
Di kamarnya, Ocha menangis tidak percaya bahwa Widia yang telah menghancurkan persahabatannya dengan Elsa. Ocha pun segera menelepon Elsa dan ingin memberitahukan kebenarannya.
Belasan kali, bahkan puluhan kali Ocha menghubungi Elsa tetapi tidak ada jawaban. Benar-benar marah dan benci, Ocha rindu semuanya seperti dulu. Persahabatannya, kedekatannya bahkan semua tentang Elsa.
Tidak ada pilihan lain selain menelepon Dika dan meminta bantuannya untuk bisa berbicara dengan Elsa.
Kriiing... kriiing.. kriing.
"Ka... Dika Ponsel kamu bunyi tuh!" teriak mamahnya dari dapur yang mendengar ponsel Dika berdering di ruang tengah.
"Dika kemana mah?" tanya Pak Tio kepada mamahnya sambil teriak dan melihat layar ponsel Dika.
"Angkat aja pah siapa tau penting, mamah gak tau Dika kemana!" teriak Ibu Uma.
Pak Tio pun melihat nama di layar ponselnya Dika bertuliskan Ocha lalu mengangkat teleponnya.
"Halo Dika..." kata Ocha.
"Halo Ocha ini om, Dika nya gak tau kemana ini," kata Pak Tio.
"Oh, maaf om mengganggu," kata Ocha.
"Ada apa Ocha? Bilang aja nanti om sampaikan ke Dika!" kata Pak tio.
Ocha pun mengatakan perihal kejadian penculikan itu kepada Pak Tio bahwa yang menculik Disa itu dalangnya adalah Widia. Mendengar itu Pak Tio pun kaget.
"Ya sudah nanti om sampaikan kepada Dika yah Ocha, sekarang lebih baik kamu istirahat nanti om sampaikan kepada Dika. Sekarang om gak tau Dika ada dimana," kata Pak Tio.
"Baiklah om terima kasih..." kata Ocha menutup teleponya.
"Ocha.. mamah masuk ya!" kata mamahnya sambil mengetuk pintu kamarnya Ocha.
Ocha pun membuka pintu kamarnya yang di kunci oleh Ocha dan mamahnya pun masuk ke dalam kamarnya Ocha.
Ocha pun duduk di ranjangnya ditemani oleh mamahnya.
"Kamu udah telepon Elsa?" tanya mamahnya.
"Udah mah, tapi gak di angkat sama Elsa. Mungkin Elsa bener-bener marah dan benci sama Ocha mah," kata Ocha.
"Ya udah kamu jangan sedih yah, Elsa mungkin perlu waktu dan kamu harus mengerti. Tapi ngomong-ngomong kamu udah tau siapa yang udah culik Disa?" tanya mamahnya.
"Udah mah, mamah tau gak? Ternyata yang udah culik Disa itu dalangnya adalah Widia," Ocha menceritakan.
"Haaaaa..." Ibu Lina langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena kaget tidak menyangka bahwa Widia lah dalang dari semua ini.
"Ocha juga gak nyangka mah Widia tega berbuat seperti itu," kata Ocha.
Ibu Lina pun menyuruh Ocha untuk istirahat dan meminta untuk tidak memikirkan hal ini karena akan membuat Ocha sakit dan mamahnya tidak mau itu terjadi.
Di rumah Dika, papahnya menceritakan apa yang telah Ocha bilang di telepon tadi. Mendengar hal itu, Dika sangat kesal dan ingin menghampiri Widia saat ini juga.
"Kamu mau kemana Dika ini udah malam!" cegah papahnya.
"Dika mau ke rumah Widia saat ini juga pah," kata Dika.
__ADS_1
"Enggak jangan sekarang, besok aja ya ini udah malam Dika, lebih baik kamu istirahat dan besok baru selesaikan semuanya." Kata papahnya.
Dika pun menurut apa yang dikatakan papahnya untuk tidak datang menemui Widia.
"Kak Ochaaaaaa!" teriak Mutiara di depan pintu kamarnya Ocha.
Mendengar teriakan Tiara yang keras, Ocha terbangun dan mentupi seluruh wajahnya dengan bantal. Mutiara pun mendekat dan membuka bantal yang menutupi wajah Ocha.
"Bangun kak, dipanggil mamah tuh di bawah," kata Mutiara.
"Ada apa Mutiara?" tanya Ocha.
"Kakak tau gak sih ada Kak Dika di bawah!" kata Mutiara.
Mendengar nama Dika, Ocha pun langsung duduk dan melihat ponselnya ternyata ada panggilan masuk tidak terjawab serta pesan masuk dari Dika bahwa dia akan datang kesini.
"Tuh kan makanya jangan di silent dong kak biar ke angkat tuh teleponnya, ya udah kak aku turun yah siap-siap deh kak udah siang nih!" kata Mutiara memerintah lalu turun ke bawah.
Ibu Lina pun membuatkan minum untuk Dika dan disuguhkan kepada Dika.
"Diminum Ka!" suruh Pak Fahri.
"Ia om terima kasih..." kata Dika.
Beberapa menit kemudian, Ocha pun turun dan duduk di samping papahnya sambil memegang ponsel.
"Ocha, kata Dika dia mau jemput kamu buat ikut ke Jakarta hari ini soalnya kamu sama Elsa harus lurusin masalah kalian. Kalo papah sih silahkan aja asalkan hati-hati dan kalian juga sudah dewasa jika ada masalah harus segera di selesaikan," kata papahnya.
"Saya akan antarkan Ocha kembali om, dan saya akan pastikan Ocha baik-baik saja!" kata Dika.
"Benar itu, kalau sudah sampai di Jakarta kabari mamah ya Ocha!" kata Ibu Lina.
