
Di rumah sakit, tempat Dokter Arvan bekerja dia selalu memikirkan Mutiara dan dia selalu memperhatikan setiap pergerakan Mutiara. Seperti contohnya hari ini, Arvan menyuruh seseorang untuk mengawasi Mutiara dan melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan oleh Mutiara.
Tidak ada yang tahu bahwa sekarang Mutiara sedang ada yang mengawasinya dan tidak ada yang tahu juga rencana apa yang akan dilakukan oleh Arvan kepada Mutiara yang jelas untuk saat ini adalah Arvan selalu memantau Mutiara.
“Aku akan lakukan apapun untuk bisa bersama kamu Mutiara, bagaimanapun caranya aku akan membuat kamu cinta dan meninggalkan Wira untuk selamanya,” batin Arvan.
Di tempat lain, sekarang Wira sedang membantu orang tuanya berjualan mie ayam dan menceritakan Mutiara kepada kedua orang tuanya. Orang tua Wira senang mendengar bahwa sekarang Wira sudah mempunyai kekasih, tetapi Wira belum sempat mempertemukannya dengan kedua oarang tuanya karena akhir-akhir ini mereka berdua sangat sibuk.
Mengingat keluarga Mutiara yang serba ada, terkadang Wira merasa malu sendiri yang belum bisa memberikan apa-apa untuk Mutiara. Tetapi Mutiara menerima Wira apa adanya karena menurut Mutiara cinta tidak bisa diukur dari materi tetapi dengan kesetiaan dan kasih sayang.
Wira selalu mengingat kebaikan dan kesabaran Mutiara walaupun belum lama bersama, tetapi Mutiara sudah membuktikan ketulusan cintanya untuk Wira dan sikap cuek yang dimiliki Mutiara bukan dasar tidak mencintai Wira tetapi memang sudah menjadi tabiatnya cuek dan seperti itu.
Hari ini Mutiara akan pergi ke Surabaya untuk mengawasi cabang Resto bersama dengan Galang. Mereka pergi setelah Ocha meminta tolong untuk memantau keadaan Resto disana.
Hari yang sangat melelahkan, sore ini Dika dan keluarganya baru sampai di rumahnya. Mereka sudah berada di rumahnya dan beristirahat.
Sedangkan Ocha langsung pergi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Ocha langsung menyiapkan makanan.
Untungnya tadi pagi membawa belanjaan untuk dimasak, jadi setelah sampai bisa langsung untuk memasak dan tidak perlu lagi untuk pergi berbelanja.
Sore ini Ocha memasak tiga macam masakan. Ocha akan memasak sambal goreng teri, ayam goreng dan tak lupa masakan kesukaannya yaitu cumi asam manis pedas.
“Sini mamah bantu,” kata Ibu Uma yang baru saja selesai mandi.
“Gak apa-apa mah mamah istirahat aja, sebentar lagi juga selesai...” kata Ocha yang sedang mengaduk sambal goreng terinya.
“Cha mamah mau becerita soal Dika...” kata Ibu Uma.
“kenapa mah?” tanya Ocha yang masih anteng mengaduk sambal gorengnya.
Ibu Uma menceritakan bagaimana waktu Dika kecil dan bercerita bagaimana dulu saat Dika mencari keberadaan Ocha saat Ocha meninggalkan Jakarta.
Ibu Uma bercerita banyak tentang Dika kepada Ocha yang mencarinya sampai sakit dan sifatnya berubah menjadi dingin sedingin Es dan luluh saat mendengar kabar Ocha kembali pada reuni saat itu.
Ocha yang mendengar cerita dari mamah mertuanya itu hanya terkekeh dan tertawa karena mendengar hal itu langsung dari mamahnya Dika sendiri.
Setelah selesai memasak, semuanya berkumpul untuk makan bersama. Disamping itu, ponsel Dika berdering tetapi Dika hanya melihat sekilas dan tidak dia angkat karena yang menelpon adalah orang yang sama yang meneleponnya tadi siang.
“Kenapa gak di angkat?” tanya Ocha.
“Gak penting kok Cha.” Kata Dika lalu melanjutkan makannya.
__ADS_1
Malam harinya, Ocha duduk di ruang keluarga sendiri karena mamah dan papah mertuanya sedang pergi besama Dika untuk membeli obat di Apotek.
Ocha tidak ikut karena merasa lelah dalam pejalanan seharian ini. Ocha pun menonton tv untuk menghilangkan kejenuhan menunggu suaminya kembali.
Di Apotek, Dika menunggu sampai mamah dan papahnya keluar membawa obat. Selama menunggu, Dika asik bermain game di dalam mobil. Tak lama, orang tua Dika pun datang lalu mereka langsung masuk ke dalam mobil dan Dika pun melajukan mobilnya menuju ke rumah.
Kring... king... kring.
Telepon di rumah Pak Tio berdering, Ocha langsung mengangkatnya dan berbicara dengan si penelpon.
"Halo Dika ini aku Widia, kamu kenapa gak angkat telepon aku? Besok aku akan ke kantor kamu untuk ketemu sama kamu ya," kata Widia berbicara dari telepon.
Ocha yang mendengar perkataan Widia di telepon langsung kesal lalu mematikan telepon tesebut dan langsung masuk ke kamar.
Dika dan kedua orang tuanya sampai di rumah dan mendapati rumahnya gelap dan pintunya pun terkunci.
