Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 58 Berusaha


__ADS_3

Keesokan harinya, keluarga Ocha dan juga Dika sudah berkumpul didalam ruang rawat Ocha, belum ada tanda-tanda Ocha siuman.


Kini Dika hanya duduk dikursi samping ranjangnya Ocha, dan melihat Ocha yang terluka akibat kecelakaan itu.


"Andai aku bisa datang tepat waktu, aku pasti bisa menyelamatkan kamu Cha, lagi-lagi karena aku kamu harus terluka. Ocha, aku mohon kamu bangun dari tidur panjang kamu, aku rindu suara kamu, tawa kamu, pandangan kamu. Kamu harus bangun Cha," batin Dika yang tanpa sadar Dika meneneskan air matanya.


"Kak Dika, ini kak aku beliin kakak sarapan. Kakak belum makan dari kemarin, sekarang kakak harus sarapan ya," kata Galang.


"Ia Dika, kamu harus sarapan," kata Ibu Lina.


Mau tidak mau, Dika pun ikut sarapan. Setelah selesai sarapan Dika meminta izin untuk ke Kantor Polisi menemui orang yang sudah mencelakai Ocha dan juga Mutiara.


Sesampainya di Kantor Polisi, Dika langsung menemui Ega dan Guno. Ketika Dika melihat Ega dan Guno, Dika langsung meninju wajahnya Ega.


Buukkk.


Dengan keras Dika meninju wajahnya sampai terjatuh.


"Kamu, kamu udah buat Ocha dan Mutiara celaka. Kamu manusia atau bukan hah?" teriak Dika.


"Pak mohon bersabar pak," kata Pak Polisi.


"Mereka harus diberi pelajaran pak, dia udah mempermainkan nyawa orang lain. Sampai-sampai orang yang saya sayangi telah menjadi korban kejahatannya mereka," kata Dika dengan amarahnya yang tidak terkendali.


Ega dan Guno pun mengakui kejahatannya dan memberitahu bahwa Pak Setyo lah yang merencanakan ini semua.


Mendengar nama itu, Dika benar-benar membencinya. Tapi Dika harus menunggu Ocha siuman baru Dika bisa melaporkan kejahatan Pak Setyo kepada pihak polisi dan memberikan bukti nyata yang ada.


Setelah dari Kantor Polisi, di perjalanan Dika memberitahukan kondisi Ocha kepada mamah dan papahnya. Tetapi Dika melarang orang tuanya untuk datang karena Dika khawatir.


Dika akan menjemput orang tuanya jika kondisi Ocha telah pulih.


Di Rumah Sakit, Ocha telah siuman. Melihat Galang ada di sampingnya Ocha merasa senang karena adiknya selamat dan Mutiara juga sudah sehat sekarang.


"Kak Ocha, Galang senang kakak udah siuman. Kak, Galang minta maaf karena Galang kakak jadi seperti ini," kata Galang.

__ADS_1


"Kamu gak usah minta maaf, bukan salah kamu. Kakak hanya menjalankan tugas sebagai seorang kakak yang harus melindungi adiknya," kata Ocha.


"Sayang mamah takut kehilangan kamu, kamu harus sembuh ya," kata mamahnya sambil mengelus kepalanya Ocha.


"Ia mah, Ocha minta maaf karena Ocha udah bikin mamah sama papah susah," kata Ocha.


"Enggak Ocha, kamu gak perlu minta maaf. Kamu tidak pernah menyusahkan kami," kata papahnya.


"Kak, Tiara juga minta maaf ya karena Mutiara ajak kakak lari kakak jadi kayak gini," kata Mutiara merasa bersalah.


"Syuuut.... kamu lagi, gak usah minta maaf," kata Ocha.


Tak berapa lama, Dika pun datang dan memasuki ruang rawat Ocha dan dilihatnya Ocha telah siuman membuat hati Dika merasa tenang.


Dika pun menghampiri Ocha dan berdiri di sampingnya, sedangkan keluarga Ocha semuanya keluar dan memberikan ruang dan waktu untuk Dika dan Ocha mengobrol.


"Syukurlah kamu udah siuman Cha, aku khawatir banget sama kamu. Aku minta maaf karena aku telat datang kamu menjadi seperti ini," kata Dika dengan penuh penyesalan.


"Lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan temui aku lagi!" kata Ocha dengan pelan, karena Ocha masih sakit dan tidak ingin banyak bicara.


Mendengar Ocha berkata seperti itu, hati Dika merasa hancur karena memang salahnya juga sebelum Ocha kecelakaan, Dika menginginkan mengakhiri hubungannya dengan Ocha.


Kini Ocha merasa kecewa kepada Dika atas sikapnya dan perlakuan Dika kepadanya yang membuat Ocha sakit hati untuk kesekian kalinya.


