Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
70. Virus mata-mata


__ADS_3

Aku masuk kembali ke dalam apartemen mama. Duduk diam menonton siaran tv sambil menunggu mama keluar dari kamarnya.


"Vero sayang bagaimana kabar Miko?" Tanya mama setelah ia duduk tenang di sebelah ku.


''Miko baik ma, saat ini dalam pengasuhan tante Fia." Ujar ku sembari mengurangi volume suara tv.


"Fia....Hmm....gimana kalau kita videocall dia, mama kangen." Ucap mama setelah sejenak berpikir.


"Pakai ponsel mama ya..ponselku lowbat, tuh" Aku menunjuk ponselku yang tengah tertancap charger di samping kanan colokan antena tv.


"It's okay.." Mama menghidupkan ponselnya, sementara aku mulai mendikte nomor Miko.


"Mama? Aku kira siapa..kenapa pakai nomor baru?.." Suara Miko langsung terdengar.


"Halo sayang bagaimana kabar kamu hari ini? Lihat, mama lagi sama nenek, ini pakai ponsel nenek, ponsel mama lowbat." Aku mengarahkan kamera ponsel ke wajah mama.


Kurang lebih setengah jam kami mengobrol santai. Walau terkesan cuek tapi Miko bisa menjawab dengan sopan semua pertanyaan mama.


Tiba-tiba bel depan berbunyi, dan mama secepat kilat meninggalkan kami karena yang bertamu adalah manager mama.


Aku mengakhiri percakapanku bersama Miko, lalu mulai sedikit mengutak atik ponsel mama.


Aku memasukkan sebuah alat yang bekerja sebagai attachments online virus ke usb-port.


Dan dalam satu setengah menit kemudian, sebuah virus telah aktif di ponsel mama.


Ya. Aku nekat, dan berhasil menyadap ponselnya dengan sebuah program mata-mata. Aku mempelajari ini dari seorang teman detektif yang kusewa sewaktu mencari bukti perselingkuhan mantan suamiku dulu.


Setelah selesai, aku menaruh ponsel mama ke atas meja sedangkan aku berpura-pura bermain game online di ponsel ku sendiri.


"Vero sayang, mama harus kembali bekerja sekarang, ada sebuah pemotretan untuk iklan hotel baru. Ini kunci apartemen mama, okay." Mama mengambil ponselnya, kemudian menyerahkan kunci apartemen serta mencium kening ku sebagai tanda perpisahan.


"Okay ma. Mungkin satu jam lagi Vero juga mau balik." Aku menyetujui yang mama katakan agar ia tak curiga.


Mama pergi, dan aku kemudian bersiap mencari bukti apapun dalam apartemen ini yang bisa mendukung dugaan ku.


Vero POV end.


.


.


.


Rumah Sakit Umum kota J.

__ADS_1


Lalu lalang perawat yang berganti shif mulai nampak lenggang. Beberapa orang datang terlambat, hingga menyebabkan teman shif nya menggerutu kesal karena tak bisa pulang bersama temannya yang lain akibat menunggunya.


Kamar VIP nomor tujuh belas nampak ramai. Beberapa gadis bercanda bersama menghibur temannya meski dengan tawa tertahan. Mereka begitu tulus, tak mengharapkan imbalan apapun.


"Kak...." Ucap bu Ami dengan suara sangat pelan ketika ia mulai membuka kelopak matanya perlahan-lahan.


"Kaakk...." Ucap bu Ami kembali, namun dengan suara sedikit lebih keras dari yang pertama tadi.


"Nya ibu lu sadar tuh.." Teriak Kia dengan raut berbinar.


Aku menoleh, lalu segera bangkit dan berlari menghampiri bed ibu. Aku meraih telapak tangan ibu yang pucat, menciumnya perlahan sembari menatap raut wajah ibu yang nampak bingung.


Ibu mengerjap perlahan, lalu memandangi sekeliling nya yang serba putih. Ibu mengernyit, seolah mengingat sesuatu, atau mungkin masih terasa pusing akibat efek operasi kemarin.


"Ibu kenapa? Ibu masih pusing? Mana yang sakit?" Tanya ku beruntun sembari mendekat ke wajah ibu. Kia ikut berdiri di samping ku, mengelus pundak ku seakan ikut menguatkan ku.


Ibu hanya tersenyum samar, menggerakkan tangannya dengan perlahan-lahan, kemudian mengarahkan ku lebih dekat ke samping wajahnya.


"Ga...ra..." Ucap ibu dengan susah payah, seolah mengerahkan seluruh tenanganya.


