
-----Rumah keluarga Adijaya.
Sicil meradang, membiarkan air shower membasahi rambut, wajah, serta tubuhnya dengan bebas. Pandangannya kosong, tak merasakan hawa dingin atau merinding, serta pori-pori kulitnya yang mulai membeku.
Dor..Dor..
Dor......Dor...
Dua orang wanita menggedor pintu kamar mandi setelah mendapat laporan dari seorang Art yang mengatakan bahwa Sicil tak keluar dari kamar mandi sejak kepergian Kris.
"Sil.. lu di dalem kan?"
"Sil.. buka pintunya..!"
Sicil mendengar suara Jane dan Karin di luar. Namun tubuhnya terlalu lemas untuk sekedar membuka pintu kamar mandi untuk mereka.
"Sil.. Kris balik tuh..lu gak mau ketemu dia lagi? Gak mau peluk dia?" Bujuk Karin.
Kris kembali? Apa dia sudah menyesal karena tadi membentak dan meninggalkanku?. Batin Sicil.
Bagai tersetrum energi jutaan Volt, Sicil bangkit tertatih-tatih dan sekuat tenaga, ia terburu-buru mengenakan jubah mandinya, lalu keluar dengan berteriak histeris memanggil nama Kris.
Jane dan Karin memeluk Sicil untuk menenangkannya. Mereka tahu, ada yang tidak beres dengan kejiwaan Sicil saat ini.
"Kalian bohongin gue? Penghianat kalian! Pergi dari sini..! Pergi..!" Teriak Sicil marah karena tak menemukan Kris di tempat ini.
"Sil tatap mata gue..! Dengar..! Tak semua hal, harus bisa sejalan dengan apa yang lu harapkan..! Tenang ya..! oke.. slow.. ingat adik lu.. ingat papa dan mama lu..." Sugesti Jane yang kebetulan kuliah dengan jurusan psikologi akhirnya bisa menenangkan Sicil.
"Sil..cerita ke kita ya.. mungkin aja nanti kita bisa bantuin elu..." Bisik Karin seraya memeluk Sicil dari samping.
Aku merasa gagal. Aku merasa buruk sekali. Aku merasa aku tak pantas di samping Kris. Batin Sicil.
"Gue kalah...gue gagal.. gue gak bisa bikin Kris suka sama gue................." Lirih Sicil dengan berlinang air mata, hingga membuat Jane dan Karin memeluknya kembali dari sisi kiri dan kanan Sicil.
Flashback.
Sicil mencium dan menjilat leher Kris dengan penuh harapan bahwa Kris akan luluh dengan aksinya. Tangannya tak tinggal diam, meraba dan sedikit menekan, serta mencubit kecil dada dan perut rata Kris yang masih mengenakan kaosnya.
Kris tiba-tiba membuka kelopak matanya, sesaat setelah Sicil merasakan adanya pergerakan dari sesuatu yang ia duduki.
"Wait a minutes, tunggu sebentar." Kris mulai bergerak, lalu merebahkan tubuh Sicil ke ranjangnya.
Sicil tersenyum lebar mengamati wajah Kris yang mulai memerah menatapnya. Ia menggapai telapak tangan Kris, lalu meletakkannya di salah satu bukit gairahnya.
"Sentuh aku Kris, nikmati tubuh ini sayang.. aku menginginkanmu... aku mencintaimu..." Lirih Sicil dengan menutup mata, seraya mengarahkan tangan kris untuk meremas buah dadanya.
"Lu sadar dengan apa yang lu lakukan ini?" Tanya Kris pelan, sembari menarik tangannya dari apa yang diinginkan Sicil.
"Sangat sadar sayang. Aku mencintaimu." Sicil membuka kelopak matanya. Dan mendapati Kris tengah berjalan, lalu mengambil tissu dari meja riasnya.
__ADS_1
"Nona muda keluarga Adijaya, mengundang seorang pria memasuki kamarnya, lalu menawarkan tubuhnya... apa yang akan keluargamu pikirkan nanti ha?" Kris tersenyum sinis tanpa menoleh ke arah Sicil.
"Gue...gue gak peduli Kris. Yang penting lu bisa sayang sama gue..,..yang penting gue bisa milikin elu.." Ujar Sicil dengan sedikit bimbang.
Kris menyemprotkan hand sanitizer ke tissu yang dipegangnya, kemudian mengusap-usapkan tissu itu ke lehernya.
