
Pukul sembilan lebih seperempat kami semua akhirnya sampai di tempat kos baru. Suasana bundaran yang ramai meski sudah malam membuat kami merasa damai bercengkrama di balkon atas.
"Anak baru ya.. kenalin gue mai dan ini lala, kita di kamar nomor empat." Ucap seseorang dari arah tangga menuju ke tempatku dan Kia duduk menikmati pemandangan.
"Iya, gue Anya, ini Kia." Ucapku menyambut perkenalan mereka.
"Kalian sif berapa?" Tanya Kia.
"Kita sif C, sif malam. Kalau kalian?" Jawab may.
"Aku nonsif, Anya besok sif sore." Ucap Kia.
"Oh sif B. Sama dengan si Putri dan Zumy di kamar nomor dua tuh." Ujar Lala sambil menunjuk kamar yang berada lurus dengan ruang tengah.
"Alhamdulillah besok ada teman berangkat bareng. Jam berapa mereka biasanya sampai?" Tanyaku antusias.
"Biasanya jam setengah sebelas, Zumy bawa motor. Yasudah kita masuk dulu ya.." Ucap Lala kemudian berlalu dari hadapan kami.
Beberapa menit kemudian aku dan Kia masuk. Di kamar Inda dan Ike sibuk dengan ponsel masing-masing. Kia tidur di kasur sebelahku, katanya mumpung belum ada penghuni baru jadi dia memanfaatkan kasur baru tersebut. Haha. Ada-ada saja ulahnya.
.
.
.
Adzan subuh berkumandang dengan merdu. Mengalun indah memenuhi langit kota G ini.
Aku menggeliat, merenggangkan tubuh, menoleh ke kanan dan ke kiri.
Aku menguap lebar seraya ber-Alhamdulillah karena masih diberikan nikmat hidup untuk pagi ini.
"Ya bangun, udah subuh." Aku membangunkan Kia yang masih santai bergelung selimut tipis. Kia hanya bergumam menjawab ku.
Aku keluar kamar. Masih sepi. Kamar di sebelah juga masih tertutup rapat. Di ruang tengah ada seseorang yang tertidur menghadap ke arah tv. Aku tak membangunkannya, aku melewatinya menuju kamar mandi.
"Nya masih lama gak?" Teriak Kia dari balik pintu.
"Bentar lagi Ya,"
Kudengar Kia berbicara dengan seseorang, mungkin itu dia yang tertidur di depan tv.
"Lama amat sih Nya, kebelet nih," Gerutu Kia kemudian langsung masuk ke kamar mandi begitu aku melangkah keluar.
"Kalau gitu gue ke kamar mandi bawah aja deh, Kia pasti lama." Ujar Ike kemudian berlalu dari hadapanku.
Hmm ternyata yang tidur di depan tv nyenyak banget ya, gak keganggu sama teriakan Kia tadi. Apa mungkin dia juga sif B? Jadi pulang kerja kecapekan terus ketiduran di sini? Batinku.
Aku sholat subuh di kamar. Terasa damai dan sejuk. Apa ini karena di lantai dua? Jadi kebisingan di bawah tak terdengar sampai ke atas?
__ADS_1
Inda terbangun ketika aku selesai salam. Dia bertanya di mana Ike dan Kia. Namun sebelum aku menjawab Kia sudah muncul di depan kami.
"Hai Nda, buruan ke kamar mandi sebelum di masuki penghuni kamar lain." Ucap Kia seraya mengambil mukena yang baru kulipat.
"Gue mau jalan-jalan pagi nih. Mau ikut gak?" Tanyaku sambil menyisir rambut dan memakai bedak tabur bayi kesukaanku.
"Gak ah, masih pagi, gue masih mau tidur bentar," Jawab Kia sebelum dia siap dengan takbirotul ihram-nya.
"Gue juga masih males keluar Nya." Ucap Inda seraya keluar kamar menuju kamar mandi.
Aku memakai celana training dan kaos lengan panjang, tak lupa pashmina warna ungu favoritku.
Di tangga aku bertemu dengan Ike yang masih menerima panggilan di ponselnya.
"Kemana Nya?" tanya Ike.
"Jalan-jalan sekitar sini bentar." Ucapku sambil melambaikan tangan ke arah Ike.
"Kalau ada bubur ayam tolong beliin gue sebungkus ya Nya..." Teriaknya kemudian kujawab dengan menaikkan ibu jariku ke atas. 'oke'.
Aku berhenti tepat di depan toko. Merentangkan tangan, menghirup udara pagi sedalam mungkin, lalu mengeluarkannya perlahan lewat mulut. Ku ulangi beberapa kali. Ini adalah cara merilekskan tubuh paling sederhana. Aku mempelajarinya saat mengikuti ekskul Teater di sekolahku.
Ternyata udara di sini masih segar karena belum ada kendaraan yang ramai lalu lalang. Di samping kanan ada warung nasi yang sepertinya baru mau buka. Di kanannya ada penjual sate ayam yang baru sampai dan masih menata dagangannya.
Aku berjalan pelan ke selatan, ke arah kantor tempat melamar kerja. Kata Hilda sekitar seratus meter ke selatan kantor ada bundaran kedua, ada banyak pedagang keliling yang berjajar di sana di pagi hari.
Aku merekam suasana pagi ini, beberapa gedung terlihat cantik di area ini, bisa ku simpan di galery dan ku tunjukkan pada adikku nanti.
Aku hendak melangkah mendekatinya, namun tiba-tiba...
Braakkkk...!!!
Ibu-ibu tadi menabrakkan dirinya ke sebuah motor gede yang melintas tepat di samping si ibu tadi berdiri.
