Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 42 Siuman


__ADS_3

"Andai kamu tau, aku menunggu kamu bertahun-tahun. Tapi setelah aku dapatkan kamu, sekarang aku harus melepas kamu pergi dari hidup aku lagi... aku gak sanggup Dika, tolong kamu bangun..." batin Ocha.


"Dika... Aku gak tahu harus ngapain lagi selain menunggu keputusan kamu, aku akan terima apapun keputusan kamu tapi tolong kamu bangun Dika!" kata Ocha


Ocha pun membicarakan perihal Heln kepada Ibu Uma dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dika demi kebaikan Dika, Ocha harus mengalah agar Dika tidak terlibat masalah lebih jauh lagi.


"Enggak Ocha! Kamu gak boleh berfikir seperti itu, kamu sudah menjadi bagian keluarga kami. Kamu tidak boleh memutuskan sepihak!" kata Ibu Uma.


"Tante, Ocha hanya tidak mau Dika terkena masalah. Ocha tidak apa-apa kok tante, Ocha akan lakukan apapun asalkan Dika terbebas dari semua tuduhan dan tuntutan yang Ibu Nita berikan tante," kata Ocha.


"Enggak... jangan pernah bilang seperti itu!" kata Ibu Uma.


Ocha pun terdiam setelah apa yang dikatakan oleh Ibu Uma, karena tidak untuk kali ini Ibu Uma membiarkan Ocha pergi lagi.


Tapi tidak bagi Ocha, Ocha akan turuti apa yang dikatakan oleh Ibu Nita untuk melepaskan Dika dan membiarkannya bersama Heln.


Malam harinya di sebuah ruangan ICU, Ocha berdiri mematung melihat Dika yang saat ini belum sadarkan diri.


"Jika memang ini yang terbaik buat kamu, aku akan lepas kamu jauh dari kehidupan aku. Kamu tau Dika? Selama hidup aku, aku tidak pernah mencintai orang lain selain kamu. Tapi jika ini adalah akhir dari hubungan kita, aku akan terima dan aku akan ikhlas melepaskanmu. Aku siap jika kita harus terpisah kembali, karena mungkin memang ini adalah takdir untuk cinta kita," batin Ocha dan tidak bisa menahan air matanya.


Keesokan paginya, Heln sudah berada di samping ranjang Dika dan sedang mempehatikan Dika. Seketika itu, Ocha pun datang untuk melihat keadaan Dika.


"Kirain aku kamu sudah pergi tinggalin Dika, tahunya belum," kata Heln.


"Mau kamu itu apa sih Hel? Kamu yang harusnya pergi bukan aku!" kata Ocha.


"Hmm kamu lupa siapa aku? Buka mata kamu, lihat! Gara-gara Dika aku jadi seperti ini," kata Heln.


"Dika juga korban, bukan kamu saja. Salah kalau kamu mau Dika yang bertanggung jawab, mungkin itu maunya kamu saja bersama Dika," kata Ocha


"Kamu!" kata Heln.


Dika pun perlahan menggerakan jemarinya, perlahan membuka matanya dan melihat di sekelilingnya.


Ocha yang melihat Dika pun langsung memanggil Dokter.


"Syukurlah, Dika sudah siuman," kata Dokter tersebut yang sudah berada di dalam ruangan Dika di rawat sambil memeriksa keadaan Dika.


Ocha pun senang melihat Dika siuman, tapi sekaligus sedih karena mungkin ini adalah terakhir Ocha melihat Dika.

__ADS_1


"Ocha..." kata Dika saat melihat Ocha.


"Syukurlah kamu sudah siuman, aku takut kehilangan kamu Dika!" kata Ocha sambil memegang tangannya Dika.


Dika pun tersenyum kepada Ocha dan membalas memegang tangannya Ocha.


Heln yang melihat mereka berdua pun kesal dan tidak terima, Heln pun pergi meninggalkan Dika dan Ocha.


"Terima kasih karena kamu masih menunggu aku Ocha," kata Dika seraya mengusap air mata Ocha.


"Aku minta maaf Dika!" kata Ocha menangis sambil mendekap tangannya Dika di pipinya Ocha.


"Hey.. kenapa minta maaf Cha?" kata Dika sambil mengelus kepalanya Ocha.