Bukannya Ocha tidak ingin bersama Dika, tetapi Dika yang memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Ocha. Ocha pun akan menuruti keinginannya Dika untuk melepaskannya lagi.


"Cha, aku minta maaf, aku salah tapi jangan usir aku kayak gini Cha. Maafin aku!" kata Dika.


Ocha masih terdiam dan tidak ingin melanjutkan perkataannya. Bukan tidak mau memberikan penjelasan lagi, tetapi sekarang Ocha juga sedang menahan sakit dan hanya bisa merasakan tanpa kata.


"Aku tau aku salah, gak seharusnya aku bilang seperti itu sama kamu Cha, aku juga gak akan marah jika sekarang kamu tidak ingin melihat aku. Aku mengerti, kamu marah sama aku bahkan kamu kecewa sama aku," batin Dika.


"Kenapa kamu masih disini? Aku kan suruh kamu pergi Ka," kata Ocha.


"Aku gak mau, aku akan tetap disini nunggu kamu. Aku gak papa jika kamu cuekin aku, aku juga gak akan pergi!" kata Dika.

__ADS_1


Ocha pun mengabaikan Dika dan membiarkannya walaupun Dika masih duduk di samping ranjangnya Ocha.


"Cha... kamu beneran marah sama aku?" tanya Dika.


"Kamu fikir mainin hati orang itu berkesan? Enggak, nambah sakit hati sih ia," kata Ocha kesal.


"Cha aku itu gak mainin hati kamu, makanya kamu dengerin dulu penjelasan aku," kata Dika penuh harap.


"Berisik kamu tuh, aku lagi gak mau dengar penjelasan kamu. Keluar sana!" usir Ocha kepada Dika.


"Beneran marah nih Ocha, aku harus bagaimana jelasain sama dia. Tuhan beri aku keajaiban supaya Ocha gak marah," batin Dika.


Hening.


Tidak ada kata lagi yang terucap dari mereka, tetapi dengan diamnya mereka tidak merubah keadaan dan walaupun Ocha marah sama Dika, tidak merubah perasaannya kepada Dika.


Ibu Lina dan Pak Fahri pun masuk ke dalam ruang rawat Ocha karena melihat Dika dan Ocha saling diam, Ibu Lina pun menanyakannya langsung kepada Dika.


Dika dan Ibu Lina pun keluar, mereka berbincang membahas masalah antara Ocha dan Dika.


"Kamu itu, selalu bikin masalah! Maaf ya Dika bukannya tante marah tapi kamu sebagai laki-laki itu harus tegas. Sekarang tante gak tau masalahnya apa karena Ocha juga gak cerita dan Ocha sekarang masuk Rumah Sakit. Kalo tante punya penyakit jantung pasti tante udah kena serangan jantung kemarin Ka pas liat Ocha masuk Rumah Sakit gara-gara kecelakaan," kata Ibu Lina.


"Maafin Dika tante, sebenarnya Dika mau jelasin sama Ocha tapi Ocha marah dan gak mau denger penjelasannya Dika," kata Dika.


"Ya udah jelasin aja sama tante! Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ibu Lina.


"Jadi tante, Widia udah bebas dari penjara dan dia sama papahnya bikin masalah baru. Pertama mereka udah buat Dekta masuk Rumah Sakit dan sekarang Ocha, aku pernah bilang sama Ocha untuk memutuskan hubungan ini aku kira Widia sama papahnya gak akan ngejar Ocha sampai sini, tapi nyatanya mereka nekat celakain Ocha," kata Dika.


"Oh jadi kamu bilang gitu sama Ocha, pastes aja lah dia marah. Tante tau sekarang jadi tante juga mau ikutin salahin kamu! Denger ya Dika walaupun itu demi kebaikan Ocha, tapi tetap aja perpisahan itu tidak enak, tante sebagai wanita juga ikut marah. Pantes aja waktu itu Ocha lepas cincinnya ternyata ini alasannya," kata Ibu Lina terus memojokan Dika.


Walaupun Ibu Lina marah kepada Dika, tetapi Ibu Lina tetap bangga karena Dika tidak lepas dari tanggung jawabnya. Dan Dika terus berusaha untuk mendapat maaf dari Ocha.


Sekarang, Dika tidak ingin ada orang yang terus mengganggu hubungannya dengan Ocha. Dika akan segera menyelelesaikan masalah nya dengan Widia habis itu baru Ocha.


Dika tidak ingin lagi ada jarak antara Ocha dengannya karena cinta hanya sekali dan itu harus abadi sampai waktu memisahkan. Bukan lagi orang lain yang memisahkan.

__ADS_1


__ADS_2