Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
68. Ruang CCTV


__ADS_3

...****************...


**Para reader tersayang... Please jangan boom like dengan jarak hitungan detik yaa... Hal itu bisa membuat nilai karya menurun..


Terima kasih atas dukungan kalian..


Tinggalkan komen juga vote kalau ada yaa..😁😂


Selamat membaca.....🤗**


...****************...


"[Halo. Di mana Vero?!]" Tanya pak Dan dengan nada gusar dan setengah membentak.


"[Halo tuan. Maafkan kelalaian kami. Dua orang pengawal saya temukan pingsan di sebuah kamar tak jauh dari kamar bu Ami. Nyonya besar muncul kemudian membawa nyonya Vero ke tempatnya.]" Lapor Selly pada majikan yang menelfonnya.


"[Apa..!?]" Hanya satu kata ini yang terdengar. Kemudian hening, hanya terdengar dua majikannya kasak-kusuk berdebat dari kejauhan.


"[Bintang tiga, lakukan sesuatu, lacak GPS atau apapun itu, temukan lokasi Vero sekarang juga.]". Perintah sang majikan dengan tegas.


"[Baik tuan. Ponsel nyonya Vero lowbat tuan, tapi menurut saya nyonya besar pasti berada di apartemen mewah atau penthouse hotel berbintang dengan jarak terdekat dari sini tuan]". Jawab Selly tak kalah tegas.


"[Kau benar juga. Tugasmu dan bintang tiga lainnya sekarang jaga terus Ami dan anaknya.]" Perintah sang majikan sebelum menutup panggilannya.


"[Baik tuan.]" Jawab Selly singkat. Ia kemudian memandang dua orang teman pengawalnya yang baru siuman.


Pengawal pertama yang bernama Agus menceritakan kronologi kejadian sebelumnya, sementara pengawal dua yang bernama iwan menceritakan kejadian selanjutnya sampai ia berhasil memencet tombol darurat di ponselnya.


Tombol darurat pada ponsel pengawal bayangan ini langsung otomatis menjadi panggilan ke ponsel Selly dan Laila, pengawal asli yang bertugas di sisi Veronika.


Selly baru tahu ada panggilan darurat di ponselnya ketika ia baru keluar dari ruang dokter.


Drrrt.... Drrrttt


Ponsel Selly bergetar, tanda pesan chat masuk. Dari Laila yang mengabarkan posisinya sekarang. Dan Selly oangsung mengirimkannya pada pak Dan.


Baiklah, sekarang tugas gue cuma jagain Anya dan ibunya. Batin Selly.


"Kalian tetap jaga di posisi semula. Lebih waspada, oke?" Perintah Selly pada dua temannya.


"Oke, gimana dengan nyonya Vero?!" Iwan gelisah, ia merupakan pengawal yang paling lama bertugas dalam bayangan Vero, juga mengetahui semua hal tentang wanita tersebut.


"Nyonya Vero bersama Laila. Pak Dan yang akan mencarinya langsung." Selly kemudian terkesiap, ia mengernyit, lalu menoleh ke arah pintu kamar.


Beberapa langkah kaki terdengar berlarian melewati kamarnya.


Gawat..!! Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu dengan bu Ami?! Batin Selly.


Dua pengawal saling berpandangan, lalu mengangguk pelan dengan kedipan mata satu kali, kode bahwa pikiran mereka sama dan paham apa yang harus mereka lakukan berikutnya.


Selly keluar kamar, lalu berlari mendekat ketika melihat Anya keluar kamar dipapah seorang perawat.


Agus mengikuti Selly dari belakang, kemudian duduk dan berpura-pura membaca koran hari ini. Sementara Iwan berjalan berlawanan arah dengan mereka berdua.


Iwan berbelok, lalu berjalan lurus menuju sebuah ruangan dengan sebuah pintu bertuliskan 'Selain karyawan ber-ID merah, di larang masuk'.


"Anda siapa? Kenapa masuk kemari?!" Tanya seorang pria di depan pintu masuk tersebut.

__ADS_1


Iwan kemudian menyodorkan ID merah yang selalu di bawanya. Ya, ID merah adalah kartu nama karyawan yang langsung di bawah perintah direktur rumah sakit ini.


"Tapi anda bukan karyawan di sini, bagaimana mungkin anda mempunyai ID merah?". Tanya pria yang berjaga tersebut, di saku kiri seragamnya bertuliskan nama 'Setiawan'.


"Kenapa Wan?!" Tanya seorang pria lagi dari dalam ruangan. Di ID merah yang ia pakai bertuliskan nama 'Iswan N'.


Dua orang di depan pintu menoleh serempak.


"Saya mau masuk, tapi rekan anda belum mengizinkan." Sahut Iwan cepat.


"Hei, dia nanya gue tahu. Dia bukan karyawan di sini pak, tapi punya ID merah." Sahut pria yang bernama Setiawan dengan sedikit heran.


"Nama gue Iwan, tuh lihat di ID gue." Ucap Iwan seraya melirik sebal ke arah Setiawan.


"Awan, sini coba saya lihat." Pak Iswan membaca nama ID yang di serahkan Awan, lalu meringis geli, menyadari panggilannya tadi membuat dua orang di depannya salah paham. Ia meraih ponsel di sakunya kemudian menelfon sang direktur.


"[ID merah atas nama Iwan J apakah boleh masuk ke ruang kontrol CCTV?]" Tanya pria itu, cepat dan jelas.


"[.........]"


"[Baik pak.]" Si pria kemudian mengakhiri panggilan dan menatap Iwan curiga.


