Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
72. Fani takut.


__ADS_3

Fani POV


Aku mengerjap. Membuka kelopak mata perlahan-lahan. Rasanya sungguh berat, seperti ketika tertidur seharian penuh setelah semalaman begadang di nikahan tante ku minggu lalu.


Aku di mana? Kenapa sepi sekali? Ruangan ini serba putih, tapi tirainya hijau. Di mana ini? Ibu.. Ayah.. Kak Anya.. Fani takut. Batin Fani


"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak. Bisa gerakin jari tangan kamu nak?" Pinta seorang perawat yang sedang mengecek kondisi Fani.


Aku menggerakkan jari-jari ku dengan sekuat tenaga. Namun hasilnya, hanya jari telunjuk dan jari tengah yang berhasil ku gerakkan.


"Bagus. Kepalanya masih sakit gak? Kalau masih sakit jawab dengan berkedip ya nak." Tanya sang perawat dengan suara lembut.


Sedikit sakit, berdenyut ngilu, sudah ku coba untuk bergerak tapi kenapa aku tak bisa? Dimana ibu? Huaaaa... Fani takut bu. Batin Fani.


Aku berkedip satu kali, lalu berusaha bicara dengan mengerahkan seluruh kekuatan otot yang kumiliki.


"Kenapa nak?" Sang perawat khawatir melihat ku yang mulai berkeringat dan ngotot ingin mengeluarkan suara.


"I...i...i.....i...ib... bu..."Akhirnya hanya satu kata itu yang berhasil ku keluarkan.


"Oh ibu...emmm...ibu kamu mungkin masih tidur. Ini tengah malam sayang, besok pasti ibu kamu kesini, oke? Sekarang tidur lagi ya, jangan berpikir macam-macam dulu." Bujuk sang perawat dengan suara penuh kasih sayang.


Aku hanya berkedip lagi satu kali untuk menjawabnya. Perawat ini baik, tak marah-marah seperti om mantri kalau Fani tanya berkali-kali


Mikir macam-macam? Mikir apa emangnya? Fani kan cuma tanya di mana ibu? Fani pingin makan telur dadar sosis. Fani lapar, tapi masih sakit gak bisa bergerak. Batin Fani.


"Anak baik. Tante keluar dulu ya sayang. Selamat malam." Ucap sang perawat sebelum pergi meninggalkan ku sendirian di sini.


Tiba-tiba, sebuah ingatan berkelebat di otak kecil ku. Sedikit buram namun tampak nyata seperti tengah menonton film kartun di televisi jadul milik nenek.


Bayangan-bayangan berkelebat semakin jelas. Berulang-ulang, hingga membuat kepala ku berdenyut berkali-kali.


Ayah tiba-tiba menghentikan motornya, lalu mobil besar yang besar sekali menghantam motor kami. Aku terbang beberapa meter, ibu berguling-guling di jalanan, sedangkan ayah tak terlihat ada di mana.


Aku tercekat. Keringat membasahi pelipis kiri dan kanan ku. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kuingat. Apa aku sedang berkhayal? Atau bermimpi? Kenapa film nya cepat sekali?


Aku melirik ke sisi kanan. Ada infus menancap di pergelangan tangan ku.


Aku melirik ke kiri. Ada juga botol infus tapi dengan cairan merah di dalamnya.


Aku melirik ke atas. Namun tiba-tiba rasanya berputar, terasa semakin pusing melanda kepala ku.


Apa in!?


Ada perban di kepala ku??


Aaaaa tidaaakkkk..!! Kenapa kepala ku di perban? Apa rambut ku hilang? Apa aku gundul sekarang?? Aaaa ibuu toloongg. Batin ku.


Aku takut, lalu menangis tanpa suara hingga tanpa sadar kelopak mata ku tertutup. Aku jatuh ke alam mimpi dengan gelisah tiada henti.

__ADS_1


Fani POV end.


.


.


.


Pagi hari di rumah sakit. Ketika para perawat berganti shif, beberapa dokter mulai masuk ke ruangan masing-masing, serta OB yang hilir mudik menyapu dan mengepel lantai, aku keluar dari kamar rawat ibu.


Berdiri di taman depan, sembari merentangkan kedua tangan ke samping. Menghirup udara pagi yang begitu bersih dan segar, serta menikmati sinar mentari yang begitu hangat menyentuh kulit ku.


"Nya, ini sarapan lu." Ujar kak Selly mengagetkan ku.


"Kak Selly..kenapa jadi kakak yang cari sarapan? Harusnya kan aku.." Keluh ku dengan sedikit kikuk.


"It's ok. Gak apa-apa. Yang penting kita sarapan dulu." Kak Selly membuka kotak nasi, kemudian menikmati sarapan bersama ku.


Aku kembali merenung. Apa yang harus ku lakukan setelah ini. Ibu masih harus menjalani operasi kedua. Fani belum juga pulih.


Aku tahu biaya operasi dan rumah sakit ibu telah di tanggung kak Vero. Namun bagaimana jika ibu telah keluar nanti? Bagaimana jika Fani menanyakan tentang ayah?!?