"****, gak bisa hilang." Keluh Kris, sembari melihat pantulan wajah dan lehernya di cermin.
"Itu stempel cintaku Kris, gak akan bisa hilang dengan mudah..!" Teriak Sicil kacau, karena Kris mulai tak mempedulikannya lagi.
"Ada pembersih muka kan di dalam? Gue pakai ya.." Kris melangkah masuk ke kamar mandi, kemudian mencari sabun cuci muka dan mulai mengaplikasikan ke wajah dan lehernya.
Sicil beranjak menyusul Kris ke kamar mandi. Ia melepas bra kemudian memeluk Kris dari belakang.
"Gue sayang sama lu Kris...Hiks..." Ucap Sicil mengiba seraya menangis, berharap agar Kris mau melihat dan menurutinya.
Perlahan Kris membasuh wajah serta lehernya, hingga sedkit mengenai kaos bagian depan dan poninya. Ia kemudian mengeringkannya dengan handuk kecil yang tergantung di sebelah kanannya.
"Apa lu pikir gue ini murahan? Gue penjahat wanita? Hingga dengan lu telanjang, maka gue bakal dengan suka rela mencumbu dan membalas rasa sayang elu?" Ucapan lirih Kris bak tamparan keras di wajah Sicil.
"Bukan, bukan gitu Kris.." Sicil tak sanggup meneruskan kata-katanya.
"Gue nerima lu, karena gue berharap lu bisa berubah lebih baik. Tapi ternyata gue salah, lu gak menghargai usaha gue, lu malah mau jadiin gue penjahat." Ucap Kris datar seraya berbalik dan menghadap Sicil yang nyaris telanjang di depannya.
"Kris gue...gue gak bermaksud..." Sicil langsung memeluk Kris, ia malu sendiri karena Kris ternyata malah menolak aksinya.
Kris melepas outernya, lalu memakaikannya ke tubuh Sicil. "Hargai tubuhmu sendiri karena itu adalah kehormatan keluargamu. Maaf, gue gak bisa lanjut sama elu. Kita PUTUS." Ujar Kris dengan menekankan kata terakhirnya.
"Enggak...!! Kris..!! Lu gak bisa putusin gue..!!" Teriak Sicil sembari mencekal lengan Kris yang hendak keluar dari kamar mandi.
"Why not? Kenapa enggak?" Jawab Kris santai.
"Gue sayang sama lu. Kita saling mencintai Kris. Gak adil kalau lu mutusin gue karena aksi gue barusan....." Tukas Sicil sambil melepas outer Kris dan mengembalikannya. "Gue gak butuh outer lu, gue butuh lo, ayolah Kris lakukan." Sicil meremas dadanya sendiri kemudian melepas kain terakhir yang menempel di tubuh bagian bawahnya.
Secepat kilat Kris mengalihkan pandangannya, lalu melangkah meninggalkan kamar mandi.
****. Dasar cewek gila. Psikopat. Bisa ikutan gila gue lama-lama di sini. Batin Kris.
"Kris, gue bakal aduin ke papa kalau lu mutusin gue..! Perusahaan lu bisa bangkrut kan kalau papa gue mutusin kontrak kerjasama kalian?" Ancam Sicil sembari menyusul Kris sampai pintu kamar mandi.
Kris memakai outer nya kembali, lalu berbalik, berjalan ke arah Sicil.
Sicil tersenyum senang. Ancaman kontrak kerja pasti bisa membuat Kris bertekuk lutut kembali ke hadapannya, pikirnya.
"Gue gak peduli. Silahkan lakukan apa yang lu mau, gadis licik.." Sentak Kris, seraya mengambil dompet yang terjatuh di samping keset kamar mandi luar.
Senyuman Sicil sirna. Ia menganga, tak menyangka jika Kris akan menjawab demikian. "Gue bakal minta papa buat hancurin perusahaan dan keluarga lu kalau lu tetep mutusin gue..!" Ancam Sicil kembali, ini adalah usaha terakhir, menurutnya, perusahaan Kris lebih kecil dari perusahaan keluarganya jadi dia akan menggunakan ini sebagai senjata untuk merantai Kris di sisinya.
"GUE GAK PERDULI..!!" Teriak Kris di ambang kesabarannya, ini pertama kali ia berteriak, hingga membuat Sicil terhenyak dan tak dapat berkata-kata lagi.
