Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
Rejeki anak sholihah


__ADS_3

"Bu, ini teman-teman saya yang mau ikut kos di sini.'' Ucap Ike setelah kami semua sampai di depan ibu kos.


Di toko masih ada beberapa pembeli dan ibu kos ini menghampiri kami setelah dua pembeli selesai dengan belanjaannya.


"Loh ini bukannya nak Anya?" Tanya ibu kos setelah melihat ke arah Kia dan aku.


"Iya betul bu... Adik isa kemana bu kok sepi?"


"Nafisa sudah tidur tuh di dalam sama ayahnya." Jawab ibu kos.


Kia dan Ike melirikku penasaran. Ike menaikkan alisnya ke arah Kia, kode bertanya 'kok temen lu kenal ibu kos?'


Kia membalas dengan menaikturunkan bahunya, tanda 'entahlah, gue gak juga gak tahu'.


Aku tersenyum geli melihat tingkah mereka. Tak lama kemudian Ike pamit akan membeli makanan bersama Inda.


"Oiya bu ini teman saya Kia. Kebetulan kami teman dari SMP dan berasal dari kota yang sama."


"Oh iya iya. Jadi mau di kamar yang mana nih?" Tanya ibu kos ramah.


"Yang paling besar bu. Satu kamar sama Ike dan Inda." Jawab Kia.


"Oke saya catat dulu ya..." Ibu kos mengeluarkan sebuah buku besar kemudian mencatat nama kami beserta tanggal masuk kos.


"Berapa per bulannya bu?" Tanyaku seraya memperhatikan catatan ibu kos.


"Sebenarnya seratus ribu, tapi karena ini nak Anya jadi ibu diskon sedikit ya, jadi sembilan puluh saja bulan ini." Ucap ibu kos sembari menilik ke arah wajahku dan Kia.


"Beneran bu? Apa gak apa-apa?" Tanyaku heran.


"Saya juga dapat diskon kan bu? Hehe" Ujar Kia harap-harap cemas.


"Iya....tapi nanti gak usah bilang teman kos yang lain ya." Jawab bu kos agak lirih, sekaligus menjawab pertanyaanku dan Kia.


"Alhamdulillah..makasih ya bu.." Ujar Kia senang.


"Tapi beneran gak apa-apa bu? Saya gak enak nih beda dari yang lain..." Ucapku bimbang.


"Sudah gak apa-apa. Anggap saja ini rejeki anak sholihah seperti kamu." Ujar ibu kos sambil tersenyum tulus ke arahku.


"Udah deh Nya terima aja. Rejeki ini rejeki." Seloroh Kia sedikit kesal.


"Sssttt iya iya." Sahutku agak malu."Kami bayar sekarang ya bu.." Ucapku kemudian mengambil dompet dari saku celanaku.


"Besok juga gak papa nak. Santai saja. Kalian sif berapa? Mau pindahan kapan?" Tanya bu kos.

__ADS_1


"Saya nonsif sama seperti Ike dan Inda bu." Jawab Kia.


"Saya besok sif dua bu. InsyaAllah pindahannya besok." Ujar Ku sembari mengambil uang dari dalam dompetku.


"Nya, ini masih jam delapan. Pindah sekarang aja yuk. Besok pagi gue kerja, lu mah enak kerjanya masuk siang, pagi bisa beres-beres kesini." Sahut Kia panjang lebar.


"Oh iya, bener juga. Yasudah kami pindahan malam ini juga ya bu.." Ucapku kemudian berpamitan kepada ibu kos.


Kami berjalan kaki kembali ke kosan Anis. Kia yang dipenuhi rasa penasaran pun langsung bertanya bagaimana aku bisa mengenal ibu kos tadi.


"Oalaa gitu to ceritanya.." Komentarnya singkat setelah dia mendengar ceritaku.


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku menjawab Kia. Tak terasa kami sampai di depan kos Anis.


Beberapa pemuda yang biasa duduk-duduk di sepanjang teras depan di sebelah kos Anis menatap kami dengan berbagai ekspresi. Ada Hilda dan juga beberapa penghuni kosnya di antara mereka


"Kalian dari mana?"Tanya Anis yang ternyata juga baru pulang dari kos pacarnya.


"Dari nyari kos Nis." Jawabku singkat sembari melepas sandal lalu masuk ke dalam kos. Aku dan Kia hanya menganggukkan kepala sekali untuk menyapa mereka semua.


"Woi Nya sudah dapat belum?" Teriak Hilda sebelum aku sempurna melewati pintu.


"Sudah Hil. Deket loh dari tempat kerja lu." Jawabku kemudian melangkah masuk. Hilda langsung beranjak dari tempatnya duduk ketika mendengar perkataan ku.


"Lu tau ruko pertama di seberang jalan dekat bundaran? Nah kos kita disitu, di lantai dua." Jelas Kia sekaligus menjawab rasa penasaran Anis dan Hilda.


"Wah.. mantap tuh Nya. Gue boleh main gak kalo istirahat nanti?" Ucap Hilda antusias.


"Boleh dong." Jawabku singkat sambil memasukkan beberapa barangku ke dalam tas ransel. Hilda kemudian pergi ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Anis.


"Kalian yakin kos di situ? Lebih jauh loh dari pabrik, dua puluh menitan jalan kaki. Lewat sepanjang jalan raya full, gak punya jalan terobosan lain kayak di gang sini." Ucap Anis khawatir.