“Loh kok di kunci,” kata Pak Tio yang mencoba membuka pintunya.
“Mungkin Ocha sudah tidur kali pah,” kata Ibu Uma.
Ibu Uma pun memberikan kunci cadangan kepada Pak Tio dan segera dibukanya dan mereka pun masuk.
Dika langsung berlari menuju ke kamarnya tapi kamarnya juga sama terkunci.
Dika mengetuk pintu kamarnya tetapi tidak ada suara. Dika mencoba menelpon ke ponselnya Ocha dan suara telepon tersebut ada di kamarnya.
“Malam ini kamu tidur diluar, aku gak mau sekamar sama orang yang tukang bohong.” Teriak Ocha dari dalam kamar.
“Loh kenapa Cha, aku bohong apa sama kamu? Terus masa aku tidur diluar sekarang, aku gak mau tidur diluar Cha,” rengek Dika yang sudah seperti anak kecil.
Tak lama, Ocha membuka pintu kamarnya dan melempar bantal untuk Dika, sementara Dika bengong dibuatnya karena tidak ada angin tidak ada hujan, Ocha tiba-tiba marah dan kesal kepadanya.
Saat Ocha hendak menutup pintunya, Dika menarik tangan Ocha sehingga Ocha tidak bisa menutup pintunya.
“Kamu itu kenapa? Kamu marah sama aku? Jelasin sama aku jangan tiba-tiba marah tanpa alasan kayak gini,” kata Dika lemah lembut kepada Ocha.
“Aku gak mau jelasin apa-apa sama kamu!” kata Ocha.
Dika mengusap wajahnya kasar karena baru saja pulang dari Apotek udah kena semprot amarahnya Ocha. Ocha tidak mau menjelaskan masalahnya menambah Dika semakin bingung.
“Ini ada apa?” tanya Ibu Uma yang menghampiri mereka.
__ADS_1
“Ocha gak bolehin aku tidur di kamar mah, gak tau kenapa istri aku ini,” kata Dika.
“Kamu tidur aja sama Widia sana!” kata Ocha lalu langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
“Widia?” batin Dika.
“Kok Ocha bahas Widia, Ka?” tanya mamahnya.
Dika tidak menjawab pertanyaan mamahnya dan langsung masuk ke kamar kosong yang ada di sebelah kamarnya dan memikirkan perkatannya Ocha baru saja.
Bagaimana bisa Ocha bahas soal Widia padahal dia belum tahu bahwa Widia sudah bebas dari penjara.
Keesokan harinya, Ocha sudah bangun dan menyiapkan sarapan di dapur untuk sarapan bersama dengan keluarga dari suaminya.
Saat sedang memasak, tiba-tiba Dika datang dan duduk di kursi dapur memperhatikan Ocha memasak.
“Istri aku harusnya minta bantuan aku kalo masak, gini-gini juga aku pintar masak loh,” kata Dika lalu membantu memotong daun bawang yang kebetulan belum dipotong.
“Kita pulang ke Yogyakarta hari ini ya!” kata Ocha saat sedang mengaduk sayur.
“Hah? Hari ini banget?” tanya Dika.
“Ia, kita ke Yogyakarta sekarang dan mamah sama papah kamu juga udah setuju dan mereka akan ikut.” Kata Ocha.
“Hari ini itu aku harus ke kantor sayang, oke deh kamu jelasin dulu soal semalam nanti habis pulang dari kantor, kita langsung pulang ke Yogyakarta.” Kata Dika membujuk Ocha yang sekarang sedang kesal kepadanya.
Ocha pun menyelesaikan memasaknya tanpa memberitahukan alasan pasti nya soal semalam kepada Dika.
Dika terus mengekor dibelakang Ocha dan meminta penjelasan kepadanya. Tidak tahan mendengar rengekan Dika yang sudah seperti anak kecil, akhirnya Ocha menceritakannya.
“Semalam Widia telepon lewat telepon rumah ini, dia bilang dia udah bebas dari penjara dan dia juga telepon kamu kemarin siang minta ketemuan kan?” tanya Ocha.
“Ahh enggak, kamu mungkin salah denger kali sayang...” kata Dika menyangkal.
“Udah deh gak usah bohong!" kata Ocha galak.
“Ia... ia aku jujur sama kamu, waktu kamu tidur di mobil tiba-tiba ada nomor gak dikenal ya udah aku angkat dan ternyata itu Widia Cha, aku berani sumpah aku gak macem-macem sama dia aku juga gak ngobrol sama dia,” kata Dika yang sekarang merasa takut kepada Ocha.
“Apa susahnya sih jujur dari awal! Widia sampai nelpon ke rumah. Aku tuh sebel tau gak sih sama kamu!” kata Ocha.
“Aku minta maaf sayang, jangan marah lagi ya,” bujuk Dika.
__ADS_1
Ibu Uma dan Pak Tio pun datang dan langsung sarapan bersama. Melihat Dika dan Ocha duduknya berjauhan, Ibu Uma penasaran baru aja menikah masa udah bertengkar, masalah apa lagi yang mereka sembunyikan.
Pak Tio pun merasakan hal yang sama dengan Ibu Uma dan merasakan keanehan antara Dika dengan Ocha tetapi akan nanti tanyakan setelah selesai sarapan. Dan Pak Tio tidak akan membiarkan Dika menyakiti menantu semata wayangnya.