
Kami tiba di tempat sablon tak jauh dari tempat Gara membeli kaos. Gara bilang pemilik tempat sablon ini adalah temannya semasa kuliah.
Tempat ini nampak kecil tapi memanjang ke dalam, berisi penuh beberapa alat yang tak ku ketahui fungsinya apa saja.
"Hei bro, tumben mampir, wah bawa cewek pula. Gebetan baru ya?" Sapa seorang pria berperawakan tinggi yang menjemur beberapa kaos di teras depan.
"Teman. Mau sablon kaos nih, jadinya bisa cepat kan?" Gara memarkirkan motornya lalu bergegas menemui pria tadi.
"Bisa bisa. Tapi harga tergantung sama kerumitan desainnya bro."
Gara kemudian memperkenalkan kami. Pria tadi bernama Abror, pekerja sekaligus pemilik usaha sablon ini. Dia punya dua orang karyawan, tapi bergantian masuk pagi dan siang hari.
"Pokoknya gambar naruto bro." Ucap Gara mantap.
Aku tersenyum geli ke arahnya, dan nampaknya si Abror ini tahu maksud senyumanku.
"Ini contoh-contoh desain gambar tokoh naruto bro. Silahkan lu pilih." Abror langsung menunjukkan beberapa gambar di layar laptopnya, membuat Gara mengerjap beberapa kali, sepertinya dia baru tahu kalau desain gambar naruto tak sesederhana ucapannya tadi.
"Buat kakak gue bro. Cewek. Lu pilihin lah." Gara nampak frustasi dan semakin bingung dengan banyaknya gambar yang ditunjukkan Abror padanya.
"Gue nggak tau selera cewek bro, mereka kan nggak bisa ditebak. Kenapa nggak minta nona di samping lu aja sih buat milihin" Abror melirikku yang tetap diam memperhatikan mereka.
"Nya, lu bisa milihin gak?" Ucap Gara seraya menggeser posisi duduknya agar aku bisa mendekat melihat gambar desain di laptop Abror.
"Mmm sini gue coba lihat-lihat dulu. Kakak lu paling sering nyeritain apa? Sesuatu atau nama yang lu ingat dari ceritanya mungkin?" Tanyaku sambil terus menggeser gambar satu ke gambar lainnya.
Gara nampak berfikir dengan serius. "Apa ya... Konoha... Yondaime... Hatchi... Oishi.. entahlah gue gak begitu ingat Nya."
"Oishi.. enak sekali... lu kira iklan snack.." Abror ketawa ngakak mendengar ucapan Gara.
"Konoha itu desa tempat tinggal Naruto. Yondaime itu ayah sekaligus pemimpin desa yang baik, penyayang, kuat, rela berkorban nyawa demi menyelamatkan desanya, ganteng pula, pokoknya super keren. Gue rasa semua cewek pasti menyukai sosok ayah Yondaime." Jelasku sambil memilih desain gambar Yondaime yang paling bagus menurutku.
"Kalau Hatchi?" Tanya Gara penasaran.
"Hatchi anak yang sebatang ka-ra. Pergi mencari ibunya..." Sahut Abror dengan nada soundtrack film kartun lebah yang lagunya sempat di nyanyikan oleh almh. Vanessa Angel.
Aku tertawa mendengarnya, sedangkan Gara memukul Abror dengan bantal sofa di sampingnya.
"Itu pasti Itachi Uchiha. Kakak baik hati yang rela jadi pembunuh dan di benci hampir seluruh penduduk desa hanya demi melindungi sang adik. Nah ini kayaknya bagus." Aku menemukan gambar kakak-beradik uchiha yang cukup cute.
"Kalau Oishi jadinya apa?!... Diem Lu bro..!!" Gara langsung menatap tajam dan mengancam Abror saat dia membuka mulut akan mengatakan sesuatu.
Aku mengetuk dagu dengan jari telunjuk. Berfikir kata Oishi apa yang berhubungan dengan naruto. "Sushi...bukan.. Otsusuki...sepertinya juga bukan.. Kakashi...mungkin juga... Akatsuki...bisa juga.."
"Bro lu ngerti gak apa yang Anya sebutkan itu?" Tanya Gara penasaran.
"Ngerti, tapi gue nggak bisa nebak cewek suka yang mana. Kalau gue sih suka semuanya. Hehe" Jawab Abror.
"Lu mah ikan Arwana di bedakin juga pasti lu suka kan."
"Heh, ikan Arwana kagak pakai bedak juga udah gue suka bro, bisa menghasilkan fulus kalau udah panen. Hehe."
"Dasar. Duit mulu di pikiran lu."
__ADS_1
"Kalian bisa diam gak?"Teriakku pada mereka. Kesal sekali, di sini sedang menganalisa, di sana malah debat ikan arwana gak jelas.
"Sorry,"
"Maaf,"
Ucap mereka bersamaan.
"Gue rasa antara Kakashi atau Akatsuki. Jujur yang ke tiga ini gue gak yakin." Ucapku tanpa menoleh ke arah Gara maupun Abror.
"Oke, dua dulu aja bro." Ucap Gara.
Salah satu pegawai membawa jus jambu dan kacang kulit ke hadapan kami.
"Siap bos. By the way, kalau Anya sukanya apa?" Tanya Abror seraya mengambil jus di depannya.
"Beberapa tokoh Naruto gue suka sih, tapi lebih suka Sora di film Kaleido Star, tau gak?" Jawabku sambil mengupas kacang kulit lalu memakannya.