__ADS_1
"Siapa yang kemarin berjanji bakal berubah, bakal jadi gadis baik yang penyayang, bakal jadi cewek yang pantes dampingin gue? Sekarang apa? Lu mau jebak gue, mau gue tidurin elu, pake ngancem-ngancem dan libatin keluarga? Gue kecewa sama lu Sil...." Lirih Kris sembari melangkah meninggalkan Sicil yang kini menangis tersedu-sedu menyesali tindakannya.
"Kris..maafin gue..." Lirihnya. "Kris..!! Kriss...!!" Teriaknya lagi, namun Kris telah keluar dan menutup pintu kamar Sicil...
"Maafin gue Kris... gue sayang sama elu... Maaf...jangan tinggalin gue Kris... gue emang bodoh.. maaf Kris.." Ratap Sicil dengan berlinang air mata. Menyesal karena obsesi telah mengalahkan logikanya. Menyesal karena nafsu berhasil menyingkirkan perasaan tulusnya.
Flashback end.
.
.
...----------------...
Jane dan Karin berpandangan setelah mendengar cerita Sicil.
Gila. Sicil nekat banget. Udah tau si Kris pria baik-baik dah terhormat, malah pake cara begitu buat dapetin hatinya, mana bisa? Batin Jane.
OMG Kris...keren sekali. Bisa nolak Sicil yang cantik, sexy, mulus hampir telanjang pula. Duhh...makin cinta gue sama lu Kris. Batin Karin.
"Udah lu tenangin diri lu dulu. Minum obat ini ya. Besok kalau udah tenang dan wajah lu segar, lu bisa bicara baik-baik sama Kris lagi, oke?" Bujuk Jane sembari mengambilkan obat dan air minum untuk Sicil.
"Apa Kris masih mau bicara sama gue? Dia kan kecewa banget..." Lirih Sicil, belum mau mengambil obatnya.
"Iya, pasti mau, tapi lu harus kuat, harus cantik lagi di depan Kris, jangan acak-acakan gini. Ayo minum obatnya." Sahut Karin, ikut membujuk Sicil.
Akhirnya setelah minum obat dan hampir satu jam menangis lagi, Sicil bisa tertidur pulas di ranjangnya.
"Makasih ya non." Ucap salah satu Art di depan kamar Sicil. Art inilah yang tadi memberitahu mereka tentang Sicil, yang ternyata pernah di rawat di rumah sakit jiwa akibat depresi di tinggalkan tunangannya.
Saat kambuh ia akan berteriak-teriak histeris dan menangis tersedu-sedu. Itulah mengapa ia selalu menyediakan obat untuk majikannya itu jika sewaktu-waktu kondisinya nampak aneh dan terlihat murung.
Sementara di sebuah apartemen mewah. Tiga orang pria merayakan keberhasilan tugas mereka dengan memesan berbagai macam makanan dan minuman sampai memenuhi meja panjang ruang tamu.
Mereka menikmati makanan sambil saling melempar cerita-cerita seru mereka hari ini.
"Gokil... tapi beneran lu gak sempet lihat tubuh polos Sicil bro? Gratis tuh." Lakar Rizky di sela-sela kunyahan keripik kentangnya.
"Dikit sih, haha... tapi gue tahan bro, bisa kacau kalau gue sampai khilaf" Jawab Kris sembari mengecek isi flash disk di laptopnya.
"Sayang banget man lo anggurin body mulus bohay kayak gitu..." Ucap Davit seraya menerawang ke langit-langit.
"Heh. ***** lu?" Sentak Rizky sambil melempar bungkus keripik kentangnya ke arah Davit.
"Sialan lu. Eh gimana, ada kan? Lengkap kan bukti-buktinya?" Davit menghampiri Kris setelah sebelumnya membuang bungkus keripik kentang yang di lempar Risky ke tong sampah.
"Sip. Misi sukses. Thanks ya bro. Dengan begini cabang perusahaan papa di sini aman terkendali kalau mereka berani macam-macam." Ucap Kris mantap, sembari menatap bangga ke arah Davit dan Rizky.
"Of course bro..." Sahut Davit.
__ADS_1
"Jadi, apa rencana lu selanjutnya?" Tanya Rizky.
Kris hanya menjawab pertanyaan Rizky dengan tersenyum tipis, lalu menatap mereka penuh misteri.