Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
31. Teman


__ADS_3

Sif dua hari kedua.


Terasa lebih ringan dibandingkan hari kemarin karena aku sudah sedikit terbiasa dengan pekerjaanku dan juga teman-temanku. Sudah tidak pusing melihat para mie berjajar berjalan di atas konveyor.


"Monik, tumben udah keluar duluan?" Sapaku ketika melihat Monika menungguku di gerbang pabrik.


"Hari ini line gue aman Nya, jadi gue bisa keluar duluan. Hehe."


Kami berjalan pulang sambil bercerita apa saja yang terjadi selama di pabrik tadi. Sampai di jalan besar bundaran satu Monik mengajakku duduk-duduk santai di tengah bundaran, menikmati angin malam katanya.


"Tunggu di sini ya Nya, gue beli gorengan dulu." Monik langsung berlari meninggalkanku tanpa menunggu jawabanku.


Kulihat Monik masih mengantri dengan beberapa orang. Ku ambil ponselku di tas, lalu menyalakannya. Ada dua panggilan dari dua nomor asing juga beberapa pesan chat.


Ku abaikan panggilan asing itu lalu kulihat beberapa pesan yang baru masuk. Dari kak Arya, ayah, juga Aini. Aku pun langsung membalasnya.


085xxxxxxxxx


Hai Nya, kenapa pesanku gak lu jawab? Okelah mungkin lu sibuk, tapi akhir bulan ini gue pulang. Gue harap bisa ketemu sama lu...


*H**ai juga kak. Iya maaf aku sibuk, ini aku baru pulang kerja sif dua. Kalau masalah ketemu Anya gak bisa janji ya kak*. Balasku.


Ayah,


Assalamu'alaikum putri ayah. Semoga tetap sehat, kerjanya lancar, jangan lupa sholat dan pulang kerja malam hati-hati ya nak.


*W**a'alaikumsalam ayah ibu, iya kakak bakal terus melaksanakan nasihat kalian. Anya kangen kalian*. Balasku


Aini SMK,


Anya? Maaf ya aku baru tau kalau kamu memilih kerja di banding kuliah. Maafkan aku ya Nya............


Aini... gimana kabar kamu di sana? Ngomong apa sih Ai? Ini bukan salah kamu, ini adalah keputusanku sendiri. Balasku.


Kumasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Kulihat Monik selesai mengantri, dia berjalan ke arahku bersama dua orang temannya.


"Nya kenalin nih Rudi sama Yuda, kartoning mesin gue. Bro dia Anya teman kos gue, dia di line sembilan." Ucap Monik memperkenalkan kami.


Kami duduk bersama menikmati gorengan dan beberapa minuman bersoda yang dibawa teman Monik.


Pukul sebelas lebih lima belas menit aku pamit naik ke kos duluan, meninggalkan Monik yang sepertinya masih betah mengobrol bersama Rudi dan Yuda.


"Loh Nya, Monik mana?" Tanya Ira ketika aku membuka pintu kamar.


"Masih di bawah, ada teman-temannya juga."


"Tukang gorengan masih ada kan?"


Aku mengangguk kemudian Ira pamit menyusul Monik.


Aku masuk kamar, meletakkan tasku kemudian mengambil kaos serta celana pendek untuk tidur.


Kos sudah sepi sekali. Aku masuk kamar mandi, membasuh muka, mencuci kaki dan tangan, lalu mengganti bajuku.


"Nya masih lama gak?" Teriak Kia dari luar pintu.


"Bentar lagi," Balasku. Tiga menit kemudian aku keluar. "Tumben bangun malam-malam?"


Kia tak menjawab tapi langsung masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.


Aku membiarkan Kia lalu kembali masuk ke kamar, memasukkan seragam kotor ke kotak karton yang ku alihfungsikan menjadi tempat baju kotor. Aku merebahkan badan, berguling ke kiri dan ke kanan, merentangkan tangan, bernafas dari hidung, mengeluarkan dari mulut perlahan-lahan.


"Ngapain lu Nya? Guling-guling gak jelas terus sekarang merentangkan tangan, mau terbang?" Kia masuk ke kamar lalu duduk di kasurnya.


"Relaksasi Ya, capek tau berdiri terus, mana yang dilihat mie, bumbu, sama kawan-kawannya doang lagi." Gerutuku sambil memejamkan mata dan tetap bernafas seperti tadi.

__ADS_1


"Gaya lu relaksasi. Eh ponsel lu getar tuh." Kia masih mengamatiku yang telah mengambil ponsel.


Gara,


Hai Nya. Udah sampai kos? Besok ikut aku ketemu kakak ya, please.. gue jemput jam sepuluh pagi.


"Dari siapa Nya? Kok senyum? Hayo.. dari kak Zidan ya? Atau kak Arya?" Tanya Kia antusias.


"Bukan." Jawabku singkat sambil mengetik balasan untuk Gara.


*B**oleh, tapi aku bawa kado apa ya*...?!? Balasku.


Kia mendekat, penasaran dengan siapa aku berkirim pesan. "Gara? Aneh banget namanya, siapa sih??"


"Teman baru." Jawabku singkat. Ada balasan masuk dari Gara.


Gara,


Gak usah bawa apa-apa, kan kemarin udah kasih ide brillian.


Aku tersenyum tipis membaca balasan darinya. Kia mengamati ekspresiku dengan seksama. "Nya, lu jatuh cinta ya?"


"Sembarangan! Bukan lah, gue senyum karena dia ini lucu, namanya aja Gara, itu kan temannya naruto Ya." Tukasku seraya mengetik pesan balasan untuk Gara.


Okke. Balasku singkat.


