Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 61 Menunggu


__ADS_3

Pagi harinya, Ocha sudah siap untuk pergi ke Resto. Kini Ocha sedang melihat dirinya di cermin. Memegang wajahnya yang masih memar dan dirinya yang masih memakai kursi roda.


Sedangkan Ibu Lina yang turun dari kamar melihat Ocha yang sudah berdiri di depan cermin kaget karena putrinya itu sudah siap dan rapi padahal Ibu Lina wanti-wanti agar Ocha tetap beristirahat di rumah selama masa pemulihan.


Ocha berganti kamar dengan mamahnya karena kamar Ocha di atas dan tidak bisa untuk naik karena Ocha masih menggunakan kursi roda maka Ibu Lina dan Pak Fahri berganti kamar dengan kamar Ocha.


"Ocha, kamu mau kemana? Udah rapi aja," tanya mamahnya yang langsung menghampiri Ocha.


"Mamah, Ocha mau ke Resto aku udah kangen sama Resto mah," kata Ocha.


"Sayang, kamu kan tau kamu gak boleh terlalu cape. Mamah itu takut kamu kenapa-kenapa, itu kaki kamu juga kan belum sembuh kamu diam aja ya! Agar cepat sembuh," kata mamahnya panik.


"Mamah, sayangnya Ocha. Aku udah baik-baik aja kok, Galang udah ada di depan nungguin aku mah. Udah ya aku berangkat dulu, dah mamah." Kata Ocha lalu berlalu dari hadapan mamahnya dan menghampiri galang yang sudah di depan rumah menunggu Ocha.


Tak lama, sebelum Ocha dan Galang berangkat, Ibu Lina datang lalu menjewer telinganya Galang secara tiba-tiba. Karena kesal kepada Galang.


Galang pun kesakitan karena mamahnya menjewernya atas kesalahan yang telah ia perbuat untuk mengantar Ocha ke Resto.


"Mamah, mamah udah mah kasian Galang. Galang itu gak salah mah," kata Ocha menghentikan aksi mamahnya.


"Mamah itu heran deh sama kamu kakaknya masih sakit kamu malah mau anterin ke Resto gimana sih?" kata mamahnya kesal.


"Mamah itu harusnya salahin Kak Ocha, bukan Galang. Mamah kan tau kau Kak Ocha keras kepala dan susah dibilangin," kata Galang.


"Tau ah, kalian sama aja!" kata mamahnya lalu berlalu pergi karena gagal mencegah kepergian Ocha untuk tidak pergi ke Resto.


Ocha dan Galang pun tidak menghiraukan mamahnya yang marah, lalu mereka berdua pun pergi ke Resto karena Ocha sudah janji bahwa hari ini akan pergi ke Resto untuk melihat keadaan Resto dan karyawan.


Di perjalanan, ponsel Ocha terus berdering ada panggilan masuk dari Dika berkali-kali.


"Akhirnya dia telepon juga," batin Ocha.


"Angkat dong kak berisik tau," perintah Galang kepada Ocha.


Plak!

__ADS_1


Satu geplakan mendarat ditangannya Galang yang main memerintah Ocha begitu saja membuat Galang meringis dan hanya tersenyum


Akhirnya Ocha mengangkat telepon tersebut dan hanya mendengarkan Dika berbicara dari seberang sana.


"Hallo cha, Ocha kamu gimana kabarnya? Aku dengar kamu udah pulang dari Rumah Sakit," kata Dika.


"Udah tau malah nanya, ini pasti galang nih yang kasih tau. Sebel banget tuh anak," batin Ocha.


"Aku tau kamu masih marah sama aku Cha, tapi kamu harus tau aku sayang sama kamu. Aku mohon kamu bicara Cha!" kata Dika.


Disambarnya telepon Ocha dari tangannya oleh Galang yang membuat Ocha kaget karena tingkah Galang.


"Kak Dika ini aku Galang. Kak Ocha gak bakalan bicara kak kayaknya dia masih ngambek deh sama kakak, berusaha terus ya kak!" kata Galang.


