
"Bintang tiga, perintah dua..!" Teriak kak Selly begitu kami sampai di salah satu rumah di komplek perumahan mewah 'Mentari Indah'.
Gerbang tiba-tiba terbuka dan kak Selly langsung masuk ke sayap kiri menuju garasi. Ada satu CRV hitam terparkir dua meter dari motor kak Selly.
"Ini dimana kak? Rumah siapa?" Tanyaku setelah turun dari motor kak Selly.
"Rumah pak Dan. Ayo cepat Nya, kak Vero ada di dalam." Aku kemudian mengikuti kak Selly berlari-lari kecil menuju pintu masuk yang telah terbuka.
Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan kami dengan ramah. Ia tampak gelisah, menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala, seolah ragu akan mengatakan sesuatu.
"Maaf sebelumnya nona. Tapi bisakah nona menenangkan Vero? Sejak pagi dia terus mengamuk hingga kami terpaksa mengikatnya.." Jelas lelaki tadi setelah mempersilahkan kami untuk duduk.
"Apa?!" Teriakku kaget, juga reflek langsung berdiri dari tempat duduk ku. "Kenapa bisa pak?" Lanjut ku penasaran.
"Sembilan puluh tujuh persen dokter mengatakan Vero sembuh, tinggal tiga persen yaitu memulihkan amarah yang selama ini tersimpan di hatinya." Lelaki tadi kemudian menunduk, dengan raut wajah yang begitu sedih, seolah dirinya telah yang gagal menjaga kak Vero.
"Mmm maaf apa anda ini orang tua kak Vero?" Tanyaku sedikit ragu.
"Oh iya, sampai lupa aku belum memperkenalkan diri. Namaku Danu, paman dari Vero dan Gara." Sekarang lelaki ini lebih santai menatap ku.
"Jadi di mana kak Vero sekarang pak?" Tanyaku khawatir, sambil melirik-lirik ke setiap pintu ruangan.
MasyaAllah...ini rumah apa istana? Besar banget. Luas. Ada akuarium besar di antara ruang tamu dan ruang tengah, juga beberapa tanaman hias di setiap sudut ruangan. Sebenarnya siapa Gara dan kak Vero ini? Batinku.
"Dia di kamarnya Nya, ayo gue antar." Ucap kak Selly seraya berdiri, kemudian mengajakku naik ke lantai dua.
"Silahkan nak, anggap saja rumahmu sendiri." Ucap pak Dan setelah aku berpamitan dengannya.
Ada tiga kamar di lantai dua ini. kamar ayah kak Vero, kamar kak Vero, dan di ujung sana adalah kamar Gara.
"Itu siapa kak?" Tanyaku pada kak Selly saat kami melewati kamar ayah kak Vero.
"Itu.. itu salah satu pekerja di sini yang ditugaskan pak Dan untuk menjaga kamar Vero." Jawab kak Selly pelan dan tampak sedikit gelisah.
Si penjaga kemudian membukakan pintu kamar untuk kami. Suasana hening, hanya suara isak tangis yang terdengar pilu menyambut kedatanganku.
"Ya Allah kakak....!" Teriakku sembari berlari ke ranjang kak Vero. Tangan dan kaki kak Vero terikat, ia menangis dan menatapku begitu dalam, seolah mengatakan jika hatinya benar-benar terluka.
Aku berhambur memeluk kak Vero dan ikut menangis di pelukannya.
"Kak Selly, tolong bantu aku lepasin ikatan kak Vero..!" Perintahku tanpa sadar pada kak Selly.
"Tapi Nya, kalau Vero ngamuk lagi gimana?" Tanya kak Selly khawatir.
"Aku jamin gak akan..!" Bentak ku pada kak Selly lagi, tanpa sadar.
Kak Selly tak menjawab, ia langsung melepas ikatan di kaki kak Vero, sementara aku melepas ikatan di tangannya.
"Tolong tinggalkan kami kak..." Ucapku lirih. Aku cukup kecewa pada mereka. Kenapa mereka tega sekali mengikat kak Vero seperti ini?
Aku duduk dengan menekuk kedua kakiku ke samping kanan. Menatap kak Vero yang mengerjap pelan, sembari mengahapus air matanya sendiri.
"Kakak kenapa? Sssttt udah gak apa-apa, kalau kakak mau nangis, nangis aja, mereka udah Anya usir." Ucapku menghibur kak Vero. Mengusap pelan kepalanya, lalu menyelipkan poni panjangnya ke belakang telinga.
__ADS_1
Kak Vero bergeser, bergerak pelan menghampiriku, kemudian merebahkan kepalanya ke pahaku.
Kak Vero mulai menangis dengan kencang. Menumpahkan semua sesak di dadanya. Mengeluarkan segenap luka yang menganga kembali di ulu hatinya. Terisak-isak sampai air di hidungnya ikut keluar. Bergumam-guman tak jelas sembari memeluk pinggangku rapat.
