teleponnya. Mutiara akan menanyakannya langsung setelah pulang dari cabang.


Di tempat lain, ada yang memperhatikan Mutiara yaitu orang suruhannya Dokter Arvan dan mereka sedang menghubungi Arvan untuk memberitahukan apa yang sedang dilakukan Mutiara saat ini.


“Lagi ngapain sembunyi disitu?” tanya Galang. kepada dua orang suruhannya Arvan yang kebetulan memergoki sedang memperhatikan kakaknya.


Mereka semua membawa dua orang tersebut ke dalam Resto dan mengintrogasi mereka berdua. Anak buah Arvan tidak bisa melawan karena mereka sudah dikepung warga karena bersikap aneh dan mencurigakan.


“Kalian siapa? Memperhatikan Mutiara seakan-akan kalian punya niat jahat gitu,” kata Galang.


“kita... kita...” jawab salah satu orang suruhan itu.


“Kita apa?” bentak Galang.


“Kita... kita anak buahnya Arvan, kita kesini disuruh sama dia bos kita untuk mengawasi Mutiara,” kata orang suruhan tersebut mengaku.


Galang dan Mutiara pun setelah mendengar pengakuan dari orang suruhan itu, bergegas siap-siap untuk pulang dan ingin rasanya segera menemui Arvan. Orang suruhan itu pun dilepaskan oleh Galang karena Galang sudah memiliki identitas mereka jadi jika mereka berbuat macam-macam, maka Galang akan dengan mudah melaporkan mereka kepada polisi.


Galang dan Mutiara berterima kasih kepada warga dan juga pelanggannya karena sudah membantunya untuk menangkap dua orang mata-mata tersebut.

__ADS_1


Setelah itu, Galang dan Mutiara segera pulang.


“Gila ya, Arvan sampai nekat kayak gitu, kan jadi parno sendiri,” oceh Mutiara di dalam mobil.


“Heem, udah lah gak ada yang perlu dikhawatirkan, ada aku disini,” kata Galang. “Oh ia kabar Wira gimana?” tanya Galang lagi.


“Enggak tau deh dia gak ada kabar, dihubungi juga gak bisa,” kata Mutiara.


“Ya udahlah putusin aja kenapa sih, aku jamin ya Kak Mut, Wira itu bukan orang yang baik,” kata Galang.


“Kamu nih, gak mau ah,” kata Mutiara.


Dika sudah sampai di kantor dia langsung masuk ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang siang karena sudah tidak sabar untuk mengajak jalan-jalan istrinya.


Di kantornya sudah ada beberapa orang karyawan baru yang masuk kerja karena dua hari yang lalu mereka mereka melakukan interview. Bagi yang lolos, mereka langsung bisa menandatangani kontrak kerja, dan kebetulan kantor Dika sedang membutuhkan beberapa tambahan karyawan.


Tok... tok...tok.


Dekta mengetuk pintu ruangannya Dika dan dipersilahkan masuk olehnya. Dekta pun masuk ke ruangannya Dika dan memberikan berkas dan data karyawan baru yang harus Dika lihat.


Dika pun menandatangani berkas tersebut dan melihat data karyawan dan disana tercantum nama yang sudah tidak asing lagi baginya.


Dika menyuruh Dekta untuk memanggil karyawan baru itu ke ruanganya. Dekta pun menuruti perintah Dika untuk memanggilnya.


Tak berapa lama, Dekta memanggil karyawan yang lolos seleksi dan mengantarnya ke ruangan Dika.


“Sini masuk!” ajak Dekta.


Karyawan baru itu pun masuk ke ruangannya Dika atas ajakannya Dekta. Karyawan baru itu menundukkan kepalanya karena dia sudah tau bahwa Dika pasti akan memanggilnya ke ruangannya.


“Ternyata kamu...” kata Dika.

__ADS_1


__ADS_2