Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
56. Out of the box


__ADS_3

"Sanksi khusus buat kamu adalah......" Pak Ilham menggantung kata-katanya, seolah memberiku ruang untuk sekedar takut dan merasa penasaran.


Hening.


Aku menerjap dua kali, kemudian mengerutkan kening serta menajamkan pendengaran dan pandanganku.


Apasih sanksi nya?? Lama bener jeda ngomongnya nih pak kepala.. Batinku.


Tok . . Tok . .


Aku mendengar pintu di ketuk, lalu tiga detik kemudian terbuka. Entah siapa yang masuk aku tak menoleh sama sekali.


Kenapa malah diam sih ni bapak? Sakit gigi pak? Duh protes gak ya? Nanti di kira gak sopan lagi.. Duh ribet amat di sini yak.. Batinku.


Aku fokus dengan pak Ilham yang tak kunjung menyelesaikan kalimatnya, malah beralih ke mejanya, mengambil beberapa berkas, kemudian berlalu dari hadapanku.


"Pak? Loh bapak kok malah mau keluar? Jadi apa sanksi khusus buat saya pak?" Akhirnya ku beranikan diri ku untuk bertanya meski dengan raut bingung dan agak kesal, sebelum pak Ilham melangkah keluar.


"Sanksi khusus buat kamu ya?" Pak Ilham malah tersenyum, hingga membuatku semakin dongkol melihatnya. "Aku serahkan pada asisten managerku ya, aku sibuk dan gak bisa ngurusin kamu." Lanjutnya, lalu bergegas keluar diikuti pria yang membukakan pintu untukku tadi.


"Lah terus mana si asisten manager yang mau kasih sanksi ke gue?" Gumam ku pelan sembari menggaruk kepala ku yang tak terasa gatal.


"Cari saya?" Aku tersentak dan sedikit berjingkat, serta tiba-tiba sedikit merinding ketika sebuah suara muncul di belakangku.


Astaghfirullah. Siapa nih? Orang apa setan? Batinku.


Aku tak berani menoleh. Tubuhku terduduk kaku dan hanya bisa mengedipkan mata pelan seraya melirik ke kiri dan ke kanan.


"Pak Ilham udah pergi. Udah gak usah takut." Lanjut suara tadi, namun sekarang aku merasa bahwa suara ini tak asing di telingaku.


Suara ini............bukan dia kan...?!........ Tapi kenapa mirip banget......haduh masak gue jadi terngiang suara orang narsis gini sih? Batinku.


Aku menunduk, kemudian memejamkan mata ku saat mendengar langkah kaki orang ini berjalan mendekat, lalu berhenti dan duduk di depanku.


Hening.


Kenapa orang ini diam? Dia pak asisten manager apa bukan sih? Batinku.


Tak lama kemudian dia tertawa-tawa, hingga membuatku langsung membuka mata dan mendongak menatapnya.


"Gara..?.!?" Sentak ku dengan suara kaku.


Gila. Ini sungguh tak masuk akal. Kenapa ada orang narsis ini di sini?. Batinku.


"Kenapa? Kaget ya? Hahaha...." Ia malah melanjutkan tawanya.


"Gak lucu tau. Bukannya lu udah otw ke negara T? Ngapain lu di sini? Nanti ketahuan pak asisten manager loh...." Ucap ku dengan tenaga penuh.


"Sabar buk..hehe.. " Ia kemudian membuka kulkas kecil di samping mejanya, mangambil dua softdrink, lalu menyodorkan satu ke hadapanku.


Tanpa di suruh aku membuka tutup segelnya, kemudian langsung meminumnya sampai tandas.


Gara kembali tertawa melihat tingkahku. Ia hanya meneguk sedikit minumannya, lalu berkata, "Sebenarnya ada sedikit masalah, jadi kak Vero berangkat duluan, gue mau urus satu masalah lagi di sini."

__ADS_1


"Jadi lu kesini sengaja nemuin gue?" Ucapku penuh percaya diri dan sedikit mengembangkan senyum.


"Heh pede banget lu..!" Sentak Gara sembari tersenyum sinis ke arah ku.


"Bodo. Udah cepetan kasih tau apa hukuman gue, biar gue bisa balik kerja, kasihan teman-teman gue nungguin." Ujar ku sedikit kesal.


"Gak ada..." Ucap Gara singkat, hingga membuatku semakin kesal.


"Woi serius dong. Ini jam kerja ya, bukan waktunya bikin orang kesal.." Sentak ku dengan sedikit menaikkan nada bicaraku.


"Nih...." Tiba-tiba Gara menyodorkan sebuah kotak bekal padaku.


"Ini......." Ucap ku ragu sambil mengingat-ingat sesuatu.


Kayak pernah lihat...bukannya ini sama dengan yang di bawa kak Vero? Batinku.


"Iya, itu punya ibu lu, kemarin kan kak Vero di bikinin bekal pakai wadah itu,.." Jelas Gara.


Aku tersenyum simpul kemudian membuka tutup bekal ini. Ada nasi, ayam bakar, potongan tomat dan selada, juga lima buah kelengkeng di dalamnya.


"Waaaa...lengkapnya..."Ucap ku berbinar. Yah perut ku jadi mendadak lapar, tadi sore aku hanya makan nasi dengan lauk bakwan goreng yang kubeli di depan kos.


"Lu makan dulu ya, gue mau selesaikan ini dulu." Gara kemudian membuka laptop dan nampak sibuk dengan urusannya.


Tanpa ba-bi-bu aku langsung melahap makanan di depanku sampai habis tak bersisa.


"Lapar buk...haha.." Ledek Gara tanpa melihat ku.


Aku merapikan kotak bekal ibu, sementara Gara menunggu hasil print out di meja pak Ilham.