"Tau tau, adek gue suka banget tuh film. Sora yang selalu ceria dan suka membuat orang lain tertawa bahagia kan?" Jawab Abror antusias.
"Yups. Betul banget. Oiya, mending yang satu lo simpan dulu deh atau lu tanyain kakak lu dulu suka yang mana."
"Oh oke. Udah setengah satu nih, yok gue anter balik." Ucap Gara sembari mengambil kunci motor di atas meja di samping laptop Abror.
Kami berpamitan singkat dengan Abror. Kudengar kaos besok siang bisa diambil dan Gara langsung membayarnya via transfer.
Drrt..Drrrt
Ponsel Gara berbunyi.
"............"
"Oke..."
Singkat, padat, jelas. Gara memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu mulai menghidupkan motornya. "Yuk Nya."
Aku segera naik, sedikit penasaran dengan percakapan di ponsel tadi tapi aku tak ingin menanyakannya.
Gara berhenti di kedai soto ayam, masuk sebentar lalu kembali dengan memberiku satu kantong kresek berisi beberapa bungkus soto ayam.
"Buat lu sama teman kos lu. Kalau kita makan di sini nanti lu bisa telat masuk kerja." Ucap Gara sebelum kembali menghidupkan motornya.
Aku menerimanya dengan wajah cengo. Setengah sadar setengah kaget tak percaya.
Cepet banget? Kapan pesenya kapan bungkusinnya nih?! Batin ku.
Terik mentari terasa menyengat di atas ubun-ubun kepala Anya. Meski begitu ia tak mengeluh, ia tetap tersenyum tulus karena bisa membuat temannya bahagia.
"Gue turun depan indomart aja ya, mau beli sesuatu dulu ke dalam."
Gara kemudian menurunkan ku tanpa bertanya ataupun protes.
Kenapa lagi nih anak? Tumben gak tanya. Mukanya datar gak ada ekspresi sejak terakhir terima telfon tadi. Tapi... kenapa tetap keliatan ganteng gitu ya? Duh Anyaaaa stop. Apa yang lu pikirin sih Nya? Batinku.
__ADS_1
"Masukin nomor lu Nya." Ucap Gara sambil menyodorkan ponselnya ke hadapanku.
Aku mengetik nomorku kemudian menyimpannya sendiri dengan nama 'Sora'. Gara hanya tersenyum melihat nama yang ku ketik di kontak ponselnya.
"Ganti gue dong yang kasih nama di ponsel lu." Ucapnya sembari melakukan panggilan ke ponselku.
Aku memberikan ponselku lalu Gara memberi nama kontaknya sendiri.
"Krisna? Haha, jangan ngayal deh. Itu kan tokoh pewayangan. Terkenal sebagai jelmaan dewa yang menaiki kereta kuda, membantu pandawa di perang Mahabharata." Ujar ku setelah melihat namanya di kontak ponselku.
"Anggap saja begitu. Jadi bukan cuma lu doang yang punya nama spesial." Ucapnya ambigu, lalu bersiap menghidupkan motornya.
"Oke lah suka-suka lu aja. Thanks ya makanannya." Ucapku senang karena dia tadi membelikan soto ayam untukku dan teman-temanku.
"Hei, lupa ya. Gak ada kata terima kasih untuk teman." Ucapnya nyengir lalu berlalu dari hadapanku sambil melambaikan sebelah tangannya padaku.
Aku berdebar, Gara meniru kata-kata magic milikku. Kata-kata yang membuatku memiliki banyak teman.
Sebenarnya aku tidak ingin membeli apapun, aku hanya beralasan. Aku tak mau Gara mengantarku di depan kos dan aku akan mendapat serangan pertanyaan dari ibu kos atau teman-teman kosku yang lain jika mereka tau aku keluar bersama seorang pria.
"Wuihhhh... dari mana Nya? Pulang-pulang bawa makanan. Gue suka gaya lu." Monik menghampiriku yang baru sampai di tangga atas kos.
"Haha. Kuy lah, ayok makan bareng-bareng." Ajakku, lalu memanggil Putri dan Zumi.
Kami semua makan sambil menonton tv. Putri ternyata lebih suka nonton kartun, membiarkan Zumi yang kesal karena remote tv di kuasai Putri.
"Nya beli di mana sih? Mantap banget." Ucap Monik pada suapan terakhirnya.
"Dibelikan teman. Udah ayo abisin, bentar lagi kita berangkat."
Zumi mengeluarkan galon, menuangkan airnya ke gelas plastik lalu meletakkannya di hadapan kami.
"Oh Zumi baiknyaaa.. makasihhh..." Ujar Monik seraya menenggak habis air minum di hadapannya.
Aku tersenyum lega. Bersyukur karena kami bisa rukun, hanya sesekali terdengar penghuni kamar nomor satu yang bertengkar, rasanya kami seperti keluarga walau tak sedarah.
.
.
.
.
.
Kami berangkat kerja bertiga seperti kemarin. Berjalan sepanjang jalan raya menuju pabrik.
Putri berbelok, bergabung bersama teman-temannya setelah ceklok masuk.
Monik berlari duluan menuju N-2 setelah ceklok. Katanya suasana line tempatnya terasa horror kalau sampai dia terlambat datang. Hmm kurasa aku harus bersyukur lagi karena aku di line sembilan, bukan di line tempat Monik.
.
__ADS_1
.
.