
Malam semakin larut menunjukkan eksistensinya, namun lampu-lampu yang menyala di seluruh kota seakan menolak pesona sang malam.
Di sudut balkon luar sebuah kafe nampak seorang pria muda berkonsentrasi mengerjakan sesuatu di mejanya. Jas hitamnya tersampir di sandaran kursi sementara kemeja lengan panjangnya tergulung sampai siku.
"Tuan memanggil saya?" Tanya seorang pria berjas abu-abu yang baru datang ke hadapannya.
"Duduk sini. Sudah ku bilang kalau di luar jangan bersikap formal padaku..!" Gerutu sang pria kemudian menyerahkan sebuah map pada seseorang yang baru datang tadi.
"Maaf. Ada apa? Aku sudah mengamankan bisnismu, tak ada yang tau selain kita dan para manager"
"Pras, paman Dan memindahkan S2 ku keluar negeri. Pastikan kakakku aman. Taruh dua pengawal bayangan di sisinya. Jangan biarkan laki-laki bajingan itu mendekat sedikitpun." Ucapnya sambil menahan geram amarah.
"Ayahmu hanya mengkhawatirkan mu Kris. Beliau juga menepatkan pengawal bayangan untuk kakakmu di sana."
Pria yang di panggil Kris tak menjawab. Dia mendesah kasar lalu berdiri, melangkah ke pembatas balkon, mengamati lalu lalang kepulangan para pekerja sif dua di bawah sana . Ya, kafe ini berada seratus meter dari gedung PT. KingNoodle.
"Nyaa.. tungguinn..!!" Teriakan melengking seorang gadis di bawah sana menyita perhatiannya. Gadis itu berlari sambil meneriaki temannya yang dengan santai mengantri Thaitea di pertigaan jalan tepat di seberang kafe ini.
Si teman tertawa sambil menyodorkan satu cup Thaitea ke hadapan si gadis yang berteriak tadi lalu mereka tertawa-tawa sepanjang jalan pulang.
Oh ternyata cewek aneh ini sif dua. Ternyata dia jujur kerja di KingNoodle. Batin Kris.
"Bro, lu senyum?" Tanya Pras yang telah berdiri di samping Kris. Ikut celingukan mengamati orang-orang yang ada di bawah sana.
Gila. Ini kedua kalinya gue lihat si bos senyum lembut. Sama siapa sih? Batin Pras.
"Gue suka lihat para pekerja itu. Mereka pulang dengan gembira padahal pekerjaan mereka berat." Jawab Kris tanpa menoleh ke arah Pras.
"Sudah jangan di fikirkan. Ayo pulang."
Mereka meninggalkan kafe dengan fikirannya masing-masing.
.
.
.
.
Kejadian di bawah kafe....
__ADS_1
"Nyaa.. tungguinn...!!" Teriak Monika sambil berlari ke arah Anya.
"Apa sih teriak-teriak. Nih gue beliin es cup, lu pasti juga capek dan gerah kan?" Ujar Anya sambil menyodorkan satu cup Thaitea ke hadapan Monik.
"OMG Anya... lu baik banget sih, gue meleleh tau.. hahaha.."
"Basi. Gombalan lu gak mempan tau.. hahaha.."
"Gue bukan cuma capek dan gerah, tapi udah mau makan orang ini. Gila mie berjalan bikin puyeng, kakak senior teriak-teriak marah-marah mulu lagi." Gerutu Monik setelah meneguk hampir setengah cup esnya.
"Udah jangan difikirin, anggep aja radio rusak Mon.. hahaha.."
"Line ekspor itu terkenal galak tapi kocak Nya, sedangkan line gue? Gak ada humor nya sama sekali tau gak. Garing. Astaga Nya. Gue bisa tua sebelum umurnya lama-lama di sana." Monik mengeluh sampai Thaitea di tangannya ludes.
"Kita masih baru Mon. Anggap aja kita masuk MOS, dan mereka lagi menguji kita sampai mana batas kesabaran kita ngadepi dunia mereka." Jawabku sok bijak, lalu menyerahkan cup es milikku yang masih setengah ke tangan Monik.
"Hahaha. Lo bener juga Nya. Okelah ayo kita takhlukkan dunia mereka...!!" Monik menerima Thaitea bekasku tanpa komentar lalu meminumnya sampai habis.
"Lo kira kita mau kudeta merebut kekuasaan. Hahaha".
Mereka bercerita dan tertawa-tawa sepanjang perjalanan pulang. Melebur rasa lelah dengan lelucon-lelucon tak penting. Sampai di kos Monik terduduk di depan tv, sementara aku langsung ke kamar mandi mencuci kaki dan tangan.
"Wah kalian baru pulang?" Tanya Putri seraya keluar dari dalam kamarnya membawa keripik pisang.
"Lesu amat. Nih mau camilan gak?" Ucap Putri sambil menyobek bungkusan plastik keripik lalu meletakkannya di depan Monik.
