Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 40 Ancaman Ibu Nita


__ADS_3

Ckrek!


Suara pintu yang di buka mengagetkan Ocha.


"Hmm masih koma aja, kapan sadarnya?" kata Ibu Nita.


"Maaf, tante siapa?" tanya Ocha.


Ibu Nita pun menghampiri Ocha sambil mendorong kursi roda yang digunakan oleh Heln.


"Saya adalah Ibu Nita dan ini anak saya Heln," kata ibu nita sambil menunjuk Heln.


"Maaf tapi ada apa ya tante tiba-tiba masuk ke ruangan ini? Memangnya tante mengenal kami?" tanya Ocha yang langsung berdiri dari kursinya.


"Kamu harus tau! Orang itu sudah nabrak anak saya sampai seperti ini, jadi saya kesini untuk minta tanggung jawabnya dia," kata Ibu Nita galak.


"Oh, tante tidak bisa melihat ya? Jelas-jelas Dika koma dan tante meminta pertanggung jawaban kepada orang yang sedang dalam keadaan koma!" kata Ocha heran.


"Hmm itu bukan urusan saya! Kamu siapa dia?" tanya Ibu Nita kepada Ocha.


"Bu udah gak usah ribut disini, percuma Dia aja lagi koma," kata Heln sambil megang tangan ibunya.


"Kamu diam aja Heln!" kata Ibu Nita.


"Tapi bu..." kata Heln.


"Anak saya lumpuh gara-gara pria itu, dia harus bertanggung jawab atas semua kesalahan dia sama anak saya!" bentak Ibu Nita.


"Tapi Dika lagi koma tante, mau tante bertanggung jawab apa? Bukannya biaya Rumah Sakit dan pengobatan anak ibu sudah semua?" kata Ocha


"Itu tidak cukup untuk mengembalikan kaki anak saya yang lumpuh, dia harus bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan Heln anak saya!" kata Ibu Nita kesal.


"Sepenuhnya..." kata Ocha.


"Ia, se...pe...nuh..nya! Dia harus nikahin anak saya!" kata Ibu Nita.


Deg!


Ocha mendengarnya terbelalak kaget dan tidak menyangka bahwa Ibu Nita ini ingin putrinya menikah dengan calon suaminya. Ini benar-benar tidak adil bagi Ocha.


"Kenapa kamu?" tanya Ibu Nita.


Ocha pun berlari keluar dan tidak dapat menahan sakit yang teramat dalam karena perkataan Ibu Nita.


"Bu dia tampan juga ya walaupun lagi koma," kata Heln.

__ADS_1


"Kamu suka sama dia?" tanya Ibu Nita.


"Ia bu aku suka sama dia, tapi perempuan tadi itu siapa ya?" kata Heln


"Abaikan saja dia! Pastinya juga dia cuma temannya," kata Ibu Nita.


Tiba-tiba Ibu Uma sudah berada di belakang Ibu Nita dan Heln.


"Jangan pernah bermimpi untuk bisa memiliki anak saya!" kata Ibu Uma sambil berjalan ke depan Ibu Nita dan Heln.


"Hmm.. kenapa? Anak ibu yang sedang koma itu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan!" kata Ibu Nita.


"Bertanggung jawab apa? Menikah dengan dia?" menunjuk muka Heln.


Heln pun langsung menunduk dan tidak berani menatap Ibu Uma.


"Anak saya itu sudah punya calon istri dan yang jelas bukan dia!" kata Ibu Uma menatap Heln.


"Oh begitu ya, oke baiklah tapi jangan salahkan saya jika anak kamu sudah sadar dia akan masuk penjara!" kata Ibu Nita.


"Jaga ucapan kamu! Anak saya juga korban. Bukan anak kamu saja. Lebih baik sekarang kamu pergi dan bawa anak kamu!" kata Ibu Uma.


Ibu Nita dan Heln pun pergi dari ruang rawat Dika dengan amarah yang tidak bisa di tahan lagi. Tetapi Ibu Nita pergi tanpa berkata lagi.


Ocha pun duduk di bangku taman Rumah Sakit sambil menangis mendengar ucapannya Ibu Nita dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Tapi Ocha tidak mau egois dengan keinginanya yang ingin memiliki Dika, karena bagaimana pun Ocha tidak mau Dika sampai dipenjara. Dengan tekad yang ia miliki dan kekhawatiran Ocha kepada Dika, Ocha rela melepaskan Dika untuk Heln demi keselamatan Dika agar memenuhi tanggung jawabnya atas apa yang sudah Dika lakukan.