Tanpa sadar aku ikut menangis merasakan kesedihannya. Di hianati dan ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai. Orang yang ia bela mati-matian di depan keluarganya, ternyata begitu tega menduakan dan menyakitinya.
Dua puluh menit kemudian kak Vero mulai tenang. Ia beringsut duduk, lalu bersandar pada kepala ranjang yang terukir begitu indah.
Aku mengambil air minum di atas meja kecil di samping ranjang kak Vero, kemudian menyodorkannya ke depan dadanya.
"Maaf Nya..." Ucap kak Vero pelan, sambil mengelap ingusnya menggunakan tissu yang tersedia di dekat bantalnya.
"Loh maaf kenapa kak?" Tanyaku bingung.
"Gue nangis lama banget, pakaian lu jadi basah tuh gara-gara kena air mata sama ingus gue." Kak Vero meminum hampir setengah gelas, lalu menyerahkan gelasnya kembali padaku.
"Oh ini.. udah gak apa-apa kak, santai aja. Gimana? Kakak udah lega?" Tanyaku hati-hati, kemudian meletakkan kembali gelasnya ke atas meja kecil di samping ranjang kak Vero.
"Udah lumayan. Thanks ya. Cuman elu yang bisa ngerti. Mereka cuma nekan gue, nyemangatin gue, gue gak boleh sedih, gak boleh nangis Nya, gak ada yang sigap peluk gue atau sediain bahunya untuk tempat gue ngadu..." Aku terenyuh mendengar ucapan kak Vero yang begitu terluka.
"Kapanpun kak Vero butuh, insyaAllah Anya siap nemenin kakak dan bantuin kakak.." Ucapku sembari menghapus bulir air yang hampir jatuh lagi di sudut mataku.
"Lu gak mau nanya kenapa gue bisa serapuh ini? Se-menyedihkan ini??" Tanya kak Vero sembari memencet sebuah tombol di sisi kiri ranjangnya. Persis tombol yang saat itu ada di rumah sakit.
"Gak kak. Gue gak akan nanya, karena itu adalah privacy kakak. Toh nanti kalau kakak sudah siap, pasti bakal cerita sendiri kan ke Anya? Hehe..."
"PD banget lu Nya. Hihihiii..." Akhirnya kak Vero bisa tertawa walau terdengar lirih.
"Iya nona. Ada yang bisa kami bantu?" Tiba-tiba dua orang wanita berpakaian pelayan masuk ke kamar.
"Baik nona." Dua pelayan ini menghela napas lega, kemudian tersenyum senang, matanya berbinar dan pandangan penuh syukur nampak ia tunjukkan ketika mereka beralih memandangku.
Secepat kilat pelayan satu menuju sebuah ruangan di samping kamar mandi di kamar ini. Sementara pelayan dua telah menghilang di balik pintu.
Ini serius apa drama sih? Kenapa kak Vero ini seperti putri raja? Ada pengawal, ada pelayan, dan kamarnya juga luas banget, tiga kali lipat kamar kos gue. Batinku.
"Ini nona. Silahkan." Pelayan satu muncul membawa sebuah celana bahan dan blouse cantik berwarna pink dengan detail bordir di beberapa bagiannya.
"Eh, gak usah kak..."Tolak ku sungkan.
"Udah sana ganti, cepetan." Kak Vero mendorong pelan bahuku seraya mendelik tajam.
Alhamdulillah...sepertinya kak Vero memang sudah sembuh. Pandangannya normal, bicaranya teratur, sudah gak seperti anak kecil lagi. Batinku
Aku melangkah ke kamar mandi dengan penuh rasa syukur. Setidaknya keluarga ini akan kembali utuh ketika kak Vero sembuh.
"Wah pas banget, itu baju gue waktu masih kuliah Nya. Sini Nya ayo makan dulu." Kak Vero sudah duduk di sofa kamar ketika aku keluar dari kamar mandi. Di depannya ada beberapa camilan, potongan buah-buahan dalam satu piring besar, jus alpukat, juga susu rasa coklat kesukaan kak Vero.
Aku tersenyum melihat pandangan kak Vero yang berbinar ketika aku memakai bajunya. "Mmm kak, jadi benar ini rumah paman kakak ya? Waktu sampai kesini gue kaget banget tau kak..." Keluhku seraya mengambil potongan buah dengan garpu, kemudian memakannya.
"Iya ini rumah paman Dan, kami lebih suka tinggal di sini sejak mama pergi...." Ucap kak Vero sendu.
Hmmmmm benar kan. Kak Vero sudah sembuh. Dia sudah ingat semuanya. Batinku.
__ADS_1
"Maaf ya kak, bukan maksud Anya buat kembali ngingetin masa lalu kakak...." Ucapku khawatir dengan perubahan ekspresi kak Vero.
"Hmmmm it's okay Nya. Gak apa-apa." kak Vero kemudian meminum susu, lalu mengambil potongan buah di piringku. "Gue boleh tanya sesuatu sama lu gak Nya?"
