Kasih Yang Tertunda

Kasih Yang Tertunda
Bab 53 Siapa Pelakunya


__ADS_3

"Dektaaa..." teriak Dika lalu langsung membantu Dekta.


"Ya ampun pak Dekta," kata Pak Satpam lalu langsung menelpon Ambulance.


Tangan Dika bergetar, Dika langsung membantu Dekta yang penuh dengan darah. Segera Dika melepaskan jas nya dan diletakan di kepala Dekta agar darah tidak terus mengalir.


Pak Satpam dan Dika membawa Dekta keluar dari kantor dan menunggu ambulance datang.


***


Tak berapa lama, Ambulance datang. Dika dan Pak Satpam tadi langsung membawa Dekta ke Rumah Sakit.


Badan Dika masih gemetar dan semua pakaian yang dikenakan berlumur dengan darahnya Dekta. Matanya Dika berkaca-kaca karena tidak sanggup melihat Dekta seperti ini.


Di pegangnya tangan Dekta dengan erat berharap Dekta akan baik-baik saja.


"Aku mohon kamu bertahan Dekta, aku mohon!" kata Dika yang menangis karena melihat kondisi sahabatnya yang semakin melemah.


"Pak Dika," kata Pak satpam tersebut.


"Ya? Pak, tolong cari tahu siapa pelakunya. Cari sampai ke akar-akarnya! Saya mohon bantu saya menemukan pelakunya!" kata Dika memohon kepada Pak Satpam yang bernama Bapak Minto itu.


"Baik pak, saya akan cari tahu siapa pelaku sebenarnya dan apa motifnya mencelakai Pak Dekta," kata Bapak Minto.


Sesampainya di Rumah Sakit, Dekta langsung dibawa ke Ruang UGD untuk segera di tangani oleh Dokter.


"Ha... halo Elsa," kata Dika menelpon Elsa terbata.


"Dika, kenapa kok kamu tumben telepon malem-malem? Dekta masih sama kamu kan?" tanya Elsa.


"Ia... El kamu datang ke Rumah Sakit ya sekarang! Nanti aku kirim alamat Rumah Sakitnya, kamu naik taksi ya cepat!" kata Dika.


"I.. ia tapi ada apa Ka? Kamu jangan bikin aku takut," kata Elsa.


"Sekarang juga Elsa!" kata Dika.


Elsa pun menuruti Dika untuk segera datang ke Rumah Sakit, karena Dika sudah mengirim alamat Rumah Sakit tersebut.


"Aku mohon selamatkan Dekta, jangan sampai kau ambil Dekta aku mohon," batin Dika frustasi.


"Cari tahu siapa dibalik orang yang sudah mencelakai Pak Dekta," perintah Pak Minto berbicara di telepon kepada anak buahnya yang tak lain adalah teman-temannya.


Dika mondar-mandir di depan pintu UGD karena hatinya tidak bisa tenang, takut terjadi sesuatu kepada Dekta dan jika ini sampai terjadi, maka Dika tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Tak lama, Elsa pun datang dan menghampiri Dika setelah Dika memberi tahukan bahwa dia sekarang ada di UGD.


"Ka ada apa?" tanya Elsa.


"Aku minta maaf sama kamu. Dekta, Dekta dia," kata Dika.


"Kenapa sama Dekta? Dekta dia ada di dalam?" tanya Elsa panik.


"Aku minta maaf," kata Dika.


Dika pun menceritakan kejadian singkatnya karena Dika pun tidak tahu detailnya seperti apa karena kantor dalam keadaan gelap.


Tangis Elsa pun pecah, lalu Elsa marah kepada Dika karena Dekta terluka.


"Aku... aku gak mau kehilangan Dekta," kata Elsa yang terus saja menangis.

__ADS_1


Kejadian malam ini sungguh tragis, orang-orang itu tega melukai orang lain. Apakah tidak punya hati seperti memukul boneka yang tidak bernyawa. Apakah mereka tidak pernah berfikir, bagaimana keluarga yang mereka lukai.


"Sial, kenapa kalian bisa salah sasaran? Sudah lama aku menginginkan momen ini, tapi kalian malah salah orang," teriak Bos besar kepada Dua orang itu.


"Maafkan kami Bos, kami kira itu adalah Dika tapi bukan," kata salah satu pria itu.