"Gak papa Nis. Kita tadi udah cari kos baru muter-muter dari utara ke selatan, ke gang-gang juga tapi gak nemu yang pas, banyak kos campuran, atau kamar mandinya cuma satu." Jelas Kia.


"Hmmm iya juga sih,, tapi maaf ya gue gak bisa antar kalian pindahan, gue mau balik ke kos cowok gue, katanya ortunya nengokin dia." Ucap Anis kemudian bersiap dengan outer rajutnya.


"Iya Nis, santai aja. Kita terima kasih banget ya sama kalian semua udah mau nampung kita di sini." Ujar Kia sembari mengambil jaket dari gantungan baju milik Anis.


"Iya Nis, mending lu cepetan kesana deh, salam buat camer lu ya, beruntung banget tau dapat mantu sholehah kayak lu." Ucapku menggoda Anis.


"Haha. Sialan lu, bikin gue malu aja. Duhh gue kok jadi deg degan gini ya." Ujar Anis lirih, lalu duduk di dekat kami. Hilda kembali membawa beberapa bungkus makanan dan membaginya kepada kami.


"Apa nih?" Tanya Kia, mewakili keherananku dan juga Anis. Tak biasanya Hilda bagi-bagi makanan.


"Kalian masih ingat sama bos ganteng yang dulu gue ceritain? Yang pernah beli motor cash karena ada urusan mendadak terus langsung pergi ninggalin asistennya?" Tanyanya kepada kami.

__ADS_1


"Gue gak inget," Jawab Anis.


"Yang mana sih?" Jawab Kia malah penasaran.


Orang narsis yang itu, gue inget sih tapi kalau gue ngaku yang ada mereka pasti malah kepo soalnya cuma gue yang inget. Batinku.


"Terus apa hubungannya sama bungkusan ini?" Tanyaku mengalihkan pertanyaan Hilda tadi.


"Masak gak ada yang inget sih, haduh. Ini tadi dia beli nasi bungkus seratus porsi katanya sih ulang tahun kucingnya gak tau ini bener apa enggak, tapi kata asistennya sih gitu, terus dibagi-bagiin ke jalanan dekat bundaran. Waktu gue pulang masih sisa lima belas bungkus terus dikasihin ke gue semua. Haha. Gila gak tuh mereka?" Jelas Hilda berapi-api.


"Gila, ulang tahun kucing dibeliin nasi bungkus seratus porsi. Kalau orangnya yang ulang tahun kira-kira berapa porsi coba?" Ucap Anis heran.


"Hahaha, otaknya lagi geser kali makanya bagi-bagi nasi bungkus gratis sebanyak ini." Ujar Kia heran.


Jabatannya pasti tinggi nih, gajinya gede, makanya beli nasi bungkus sebanyak itu kayak kita kalau beli permen. Batinku.


"Udah gak usah debat. Shodaqoh dia kita anggap saja rejeki anak sholihah kayak kita. gimana? Hahaha." Ucapku memecahkan tawa kami semua.


"Haha. Bener tuh Nya. Yaudah yuk makan."


Kami semua duduk di ruang tengah, menikmati makanan gratis yang jadi lebih nikmat karena kami santap bersama-sama.


Hilda masih bercerita tentang pertemuan keduanya dengan asisten bos ganteng. Katanya si asisten tak bisa protes apapun perintah absurd bosnya karena tuntutan pekerjaan. Tapi dia juga mendapat gaji lebih sebagai ganti waktu lelahnya melaksanakan perintah sang bos.


"Jadi lu gak ketemu sama si bos, cuma asistennya doang?" Tanya Kia penasaran.


"enggak, tapi asistennya juga ganteng kok," Jawab Hilda.


"Lu mah asal cowok itu kasih untung sama kerjaan lu pasti lu bilang ganteng." Seloroh Anis, membuat kami semua mendengus tawa melihat ekspresi Hilda.


"Sialan lu, ya gak semua juga kali Nis, gue juga punya standart tau.." Ucapan kesal Hilda malah membuat kami semua tertawa kompak.


"Iya deh iya. Standart marketing penjualan bu Hilda ya.. hahaha." Ucapan Anis semakin membuat Hilda tak bisa berkata-kata.


"Iya deh iya gue ngaku. Gue sempet fotoin tuh asisten pas beli cash motor bosnya. Gue pajang di website dealer buat promosi. Dan hasilnya besoknya banyak tuh yang ikutan beli motor karena kepo sama tampang asisten bos ganteng. Haha.." Ujar Hilda menertawakan dirinya sendiri.


"Lu gak fotoin bosnya?" Tanya Anis penasaran.


"Gak lah, orang bosnya abis milih motor langsung dinaikin terus cuma pamit ke asistennya 'Kamu urus pembayarannya, sekalian pilih satu buat kamu pulang nanti' gitu doang terus ngeluyur pergi." Ucap Hilda ikut menirukan gaya bicara sang bos.


"Gila gila gila. Tajir melintir kali ya tuh bos." Ucap Kia takjub.


Kami kemudian terdiam dengan pikiran masing-masing.


Hmm walau aneh tapi bijak juga nih orang. H**ei orang narsis, di manapun lu berada. Makasih ya? Batinku yang tiba-tiba mengagumi sang bos aneh.

__ADS_1


__ADS_2