Ibu Nita dan Heln sudah berada di hadapan Ocha saat ini karena mereka sengaja menemui Ocha.


"Kamu pasti calon istrinya Dika yang sudah menabrak anak saya sampai jadi seperti ini. Sayang sekali, kamu tidak beruntung!" kata Ibu Nita.


"Ada perlu apa tante menemui saya lagi?" tanya Ocha.


"Singkat saja, lepaskan Dika dan relakan dia untuk anakku. Dia harus menebus kesalahannya dengan menikahi anak saya!" kata Ibu Nita sinis.


"Tante ingin saya merelakan Dika untuk dia?" kata Ocha sambil melihat ke arah Heln.


"Ia," kata Ibu Nita.


"Gak, aku gak akan pernah lepasin Dika. Asal tante tau, semua itu terjadi tidak sengaja. Karena Dika juga mengalami kecelakaan bahkan lebih parah dari anak tante. Tante tidak bisa merebut hak orang lain!" kata Ocha kesal.


"Kamu! Oke kalau itu mau kamu terserah, tapi jangan salahkan saya jika Dika sadar dari koma, dia akan masuk ke dalam penjara!" kata Ibu Nita berjalan pergi bersama Heln.


Ocha pun berubah fikiran, dia mengejar Ibu Nita dan Heln.

__ADS_1


"Tante tunggu, baik aku akan lakuin semua keinginan tante," kata Ocha.


"Bagus itu sayang..." kata Ibu Nita.


"Tapi dengan satu syarat!" kata Ocha.


"Apa itu?" tanya Ibu Nita.


"Jangan halangi saya untuk bertemu Dika sampai dia siuman dan jangan pernah laporkan Dika ke polisi!" kata Ocha.


"Oh... Waaw, oke saya akan turuti semua keinginan kamu tapi setelah Dika sadar jangan pernah kamu ganggu Dika lagi!" ancam Ibu Nita.


Ocha pun langsung pergi dari hadapan Ibu Nita dan juga Heln dengan membawa kesedihan.


"Ya ampun kak, kakak kok nangis ada apa? Kak Dika kenapa?" tanya Mutiara.


Ocha pun langsung memeluk Mutiara tanpa kata, Mutiara mengelus punggung Ocha agar Ocha merasa tenang.


Mereka pun duduk bersama di kursi tunggu. Ocha menceritakan semua yang sudah Ocha bilang tadi kepada Mutiara.


"Apa kak? Jadi kakak mau lepasin Kak Dika hanya karena Tante Nita minta pertanggung jawaban dan ingin menikahkan anaknya dengan Kak Dika," kata Ocha.


"Ia Mutiara," kata Ocha menangis.


"Terus kenapa kakak tanggepin? Kak, kakak jangan terus mengalah kayak gini! Sebentar lagi kan kakak sama Kak Dika mau menikah dan kakak lepas Kak Dika gitu aja?" kata Mutiara kesal.


"Kakak gak mau Dika dipenjara dan Tante Nita menuntut Dika," kata ocha.


Pyaaarr...


Suara nampan yang Ibu Uma bawa pun terjatuh ke lantai karena mendengar pembicaraan Ocha dan Mutiara. Perlahan Ibu Uma menghampiri Ocha.


Ocha pun kaget melihat Ibu Uma yang mendengar semua ucapannya.


"Kamu...kamu nggak serius kan Ocha sayang?" tanya ibu Uma.


"Maafkan Ocha tante..." kata Ocha sambil memegang tangannya Ibu Uma.


"Kenapa? Kenapa kamu harus berkorban terus kenapa? Kamu mau melepas cinta kamu demi orang lain lagi dan kamu tidak mau berjuang mempertahankan Dika?" tanya Ibu Uma sembari menangis.


"Ocha minta maaf tante," kata Ocha.


"Enggak boleh, kamu gak boleh mengorbankan cinta kamu untuk kedua kalinya Ocha!" kata Ibu Uma.


"Tapi tante..." kata Ocha.

__ADS_1


"Cukup Ocha!" Ibu Uma pun berlalu meninggalkan Ocha.


__ADS_2