Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
8. Tes Kesehatan


__ADS_3

Setengah jam berlalu dalam keheningan. Tak ada yang saling menoleh sama sekali. Tak ada yang bertanya atau mengobrol, juga saling lempar kode jawaban seperti saat mengerjakan soal ujian. Kami semua fokus dengan kertas masing-masing.


"Oke, waktunya habis, tolong kumpulkan kertas kalian di atas meja saya lalu silahkan istirahat 30 menit setelah itu kita menuju Rumah Sakit terdekat untuk tes kesehatan." Asisten pak Doni memberitahu kami.


Kami maju satu persatu mengumpulkan, lalu keluar ruangan dengan tertib. Aku dan Kia berurutan keluar, berjalan ke arah Ocha yang telah menunggu kami.


"Ah lelahnyaa.. padahal cuma satu jam," Keluh Kia setelah duduk di sebelah Ocha.


"Ya, lo tadi diliatin terus tuh sama pak Doni. Kayaknya doi naksir elu deh.." ucap Ocha pelan.


"Nah kan, gak cuma gue yang nyadar ternyata. Sekarang lo percaya kan Ya?" ucapku mendukung Ocha.


Kia cuma memutar bola matanya malas menanggapi apa yang kami bicarakan.


"Udah deh, stop. Mending kita makan dulu yok, bentar lagi tes kesehatan kan." ucapan Kia menghentikan bisik-bisik ria kami, dia lalu berdiri, berjalan ke arah tukang bakso keliling yang berhenti dua meter dari tempat kami duduk.


Aku dan Ocha mengikutinya karena memang kami juga butuh asupan gizi sebelum menghadapi jarum suntik.


"Bakso 3 ya bang, sama es teh manis 3 juga," Kia langsung memesan tanpa bertanya pada kami. Mungkin masih kesal karena aku dan Ocha terus membicarakan pak Doni tadi. yah, salah sendiri punya wajah imut dan manis begitu, jadi jangan salahin banyak yang naksir dunk.


Kami makan tanpa suara, beberapa pelamar kerja juga bergabung dengan kami.


"Tes kesehatan itu tes apa saja sih?," tanya salah satu pelamar kerja yang duduk di sebelah Ocha.


"Biasa. Tes mata, normal atau punya rabun atau buta warna. Tes darah buat ngecek penyakit dalam," Jelas lelaki di sebelahnya.


"Ada tes gigi dan tes urin juga gak?," tanya cewek yang pertama kali bertanya tadi.


"Buat apa?" tanyaku dan Kia cepat.


"Hei kalian baru pertama kali melamar kerja ya?" Tebak Ocha, "Tes urin tuh buat mengetes apa kita punya ketergantungan obat, alkohol, atau alergi lain, kadang ada lebih lengkap lagi seperti berat badan, tinggi badan, tapi kalau tes gigi biasanya mereka nanyain sambil memeriksa gigi kita lengkap atau enggak,, berlubang berapa, gusi suka bengkak atau enggak, tapi gue gak tau gunanya buat mereka apa nanya-nanyain gigi kita, haha," Jelasnya lagi.


"Hem begitu...," Ucapku kemudian. Kia hanya mengangguk samar. tapi tiba-tiba dia melotot khawatir ke arahku.


"Nya kalau tinggi badan kita gak memenuhi standard kita bakal langsung di eliminasi dunk, hiks," ucap Kia memelas, sialnya ekspresi itu malah menambah nilai keimutan wajahnya. bayangkan!


"Hei barbie lokal, jangan pesimis gitu lah. Walaupun nanti tinggi badan kita kurang, yakin aja diterima, kan pabrik lagi butuh banyak karyawan, jadi soal tinggi badan gue rasa gak penting-penting amat lah yaa..," ucapku berspekulasi.


Kulihat Ocha dan beberapa pelamar di sekitar kami mengangguk setuju dengan kata-kataku.

__ADS_1


"Oke guys ayo kita masuk, sudah 25 menit nih, tinggal 5 menit lagi waktu istirahat kita habis," Seru Ocha.


Kami semua kembali ke ruangan tempat ujian, menempati kursi masing-masing, lalu menunggu instruksi selanjutnya.


"Sudah kumpul semuanya?," tanya pak Doni.


"Sudah pak." Jawab kami kompak.


"Oke, ayo kita berangkat ke rumah sakit X, ada 2 mobil di seberang jalan sana, baris kanan naik di mobil pertama, baris kiri di mobil yang kedua," lanjut pak Doni mengomando kami.


Kami berjalan ke arah mobil kedua. Aku sempat menghitung jumlah kami ada 13 orang di dalam mobil, 8 wanita dan 5 pria.


Perjalanan cuma 15 menit, kami turun dan langsung di arahkan ke dua ruangan khusus di depan paviliun mawar.


Memasuki ruangan pertama kami ditanyai beberapa hal. Riwayat kesehatan (adakah sesak napas, jantung, diabetes atau sensitif alergi lainnya), pemeriksaan gigi, mata, terakhir rontgen tulang belakang.