Reflek aku berlari ke arah mereka. Kudengar beberapa langkah kaki juga berlari ke arah yang sama denganku.
Si pengendara motor rupanya sempat mengerem, terbukti dia terduduk dengan motor yang terbaring tak jauh darinya.
Beberapa warga menolong si Ibu tadi, sementara warga yang lain memegangi si pengendara motor.
Aku memperhatikan raut wajah si ibu yang nampak semakin gelisah, dan khawatir akan sesuatu. Tak ada luka ataupun ceceran darah dari tubuhnya, bisa ku pastikan si ibu hanya terserempet motor sedikit karena si pengendara punya reflek bagus untuk membanting setir motornya ke kanan.
"Hai anak muda, ayo buka helm kamu. Tanggung jawab karena naik motor ugal-ugalan sampai menabrak ibu ini..!" Teriak salah satu warga dengan emosi.
"Iya cepat ganti rugi, atau bawa ibu ini ke rumah sakit terdekat..!" Teriak warga lainnya.
"Gak usah. Gak usah, ganti rugi saja. Sa-saya bisa periksa sendiri ke rumah sakit." Ucap ibu tadi lirih dengan raut wajah takut dan tak berani menatap wajah si pengendara.
"Ah kelamaan, nanti dia malah kabur. Ayo kita bawa saja ke kantor polisi." Ucap warga lagi.
__ADS_1
Si pengendara hanya diam. Ia tak melepas helm, juga tak mengatakan sepatah kata pun.
"Ja-jangan. Ganti rugi saja. Sa-saya buru-buru mau berangkat kerja." Ucap si Ibu semakin cemas dan tergagap, menghentikan dua warga yang hendak membawa si pengendara ke kantor pos terdekat.
"Yasudah cepat ganti rugi..!" Ucap salah satu warga yang sedari tadi sudah tersulut emosi.
Si pengendara tetap diam. Tangannya merogoh saku celana lalu mengeluarkan dompetnya.
Ketika si pengendara mengeluarkan beberapa lembar merah uangnya, dan menyerahkan pada si ibu...
"Tunggu...!!" Teriakku secara reflek mengehentikan tangan si ibu yang hendak menerima uang tersebut.
Sontak semua warga menoleh ke arahku.
"Ada apa dek?" Tanya seorang warga di dekatku.
"Ibu ini bukan tertabrak, tapi menabrakkan dirinya sendiri." Ucapku lantang, membuat raut wajah si ibu memucat, dan para warga terkejut.
"Siapa kamu? Heh anak ingusan, gak usah mengada-ada ya..!" Sentak warga yang memegangi si pengendara dengan emosi.
"Tunggu dulu, si ibu tidak terluka, si pengendara dan motornya jatuhnya ke kanan. Bisa jadi adek ini benar." Ucap salah satu warga yang rupanya cukup kritis mengamati.
"Halah. Jelas-jelas aku melihat orang ini membawa motor dengan kecepatan tinggi lalu menabrak si ibu. Kamu siapanya orang ini hah? Mau membelanya?" Sentak satu warga yang sejak tadi emosi membela si ibu.
Kudengar bisik-bisik warga yang sebagian setuju dengan ucapan ku, namun sebagian lagi meragukan kata-kataku.
"Saya punya buktinya." Ucapku singkat, hingga membuat mereka berhenti berdebat lalu menoleh ke arah ku.
Aku membuka layar ponsel ku, lalu memperlihatkan video di ponselku kepada mereka. Ya, aku tadi sedang merekam suasana pagi di sini, namun siapa sangka aku malah tak sengaja merekam aksi si ibu tadi.
Para warga terbelalak kaget, saling menoleh satu sama lain dengan kaku. Wajah si ibu semakin pucat pasi, dan seorang warga yang sejak tadi emosi tak bisa berkata-kata lagi.
"Wah parah ini. Kenapa ibu melakukannya?" Tanya salah satu warga pada si ibu.
"Ma-maafkan saya. Sa-saya terpaksa. Anak saya mau op-operasi. Butuh biaya banyak." Ucap si ibu dengan suara bergetar dan menahan tangisnya.
"Haduh.. bikin emosi pagi-pagi saja. Yasudah bubar-bubar." Teriak satu warga yang sejak tadi emosi. "Maaf ya bro, maaf ya adik kecil". Ucapnya lagi sambil berlalu dari hadapan kami.
Para warga kemudian membubarkan diri, tersisa aku, si ibu, dan si pengendara motor tadi.
"Ini bu, rejeki buat anak ibu. Lain kali jangan pakai cara seperti itu lagi ya. Bahaya. Kalau ibu malah beneran tertabrak bagaimana nasib anak ibu nanti?", Ucap si pengendara seraya menyerahkan seluruh uang di dompetnya ke tangan si ibu tadi.
Tangis si ibu langsung pecah dan memeluk si pengendara motor sambil berterima kasih dan mendo'akan keselamatan serta kelancaran rejeki untuk si pengendara motor baik hati seperti dia.
Aku speachless, menganga tak percaya dengan pemandangan di depanku. Tak menyangka ketika si pengendara mulai bicara dan malah menolong si ibu tadi.
Aku tersadar saat si ibu sudah pergi dari hadapanku dan tersisa si pengendara yang mulai melepas helm dan berjalan ke arahku.
"Hai nona, kita ketemu lagi," Ucap si pengendara setelah berdiri di hadapanku dengan helm yang ia tenteng di tangan kirinya.
__ADS_1
"Kamu?...." Tenggorokanku tercekat, tak bisa melanjutkan kata-kataku ketika melihat sosok tampan di depan ku.
Kenapa pagi-pagi ada dia di sini??? Batin ku.