Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
74. Rencana


__ADS_3

"Bu...Anya pamit balik kerja ya.. Ibu cepat sembuh....." Pamit ku dengan berbisik di telinga ibu. Sampai saat ini ibu belum juga siuman. Masih tetap diam dalam posisi tidurnya.


Tante Mina menepuk pundak ku. Menguatkan ku dan mengatakan bahwa ibu dan adikku pasti akan baik-baik saja dan kembali sehat seperti semula.


"Iwan yang bakal anterin lu Nya, jangan naik bis sendiri dengan hati bimbang, bisa nyasar lu nanti." Ujar kak Selly ketika aku berpamitan dengannya.


"Tapi kak..." Aku bingung, apa yang harus ku katakan untuk menolaknya.


"Sssttt..udah diem, nurut aja kali ini, oke?" Tukas kak Selly seraya tersenyum tulus pada ku.


Seorang pengawal bayangan kak Vero yang bernama Iwan kini muncul dengan pakaian normal. Celana jeans hitam, T-shirt putih, serta hoodie hitam dengan garis putih di tengahnya.


"Sudah siap nona?" Tanya Iwan sembari melangkah mendekati ku.


"Panggil Anya aja, jangan nona." Sahut ku cepat.


"Tapi ini perintah.." Ia tak melanjutkan kata-katanya karena aku melotot dan menatapnya tajam.


Sial. Kenapa gadis manis ini juga nyeremin ya kalau lagi mode ketus? Batin Iwan.


"Haha..udah Wan, lu turutin aja apa mau nona muda kita ini." Ucap kak Selly seraya mengerling ke arah Iwan.


"Baiklah..... Anya." Ujar Iwan pelan, pasrah.


Aku melenggang keluar rumah sakit bersama Iwan. Berjalan beriringan sampai parkiran depan rumah sakit ini, kemudian Iwan meninggalkan ku untuk mengambil motornya.


"Anya...mau balik kerja?" Tanya seseorang di balik punggung ku. Aku berbalik, lalu menemukan kak Zidan yang tengah mengamati ku dari atas sampai bawah sampai sebuah ransel yang teronggok di sebelah kaki ku.


"Iya kak..." Jawab ku singkat.


"Aku antar ya." Pintanya, seraya mendekat ke arah ku.


"Nya. Ayo..." Seru Iwan dari arah belakang ku. Kak Zidan reflek langsung mengamatinya, menilik dari penampilan sampai motor matic besar yang dipakainya.


"Ini Iwan teman ku kak. Aku bareng dia balik." Ujar ku cepat sebelum kak Zidan maupun Iwan berbicara lagi.


"Oh..gitu ya...tapi lain kali boleh kan gue yang anter lu balik?" Tanya kak Zidan sedikit gusar.


"Iya kak...boleh." Jawab ku cepat.


"Yasudah hati-hati. Aku bakal sering-sering tengokin Fani sama ibu kamu disini." Ujar kak Zidan sembari melangkah mendekati Iwan.


"Iya kak..makasih.." Aku kemudian memperhatikan Iwan dan kak Zidan yang sepertinya berkenalan. Aku mendekat kesana, takut jika Iwan nanti mengatakan yang sebenarnya pada kak Zidan.


"Yuk Wan, keburu sore." Ajak ku dengan sedikit gelisah.


"Pelan-pelan bro bawa cewek." Ucap kak Zidan pada Iwan.


"Sip..!!"


"Balik dulu kak..." Pamit ku pada kak Zidan sembari naik ke boncengan motor Iwan.


"Tiati Nya..." Kak Zidan dengan sigap memindahkan ransel ku ke depan, menaruhnya di antara kaki iwan. Ia bahkan memindahkan tas slempang ku ke depan sembari berkata, "Taruh depan aja, biar aman dari jambret dan orang asing."

__ADS_1


Aku mengangguk samar, kemudian tersenyum ke arahnya. Perhatian yang manis. Membuat ku sedikit tersipu hingga perlahan motor Iwan melaju meninggalkan area rumah sakit.


Iwan sempat menoleh ke belakang ketika kami akan menyebrang jalan raya, tapi ia tak mengatakan apapun.


"Wan nanti berhenti di bundaran aja ya," Ujar ku di tengah perjalanan kami.


"Kenapa?" Tanya Iwan.


"Gak apa-apa." Jawab ku singkat.


Duhh..bisa viral nanti di kos kalau gue balik dibonceng cowok lain lagi. Males banget ngladenin keponya Kia sama Ike. Batinku.


"Gak bisa Nya. Sorry, tugas gue ngantar lu sampai kos dengan selamat." Bantah Iwan tegas.


"Yaudah deh terserah lu." Jawab ku pasrah. Aku hampir lupa jika Iwan adalah salah satu pengawal kak Vero yang mustahil mau menurut pada permintaan ku.


Sementara itu di rumah pak Dan. Tiga orang hacker nampak serius dengan laptop dan tugas masing-masing. Mereka memeriksa beberapa tayangan CCTV kemudian menganalisa dan mencocokkan detail tersebut dengan pembobolan di rumah utama bos mereka.


"Bagaimana? Kalian menemukan sesuatu?" Tanya pak Dan pada mereka.


"Sepuluh meter dari rumah bos ada minibus dengan plat 34xxx yang kemarin kami curigai ternyata memang benar pelakunya pak." Jawab hacker 1 mantap.


"CCTV di rumah utama memang di sadap pak, namun ada dua kamera pengintai yang luput dari pengamatan mereka. Silahkan anda lihat." Ucap hacker 2 sembari menunjukkan hasil temuannya.