"Boleh dong..." Jawabku sedikit was-was.
"Lu inget episode pas perang besar gak? Sewaktu Hyuga Neji meninggal? Gue kesel banget tau, marah, juga kecewa.. kenapa harus Neji? Kenapa bukan Kiba atau Rock Lee saja yang mati?" Kak Vero tiba-tiba bertanya hal yang menurutku sedikit aneh.
Loh.... Jadi sebenarnya kak Vero sudah sembuh apa belum sih? Kok balik bahas naruto lagi? Berpikir Nya. Mikir. Pikirin jawaban yang bisa bikin kak Vero punya semangat lagi. Batinku.
"Mmm... Kalau menurut Anya sih, itu adalah cara pengarang cerita lebih menghidupkan tokoh utama kak. Kalau misal kiba yang mati gak akan ada pengaruhnya sama Naruto maupun penonton karena keberadaan Kiba yang tak begitu menonjol di cerita ini." Ujar ku berspekulasi, kemudian meminum jus terlebih dahulu sebelum melanjutkan.
"Kalau Rock Lee?" Tukas kak Vero penasaran.
"Kalau Lee yang mati maka cerita ini akan kehilangan sosok tangguh tanpa bakatnya dong kak. Terus kalau Lee meninggal gak mungkin juga Hinata berani mengungkapkan perasaannya ke Naruto. Feel nya gak dapet." ujar ku sok tahu. Haha.
"Iya juga ya...itu kan Hinata udah dekat banget sama Neji, udah anggap Neji sebagai kakaknya sendiri." Ujar kak Vero sembari melihat ke langit-langit kamar. Seolah sedang me-reka adegan di mana scene episode itu berjalan.
"Karena itu kak, menangis boleh, bersedih itu wajar, namun jangan lupa untuk tetap berjuang dan melangkah ke dapan. Jangan sia-siakan pengorbanan orang-orang yang menyanyangi kita." Ucapku dengan suara se-pelan dan setenang mungkin agar kak Vero memahaminya.
"Gue tau Nya. Tapi itu berat banget. Sesak banget di sini." Kak Vero menunjuk dadanya, lalu mencengkram nya kuat.
Aku beringsut lebih dekat ke tempat kak Vero duduk, lalu memeluknya dari samping.
"Kalau masih sesak kakak boleh kok nangis lagi. Tumpahin semuanya, tapi setelah itu kakak harus lebih kuat lagi seperti Hinata. Ingatlah, keluarga kakak sangat menyayangi kakak di sini. Terutama Miko." Bisik ku pelan, tepat di telinga kak Vero.
Ini adalah salah satu cara memasukkan sugesti positif kita ke orang lain. Agar orang tersebut lebih tenang, dan punya semangat lagi untuk melangkah ke dapan.
Kak Vero kembali menangis, namun kali ini tanpa suara. Membuat lidahku kelu, dan kerongkonganku kering tercekat melihat betapa terluka batinnya saat ini.
Kami kemudian menangis dalam diam selama beberapa menit.
"Lu bener Nya. Gue harus kuat. Gue bakal balas dia dan selingkuhannya itu..!!" Ujar kak Vero berapi-api.
Aku tersenyum melihat semangatnya.
"Kenapa lu ketawa? Emangnya ada yang lucu?" Tanya kak Vero.
"Kakak tau ada cara yang lebih elegan dalam membalas seseorang?"
"Apa itu? Bagaimana caranya??" Kak Vero mengguncang lenganku tak sabar.
"Maafkan mereka. Biarkan mereka. Kakak hanya perlu fokus pada Miko dan keluarga kakak. Bangun kembali apa yang sudah mereka hancurkan. Tunjukkan kalau kakak adalah gadis yang tangguh." Ujarku pelan dan serius.
Kak Vero tampak berfikir sembari menatapku tajam. "Tapi gue pengen hancurin mereka Nya. Gue sakit hati.!" Teriak kak Vero.
"Iya, Anya tau. Tapi tangan kakak ini terlalu baik dan berharga buat hancurin mereka. Biarlah alam yang bekerja menentukan nasib mereka di masa depan nanti." Aku mengelus punggung tangan kak Vero ketika mengatakan hal itu.
Kak Vero terdiam sejenak mendengar kata-kataku. "Oke, kali ini gue ikutin saran lu. Gue bakal ambil alih perusahaan dan mengembangkannya. Gue yakin, gue bisa lebih baik dari dia."
"Nah...ini baru semangat Hyuga Vero... Hihihii..." Ujarku menghibur kak Vero.
"Apaan sih Nya. Ganti-ganti nama gue. Tapi bagus juga ya.. Hyuga Hinata Vero.. Hahahaha..
__ADS_1
Aku lega. Kak Vero kembali dengan semangatnya. Kembali dengan mengesampingkan dendam dan sakit hatinya. Aku suatu saat nanti mantan suaminya pasti akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan istri sebaik kak Vero.