"Apa jangan-jangan yang beliin bubur ayam kemarin tuh si Gara-Gara ini ya Nya?" Tanya Kia semakin penasaran.


"He'em...." Aku meletakkan ponselku kemudian bersiap tidur.


"Ayo ceritain... Lu kemarin kan belum cerita, gimana sih." Kia berguling sampai ke kasur yang ku tempati.


Hufffth. Aku meniup ujung poni di dahiku. "Iya deh iya.........." Akhirnya aku menceritakan pertemuanku dengan Gara pada bab bubur ayam perkenalan. Aku tak menceritakan yang lainnya karena menurutku itu adalah privasi dan bukanlah konsumsi publik.


"Yah begitulah. Kalau lu sama kak Zaky gimana perkembangannya?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan kami.


"Kita jadian Nya.." Jawab Kia lirih, malu-malu kucing.


"OMG... Selamat yaaa... tapi mana dong PJ nya Ya...!" Aku berguling ke kasur kia sambil menengadahkan tangan kananku ke arahnya.


"Nanti lah kalau udah gajian." Kia mengerucutkan bibirnya lucu. Sedetik kemudian kami tertawa lepas.


Aku berguling kembali ke kasurku. Kia masih tersenyum dan merona malu saat aku mulai bersiap tidur.


Yah, inilah persahabatan kami. Persahabatan yang kami mulai sejak duduk di kelas dua SMK. Semoga persahabatan ini terus berlanjut sampai kita sama-sama menua nanti.


.


.


.


.


Di sebuah apartemen mewah di kota G.


"Sekarang ceritain siapa cewek ini? Bisa-bisanya lu tinggalin gue di toko." Gerutu Pras sambil menyodorkan sebuah foto ke hadapan Kris.


"Namanya Anya. Dia teman gue." Jawab Kris singkat.


"Teman? Lu serius? Dia gak naksir lu? Gak terpesona sama tampang atau motor lu?" Tanya Pras heran.


"Gak. Dia mirip kakak." Jawab Kris lagi semakin singkat.


"Lu sadar gak kalau sampai pak Dan atau ayah lu tau bisa tamat riwayat lu dan gadis itu." Pras duduk frustasi lalu menyalakan sebatang rokok di sampingnya.

__ADS_1


"Hmmm... gue udah punya solusi untuk itu." Kris menumpuk dokumen terakhir yang dia tandatangani kemudian mengetik pesan di ponselnya.


Gila nih si bos. Dari puluhan cewek sexy, cantik, bohay, pinter, kenapa cuma Anya yang dia senyumin secerah itu? Batin Pras.


"Tadi Angel datang ke kantor pas lu belum balik." Tanya Pras. Kris diam, membuat Pras sedikit bingung karena biasanya sang bos akan langsung merespon jika Angel yang datang.


"Biarin lah. Dia mau menjebak gue, tapi gak berhasil. Sekarang kalau dia datang lagi langsung tolak dengan alasan apapun." Ucap Kris mantap.


"Akhirnya lo sadar juga," Pras mengulum senyum, membuat Kris menatap tajam ke arahnya.


"Lu udah tau?" Tanya Kris penasaran.


"Papa lu juga tau, tapi kita diem dulu, karena lu kelihatan happy ada Angel."


"Gue happy di depan semua cewek yang menambah benefit perusahaan bro." Jelas Kris.


"Gue kira lu udah jatuh cinta sama Angel, kemarin kalian ke party anaknya Mr. Smith bareng-bareng terus kan sampai malam?"


"Mimpi. Itu karena dia jebak gue sama teman-temannya, untung gue bisa kabur. Lu tau kan gue gak mungkin jatuh cinta. Dia cuma manfaatin nama plus tampang gue doang, yaudah gue juga manfaatin tuh koneksi dia ke beberapa kolega asing."


"Si Angel itu cantik, pinter, sexy, dadanya padat mantep... yakin gak kesemsem lu?" Tanya Pras seraya membayangkan.


"Dasar ***** an!. Lu kali yang naksir dia. Semua wanita itu breng**k bro, kecuali kakak gue." Ucap Kris sendu.


"Iya gue ngaku, gue naksir sama si Angel, naksir body nya doang tapi. Hahaha.." Ujar Pras memecah suasana sendu hati Kris yang mulai mengingat masa kelamnya.


"Sialan lu. Kalau gitu lu aja yang nemuin dia sekarang ya, di kafe hotel AR."


"Siap bos." Sahut Pras penuh semangat, kemudian langsung merapikan beberapa map di depannya.


.


.


.


Krisna POV


Aku berdiri di sudut balkon setelah Pras keluar dari apartemenku. Menikmati pemandangan malam dengan sebatang rokok di tanganku. Aku menyesapnya perlahan, menikmati hembusan asap yang kuciptakan sendiri di keheningan malam.


Drrrt... Drrrtt...Drrrtttt


Ponselku bergetar.


Dari papa.


Kamu di mana boy?


Apartemen.


Good. Besok kamu berangkat ya.. om Dan sudah mengurus semua keperluanmu di sana.


Pa, besok ulang tahun kakak. Apa papa lupa?


Papa tahu, tapi kondisi kakakmu tak memungkinkan kita untuk merayakannya seperti tahun lalu boy.


Kris akan tetap merayakannya dengan cara Kris sendiri.


Oke. Tapi lusa kamu harus berangkat, tak ada alasan lagi.!


Deal.


Aku mengumpat kesal. Selalu saja papa mengatur aku harus begini, aku harus begitu.


Kakakku yang malang. Aku bersumpah akan membuat lelaki baji***n itu menyesal telah meninggalkan kakak.

__ADS_1


__ADS_2