Dalam rekaman tersebut nampak jelas tiga orang pria dan seorang wanita masuk ke salah satu kamar asisten rumah tangga selama lima belas menit. Kemudian mereka keluar bersama dan di hadang dua pengawal, beberapa menit berkelahi akhirnya dua pengawal kalah. Lalu mereka mengikat dua pengawal dan memasukkannya ke dalam gudang.


"Stop. Coba ulangi menit delapan belas, pas si wanita keluar dari kamar itu." Pinta pak Dan dengan sedikit cemas.


Pas ketika rekaman itu di ulang, dan di hentikan di menit delapan belas, pak Dan membelalakkan matanya karena terkejut.


Mengapa nyonya besar ke kamar bu Ami? Apa yang beliau rencanakan? Batin pak Dan.


"Kenapa pak?" Tanya hacker 2.


"Lupakan. Dan kamu, apa yang kamu temukan?" Tanya pak Dan pada hacker 3.


"Ini sangat aneh pak. Saya menemukan ada chip kecil di bawah ranjang kamar art itu. Itu semacam alat sadap, tapi saya belum bisa menemukan di mana pengontrol dan memorinya, sepertinya chip ini sudah sangat lama." Jawab hacker 3 seraya meletakkan sebuah chip di atas meja.


"Good. Bawa chip itu, tetap selidiki segala kemungkinannya." Ucap pak Dan kemudian berlalu meninggalkan mereka.


...----------------...


"Apa rencana papa selanjutnya?" Tanya Veronika ketika ia sampai di ruang kerja apartemen sang Papa.


"Kemari, papa butuh bantuan kalian kali ini." Seru sang papa serius.


Veronika mendekat, lalu duduk di antara Gara dan sang papa. Namun sebelum sang papa menjelaskan rencananya, ponsel nya berdering kencang.


"Ya..."


("..........")


"Appaaa...?.!?"

__ADS_1


(".....................")


"Baiklah, kita lanjutkan rencana B".


Sang papa menyelesaikan panggilannya kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas yang ia kenakan.


"Dengarkan papa. Besok papa akan mengundurkan diri, lalu menunjuk Gara sebagai pengganti papa. Dan Vero, tugasmu berpusat di kota G dan kota J. Sementara ini kalian jangan ada yang berhubungan dengan keluarga Ami agar musuh kita lengah. Kalian mengerti?" Ucap sang papa dengan raut wajah serius.


"Jadi papa sudah tau siapa musuh kita?" Tanya Gara seraya menatap tajam sang papa.


"Of course. Tentu saja." Sahut sang papa.


"Siapa pa?" Tanya Vero penasaran.


"Ini tugas kalian untuk menyelidikinya. Tunjukkan kemampuan kalian sebagai penerus HG Corp yang bisa di andalkan. Papa akan mengawasi kalian dari balik layar." Ujar sang papa sembari menebar senyum misterius ke arah putra-putrinya.


"Baiklah, Gara akan membuat sebuah gebrakan, Gara akan memajukan perusahaan agar musuh kita terfokus pada Gara." Ucap Gara serius.


"Oke. Vero bakal periksa semua divisi accounting seluruh perusahaan kita hingga cabang-cabangnya. Jika ada yang mengganjal atau mencurigakan, Vero bakal suruh beberapa bintang tiga untuk menyelidikinya." Sahut Vero tak kalah serius.


"Good. Kalian memang cerdas. Papa tunggu perkembangan kalian dalam satu bulan ini." Sang papa kemudian memberikan dua berkas rahasia kepada putra-putrinya.


"Papa yakin kita harus melakukan rencana ini?" Tanya Vero khawatir. Ia menatap sang papa kemudian beralih menatap sang adik.


"Itu tergantung Gara. Dia mau bertaruh atau tidak." Jawab sang papa.


Gara mengetuk pena pada meja beberapa kali, tanda jika ia sedang berfikir. "Hanya menganggap kekasih seperti biasa, paling parah bertunangan? Gara setuju." Ujar Gara optimis.


"Lu yakin dek?" Sahut Vero ragu. "Lu harus ekstra hati-hati. Carla bukan gadis yang gampang tertarik pada pria."


Sang papa tersenyum, kemudian bangkit dan menepuk bahu sang putra. "Papa yakin pesona mu pasti bisa menakhlukkan putri Smith yang sombong itu."


"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa segera kasih tahu kakak, oke?" Sahut Vero Khawatir.


"Iyaaaa bawel." Jawab Gara ogah-ogahan.


"Lebih bawel Anya tahu." Tukas Vero santai, hingga membuat Gara melengos dan mengejek dalam hatinya.


"Eh dek, Anya udah balik kerja loh. Lu gak pengen nemuin dia?" Bisik Vero ketika sang papa berjalan meninggalkan mereka.


"Serius? Trus yang jaga mami siapa?" Tanya Gara khawatir.


"Selly sama Iwan." Jawab Vero singkat.


"Tapi papa kan ngelarang kita nemuin Anya." Ujar Gara lesu.


"Iya sih. Hmmm yasudah kalau gitu kakak balik dulu ya.." Pamit sang kakak sembari memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya.


"Papa emang ngelarang kita nemuin Anya. Tapi kalau Anya yang datang menemui kita gak apa-apa kan?" Ujar Gara lirih seraya tersenyum smirk. Ia bahkan mengetik sebaris kalimat di aplikasi pesan ponselnya, kemudian mengirimkannya pada seseorang.


"Apa lu bilang? Jangan aneh-aneh deh. Jangan nentang papa..!" Sahut Vero sebelum ia pergi meninggalkan sang adik sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu, adiknya lebih licik dan pasti tengah merencanakan sesuatu yang hanya dia dan Tuhan yang tahu apa maksudnya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2