Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 69 Kebakaran


__ADS_3

Kring... kring...kring.


"Hallo..... Apa? Ia aku segera kesana ya. Dan satu lagi jangan panik aku kesana sekarang," kata Ocha saat mendapat telepon dari Surabaya Ocha langsung bergegas pergi kesana.


***


Tok... tok... tok.


Suara langkah kaki seseorang yang menggunakan sepatu high heels di sebuah ruangan yang akan mengunjungi seseorang.


Mereka sedang berdiskusi satu sama lain dan sedang mencari jalan keluar untuk membuat kedua orang ini bebas.


Kini sudah ada Gista yang sedang berbicara dengan dua orang tahanan yaitu Pak Setyo dan Widia.


Gista adalah adik dari Pak Setyo yang sekarang baru pulang dari luar negeri untuk mengunjungi Pak Setyo yang kini sedang mendekap di penjara.


"Gista, akhirnya kamu datang juga, kakak senang kamu mengunjungi kakak disini," kata Pak Setyo.


"Kakak senang, aku enggak... oh my god kakak kenapa bisa sih dipenjara, malu tau kak. Kenapa harus jadi orang jahat sih?" kata Gista.


"Kakak itu terpaksa, karena gara-gara widia gagal nikah sama Dika jadi kakak terpaksa lakuin ini," kata Pak Setyo.


"Tapi gak harus masuk penjara juga kali kak, kamu juga Widia masih muda masuk penjara. Dua kali lagi," kata Gista.


"Tante bukannya bantuin bebasin malah ledekin gimana sih," kata Widia kesal.


"Bebasin, terus kamu bikin ulah lagi. Hmm tapi aku jadi kesel sama orang yang udah jeblosin kalian ke penjara," kata Gista.


Di perjalanan, Ocha memberi kabar kepada Galang dan Mutiara bahwa hari ini Ocha akan ke Surabaya karena ada masalah di Resto.


Galang pun akan segera menyusul kesana karena kebetulan sudah selesai kuliah. Sedangkan Mutiara belum dikasih kabar oleh Ocha soal kebarakan itu.


Ocha sangat panik karena keadaan Resto sekarang. Ocha mendapat kabar bahwa Resto kebakaran karena kebocoran gas tetapi tidak semuanya terbakar karena api berhasil dipadamkan saat itu juga.


Dika yang sekarang sudah berada di Rumah Sakit menelpon Ocha, tetapi tidak di angkat olehnya. Dika pun penasaran dan terus berkali-kali telepon Ocha tetapi tetap sama tidak di angkat oleh Ocha.


"Ini Ocha kemana ya tumben gak dia angkat teleponnya, mungkin lagi sibuk di Resto kali ya," batin Dika.


Kini Dika sedang menemani mamahnya sampai Pak Tio datang. Setelah itu Dika akan menyusul Ocha ke Resto.


"Kamu kenapa kok gelisah gitu?" kata Ibu Uma.


"Ia mah, Dika telepon Ocha tapi gak dia angkat. Dika jadi khawatir," kata Dika.


"Mungkin lagi sibuk Ka, kamu susulin aja ke Resto!" kata mamahnya.


"Ia nanti Dika kesana," kata Dika.


Hari ini Galang menyusul Ocha ke Surabaya untuk mengecek Resto, Galang terus menelpon Ocha tetapi tidak di angkat oleh Ocha. Galang sendiri jadi tidak tenang dan khawatir kepada kakaknya.

__ADS_1


Galang memanfaatkan keadaan ini untuk melajukan mobilnya dengan cepat karena jalanan saat ini kebetulan tidak macet.


"Kak Ocha angkat dong kak telponnya," Oceh Galang.


Ocha masih fokus menyetir karena masih kefikiran soal Resto, Ocha pun tidak memberi kabar soal keberangkatannya ke Surabaya kepada Dika dan akan memberi kabar nanti setelah sampai disana.


Keadaan Resto saat ini sudah membaik tetapi ada salah satu karyawan yang mengalami luka bakar karena insiden kebakaran tersebut.


Ocha pun dengan segera mengabari Mutiara tentang kejadian di cabang Resto. Mutiara yang mendengar berita itu pun kaget dan akan segera menyusul ke Surabaya.


Orang tua Ocha pun masih di Bandung dan sengaja tidak diberitahu karena Ocha tidak ingin mamah dan papahnya khawatir soal kejadian ini.


Kini Mutiara dan Wira akan menyusul Ocha ke Surabaya setelah selesai dengan pekerjaannya. Tetapi di depan Kantor, Arvan sudah menunggu Mutiara untuk bertemu dengannya.


"Ibu Mutiara, didepan ada yang menunggu. Katanya mau bertemu dengan ibu," kata salah satu karyawan yang melihat Mutiara kebetulan keluar dari ruangannya.


"Siapa ya?" kata Mutiara.


"Kurang tau bu," kata karyawan tersebut.


Wira pun datang karena sudah siap untuk pergi bersama Mutiara ke Surabaya.