"Gara? Gara masih sibuk bu.." Aku terheran. Kenapa ibu malah menanyakan Gara?. "Ada pembukaan cabang hotel, jadi dia belum bisa kesini." Lanjut ku pelan, berbisik ke telinga ibu.


"Ve....ro?" Tanya ibu lagi.


"Kak Vero masih di tempat mamanya. Mungkin sebentar lagi kesini." Jawab ku.


"Ibu tenang ya...biar perawat periksa ibu lagi.." Ucap ku tenang seraya kembali berdiri.


Aku dan Kia kembali duduk di sofa, memberi ruang kepada para perawat yang melaksanakan tugasnya pada pasien.


"Bagaimana bu...? Masih pusing?" Tanya sang perawat sembari memeriksa perut, dada, dan tekanan darah ibu. Perawat lainnya tinggal menulis semua perkembangan ibu pada sebuah jurnal yang di bawanya.


Ibu hanya mengangguk dan menggeleng lemah menjawab semua pertanyaan dari perawat.


"Setelah ini ibu istirahat ya, jangan berfikir terlalu keras, positif thinking ya bu..." Ujar sang perawat sebelum keluar meninggalkan kamar ibu.


Aku meminum segelas air putih, meneguknya perlahan sembari duduk bersandar di sofa, memejamkan mata sejenak, serta menarik nafas panjang. Merasakan aliran oksigen merambat dalam tiap nadi dan pembuluh darah kecil di seluruh tubuh.


Aku lelah, syok, juga berdebar setiap saat dengan kondisi ibu. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa ibu tiba-tiba gelisah, lalu menanyakan keberadaan Gara dan kak Vero?


"Nya, gue balik duluan ya.." Ucapan Ike membuatku tersadar dari lamunan ku.


"Gue juga Nya....maaf ya gak bisa nemenin lu lebih lama.." Ujar Ira.


"Iya...thanks ya kalian semua udah mau datang jauh-jauh kesini." Ucap ku pelan dan berkaca-kaca.

__ADS_1


"Udah Nya, jangan nangis lagi..." Kia menghambur memeluk ku, di susul Ike juga Inda.


Kami semua diam berpelukan.


Kami saling berpandangan, menatap satu sama lain sembari meringis geli.


"Hei kenapa ini? Kenapa kalian pelukan kayak teletubbies gini?!" Suara monik membuat kami semua meledak tawa sembari menoleh ke arahnya.


"Sialan lu." Umpat Ike.


"Dari mana lu Mon?" Tanya ku.


"Toilet. Btw di luar ada pria yang dari siang duduk di depan kamar ini Nya, siapa sih?" Tanya Monik curiga.


"Gak tau, mungkin teman kak Selly." Jawab ku seraya menekuk alis, ikut curiga. "Nanti deh gue tanyain lagi."


Monik, Kia, Ira, Ike, dan Inda saling lirik, kemudian Inda maju menyalami dan memeluk ku lagi.


"Gue pamit ya..semoga ibu lu lekas sembuh." Ucap Inda.


"Lu juga harus makan Nya, jangan sampai ibu lu sehat malah ganti elu yang sakit.'' Ganti Monik menyalami sembari meledek, membuat ku mengembang senyum dan menggeplak bahunya pelan.


"Sabar ya Nya, kalau ada apa-apa, langsung hubungi kita, oke?" Kali ini Kia yang berpamitan dengan tatapan serius. Bahkan ia meninggalkan sebuah amplop di tangan ku.


"Dilarang nolak. Itu buat ibu lu, bukan buat lu." Tukas Monik yang melihat ku menganga melihat amplop yang mereka tinggalkan.


"Kalian..."Aku tak sanggup melanjutkan kata-kata ku. Mata ku panas, dan air mata kembali menetes di pipi ku. "Thanks..." Hanya kata itu yang akhirnya berhasil ku ucapkan untuk mengiringi kepergian mereka.


Ah, sahabat ku tersayang. Mereka hadir tanpa undangan. Mengisi hari tanpa tuntutan. Menghibur tanpa di suruh, juga menyalahkan tanpa menghakimi.


Aku beruntung bertemu dengan mereka. Meski sifat kami semua berbeda, namun kami tahu bagaimana cara saling menjaga dan menyayangi satu sama lain.


.


.


.


...****************...


Mohon maaf para reader sayang...


Kesibukan membuat ku tak bisa mengetik lama..


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang masih setia mengikuti cerita ini. Semoga kalian semua tetap sehat dan semangat kasih komentar, masukan, kritikan, dan vote tentu saja..😁🤗


__ADS_2