
Keesokan harinya setelah selesai sarapan, mereka semua bergegas untuk mencari Disa kembali kecuali Mutiara dan Galang karena mereka disibukan dengan urusan mereka masing-masing.
"Kita harus cari kemana Disa nya dekta? Aku gak mau kehilangan Disa," kata Elsa kepada Dekta.
"Kamu sabar dulu sayang, Kita lagi berusaha mencari Disa..." kata Dekta.
"Elsa, aku cari Disa ke arah sana ya, dan kalian ke arah sana, nanti kalo aku nemuin Disa aku kabarin kalian ya!" kata Widia.
"Ia aku setuju, lebih baik kita berpencar biar mudah menemukan Disa," Kata Elsa.
"Elsa..." kata Ocha sambil memegang tangan Elsa.
"Apa?" Elsa pun menepis tangan Ocha dengan kerasnya.
"Udah deh gak usah ngomong sama aku, mending kamu fokus cari anak aku! Aku tuh nyesel tau gak sih udah percaya sama kamu," Kata Elsa marah.
"El dengerin dulu dong!" kata Ocha.
Elsa dan Dekta pun tidak mendengarkan Ocha dan langsung pergi mencari Disa.
"Udah, udah Cha, kita cari Disa aja lagi ya..." kata Dika.
Mereka berdua pun mencari Disa kembali dengan perasaan cemas, semua tempat sudah ditelusuri tetapi Disa tidak dapat ditemukan.
Hari sudah siang tetapi tidak ada tanda-tanda ada Disa. Membuat Elsa dan Dekta menyerah dan putus asa karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah.
"Hmmm mereka tidak akan pernah bisa menemukan Disa kecuali aku yang temukan Disa, aku akan jadi pahlawan bagi Elsa dan juga Dekta karena hanya aku yang pertama kali menemukan anak mereka," Kata Widia merasa menang.
"Aku gak sanggup kalo gini Dekta, aku gak mau kehilangan Disa kamu tau kan betapa aku sayang sama dia Dekta," kata Elsa sambil menangis.
Di tempat lain, Ocha melihat orang yang sudah menculik Disa dan menepuk pundaknya Dika agar Dika melihat ke arah orang yang menculik Disa.
"Dika, Dika lihat itu orang yang udah culik Disa Ka," kata Ocha melihat ke arah Jono.
"Itu orangnya?" tanya Dika.
"Ia aku yakin banget kalo itu orang yang udah culik Disa Ka, ayo kita samperin dia sekarang!" kata Ocha sambil menarik lengan baju Dika.
Dika dan Ocha pun berlari menghampiri Jono yang tengah asik ngopi di pinggir jalan. Ocha dan Dika telah sampai dan berdiri di hadapan Jono.
Jono yang melihat Ocha pun kaget dan bersiap untuk pergi, tetapi Dika menahan pundak Jono dan menghentikan langkah Jono.
"Jangan pernah befikir untuk bisa lari dari kita, kamu kan yang udah culik Disa. Sekarang mana Disa?" tanya Dika dengan penuh emosi kepada Jono.
"Gak akan pernah aku kasih tau dimana anak itu sampai kapanpun!" kata Jono mengeraskan suaranya.
__ADS_1
Dengan sigap Jono pun menojok muka dan perutnya Dika sampai Dika terjatuh ke tanah membuat semua orang disana kaget termasuk Ocha.
"Dikaaa..." teriak Ocha sambil menghampiri Dika.
"Awww..." kata Dika kesakitan.
"Kamu gak papa kan Dika?" tanya Ocha.
Jono yang telah menonjok Dika pun langsung melarikan diri tanpa perduli apa yang telah ia lakukan kepada Dika.
Warga di dekat warung kopi itu membantu Dika untuk berdiri, Dika yang kesakitan pun memegang perutnya.
"Terima kasih ya Bapak-bapak, Ibu-ibu maaf sudah membuat keributan" kata Ocha.
"Dika, kita ke Dokter yah," ajak Ocha kepada Dika.
"Enggak, enggak Cha kita gak usah ke Dokter yah, kita hampir aja tau dimana keberadaan Disa tapi gara-gara aku kita kehilangan jejak penculik itu," Kata Dika.
"Kita gak usah mikirin itu dulu yah sekarang. Yang paling penting kamu dulu,kamu harus ke Dokter Ka," Kata Ocha.
"Gak usah Cha, aku baik-baik aja kok. Lebih baik sekarang kita cari Disa lagi oke!" kata Dika sambil memandang wajah khawatir Ocha.
"Udah kamu gak usah khawatir gitu, aku gak papa beneran deh Cha," kata Dika.
"Ya udah kita cari Disa lagi," Kata Ocha.
"Terima kasih ya kamu udah bantu saya untuk jagain anak ini." Kata Widia kepada orang yang sudah menjaga Disa.
