
Dan keesokan harinya, Dika pergi ke kantor untuk Meeting bersama para Klien penting yang akan membangun proyek baru. Rencananya perusahaan yang dikelola oleh Dika akan membuka cabang di daerah Bali.
Proyek baru yang akan di bangun adalah proyek yang benar-benar harus dilakukan dengan serius. Jika tidak, maka Perusahaan yang sekarang akan mengalami kebangkrutan dan itu tidak akan pernah terjadi.
Ternyata Perusahaan yang dikelola oleh Dika akan bekerja sama dengan perusahaan papahnya Elsa dan suaminya, di ruang rapat sudah ada Dekta yang ikut andil dalam pembangunan proyek ini.
Dika pun masuk ke dalam ruang rapat yang sekarang telah berkumpul para Klien penting. Rapat pun dimulai. Dika menjelaskan soal proyek yang akan di bangun.
Jadwal setiap aktivitas, kapan akan dimulai dan kapan jadwal tersebut harus selesai. Karena membangun sebuah proyek juga dibutuhkan anggaran dan juga sejumlah sumber daya yang diperlukan.
Menentukan tujuan proyek pun harus di perhatikan karena tidak sembarangan dalam membangun suatu proyek.
"Perencanaan dalam suatu bisnis ini dan proyek ini adalah pondasi yang paling penting untuk membangun suatu proyek agar berjalan dengan lancar. Pembangunan proyek ini akan memakan waktu yang cukup lama. Berdasarkan catatan yang ada, kita membutuhkan kontrol dan pengawasan agar suatu proyek tidak melenceng dari perencanaan yang telah kita buat," kata Dika menerangkan.
"Saya setuju, akan ada beberapa orang yang harus ikut mengawasi proyek ini. Karena jika tidak, kita tidak bisa menjamin proyek ini akan berhasil atau tidak," kata salah satu Klien.
"Baiklah, rapat kali ini saya cukupkan disini. jika ada pertanyaan bisa langsung tanyakan kepada saya! Saya akan buatkan datanya untuk siapa yang akan ikut untuk menjalankan proyek ini!" kata Dika.
Semua yang ada di ruang rapat pun mengerti. Setelah rapat selesai mereka langsung keluar dan menjalankan pekerjaannya kembali.
Dekta yang masih ada di ruang rapat menghampiri Dika dan mengajaknya ke sebuah Cafe untuk berbicara sebentar.
"Aku dengar kamu kecelakaan waktu itu dan koma? Maaf ya aku sama Elsa gak sempat jenguk kamu," kata Dekta membuka pembicaraan.
"Hmm.. tapi udah gak papa, gimana kabar kamu sama Elsa? Lama banget loh gak ada kabar," kata Dika sambil menyeruput kopi.
"Kabar Elsa baik, sekarang dia lagi fokus sama Disa. Maaf banget karena Elsa juga jarang kabarin Ocha. Pasti kamu sering bertemu sama Ocha ya?" tanya Dekta.
"Enggak, terakhir kemarin," kata Dika.
"Gara-gara insiden Disa hilang waktu itu Elsa jadi khawatir, jadi dia fokus sama Disa dan gak sempat kabarin Ocha. Sampaikan ya, dan Elsa juga kehilangan nomornya Ocha karena waktu itu ada kejadian aku sama Elsa kerampokan dan hilang sudah barang berharga kami," kata Dekta.
"Kerampokan? Tapi kalian baik-baik aja kan tidak terluka?" kata Dika.
"Kami aman kok," kata Dekta.
"Syukurlah," kata Dika.
"Kapan kamu nikah Ka? Aku denger di kantor tadi katanya kamu mau nikah, kapan itu?" tanya Dekta.
"Sorry Pak Dekta, itu rahasia! Tunggu aja undangan disebar," kata Dika dengan senyumnya yang mengembang.
__ADS_1
Setelah selesai berbincang, Dika dan Dekta pun pulang ke rumahnya masing-masing dan beristirahat.
"Udah pulang?" tanya Elsa yang sedang menyetrika pakaian.
"Heem," kata Dekta sambil menyimpan tasnya di kursi.
"Gimana, kamu ketemu sama Dika? Aku jadi rindu sama Ocha karena gak bisa hubungin dia, kamu tanya kabar Ocha juga kan?" tanya Elsa.
"Heem, aku tanya kabar Ocha dan dia baik, ini aku dapat nomor Ocha. Lebih baik kamu hubungin Ocha!" kata Dekta.
Elsa pun mengambil nomor yang diberikan oleh Dekta dengan senangnya dan Elsa pun langsung menghubungi Ocha.
Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.
"Kenapa nomornya gak bisa dihubungi? padahal aku pengen banget ngobrol sama Ocha," batin Elsa.
Kriing... kriing... kriing.