Ocha pun mengiyakan perkataan mamahnya dan bersiap-siap untuk pergi. Tak hanya itu, Galang pun meminta untuk ikut ke Jakarta untuk menemani Ocha. Ibu Lina dan Pak Fahri pun mengizinkan Galang untuk ikut.
Mereka pun berpamitan dan berangkat ke Jakarta. Di perjalanan, Dika fokus menyetir. Tidak ada kata yang terucap dari salah satu diantara mereka.
"Kok pada diem sih, emang kita gak saling kenal yah?" kata Galang memulai pembicaraan.
"Ehm.. iya yah kok kita diem aja kayak gak kenal," kata Dika.
"Aku udah telpon Elsa berkali-kali tapi dia gak angkat, semarah itu Elsa sama aku," kata Ocha.
"Ia aku juga denger soal Widia dari papah, maaf ya kemarin aku gak sempet angkat telepon kamu. Sampai nya di Jakarta kita akan langsung ke rumah Elsa dan jelasin semuanya sama dia," kata Dika.
"Heem..." kata Ocha.
Di perjalanan pun Ocha terus saja menelepon Elsa berharap akan dapat jawaban dari Elsa. Tetapi tidak sama sekali.
Sesampainya di Jakarta, Ocha dan Dika ke rumah Elsa untuk bertemu dengannya. Dengan berharap Elsa akan mendengarkan dan memaafkan Ocha.
"Ayo Cha!" ajak Dika setelah sampai di depan rumah Elsa.
Ocha pun mengetuk pintu rumah Elsa dan di bukalah oleh Elsa. Dengan tatapan sinis kepada Ocha, Elsa pun tidak berbicara satu kata pun kepada Ocha.
"El, aku mau bilang sama kamu kalo aku..." kata Ocha terputus karena Elsa menghentikan Ocha bicara.
__ADS_1
"Cukup Ocha aku gak mau denger kamu ngomong lagi, percuma kamu jauh-jauh dateng kesini cuma buat aku maafin kamu. Enggak aku gak akan maafin kamu Cha!" kata Elsa marah.
"Oke aku terima jika kamu gak maafin aku, satu hal yang kamu harus tau bukan aku penyebab Disa di culik!" kata Ocha.
Mendengar keributan diluar, Dekta pun keluar untuk melihat keadaan diluar. Dengan kaget ternyata Elsa ribut dengan Ocha.
"Aku mohon sama kamu El, jangan marah terus sama aku!" tangis Ocha pun pecah dan tidak bisa dibendung lagi.
"Kak Elsa, maaf banget bukan aku mau ikut campur tapi memang bukan kak Ocha yang salah. Memang Kak Ocha ceroboh waktu itu tapi itu tidak disengaja Kak Elsa," jelas Galang.
Ocha pun memperlihatkan video yang sudah ia rekam kepada Elsa. Setelah melihat video yang dilihat oleh Elsa karena tidak menyangka, Elsa pun marah lalu mengambil ponsel Ocha kemudian pergi ke rumah Widia.
"Elsaaa..." teriak Ocha yang melihat kepergian Elsa.
Dekta pun mengejar Elsa yang tanpa kata setelah itu, Ocha, Dika dan Galang menyusul Elsa.
"Aduh Elsa kamu pergi gitu aja sih," kata Dekta bicara sendiri sambil fokus menyetir.
Sesampainya di rumah Widia, Elsa menggedor-gedor pintu rumahnya Widia berkali-kali dengan keras sambil berteriak memanggil Widia.
"Widiaaaa, keluar kamu...!" teriak Elsa.
Papahnya Widia membuka pintu karena mendengar teriakan Elsa dan kesal kepada Elsa.
"Maaf om saya mau ketemu sama Widia, dimana Widia?" tanya Elsa kesal.
"Ada apa kamu mau ketemu Widia? Marah-marah lagi di rumah orang gak sopan!" kata papahnya Widia.
Ibunya Widia dan Widia pun keluar dengan melihat Elsa kaget karena tidak biasanya Elsa datang ke rumahnya.
"Sini kamu!" kata Elsa menarik tangan Widia keluar.
Ocha dan yang lainnya sampai di rumah Widia dan keluar dari mobil lalu menghampiri Elsa.
Plaakkk...
Satu tamparan mendarat di pipinya Widia membuat yang melihat kaget atas perbuatan Elsa yang menampar keras Widia.
"Kamu berani tampar anak saya! Siapa kamu hah?" bentak mamahnya Widia.
"Tolong didik anak tante yah, jika mau berbuat jahat fikirin dulu. Saya akan laporin Widia ke kantor polisi. Tolong lihat ini tante, om!" memperlihatkan videonya.
Melihat video itu pun papahnya Widia sangat marah lalu tiba tiba satu tamparan mendarat di pipi Widia.
"Papah!" kata Widia sambil menangis.
"Elsa udah kamu jangan..." kata Ocha.
"Udah kamu diem aja, ini juga menyangkut anak aku dan juga kamu!" kata Elsa sambil menelepon polisi.
Polisi pun datang dan menangkap Widia, tangis mamahnya Widia tidak terbendung lagi dan memohon kepada Elsa untuk membebaskan Widia, tetapi Elsa tidak menghiraukan permintaan mamahnya Widia, malah pergi dan pulang.
"Aku minta maaf sama kamu Ocha, ternyata Widia penyebab kekacauan ini, maaf karena aku udah marah dan benci sama kamu Cha..." kata Elsa menyesal.
"Gak papa Elsa!" kata Ocha memeluk Elsa.
__ADS_1
Permasalahan diantara mereka pun selesai, Widia kini telah di penjara untuk menerima akibat dari perbuantannya. Elsa dan Ocha pun kembali baikan seperti dulu.