"Makasih ya," kata Mutiara kepada karyawan tersebut.


"Siapa Ra?" tanya Wira.


Wira dan Mutiara pun turun ke bawah untuk menemui orang tadi.


Arvan menunggu Mutiara di depan kantor, karena hari ini Arvan tidak ada tugas di Rumah Sakit dan sengaja ingin menemui Mutiara.


"Dokter Arvan," kata Mutiara yang kini telah berada di depan kantor


"Hay Mutiara, kamu mau pulang?" tanya Arvan.


"Enggak, kita mau ke Surabaya aku dapat kabar bahwa cabang disana kebakaran dan sekarang Kak Ocha juga lagi jalan kesana," kata Mutiara.


"Oh ya udah aku anterin kamu kesana aja ya, kebetulan aku juga lagi gak ada tugas," kata Arvan.


"Gak usah, Mutiara udah ada yang anterin! Kenalin aku Wira calon suaminya Mutiara," kata Wira mengulurkan tangan.


Arvan yang mendengar pernyataan Wira pun kaget bukan main karena ternyata Mutiara sudah memiliki calon suami.


Arvan pun berjabat tangan dengan Wira dan memperkenalkan diri kepadanya.


Tetapi walaupun Mutiara sudah memiliki calon suami, Arvan tetap mengejar dan ingin memiliki Mutiara. Arvan pun memaksa untuk ikut ke Surabaya dan melihat keadaan disana.


Mutiara pun mengizinkan Arvan untuk ikut ke Surabaya dan mengemudikan mobil yang berbeda.


"Ra, Arvan itu Dokter?" tanya Wira yang kini sedang menyetir.

__ADS_1


"Ia, Kak Arvan itu Dokter dan dulu pernah menyelamatkan aku saat aku kecelakaan. Dan saat itu aku belum sama kamu," kata Mutiara.


"Kayaknya Arvan itu suka sama kamu Ra, aku takut jadinya kehilangan orang yang paling aku sayang. Aku takut Ra suatu saat nanti kamu berpaling," batin Wira.


Setelah lama di perjalanan, akhirnya Ocha sampai di cabang Resto dan disana sudah ramai orang yang membantu memadamkan api.


"Bu Ocha, maafkan kami bu." kata Hardi salah satu karyawan Ocha.


Ocha pun kehabisan kata-kata dan hanya mampu beristighfar dan langsung melihat kedalam Resto yang saat ini kondisi Resto sangat kacau.


Air mata Ocha pun terjatuh dan tidak dapat di bendung lagi karena sekarang Restonya terbakar.


Walaupun tidak semua terbakar, namun kerugian yang dialami Ocha sangatlah besar dan Ocha harus mengganti kerugian yang kini dialaminya.


Ocha pun terduduk sambil menangis melihat keadaan ini, tetapi harus bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur dan semuanya tidak bisa kembali.


Karyawan Ocha pun merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dengan baik Resto yang diamanahkan oleh Ocha.


Ocha pun menghampiri karyawan yang sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit akibat terkena luka bakar.


"Ibu, saya minta maaf bu gara-gara saya Resto ibu terbakar," kata karyawan yang bernama Susan yang kini sedang terbaring di Rumah Sakit.


"Enggak, ini bukan salah kamu Susan. Saya yang seharusnya minta maaf kamu jadi terluka," kata Ocha yang kini sedang duduk disamping rajang Susan sambil menangis.


"Ibu jangan menangis, ini murni karena saya bu. Ibu jangan minta maaf sama saya bu" kata Susan.


Ocha dan Susan pun berbincang bersama, Ocha akan membiayai semua pengobatan Susan sampai sembuh dan akan bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi.


"Terima kasih banyak Bu Ocha, saya gak tahu lagi harus bilang apa," kata Susan.


"Ia Susan, kalo gitu saya pergi dulu ya. Nanti saya kesini lagi. Saya akan mengurus di Resto dulu," kata Ocha.


Tak lama setelah Ocha datang, Galang pun datang dan melihat keadaan Resto. Yang sangat berantakan dan banyak sisa-sisa yang terbakar.


"Kak Ocha dimana?" tanya Galang kepada Hardi karyawan Resto.


"Tadi... Bu Ocha ke Rumah Sakit untuk menjenguk Susan Pak," kata Hardi.


Di Yogyakarta, Dika pergi ke Resto untuk menemui Ocha. Tetapi setelah sampai di Resto, Dika tidak menemukan Ocha disana. Dika pun menanyakan Ocha kepada karyawan di Resto.


Karyawan di Resto hari ini sangat sibuk dan Dika harus menunggu sampai karyawan selesai melayani pelanggan.


"Maaf pak, Bapak mencari Ibu Ocha ya?" tanya karyawan yang sudah selesai melayani pelanggan.


"Ia, kenapa Ocha gak ada ya?" tanya Dika.


"Maaf pak hari ini Ibu Ocha pergi ke Surabaya," kata Karyawan.


"Apa? Surabaya..." kata Dika membelalakan matanya.

__ADS_1


__ADS_2