Telepon Dika berdering ada panggilan masuk dari Ocha. Dengan cepat Dika menerima panggilan masuk tersebut.
"Hallo Ocha..." kata Dika.
"Karena apa?" tanya Dika kembali.
"Kalo aku bilang, kamu janji ya jangan marah!" kata Ocha.
"Ia aku janji," kata Dika.
Ocha pun menceritakan soal Dokter Arvan yang memberikan kalung milik Almarhumah Meisya kepadanya, berharap Dika akan mengerti dan tidak akan marah setelah Ocha menceritakan semuanya kepada Dika.
Bagaimana pun Dika harus tau agar tidak ada masalah di dalam hubungan Ocha dan juga Dika.
Dika pun hanya diam setelah mendengar kejujuran Ocha kepadanya, karena sesungguhnya Dika juga tidak bisa marah kepada Ocha karena bukan salah Ocha.
"Aku tidak marah, asalkan hati kamu hanya untuk aku. Masalah Dokter Arvan kan sudah selesai biarlah kalung itu kamu miliki demi Almarhumah Meisya juga. Tapi untuk terakhir kalinya aku bicara jangan pernah temui Arvan lagi, ya!" kata Dika.
"Terima kasih Dika karena kamu sudah mengerti. Aku janji gak akan pernah temuin dia lagi, Tapi bukan aku juga yang temuin dia. Arvan sendiri yang nunggu aku di Resto," kata Ocha.
"Heem... udah tidak usah difikirkan, selama aku di Jakarta kamu harus jaga diri kamu baik-baik, setelah proyek aku selesai aku akan segera kembali," kata Dika.
"Baiklah Dika," kata Ocha.
__ADS_1
Bahagia, sedih, bercampur ria menjadi satu. Sedih karena mendapatkan kebahagiaan yang tidak dapat di ukur dengan apapun.
Ocha merasakan ketulusan cinta Dika yang begitu besar, Dika adalah satu-satunya orang yang sangat Ocha cintai dan tidak akan pernah ada penggantinya.
Ocha bahagia karena pada akhirnya kecemburuan, sakit hati, telah terobati dengan kembalinya Dika kepadanya.
Malam harinya, Ocha dan keluarga makan malam bersama di ruang makan karena pekerjaan hari ini sudah selesai dengan cepat.
Setelah selesai makan, Ocha kembali ke kamarnya dan membuka ponsel nya. Ada panggilan masuk dari Elsa yang tidak sempat di angkat, Ocha pun buru-buru menelpon balik Elsa.
Drrrtt ... drrtt ... drrtt.
Ponsel Elsa pun bergetar, lalu Elsa langsung mengangkat telponnya.
"Halo Elsa," kata Ocha.
"Ochaaaa...." kata Elsa lalu langsung menangis. "Maafin aku Ocha, aku gak ada kabar. Kamu juga gak kabarin aku, kenapa?" tanya Elsa.
"Maaf, waktu itu aku kefikiran soal Dika karena kecelakaan dan koma. Aku juga gak sempat kabarin kamu maaf," kata Ocha.
"Pengen ketemu Cha," kata Elsa.
"Juga... kamu apa kabar Elsa?" tanya Ocha.
"Aku baik, aku juga dengar dari Dekta soal kamu. Katanya sebentar lagi kamu mau menikah," kata Elsa.
"Ditunggu aja ya kabar baiknya, tapi kok Dekta bisa tau?" tanya Ocha.
"Ia, Dekta sekarang satu proyek sama Dika, makanya tadi Dika sama Dekta mungkin saling curhat," kata Elsa sembari tertawa.
Keduanya pun tertawa bersama dan saling melepas rindu walaupun hanya berbicara di telepon, mereka sangat bahagia karna sudah lama tidak berkomunikasi sejak Elsa dan Dekta kerampokan dan ponsel mereka hilang.
Elsa dan Ocha pun saling mengerti dan tidak mendebatkan masalah ini. Pada kenyataannya Elsa dan Ocha tetap bersahabat walaupun masalah datang kepada mereka.
Sudah lama Ocha tidak mendengar kabar Elsa dan hari ini Ocha sudah mendengar kabar Elsa dan Ocha pun meminta maaf karena tidak mengabari Elsa karena sedang fokus pada masalahnya waktu itu.
Sekarang tidak lagi karena pada akhirnya Elsa dan Ocha telah kembali bersama dan saling berhubungan. Elsa senang karena dapat menghubungi Ocha kembali. Dan rencananya Elsa akan datang ke Yogyakarta untuk menetap sementara disana dan menunggu hari bahagianya Ocha.
Ocha pun semakin bahagia karena sahabatnya akan tinggal di Yogyakarta walaupun hanya sementara.
Malam yang panjang, Ocha terus memikirkan Dika dan menunggu Dika kembali. Menunggu Dika itu bagaikan menunggu bunga mawar mekar di taman.
__ADS_1