
“Kak Mut, udah dong jangan nangis terus kenapa?” kata Galang yang sekarang sedang duduk di sampingnya Mutiara.
“Kamu itu gak ngerti perasaan kakak, kakak itu cinta banget sama Wira dan dia selingkuh depan aku banget,” kata Mutiara.
“Kak udahlah, aku kan pernah bilang bahwa Kak Wira itu bukan cowok baik-baik,” kata Galang sambil menyeruput kopi yang dipegangnya.
Mutiara pun kesal lalu mengambil semua foto-foto Wira lalu diberikan kepada Galang. Sedangkan Galang hanya menatap Mutiara yang sekarang sedang marah. Lalu dia mengambil barang pemberian Wira juga dan diberikan kepada Galang.
Galang mengerti apa maksud kakaknya. Dengan cepat Galang keluar dari kamarnya Mutiara dan menyimpan barang pemberian Wira di gudang.
Mungkin Mutiara akan mencoba move on dari Wira dan akan membuka lembaran baru.
Dua bulan kemudian.
Ocha pergi ke kantornya Dika dan membawa makanan untuk makan siang suaminya. Sesampainya di kantor, Ocha melihat Widia masuk ke dalam ruangannya Dika. Karena penasaran, Ocha mengikuti diam-diam dan mendengar pembicaraan mereka dari luar ruangan Dika.
“Kamu? Kenapa kamu bisa masuk kesini?” tanya Dika.
“Kamu gak lihat aku ini udah bekerja di kantor kamu? Yah walaupun cuma jadi office girl,” kata Widia.
Diluar ruangan kantor Dika, Ocha merasa kesal tetapi Ocha memilih untuk pura-pura tidak tahu dan akan mengikuti permainan yang sekarang sedang dibuat oleh Widia. Ocha pun terus memperhatikan Widia dan suaminya dari luar.
“Ini aku bawain kamu kopi, pagi-pagi gini kan enaknya minum kopi...” kata Widia menyuguhkan secangkir kopi.
“Enggak usah, makasih. Lebih baik kamu keluar dari ruangan aku sekarang juga!” usir Dika.
“Bu Ocha...” tanya Heln yang kebetulan lewat ruangannya Dika.
“Syuut... jangan berisik,” kata Ocha.
__ADS_1
“Oh, ia bu maaf,” kata Heln berbicara pelan-pelan lalu ikut mengintip.
“Kamu lagi ngapain lagi?” tanya Ocha.
“Ya ampun bu, itu kan Widia office girl yang baru aja masuk kemarin, dia ngapain diruangannya Pak Dika?” bisik Heln.
Ocha hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Heln. Sekarang Ocha mulai marah, kesal dan rasanya ingin melabrak Widia yang berusaha menggoda suaminya. Tetapi jika Ocha lakukan sekarang, dia tidak akan tahu apa yang akan dilakukan Widia jika dirinya sedang tidak bersama Dika.
Ocha terus saja memperhatikan mereka berdua dan Heln juga malah ikutan memperhatikan mereka dan Ocha tidak mencegah Heln untuk ikut melihat mereka.
“Ayolah Dika, kamu jangan kayak gini. Walaupun kamu udah menikah tapi seenggaknya kamu lihat aku yang bela-belain masuk kantor ini demi untuk bisa ketemu sama kamu,” kata Widia.
“Aneh kamu, keluar sekarang juga!” perintah Dika.
Dika tidak tahan melihat tingkahnya Widia, dia pun menghubungi security untuk mengusir Widia dan tak berapa lama, Satpam kantor masuk keruangannya Dika dan Ocha mengikuti satpam itu dari belakang.
Satpam membawa Widia keluar dari ruangannya Dika. Sedangkan Dika kaget ada Ocha dibelakang satpam dan pasti Ocha melihat Widia yang berada di ruangannya.
Ocha pun duduk di kursi tanpa menjawab pertanyaan dari Dika. Sedangkan Dika membuka kotak yang tadi karena merasa takut kepada Ocha, dia pun berhenti bertanya dan langsung memakan makanannya dengan lahap.