"Bodoh! Kalian bodoh. Aku kasih kalian satu kesempatan lagi jika ini gagal, maka kalian akan aku laporkan ke polisi dan membuat kalian mendekap di penjara!" bentak Bos besar.


"Ba.. baik Bos kami akan lakukan yang terbaik untuk Bos," kata pria tersebut.


Dokter pun selesai mengobati Dekta dan keluar dari Ruang UGD, Dekta pun langsung dipindahkan ke ruang rawat. Untungnya Dekta segera di bawa ke Rumah Sakit dan Dokter bisa menjahit lukanya jadi masih bisa di tangani.


Setelah selesai Dokter memeriksa, Elsa, Dika dan Pak Minto masuk ke dalam untuk melihat kondisi Dekta.


Saat ini, Dekta dibalut oleh perban dibagian kepalanya dan masih belum sadarkan diri.


Elsa pun hanya bisa menangis melihat keadaan Dekta yang seperti ini, dihampirinya Dekta oleh Elsa dan dipegangya tangan Dekta sambil mengelus punggung tangannya Dekta.


Dika pun berlalu keluar bersama Pak Minto dan meninggalkan Elsa bersama dengan Dekta.


"Cek seluruh CCTV yang ada di tempat kejadian, di luar kantor sebelum lampu padam. Saya yakin pasti orang itu terekam kamera CCTV, saya mohon Pak Minto tolong saya!" kata Dika.


"Baik pak Dika akan saya lakukan sesuai dengan perintah bapak," kata Pak Minto.


"Siapa yang tega melalukan ini, apa tujuan sebenarnya, siapa pelakunya, dan siapa pula yang mereka incar? Tepat berada di kantorku, berarti incaran mereka adalah aku!" batin Dika seraya mengusap wajahnya kasar.


"Bapak sebaiknya pulang, ini sudah terlalu malam. Bapak harus istirahat! Biar saya yang antar Pak Dika. Pak Dekta dan Ibu Elsa biar saya yang menunggu setelah saya mengantar bapak pulang," kata Pak Minto.


"Gak usah pak, terima kasih. Saya pulang sendiri aja, tolong sampaikan kepada Elsa besok saya akan datang lagi kesini," kata Dika.


"Tapi pak..." kata Pak Minto.


"Sudah, lakukan sesuai perintah!" kata Dika.


Dika pun pulang dan mengendari mobilnya sendiri dengan pelan, sambil memikirkan kejadian tadi dan juga kondisi Dekta.


"Apa tujuan mereka, siapa mereka? Ini sangat jelas, mereka menginginkan aku bukan Dekta," batin Dika.


Tak berapa lama, Dika pun sampai di rumah dengan lunglai, lemas, dan penuh dengan noda darah.


"Haaa...Dikaa," teriak Ibu Uma yang melihat Dika dan langsung menghampiri Dika.


"Ya ampun Dika kamu kenapa nak?" tanya Pak Tio.


"Ini bukan darahnya Dika mah, pah. Ini darahnya Dekta. Sesuatu terjadi kepada Dekta di kantor tadi," kata Dika dan menceritakan kejadiannya kepada orang tuanya. Setelah selesai menceritakan kejadian tadi, Dika lalu berjalan lemas ke kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya.


Ibu Uma masih tetap panik, apa yang sebenarnya terjadi. Masalah seakan datang bertubi-tubi, Ibu Uma pun segera menghubungi Ocha.


"Halo Ocha.. maaf tante menganggu," kata Ibu Uma.


"Ia tante," kata Ocha yang masih setengah sadar karena sebenarnya Ocha sudah tertidur pulas tadi.


"Ocha? Apakah kamu tau Dekta baru saja terkena musibah, dan Dika juga hampir terluka," kata Ibu Uma.


"Apa?" kata Ocha kaget dan langsung terperanjat dari kasurnya.


"Ia, kata Dika ada yang mencoba mencelakai Dika, tetapi yang kena malah Dekta Cha," kata Ibu Uma.


Ocha yang mendengar itu semua pun kaget, baru saja tadi pagi dia bercanda tawa dengan Dika walaupun dari ponsel tetapi masalah baru telah datang.

