Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
10. Alasan sebenarnya..


__ADS_3

Pagi hari di kota G. Mentari muncul dengan riang gembira. Hangat sinarnya menyentuh alam yang kedinginan.


Pagi yang terasa sangat berbeda dengan suasana desa. Disini udara pagi pun terasa sedikit pengap karena bercampur kepulan asap dari pabrik-pabrik yang beroperasi 24 jam.


Pagi yang begitu sibuk dengan rutinitas padat kawasan industri. Pekerja yang pulang maupun baru berangkat, pedagang yang berjejer di sepanjang trotoar, tempat-tempat penitipan motor yang selalu ramai, tapi tunggu, apakah tempat penitipan juga ada sistem kerja sif disini?


Entahlah.


Aku dan Kia berjalan kaki dari kos Anis. Kami berpapasan dengan para pekerja yang baru pulang dari sif malam. Mereka tetap tersenyum dan bercanda dengan teman-temannya meski guratan keletihan tampak jelas wajah mereka.


Oh apakah nanti aku akan punya kesempatan untuk merasakan dunia kerja seperti mereka? Batin Kia.


Apakah nanti aku sanggup bekerja di sif malam? Dimana malam sampai pagi bekerja dan siang hari bisa tidur di kos. Batin ku


Kami sampai di terminal. Lalu lalang bis dan angkutan umum sudah ada di depan kami.


"Nya, kamu nanti langsung pulang atau mau ke mana dulu?", tanya Kia.


"Aku mau pulang aja. Udah kangen rumah." Jawabku ragu, sejujurnya aku malu karena belum bisa bekerja, aku takut nanti ibu dan ayah akan semakin banyak mendapat cemoohan dari tetangga yang julid.


"Wah kalau gitu jangan pulang dulu Nya," Ujar Kia sambil tersenyum penuh makna.


"Lu gimana sih? Kok malah nyuruh gue gak pulang dulu?, " sentak ku pada Kia.


"Sini duduk dulu, aku mau kasih tau kamu sesuatu," Ucap Kia lalu duduk di barisan kursi tunggu paling depan.


Aku mengikuti Kia. Duduk disampingnya, meletakkan tas ranselku di samping kaki kananku. Kia melakukan hal yang sama, tapi kemudian dia mengambil ponselnya, mengutak-atik sejenak lalu menyodorkannya padaku.


"Maksud lu apa sih Ya? Yang jelas dong.." ujar ku kesal.


"Nih baca dulu, semalam aku dikabari kak Dewi kalau kak Zidan mau melanjutkan S2 ke luar negeri." Ujar kia sambil meletakkan ponselnya ke tanganku.


Aku mengambilnya dengan sedikit berdebar. Kubaca sekilas isi percakapan kak Dewi dan Kia. Mataku melotot dan terperangah seketika saat tau alasan kepergian kak Zidan.


"Apa-apaan sih. Gak keren tau alasannya." Ucapku kesal.


"Halah sudah kuduga kamu pasti bilang begitu. Nih Nya coba kamu pikirin. Dia itu posisinya lagi patah hati, jadi wajar dong kalau dia milih pergi menenangkan diri, daripada bunuh diri, itu baru gak keren namanya," jelas Kia berapi-api.

__ADS_1


Aku mengangguk setuju mendengar ucapan Kia. "Tapi gak dibagi tau ke kak Dewi juga kali Ya alasan sebenarnya dia pergi itu apa," ujar ku kembali kesal.


"Itu kan karena kak Dewi penasaran jadinya dia pepet terus tuh kak Zidan biar cerita, tapi gak sampek sebut nama kamu Nya, itu kak Dewi sendiri yang menyimpulkan kalau kamu adalah wanita yang menolak kak Zidan," jelas Kia.


"Ah, sudahlah, bikin pusing aja. Naik itu aja yok.." Aku melangkah gelisah ke arah bis yang baru datang. Kia menyusul di belakangku.


"Lagian kamu kenapa sih nolak kak Zidan segala Nya? Bukannya kalian cukup dekat?" tanya Kia setelah dia duduk manis di sampingku.


"Gue masih mau hidup normal di desa Ya," ucapku lirih.


"Heiii itu kalimat gue tau!," protes Kia. "Tapi bener juga sih, kak Zidan banyak yang naksir, nanti kalau dia jadian sama elu bisa-bisa mereka semua protes terus demo anarkis di depan rumah lo Nya, haha."


"Hayalan lu kali ini bener Ya. Hahaha".


Kami menikmati perjalanan kami dengan saling bercerita dan bercanda. Satu fakta yang mungkin memang harus kuterima adalah aku kini menjadi incaran kekesalan semua fans kak Zidan di desa.


Huuuffft. Aku meniup ujung poniku.


