
Di depan kantor Dika, Widia sudah menunggu kedatangan Dika karena Widia tahu bahwa Dika hari ini akan ke kantor karena Widia menanyakannya langsung kepada staff kantor.
Di dalam kantor, Dekta melihat Widia dan dia menghampirinya.
“Nunggu siapa?” tanya Dekta.
“Ehh Dekta, aku nunggu Dika kata staff nya hari ini dia akan ke kantor jadi aku nunggu disini biar bisa langsung bertemu sama dia,” kata Widia sambil senyum-senyum sendiri. “Oh ia Dekta aku sekalian mau minta maaf sama kamu soal kejadian waktu itu yang menimpa kamu,” sesal Widia kepada Dekta.
“hmm... ya udah aku maafin, tapi aku berharap kamu itu berubah. Gak ada manfaatnya jadi orang jahat lebih baik kamu tobat supaya kamu mendapat kebaikan nantinya,” kata Dekta.
Widia hanya menganggukan kepalanya dan tidak menjawab perkataan Dekta karena menurut Widia itu tidak penting dan yang terpenting sekarang dia bertemu dengan Dika, orang yang masih ia harapkan untuk menjadi pendampingnya.
Walaupun Widia sudah tahu bahwa Dika sudah menikah dengan Ocha, tetapi rasanya Widia ingin bersama Dika dan ia menyesal telah melepaskan Dika Waktu itu. Semakin berjalannnya waktu, dan semakin Widia melupakan Dika dia merasakan sakit di dadanya karena tidak bisa memiliki Dika. Dan dia akan berusaha agar Dika jatuh kedalam genggamannya lagi.
Tak lama, orang yang di tunggu sudah datang. Widia langsung menghampiri Dika saat Dika turun dari mobil dan Widia tidak mengetahui bahwa Ocha pun ikut ke kantor bersama Dika.
“Hai Dika, kamu apa kabar? Aku nunggu kamu loh udah lama,” kata Widia sambil memegang tangannya Dika.
Dengan cepat Dika melepaskan genggaman tangan Widia karena tidak ingin ada salah paham dengan Ocha. Kejadian semalam pun belum Ocha maafkan apalagi sekarang. Ocha belum juga keluar dari mobil, dan hanya memperhatikan dari dalam mobil.
Tak lama, Ocha pun keluar dari mobil dan langsung menghampiri Dika dan menggandeng tangannya dihadapan Widia. Senyum Ocha mengembang kepada Widia dan tidak memperlihatkan bahwa sekarang Ocha sedang kesal kepadanya.
“Ada Widia, kamu ngapain disini? Mau ngelamar kerja?” tanya Ocha asal-asalan kepada Widia.
“Eh Ocha, apa kabar Cha? Oh ia aku kesini gak mau melamar kerja, aku kesini mau minta maaf sama kamu dan juga Dika. Aku dengar kamu udah nikah sama Dika selamat ya,” kata Widia.
__ADS_1
“Ia makasih,” kata Ocha.
“Nyesel banget aku tinggalin Dika, kalo aja aku tau kalo Dika itu orangnya tulus aku gak akan tinggalin Dika. Tapi aku akan berusaha merebut Dika dari Ocha dan gak akan aku biarkan mereka bahagia, meski aku harus jadi yang kedua pun aku gak masalah yang penting aku bisa memiliki Dika,” batin Widia.
Ocha dan Dika pun meninggalkan Widia diluar karena hari ini Dika ada meeting penting dengan para Klien untuk membahas proyeknya di Bali waktu itu dan harus segera diselesaikan berhubung tenggat waktu yang sangat sedikit.
Melihat Widia, ada rasa khawatir dari dalam hati Ocha karena sebelumnya juga Widia pernah mencintai Dika dan mereka juga sempat bertunangan. Ocha berfikir bahwa ini bukan dari kisah awal yang benar-benar baik. Bagaimanapun halangan dan rintangan dalam sebuah hubungan itu pasti ada apalagi dengan yang namanya mantan.
Beruntungnya Ocha tidak pernah punya mantan dan sekarang yang dikhawatirkannya adalah Widia seorang karena bisa jadi ancaman untuk rumah tangganya apalagi sekarang dia berani untuk mendekati Dika walaupun dia tahu bahwa Dika sudah menikah.
Dika yang melihat istrinya melamun, segera ia memeluk Ocha dan Dika tau sekarang Ocha sedang merasa khawatir atas kedatangan Widia tadi. Dia pun memeluk Ocha dan meyakinkan Ocha bahwa semuanya akan baik-baik saja tanpa ada yang perlu di khawatirkan.
Rasa takut yang menyelimuti perasaan Ocha kini mulai hilang karena Dika sudah membuatnya tenang.