Memasuki ruangan ke dua kami diukur tinggi badan, berat badan, tensi darah, dan terakhir di ambil sampel darah.


Aku memejamkan mata saat pengambilan sampel darah. Rasanya memang seperti digigit semut tapi darahku terasa keluar semua. Pori-pori di kulit tanganku menyembul, suhu tubuh ku mendadak dingin dan tengkukku terasa meremang. Saat berdiri terasa 'Nyuut' di kepalaku.


"Langsung istirahat di ruang tunggu sebelah ya. Tensi kamu cukup rendah tadi," Ucap perawat di hadapanku.


"Iya sus." Jawabku singkat.


Brakk..!!


Aku menutup keras pintu toilet. Tidak sengaja, ini karena aku terlalu panik. Aku langsung muntah-muntah saat bilik toilet pertama kututup rapat. Aku mengeluarkan hampir semua isi dalam perutku.


Apa ini? kenapa tiba-tiba perutku seperti diaduk-aduk dan kepalaku nyut-nyutan? Apa tensiku benar-benar rendah? Apa yang harus kulakukan sekarang? Batinku.


Aku terdiam. Berdiri bersandar di tembok toilet. Memejamkan mata lagi, merasakan hawa dingin di tubuhku. 10 menit dalam posisi itu membuatku sedikit rileks. Aku memutuskan untuk keluar, mencari minuman hangat atau mencari Kia. Tapi sebelum itu....


Brukk..!


Tubuhku ambruk. Badanku lemas. Mataku berkunang-kunang. Ah pasti memalukan jatuh di depan toilet seperti ini.


Tapi,


Tunggu sebentar!

__ADS_1


Aku terjatuh, tapi kenapa tak terasa sakit?!


"Hei tau banget ada orang ganteng lewat langsung menjatuhkan diri ya..", ucap seseorang di dekatku. Suaranya seperti tak asing. Aku mengerjap beberapa kali agar bisa jelas melihatnya.


What? Orang narsis ini lagi? Gila. Dunia ini sempit sekali sampai aku bisa ketemu lagi sama makhluk narsis tingkat dewa di sini. Batinku.


"Maaf," hanya kata itu yang bisa kuucapkan. tanganku gemetar. Pria ini hanya menyangga pundakku, lalu mendudukkanku di kursi panjang dekat toilet.


"Habis cek up? Pucet amat. Oke tunggu di sini sebentar ya." Dia meninggalkanku tepat saat ponselku berdering.


"Halo Nya, kamu di mana? Jangan pulang dulu ya, tungguin, aku masih antri sepuluh orang lagi nih," Kia mengoceh panjang, membuat kepalaku berdenyut ngilu lagi.


"iya, nanti kabari aja kalau udah selesai," jawabku sambil mengurut pelipis kanan dan kiriku. Kia mengakhiri panggilan. Kumasukkan kembali ponselku ke dalam tas.


"Nih minum dulu." Sebuah lengan panjang menyodorkan satu cup teh hangat ke hadapan ku. Aku mendongak. Menatap sosok yang tadi sempat ku olok-olok dalam hati.


Orang narsis ini kembali lagi? Hmmmm... So sweet sekali. Hei Nya sadar, dia ini orang asing. Batin ku mengingatkan ku.


"Makasih," ucapku singkat, tak mungkin kutolak kan? Ini rumah sakit jelas tidak mungkin kalau dia orang jahat yang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku. Ah, aku terlalu banyak nonton sinetron ternyata.


"Nih makan ini juga," memberikan sekotak roti bakar di samping kursi ku.


Aku memandangnya ragu.


Kenapa ini orang baik banget. Kenal juga enggak. Jangan-jangan.... Batinku sibuk berfikir.


"Udah cepat makan aja. Orang ganteng ini juga dermawan, jadi gak usah berterima kasih lagi. Gue ikhlas, rela, ridho. Sakit tahu mata gue melihat ada gadis pucat, linglung, sendirian lagi." Ucap orang narsis itu seenaknya.


Aku speachless. Tak bisa berkata-kata lagi.


*K*ok ada ya orang narsis kelewat batas gini? Heran. Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba muncul. Gak tanya nama, gak tanya kenapa, tapi langsung kasih makanan. Batinku lagi.


Orang narsis ini melihat jam tangan, lalu beranjak pergi meninggalkanku. "Gue masih ada urusan, lo udah bisa pulang sendiri kan?," ucapnya setengah menoleh ke arahku.


"Oke. Arigato gozaimasu." Ucapku singkat, dan orang narsis ini hanya tersenyum tipis di sudut bibirnya sebelum melangkah pergi. Aku tak tau itu memang senyumnya atau cuma halusinasi ku.


Aku menghabiskan roti bakar sambil tersenyum. Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini walau bentuknya absurd. Entahlah. Aku baru dua hari di sini dan belum tau apa yang akan terjadi esok hari, tapi aku percaya akan selalu ada pelangi setelah hujan badai.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2