"Aku minta maaf..." kata Ocha sambil menangis tersedu-sedu.


"Ia, ada apa Cha?" tanya Dika.


Tiba-tiba Ocha pun melepaskan genggaman Dika dan pergi dari hadapan Dika.


Ibu Uma dan Pak Tio melihat kepergian Ocha setelah mereka akan masuk ke dalam untuk melihat Dika


"Dika, kamu sudah siuman sayang?" kata Ibu Uma memeluk Dika dan mengelus kepala Dika.


"Mah...mah, ada apa sih? Ocha kenapa mah?" tanya Dika.


Ibu Uma dan Pak Tio pun diam dan tidak menjawab pertanyaan Dika membuat Dika penasaran, ada apa sebenarnya.


"Kamu istirahat ya, jangan terlalu difikirkan. Ocha... Ocha gak papa kok sayang," kata Ibu Uma.


Dika pun menuruti apa yang dikatakan oleh mamahnya.


Ibu Uma menyusul Ocha dan menghampiri Ocha yang sedang duduk melamun seorang diri.


"Ocha..." panggil Ibu Uma.


"Tante, tante kok disini?" tanya Ocha.


"Jangan seperti ini Ocha, kamu jangan..." kata Ibu Uma terputus

__ADS_1


"Enggak tante, ini sudah menjadi keputusan Ocha," kata Ocha.


Ocha pun pergi dari hadapan Ibu Uma dan bersiap-siap untuk pulang ke Yogyakarta, dan membawa kenyataan pahit yang harus Ocha telan sendiri.


Tidak menyangka akan seperti ini, Ocha yang mendapat kebahagiaan dari Dika kini telah di renggut oleh orang lain dan meninggalkan luka yang teramat dalam karena harus melepaskan orang yang dicintainya dua kali.


"Sebentar yah Dika, papah mau lihat mamah kamu dulu," kata Pak Tio.


"Ia pah," kata Dika.


Pak Tio pun mencari Ibu Uma dan kebetulan bertemu dengan Ocha yang sudah siap untuk pergi. Pak Tio pun menghampiri Ocha.


Pak Tio tidak tahu ada apa dan apa permasalahannya antara Ocha dan Dika, tetapi melihat Ocha yang seperti ini, Pak Tio tidak tega kepada Ocha dan sangat ingin meluruskan masalah antara Ibu Nita dan Heln yang sudah mendesak Ocha untuk pergi dari kehidupan Dika.


"Ocha... Ocha," kata Ibu Uma yang datang dari arah taman.


"Ocha kamu mau kemana?" tanya Pak Tio.


"Ocha dengar tante dulu, jangan pergi sayang jangan tinggalkan Dika!" kata Ibu Uma memegang tangannya Ocha.


Dika melihat Mereka dari balik tembok, karena setelah Pak Tio keluar tadi, Dika langsung mengikutinya. Walaupun keadaannya belum stabil, tetapi Dika nekat untuk berjalan dan memaksakan diri.


"Ocha harus pergi tante, Ocha mohon jangan halangi Ocha seperti ini!" kata Ocha.


"Kita bisa bicarakan baik-baik Ocha!" kata Pak Tio.


"Maaf om, Ocha gak bisa!" kata Ocha sambil melepas cincinnya dan diberikan kepada Ibu Uma.


Dika yang melihat semua ini pun marah dan kesal karena tidak menyangka setelah ia sadar dari koma, Dika melihat keadaan seperti ini.


Suara tepuk tangan bahagia terdengar dari Ibu Nita yang sengaja menguping pembicaraan Ocha dan Ibu Uma, merasa senang dan menang karena pada akhirnya Ocha akan kalah dan Dika akan menjadi milik Heln.


"Kamu! Kamu nguping pembicaraan kami," kata Ibu Uma.


"Ha..ha..ha ya betul sekali, bagus Ocha akhirnya kamu melepaskan Dika untuk Heln," kata Ibu Nita.


Dika yang mendengar ucapan Ibu Nita pun tidak terima, Dika langsung menghampiri Ocha dan keluarganya.


"Tidak ada yang boleh pergi dari sini!" kata Dika lalu mengambil cincin di tangan mamahnya lalu di pakaikan lagi ke jari Ocha.

__ADS_1


__ADS_2