“Maafin aku Cha, kamu percaya sama aku bahwa aku hanya untuk kamu seorang dan kamu akan menjadi miliku dan tidak ada yang bisa memisahkan kita,” kata Dika sambil mengelus punggungnya Ocha.
“Kamu jangan bilang itu, kamu harus percaya dan Widia... aku yakin sekarang dia udah berubah,” kata Dika.
“Aku gak yakin Widia udah benar-benar berubah, dari tatapannya sama kamu aja udah beda.” batin Ocha.
Dika pun pergi ke ruang meeting sedangkan Ocha berada di ruangannya Dika. Ocha merasa bosan dan dia meninggalkan pesan kepada Dika bahwa dia akan pergi ke rumahnya Elsa dan akan pergi diantar oleh supir kantor. Pesan singkat yang dikirimkan Ocha belum dibaca olehnya karena sekarang Dika sedang meeting.
Ocha pun meminta tolong untuk diantar oleh supir kantor ke rumah Elsa. Tak berapa lama, Ocha pun sampai di rumahnya Elsa dan sebelum pergi ke rumah Elsa, Ocha sudah berbelanja untuk Elsa dan juga Disa nanti.
Tok... tok... tok.
__ADS_1
Ocha mengetuk pintu rumah Elsa dan Elsa langsung membuka pintu rumahnya sambil menggendong Disa. Elsa sangat senang Ocha datang ke rumahnya dan dia pun mempersilahkan Ocha masuk ke dalam dan Elsa membawakan segelas jus untuk Ocha.
“Ya ampun Cha aku senang banget loh kamu kesini, kok kamu sendiri Dika gak anterin kamu?” tanya Elsa yang kini sambil menyuapi Disa.
“Dika lagi ada rapat penting, makanya aku kesini karena di kantor bosan.” Kata Ocha.
“Diminum dulu Cha, oh ia gimana kalo hari ini kita makan-makan diluar kamu mau kan?” ajak Elsa dengan wajah sumringahnya.
“Hmm boleh, aku setuju...” kata Ocha.
Mereka pun bersiap untuk pergi makan-makan dan kali ini Ocha yang menyetir mobil menggunakan mobilnya Elsa yang kebetulan tidak dipakai ke kantor oleh Dekta.
Diperjalanan menuju ke cafe, Elsa cerita panjang lebar soal kekonyolannya saat kuliah. Ocha pun menanggapi cerita Elsa dan rasanya jiwa mudanya bangkit kembali jika sudah membahas jaman kuliah dulu, ada rasa bahagia dan juga kesedihan yang mereka alami saat itu.
Di kantor, setelah meeting selesai Dika langsung mengecek ponsel nya dan ada pesan masuk dari Ocha yang belum Dika baca. Membaca pesan singkat dari Ocha, Dika langsung menghubungi supir kantornya untuk datang ke ruangannya.
Tak lama setelah mendapat telepon dari Dika, supir kantor langsung masuk keruangannya Dika dan Dika menanyakan Ocha kepada supir kantor yang mengantarnya. Supir itu mengatakan hanya mengantarnya ke rumah Elsa saja dan setelah itu, Ocha menyuruhnya untuk balik lagi ke kantor dan supirnya menuruti perintah Ocha.
Dika pun menyuruh supir kantor untuk bekerja kembali dan Dika akan menyusul Ocha ke rumahnya Elsa. Ada rasa khawatir juga kepada Ocha karena entah kenapa Dika merasa tidak ingin Ocha jauh-jauh darinya.
Di cafe, Ocha dan Elsa makan-makan bersama, tetapi di ruangan tersebut ada yang memperhatikan Ocha dan bahkan dia memotret Ocha tanpa sepengetahuan Ocha sendiri. Dia melihat wajah Ocha dari kameranya dan tersenyum sendiri.
Dika menelepon istrinya sebelum pergi ke rumah Elsa dan Ocha pun mengangkat telepon dari Dika lalu memberitahukan keberadaannya sekarang. Tak lupa, Ocha menyuruh Dika untuk mengajak Dekta juga untuk datang ke cafe. Dika pun menurut apa yang diperintahkan istrinya itu.
“Lihat deh Cha, Disa anteng banget di pangkuan kamu, kamu udah cocok tuh jadi ibu, kapan dong nyusul aku? Biar anak kita bisa temenan kayak kita...” kata Elsa.
__ADS_1
“Ampun deh kamu, nanti aja nunggu dikasih sama yang di atas...” kata Ocha tersenyum.
Mereka pun tenggelam dalam tawa tanpa disadari ada yang sedang memotret dan memperhatikan Ocha.