*T*erserah mereka lah nanti mau bilang apa, yang jelas gue udah nolak kak Zidan, dan itu artinya mereka masih punya kesempatan buat dekat sama doi kan? Batinku.


"Nya ikut gue bentar ya, jangan pulang dulu. Ya ya ya?", ucap Kia setelah kami turun, tinggal naik satu angkot lagi sampai ke desa.


"Ketemu kak Zaky." Ucap Kia lirih dengan sedikit menunduk, malu.


Aku mengerutkan kening mendengarnya. "Wait. Tunggu deh Ya. Kak Zaky? Bukannya itu kakak mantan pacar lu?" Tanyaku heran.


"Iya. Udah deh jangan banyak tanya. Gak jauh kok tempat ketemunya. Di taman dekat gapura masuk desa kita. Ya? Mau kan temenin gue? Please.." Kia memohon, mendongak sambil memasang wajah sendu di hadapanku.


Aku mengusap kasar wajahku. "Haduhhh iya deh iya. Gila nih pulang-pulang udah punya profesi jadi obat nyamuk orang.''


Kia tergelak mendengar ucapanku. "Gak papa lah Nya, itu dihitung pahala tau karena menyenangkan hati saudaranya. Haha".


"Rese lu. Udah ayo cepetan."


Kia tertawa lepas mendengarku menggerutu sepanjang perjalanan kami menuju taman. Sesekali dia meledekku yang sekarang harus lebih tahan banting menghadapi kegilaan fans kak Zidan nanti.


Kami sampai di taman. Ternyata kak Zaky sudah menunggu di salah satu meja yang ada di stand fast food ujung taman ini. Kulihat wajahnya lebih cerah saat melihat keberadaan kami. Oh ralat, bukan kami tapi cuma Kia.

__ADS_1


"Hai. Sudah lama nunggu kak?" ucap Kia berbasa-basi.


"Gak kok. Baru sepuluh menitan. Kalian mau pesen apa?". Ujar kak Zaki sambil menyodorkan pilihan menu di stand ini.


"Aku jus avocado aja kak. Kamu apa Nya?"


"Udah samain aja," ucapku canggung.


Gila banget nih si Kia. Gue mau ngapain coba ada di tengah mereka yang lagi kasmaran?. Batinku kesal


"Sebentar-sebentar, kamu Anya temannya Fadli sama Ozi bukan? Yang selalu juara kelas dan selalu saingan sama Sinta dan Vivi?" Tanya kak Zaky padaku.


Aku meringis mendengarnya. "Gak selalu kok kak. Fadli-Ozi-Sinta-Vivi mereka juga juara kelas kak, kita emang teman seangkatan. Btw kakak tau darimama?", tanyaku kemudian.


"Aku dan Fadli tuh sepupu jauh. Kebetulan kemarin pas acara keluarga kita ketemu terus dia cerita katanya nilai UAN dia kalah jauh sama yang namanya Anya dan Sinta." Jelas kak Zaky.


"Ternyata dunia ini sempit juga ya. Anya ini sobat paling pinter kak, paling berani juga." ujar Kia seraya mengedipkan sebelah matanya padaku.


"Berani apaan. Jangan aneh-aneh deh Ya." Ucapku kesal. Nih bocah kalau matanya udah mengerling gini pasti otak jahilnya lagi berjalan.


"Berani. Berani nolak lamaran cowok paling famous di desa kami. Haha". Tawa Kia pecah lagi setelah meledekku.


"Sialan lu Ya." Ucapku kesal. Si Kia gak ada jaim-jaimnya ada cowok di depan malah ketawa ngakak.


Kak Zaky ikut tertawa mendengarnya. "Yang bener? Wah itu sih keren. Tinggal siapin betadine sama plester aja. Jaga-jaga kalau nanti ada fans yang nyakar kamu Nya, Haha".


Pasangan klop nih kayaknya. Yang satu menjahili, yang satu ikut membully. Benar-benar sial berada di antara mereka.


"Udah ah gue mau menikamati minuman sambil liat yang hijau-hijau aja. Lihat kalian bikin darah tinggi gue naik tau gak." Ucapku kesal lalu melangkah meninggalkan mereka.


"Woi Nya jangan jauh-jauh. Nanti diculik cowok ganteng loh", teriak Kia dengan tetap mempertahankan tawanya.


Aku hanya melambaikan sebelah tanganku padanya tanpa menoleh. Apa tadi Kia bilang? Diculik cowok ganteng. Hah ada-ada aja tuh bocah.


Aku melangkah melewati beberapa pohon besar di kanan kiri jalan setapak ini. Hmmm memang benar, lebih indah menikmati udara di tengah taman ini dari pada ditengah mereka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2