"Sini deh!" Ocha merebut lagi ponselnya dengan kesal lalu dimatikannya telepon tersebut.


Galang pun hanya terkekeh melihat Ocha yang kesal seperti itu, Galang yang jail sontak membuat Ocha kesal, tapi tetap sayang.


Di rumah Dika, Dika sudah siap untuk pergi ke kantor. Tetapi rumah pada sepi seperti tidak berpenghuni, orang tua Dika pun tidak ada di rumah tidak biasanya seperti ini. Biasanya jika orang tua Dika pergi mereka selalu bilang.


"Hallo mah, mamah sama papah pergi kemana?" tanya Dika.


"Kamu gak perlu tau kita pergi kemana, yang banyak gengsi kayak kamu itu gak usah tau!" kata mamahnya di telepon.


"Mah, Dika serius! Mamah sama papah pergi kemana," tanya Dika lagi.


"R-A-H-A-S-I-A," kata mamahnya.


Tut... tut... tut.


Pembicaraan mereka pun selesai sampai disini, mamahnya Dika memutuskan panggilannya sepihak membuat Dika penasaran dengan ucapan mamahnya.


Tidak memakan banyak waktu, Dika segera mengeluarkan mobilnya dari garasi dan melajukan mobilnya untuk menuju ke kantor.


Hari ini adalah hari keberangkatan karyawannya untuk mengawasi proyek yang akan dibangun. setelah sampai di kantor, Dika dan rekan kerja yang lain mengantar karyawan ke bandara yang akan pergi untuk mengawasi Proyek.

__ADS_1


Setelah kepergian karyawannya, Dika segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


Diambang pintu ruangan Dika, telah berdiri Dekta tanpa menyapa Dika sama sekali, dan membuat Dika kaget setelah melihat Dekta.


"Aaah... Dekta kamu disini?" tanya Dika.


"Ia, aku disini." Kata Dekta yang langsung nyelonong masuk ke ruangannya Dika lalu menutup pintunya.


"Maksain banget buat dateng, kamu itu harus sembuh dulu Dekta," kata Dika.


Dekta pun duduk di sofa ruangan Dika sambil memeriksa berkas yang ada di meja dan melihat daftar nama orang yang mengawasi Proyek.


"Aku itu udah sembuh makanya aku bisa kesini, aku berterima kasih banget sama kamu karena kamu udah menangkap orang yang sudah buat aku celaka," kata Dekta.


"Bukan masalah, itu udah jadi tanggung jawabku. Jangan pernah terluka dihadapan aku lagi!" kata Dika menekankan pembicaraannya.


"Ia aku mengerti, aku tidak akan terluka di hadapan kamu. Makasih karena sudah menjadi sahabat terbaik," kata Dekta sambil tersenyum bahagia.


"Hmmm..." balas Dika.


Kini Ocha dan Galang sudah sampai di Resto mereka disambut oleh para karyawan disana dan memberikan bingkisan untuk Ocha.


Para karyawan sangat berterima kasih karena Ocha Bos nya baik-baik saja dan tidak kenapa-kenapa. Karyawan Ocha benar-benar setia dan baik. Kebaikan Ocha membuat para karyawan di Resto menyayangi Ocha terlebih lagi Ocha selalu membantu para karyawan di Resto.


"Syukurlah ibu baik-baik saja, saya senang melihat ibu sudah membaik," kata salah satu karyawan.


"Terima kasih, berkat do'a kalian kini aku sudah benar-benar baik," kata Ocha. "Terima kasih juga karena kalian sudah bekerja keras di Resto ini." Sambung Ocha kepada para karyawan.


Drrt... drrt... drrt.


Ponsel Ocha bergetar ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal, Ocha pun mengangkat telepon tersebut.


"Hallo Ocha, ini aku Arvan kamu sudah membaik kan Cha?" kata orang yang menelpon Ocha.


"Dokter Arvan, dia telepon aku... lagi," batin Ocha.

__ADS_1


__ADS_2