“Ini enak banget loh sayang, kamu udah makan? Makasih kamu udah bawain aku makanan seenak ini,” kata Dika.
Sekarang Ocha memainkan ponselnya dengan tenang sambil menunggu Dika selesai makan dan akan menjawab pertanyaannya nanti. Setelah selesai makan, Dika membereskan bekas makannya agar tidak berantakan.
“Aku udah makan tadi bareng mamah sama papah, makanya aku bawain kamu makanan kesini karena tadi kamu gak sempat sarapan kan...” kata Ocha.
“Kamu marah sama aku?” tanya Dika.
“Enggak, gak ada yang marah sama kamu. Aku pulang ya...” kata Ocha berbohong dan pura-pura tidak marah.
__ADS_1
“Aku anterin kamu pulang ya sekalian aku juga mau pulang,” kata Dika.
Dika tahu bahwa sekarang Ocha sedang marah kepadanya karena tadi Ocha melihat Widia yang dibawa keluar oleh satpam dari ruangannya. Dika dan Ocha pun pergi ke parkiran dan mereka akan pulang bersama.
Terlihat Widia yang sedang memperhatikan Dika dan Ocha, dia merasa kesal karena masih belum bisa untuk mendekati Dika dan setiap ia akan mendekati Dika pasti rencananya gagal lagi dan Widia berfikir bahwa Ocha lah penyebab semua kehancuran hidupnya Widia.
Widia masih tidak bisa terima dengan apa yang telah dialaminya saat ini jika sekarang Widia melakukan hal yang aneh dan nekat, pasti itu akan membuatnya rugi karena dia tidak ingin masuk ke dalam penjara lagi.
“Cinta itu unik, aku sendiri merasakanya. Bagaimana tidak... aku kalah dalam urusan cinta olehnya. Sekarang aku menyesalinya karena telah salah melangkah untuk meninggalkan cinta itu. Cinta yang sesungguhnya ada di depan mataku tapi aku tidak bisa merasakan cinta di hatiku sebesar apa yang aku lihat...” batin Widia dan tidak terasa air matanya telah membasahi pipinya. Dengan segera ia mengusap air matanya dan kembali bekerja.
“Haii...” sapa Heln yang sedang mengambil air minum.
Widia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya saat di sapa oleh Heln dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
Heln hanya melihat dan memperhatikan Widia yang sedang bersih-bersih dan Widia merasa sedang diperhatikan oleh Heln langsung menghampirinya.
Di dalam mobil, Dika terus saja mengajak Ocha bicara walaupun sekarang Ocha hanya diam dan hanya mendengarkan ocehannya Dika.
“Cha kamu marah pastinya sama aku, kamu ngomong dong sayang ya ampun kamu itu ya setiap ada masalah selalu diam gini,” kata Dika.
“Kamu emang gak peka ya jadi cowok, aku tuh marah sama kamu tau gak. Aku denger semua pembicaraan kamu sama Widia dan dia masuk kerja di kantor kamu, kamu gak bilang sama aku,” kata Ocha.
Dika memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Dan mengusap wajahnya kasar saat mendengar Ocha marah, permasalahan baru muncul kembali dan ini gara-gara Widia yang mencoba untuk mendekatinya kembali.
Tiba-tiba Ocha menangis tetapi dia memalingkan wajahnya ke arah jendela karena ia takut kehilangan Dika dan baginya sudah cukup berpisah waktu itu, jangan sampai sekarang rumah tangganya hancur hanya karena satu wanita yang menyalip bagaikan mobil yang sedang balapan.
“Cha ya ampun kamu nangis?” tanya Dika yang sekarang memegang tangannya Ocha dan berusaha untuk membujuknya.
“Kamu jahat tau gak, baru aja dua bulan menikah kamu udah giniin aku...” kata Ocha yang masih terisak.
__ADS_1
“Ocha istriku yang paling istimewa, sini lihat aku tatap mata aku,” kata Dika.