"Ia, asalkan jangan lupa saja bayaran yang udah kamu janjikan kepadaku, karena jika kamu ingkar aku akan bongkar semuanya kedok kamu, karena aku tau siapa kamu," kata orang itu.
"Apa yang kamu tau soal aku? Jangan pernah macem-macem yah kamu sama aku!" kata Widia.
"Kamu sudah berurusan dengan orang yang salah, aku ini tau anak yang kamu culik ini adalah anak dari sahabat Ocha bukan?" kata orang itu.
Orang itu adalah Ibu Khodi yang sebenarnya adalah teman dari Ibu Lina mamahnya Ocha. Berhubung Ibu Khodi ini sedang membutuhkan banyak biaya untuk anaknya, jadi dia rela bekerja apapun walaupun sesungguhnya ini adalah pekerjaan yang berat untuk ia lakukan.
"Oke aku akan penuhi semua janji aku untuk bayar kamu dengan bayaran yang besar, tapi ingat jangan pernah bocorkan ini semua kepada orang lain termasuk Ocha! Jika tidak kamu akan tau akibatnya." Kata Widia.
"Oke..." kata Ibu Khodi.
Widia pun memberikan apa yang Ibu Khodi minta dan segera pergi dari hadapan Ibu Khodi.
"Maafkan aku karena aku berbuat jahat, Sebenarnya aku tidak mau seperti ini tapi keadaan memaksaku," kata Ibu Khodi di dalam hati.
Elsa dan Dekta pun masih mencari dimana keberadaan Disa, pencarian pun berakhir karena hari mulai gelap dan mereka segera pulang ke rumah.
__ADS_1
"Bagaimana Elsa, Dekta, Disa ketemu?" tanya Ibu Lina.
"Belum tante, aku gak tau lagi harus gimana," jawab Elsa dan tangisnya pun pecah kembali.
"Maaf tante, bukan saya tidak sopan tapi jika Disa tidak ditemukan saya ingin Ocha bertanggung jawab atas semuanya dan mau tidak mau Ocha harus mengakui kesalahannya di kantor polisi!" kata Dekta.
"Dekta, jangan seperti itu, kamu sabar dulu dong jangan membuat keputusan secepat itu. Ocha juga sekarang sedang mencari dimana anak kalian," Kata Ibu Lina sambil menangis.
"Keputusan saya sudah bulat tante, saya minta maaf," Kata Dekta.
Tak lama Ocha dan Dika pun pulang, dan semua keluarga kaget karena mendapati Dika yang lemas saat itu.
"Ya ampun Dika, kamu kenapa sayang?" tanya Ibu Uma kepada Dika.
"Gak papa kok mah, Dika beneran gak papa," kata dika sambil duduk di kursi dan memegang perutnya.
"Ini kamu kok memar gini Ya Allah," kata Ibu Uma panik yang melihat luka memar di muka Dika.
"Dika gak papa kok mah." Kata dika.
Ocha pun mengambil kompresan untuk Dika lalu mengopres luka memarnya dan mengobatinya.
"Pelan-pelan Cha!" kata Dika.
"Ia.. ia maaf," kata Ocha.
Elsa yang melihat Ocha pun kesal dan marah. Lalu elsa menarik tangan Ocha yang sedang mengobati Dika membuat semuanya kaget atas perlakuan Elsa kepada Ocha.
"Udah cukup ya Ocha, kamu buat aku menderita, sekarang juga kamu harus tanggung jawab. Kamu ikut aku ke kantor polisi!" Elsa menarik tangannya Ocha ke depan pintu.
"Elsa tante mohon, jangan bawa anak tante Elsa" tangis Ibu Lina pecah sambil memegang tangan Ocha yang satunya.
"Enggak tante, kali ini aku gak mau diem aja. Ocha harus tanggung jawab," Kata Elsa.
"Elsa, kamu sabar dulu bicarakan secara baik-baik!" kata Pak Fahri.
"Enggak Om aku mau Ocha tanggung jawab atas perbuatannya," kata Elsa.
"Oke aku akan tanggung jawab!" kata Ocha sambil melepaskan genggaman tangan Elsa.
"Cukup Elsa!" kata Dika berdiri dari tempat duduknya, tidak tahan melihat perlakuan Elsa kepada Ocha.
" Enggak Dika, kali ini kamu gak bisa belain Ocha. Jelas-jelas Ocha salah dalam hal ini," Kata Dekta membela Elsa.
Elsa pun hendak membawa Ocha ke kantor polisi dan tidak ada yang bisa menghalangi niat Elsa, di tengah perdebatan itu, Widia datang menggendong Disa dan membuat semuanya terkejut. Elsa langsung merebut Disa dari gendongannya Widia membuat Widia kesal
__ADS_1
"Disa anak bunda, kamu gak papa kan sayang? Bunda kangen sama kamu," kata Elsa sambil mencium pipi Disa dan Mengusap-usap Disa.
"Alhamdulillah sayang akhirnya kamu kembali kepada kami," kata Dekta kepada Disa dan memeluk Elsa dan Disa.