Tanpa sadar air mata ku kembali menetes. Baru memikirkan saja aku rasa aku sudah tak sanggup menatap wajah imut Fani yang pasti akan kecewa dan tak mungkin terima jika ayah telah tiada.


"Hei, kenapa lu nangis lagi Nya? Please kasih tau gue. Jangan gini...." Ucap kak Selly khawatir.


"Dengerin gue kali ini Nya. Lu adalah teman baik Gara, lu udah seperti adik Vero. Jadi, gue juga anggep lu seperti adik gue sendiri. Lu bisa cerita apapun, dan gue dengan senang hati akan bantu lu, gue bakal berdiri disamping lu buat hadapin semuanya." Ucap kak Selly mantap, seraya menatap mata ku dengan tajam.


Aku menelan makanan ku dengan kasar. Kata-kata kak Selly entah kenapa membuat ku kembali bersemangat.


"Makasih kak..." Ucap ku kemudian tanpa sadar. "Gue cuma bingung kak...gimana nanti kalau Fani bangun lalu nanyain ayah? Anya gak sanggup buat jelasin semuanya kak." Jelas ku.


"Sabar Nya....sabar... Lu fokus kerja aja, oke? Biar gue sama tante Mina yang menangani semuanya di sini." Kak Selly tersenyum hangat. Menularkan energi positifnya pada ku.


"Baiklah, sepertinya gue selalu kalah kalau berhadapan sama kakak." Aku lega, namun masih terasa ada yang mengganjal di hati, entah apa.


Selanjutnya kami menghabiskan sarapan sembari mengobrol santai. Membicarakan hal-hal remeh sembari mengenang masa-masa sekolah yang lebih seru dari pada kerumitan hidup saat kita dewasa.


Beberapa kejadian masa sekolah memang menyenangkan ketika kita kenang. Tentang kepolosan kita, kenakalan kita, tentang cara kita mengagumi lawan jenis, bahkan bisa jadi pacar pertama kita pun ada di masa sekolah.


"Serius waktu sekokah lu belum pernah pacaran Nya?" Tanya kak Selly penasaran.


"Ssstttt....jangan keras-keras dong kak."


"Hehe...sorry..."


"Iya bener kak. Ayah yang melarang, katanya kalau sekolah ya sekokah aja, belajar yang benar, kalau pacaran malah di nikahin nanti." Ujar ku cemberut, sembari menerawang ke masa lalu dimana ada ayah yang senantiasa menasihati ku dengan bijak.


"Haduh...jadi lu takut di kawinin kalau lu pacaran? Haha...polos banget ternyata lu Nya.." Kak Selly malah menertawakan ku.

__ADS_1


"Yee..biarin. Tapi justru dengan kata-kata ayah waktu itu, gue emang bisa selalu jadi juara kelas kak." Sahut ku bangga.


"Tapi lu beneran gak pacaran? Gak ada yang lu suka? Atau suka sama lu? Atau lu backstreet?" Tanya kak Selly beruntun.


"Kakak nih nanya, apa lagi wawancarain Anya sih?" Lakar ku sembari memasang wajah kesal.


"Haha...dua-duanya. Udah jawab aja napa."


"Yang gue suka ada sih kak, satu angkatan pas SMP. Tapi cuma kagum doang, gak tau deh dia anggep gue apa." Jawab ku datar.


"Jadi semacam pengagum rahasia gitu nih? Kalau yang suka sama lu?"


"Ada. Tapi gak gue tanggepin, gue cuma anggep mereka semua teman kak. Belum ada yang bisa bikin gue jatuh. Kecuali....." Aku terdiam, teringat kembali dengan sang mantan.


"Kecuali Arya?" Sahut kak Selly.


"Kakak tahu?" Aku terkejut, dan reflek langsung menoleh ke arah kak Selly.


"Tahu dong." Jawab kak selly sembari tersenyum misterius ke arah ku.


"Tahu dari mana? Kak Vero cerita? Atau Gara?" Tebak ku random.


"Rahasia." Jawab kak Selly seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Idihhh...kenapa pakai rahasia-rahasia segala sih kak.!" Ujar ku berpura-pura kesal.


"Iya dong, nanti lu juga bakal tahu sendiri jawabannya." Jawab kak Selly.


"Yaudahlah terserah kakak aja." Tukas ku pasrah.


Kak Selly tertawa melihat ekspresi ku. Namun beberapa detik kemudian ia terdiam, sembari menatap tajam ke arah belakang ku.


"Anya." Sebuah suara tiba-tiba terdengar menyapa ku.


Aku terkesiap, dan terdiam beberapa saat sebelum menoleh ke belakang.


"Siapa ya?" Tanya kak Selly. Ia mulai waspada karena menangkap ekspresi gelisah ku.


.


.


.


...****************...


**Hayooo siapa tuh di belakang Anya?!?


Jangan lupa tinggalin like dan komentar kalian ya reader sayang.....🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2