"Besok pagi gue mau ke kota J, lu mau ikut gak?" Ucap Gara tiba-tiba.


"Mau.......eh, tapi ngapain lu ke sana?" Tanpa sadar aku langsung meng-iyakan ajakannya.


"Gue mau nemuin investor yang kemarin membeli saham kak Vero dari mantan suaminya. Kalau semua clear, baru gue bisa tenang berangkat ke negara T." Jelasnya sambil memasukkan hasil print out berkasnya ke dalam map biru.


"Dekat gak sama RSUD di sana?"


"Dekat lah, lu mau kesana? Ngapain? Bukannya pulang ke rumah lu?!?" Tanya Gara penasaran.


Aku menceritakan kecelakaan yang menimpa ibu, hingga aku yang tak bisa pulang menjenguknya karena perjalanan pulang-pergi cukup jauh, serta aku tak mau lagi absen dari pekerjaan ku.


Gara sempat memarahi ku karena tak menceritakan kejadian ini. Namun aku hanya bilang kalau aku tak mau merepotkan orang lain dan akhirnya di kasihani.


"Jadi apa sanksi khusus buat gue? Buruan, kasihan teman-teman nunggu gue...." Ujar ku lirih dan sedikit kesal.


"Heh. Orang lain tuh udah pasti seneng bisa kabur dari kerjaan, nah lu malah minta balik dari tadi." Gerutunya sembari meletakkan beberapa map ke dalam tasnya.


"Kerjaan gue ini satu tim. Kalau salah satu gak ada, kasihan yang lain jadi terbebani dan kerepotan tau." Jelasku kesal.


"Yaudah lu balik sana..! Gue tunggu jam tujuh di parkiran." Sahut Gara sembari mengibaskan tangannya mengusirku.


"Dari tadi kek. Yaudah thanks ya.." Aku berlalu ceoat dari hadapannya.

__ADS_1


"Thanks mulu. Woi besok ganti lu traktir gue di sana ya..!" Teriak Gara sebelum aku menutup pintu ruangan ini.


Aku tersenyum-senyum sepanjang jalan. Ah senangnya punya teman yang sungguh baik. Dia tak memandang kemiskinanku, namun selalu tulus membantu.


"Gimana nak?" Tanya bu Tuti ketika aku sampai di hadapannya.


"Di hukum apa nak sama pak Ilham?" Tanya kak Andini ikut khawatir.


"Yang hukum asistennya kak, pak Ilham sibuk." Jawab ku santai, sembari mulai memasang minyak di atas mie yang berjalan.


"Masak sih? Pak Ilham gak punya asisten Nya." Ucap bu Tuti, membuat kak Andini dan Starla kompak melirik ku tajam.


"Yah pokoknya orang yang ada di sana itu buk, gak tau jabatannya apa juga, hehe." Ucap ku ragu.


Lah emang Gara tadi jabatannya apa? Kok jadi aneh gini. Gue juga cuma makan sama minum di sana tadi. Gak di kasih hukuman. Batinku.


"Anya geraldine.. lu gak di suruh bersihin toilet cowok di sana kan?" Kata-kata Starla mendadak membuatku sedikit meringis.


"Lu pernah di hukum begitu?" Tanya ku penasaran.


"Iya, dulu waktu gue telat masuk sepuluh menit. Haha..." Jawab Starla diikuti tawa kami semua.


"Hukuman gue out of the box, gak boleh di omongin katanya." Kilah ku mantap, hingga membuat mereka melirik ku penasaran.


"Halah gaya lu. Palingan lu di suruh bersih-bersih tuh kantor kan?" Ujar kak Andin sembari melempariku dengan satu bungkus garnis.


"Kak Andin pernah di hukum begitu?" Tanya ku mengalihkan pembicaraan.


"Hoo ya tentu tidak dong. Aku kan anak yang rajin, disiplin dan tidak sombong." Ujar kak Andin dengan bangga, hingga membuat kami semua bersorak ke arahnya.


"Huuuuuuuuu........." Bahkan anak-anak mesin dua puluh enam yang mendengar kata-kata kak Andin pun ikut menyorakinya.


"Iri bilang bos..!! Haha..." Teriak kak Andin pada kami semua.


Suasana mulai mencair dan membuat kami cepat akrab satu sama lain. Feni dan Starla bersahutan bernyanyi dangdut, sementara kak Andin dan kak Dinda bernyanyi pop.


Sementara itu di kantor kepala shift B. Dua orang lelaki melenggang masuk dan duduk di depan Gara.


"Gak salah nih, seorang Krisna minta di traktir cewek, haha...." Ucap pak Ilham diikuti tawa asistennya.


"Om apaan sih. Dia itu teman kak Vero, ibunya habis kecelakaan, jadi yah dihibur sedikit lah." Kilah Gara sembari menyerahkan map biru ke hadapan pak Ilham.


"Bagus. Bukti ini sudah lengkap, gak salah papa mu menyerahkan tugas ini padamu nak." Ucap pak Ilham bangga.


"Makasih om. Besok langsung ketemu pak Wirawan di kota J sekalian cek lokasi buat cabang hotel Kris di sana."


"Oke. Wan kamu besok ikut Krisna ya, jadi supir pribadinya sehari. Dia bawa cewek tuh." Ucap pak Ilham pada asistennya.


"Siap pak." Ucap sang asisten seraya menahan tawanya.


"Apaan sih om. Gak. Gak usah lah. Cuma sehari, gak nginap, dia juga ke rumah sakit, gak ikut Kris ke lokasi." Ujar Gara sedikit salah tingkah.


"Hahaha. Dasar anak muda jaman sekarang." Ucap pak Ilham seraya berdiri, kemudian menuju ke meja kerjanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2