"Mau banget. Tau aja kalau gue pengen nyemil." Monik langsung mengambil dua keripik dan memakannya.
"Awas Put. Si Monik katanya lagi mau makan orang itu. Hahaha.." Ujarku setelah keluar dari kamar mandi dan langsung berlari ke kamar menghindari tatapan tajam Monik.
"Heh awas lu ya Anya Geraldine.!" Ucap Monik sambil tetap memakan keripik, sementara Putri cuma nyengir memperhatikan kekonyolan kami.
"Capek gak di Packing?" Tanya Putri.
"Banget...!!!" Jawab Monik.
Samar-samar aku masih mendengar mereka mengobrol sampai akhirnya aku masuk ke kamarku.
Kia dan Inda sudah tidur. Ike masih sibuk dengan ponselnya.
"Gimana Nya sif dua? Enak?" Tanya Ike.
__ADS_1
"Enakan kalian sif satu terus. Sif dua waktunya panjang banget. Mana ngapa-ngapain serba antri." Keluhku sambil melempar tas ke atas kasur lalu mengambil baju ganti di almari.
By the way almariku jadi satu dengan Kia, almari Ike bersama Inda, sedangkan satu almari lagi kami biarkan kosong.
"Tapi aku juga pengen ngerasain kerja sif dua Nya. Kayaknya enak, bisa jalan-jalan pagi, bisa tidur siang. Hmmmm". Ike membandingkan keduanya sambil memejamkan mata.
"Yah itu sih bagian enaknya Ik..." Aku tersenyum ke arah Ike. Sepertinya aku harus lebih banyak bersyukur daripada mengeluh, karena apa yang dikatakan Ike itu benar. Ini keuntungan sif dua yang tak dimiliki pekerja nonsif seperti Ike.
Aku keluar. Mandi, ganti baju. Lalu bersiap untuk tidur. Monik masih setia di depan tv. Mungkin itu kebiasaan dia selama sif dua ini.
Drrrt....
Ponselku bergetar. Kulihat ada dua pesan masuk dari nomor tak dikenal.
0821xxxxxxxx
Assalamu'alaikum Anya. Apa kabar? Kuharap kamu baik, tetap sehat, dan pekerjaan lancar. Maaf kalau aku mengganggu, tapi aku tak bisa menghentikan hatiku yang terus merindukanmu.
Zidan.
0857xxxxxxxx
Hai Zahra. Ini Arya, masih ingat gak? By the way gimana kabarmu? Kata Kia kalian kerja di kota G ya? Akhir bulan ini aku pulang. Mau ketemu gak? Please balas ya...
Aku menganga membaca dua pesan itu. Sudah satu bulan lebih kepergian kak Zidan dan baru kali ini dia mengirimiku pesan seperti ini.
OMG. Apa di sana tak ada gadis cantik hingga dia masih saja menggombaliku? Dan apa ini? kak Arya? kak Arya wakil OSIS bukan sih?Batinku.
Dulu aku sempat menjadi secret admire si wakil ketua OSIS ini sih. Dia manis dan sangat ramah. Namun kami hanya berteman karena dia sudah memiliki kekasih waktu itu.
Huffftth. Aku meniup ujung poniku. Kenapa dengan dua cowok ini ya? Kenapa mereka kompak sekali mengirimiku pesan?
Aku tak membalas pesan mereka. Juga tak menyimpan nomornya. Kuletakkan ponselku di atas meja kecil lalu merebahkan diri di kasur kosong sebelah Kia.
Kupandangi langit-langit kamar ini. Hari ketiga di kota ini banyak sekali yang terjadi. Line sembilan, sif A, sif B, kak Andini.
Aku tersenyum mengingat teriakan-teriakan dan umpatan kasar kak Andini saat kami semua tak fokus memasang bumbu. Kenyang dan mengantuk adalah alasan kami, namun teriakan dan lemparan bumbu kak Andini membangunkan kami, menyadarkan kami kalau ini masih wilayah kerja, apapun yang terjadi harus fokus, jangan sampai menjadi beban teman kerja lainnya.
Aku tak marah, aku memaklumi kemarahan kak Andini. Entahlah, mungkin kuliah lima detiknya sebelum kerja tadi sungguh masuk ke dalam hatiku jadi aku sama sekali tak kesal walau dia paling sering melempariku.
Kecelakaan yang di sengaja. Gara. Tanpa sadar aku tersenyum mengingat wajahnya. Baik sekali dia sampai memberikan semua uang di dompetnya ke ibu-ibu yang menjebaknya.
__ADS_1
Membelikanku bubur ayam perkenalan. Menjadikanku teman walau sedikit memaksa.
Lah. Kenapa aku malah ingat dia sih? Kazekage Gara teman naruto. Haha. Lucu juga. Kira-kira siapa yang kasih nama itu ke dia ya??? Batinku.