__ADS_1


Pagi harinya, Dika segera pergi ke kantor dan mencari bukti. Di kantor Dika sudah banyak orang dan juga Polisi sudah berkumpul. Polisi menemukan tongkat besi yang dipakai untuk memukul Dekta. Saat ini, tongkat besi itu dijadikan sebagai tanda bukti dan mencari sidik jari pelaku yang sebenarnya.


Polisi juga menemukan kabel yang memang sengaja di potong untuk memadamkan semua lampu di kantor.


Sesampainya di kantor, Dika langsung menghampiri Polisi tersebut dan menceritakan kejadian semalam walaupun Dika tidak melihat kejadian pastinya.


"Tolong selidiki kasus ini sampai tuntas pak, saya ingin pelakunya diketahui!" kata Dika kepada Polisi.


"Baik, kami akan menyelidiki kasus ini dan saya meminta agar anda menjadi seorang saksi disaat kejadian tersebut terjadi," kata Pak Polisi tersebut.


Dika pun bersedia menjadi saksi dan Dika ingin segera menangkap siapa pelaku yang tega berusaha mencelakainya dan juga yang telah mencelakai Dekta.


Masih di dalam Rumah Sakit, Dekta masih terbaring dan kini Dekta sudah mulai tersadar.


"Dekta, alhamdulillah kamu udah bangun. Aku takut kamu kenapa-kenapa," kata Elsa.


Dekta pun tidak berkata apa-apa dan hanya memberikan senyuman kepada Elsa yang setia menunggunya.


Sedangkan Disa putrinya, Elsa titipkan kepada mamahnya. Dan nanti siang mamah dan papahnya Elsa akan segera datang.


"Aku harus telepon Dika, tapi aku takut mengganggunya. Tapi aku khawatir sama Dika dan juga Dekta, apa aku telepon. Atau enggak ya," batin Ocha.


"Aku harus telepon Dika," kata Ocha berbicara sendiri lalu langsung menelpon Dika.


Drrt.. drrtt.. drrrt...


Ponsel Dika bergetar dan dilihatnya tertera nama Ocha lalu di angkatnya telepon tersebut.


"Dika.. aku udah denger semuanya dari tante, kamu baik-baik aja kan?" tanya Ocha.


"Aku baik, kamu gak perlu khawatir," kata Dika.


"Dekta?" tanya Ocha.


"Aku belum ke Rumah Sakit, rencananya sekarang aku mau kesana. Maafin aku ya bikin kamu khawatir," kata Dika.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa Dika," kata Ocha.


"Kamu gak usah khawatir, aku akan baik-baik aja," kata Dika.


Dika dan Ocha pun masih mengobrol di telepon dan Dika mengingatkan Ocha harus tetap waspada, karena Dika mempunyai firasat buruk tentang ini.


Ocha pun mengiyakan perkataan Dika karena bagaimana pun seseorang itu hampir saja mencelakai calon suaminya. Sedangkan Ocha setelah selesai menelpon Dika, langsung menelpon Elsa.


"Ia Cha," kata Elsa yang mengangkat telepon dari Ocha.


"Aku udah denger semuanya El, gimana keadaan Dekta sekarang?" tanya Ocha.


"Sekarang udah baik Cha," kata Elsa.


Mendengar bahwa Dekta sudah membaik, Ocha pun merasa tenang karena bagaimanapun, Dekta dan Elsa kini adalah sahabatnya dan bahkan sudah di anggap saudara.


"Ocha, bagaimana keadaan disana?" tanya Mamahnya setelah mendengar kejadian semalam dari Ocha.


"Sudah membaik mah, Ocha merasa aneh kenapa ada orang sejahat itu!" kata Ocha.


"Pasti ada orang yang sengaja melakukan ini," kata mamahnya.


Di tempat lain, Bos besar masih merencanakan untuk membuat Dika hancur. Bahkan sekarang, Ocha pun menjadi target selanjutnya untuk membuat mereka berdua hancur.

__ADS_1


"Kamu tenang saja aku akan membuat mereka hancur. Kamu harus bersabar!" kata Bos besar kepada salah satu orang yang ia kenal.


Memang misterius orang ini, siapa dan apa tujuannya. Masalah apa yang dimilikinya adalah sesuatu yang sangat rahasia.


__ADS_2