"Kenapa pak? Gimana kata pak direktur?!" Tanya Awan tak sabar.


"Katakan sandi masuknya?" Tanya pak Iswan datar, tak menghiraukan pertanyaan Awan sama sekali.


"Bintang tiga, perintah dua." Jawab Iwan cepat.


Pak Iswan sedikit terkesiap, namun sedetik kemudian ia berhasil menormalkan ekspresinya kembali. "Silahkan masuk." Ujar Iswan dengan suara sedikit segan.


"Loh pak, kok diizinkan? Dia siapa?" Tanya Awan heran, ia sampai tak sadar menarik lengan seragam Iswan ke arahnya.


"Maaf..." Awan meringis dan sedikit sungkan. Ia merasa malu, sikapnya yang sok akrab ternyata juga memberinya masalah kecil seperti tadi.


"Lain kali kalau ada kejadian seperti tadi langsung hubungi direktur, jangan mencegah apalagi sok akrab." Ucap Iswan sebelum ia melangkah masuk kembali ke dalam ruang kontrol CCTV.


Awan menunduk, ia tak berani lagi menjawab perkataan Iswan padanya.


"Saya mau lihat rekaman CCTV di paviliun anggrek dua jam yang lalu." Seru Iwan dengan suara tegas.


Pak Iswan yang mendengar pun langsung memerintahkan dua anak buahnya untuk memperlihatkan rekaman tersebut.


.


.


.


Aku masih terpaku memandang pintu kamar rawat ibu yang setengah transparan. Air mata ku mengalir deras, namun isak tangis ku mengalun tanpa suara. Tangan ku lunglai di samping tubuh, bahkan menggerakkannya untuk sekedar menyeka air mata ku pun aku tak mampu.


"Anya.. apa yang terjadi?!" Tanya kak Selly sembari ikut duduk di samping ku.


"Ibu...." Aku tak sanggup melanjutkan kata-kata ku dan kak Selly langsung menarik ku ke pelukannya.


"It's okey... Semua pasti baik-baik aja Nya. Jangan sedih, ada gue di sini, gue bakal nemenin lu. Kita berdo'a sama-sama yaa..." Ucap kak Selly menenangkan ku.


Beberapa langkah kaki terdengar mendekat. Meski begitu aku tak menoleh atau sekedar bergerak dari pelukan kak Selly. Aku hanya terfokus pada pintu kamar rawat ibu yang masih tertutup sejak sepuluh menit yang lalu.

__ADS_1


"Anya......" Ucap seseorang di dekat ku. Ia kemudian merunduk, melingkarkan tangannya di bahu ku.


"Maaf kita baru bisa datang Nya." Ucap seseorang lagi, suara mereka tak asing, namun aku tak mau lagi berpikir apalagi menebak-nebak.


"Sabar ya Nya. Lu pasti kuat." Ucap seseorang lagi yang lain.


Aku akhirnya mendongak. Ada Kia, ike, Inda, Ira, dan Monik di depan ku. Teman-teman kos ku yang setiap hari bersama ku. Sahabat yang terasa seperti keluarga ku.


"Semangat Nya...!!" Ujar Monik dan Ira bersamaan sembari mengepalkan tangannya ke udara di depanku.


Aku berkaca-kaca menatap mereka satu per satu. Sungguh terharu, dan rasa bahagia langsing menyeruak dalam hati ku karena kehadiran mereka.


"Hai semua. Gue Selly. Tolong temani Anya ya. Gue tinggal beli makanan sebentar." Kak Selly berkenalan dengan teman-teman ku sebelum ia menghilang dari hadapan kami.


"Maaf ya Nya kita telat." Ucap Inda. Aku hanya mengangguk seraya menghapus air mata ku dengan ujung sweater yang ku pakai.


"Pakai ini Nya. Ya ampun, lu gak boleh jorok jadi cewek." Ike mengomentari ku sembari menyodorkan sekotak tissue dari dalam tas ransel yang ia kenakan.


"Ke, jangan diomelin dong, kayak emak-emak lu lama-lama." Tukas Ira seraya mengelus lembut lengan ku.


"Biarin. Anya ini udah manis tanpa di kasih gula, jadi harus tetep stay cool, biar kalau nanti ada dokter ganteng langsung tuh bisa jatuh hati sama dia." Kilah Ike sembari merapikan rambut ku yang kusut.


"Astaga Ike...." Gumam Kia seraya menggeleng pelan.


"Hihihi...boleh juga kata-kata lu Ke." Ujar Monik mendukung.


"Terserah lu deh mak..." Ucap Ira pasrah.


"Udah deh kalian jangan ribut dulu. Ini rumah sakit." Ujar Inda memperingatkan, sementara Kia dan Monik sudah tersenyum melihat ku yang sedikit tenang dengan kehadiran mereka.


"Keluarga bu Ami." Seorang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang rawat ibu.


"Iya dok, saya anaknya. Bagaimana kondisi ibu?!?" Tanya ku tak sabar.


"Pasien sudah melewati masa kritis, tetap jaga emosinya ya nak, harus tetap stabil sampai operasi ke dua nanti." Jelas sang dokter sembari menatap iba pada ku, sementara beberapa perawat masih mencatat sesuatu pada berkas laporan kesehatan ibu di tangan nya.


"Baik dok, terima kasih." Ucap ku lega sembari tersenyum tipis sampai dokter dan beberapa perawat melangkah meninggalkan kami.


"Alhamdulillah...." Kia, Ike, Ira, Inda, dan Monik kompak berucap sembari menelungkupkan telapak tangan mereka ke wajah masing-masing.


"Kalian mau mulai nge-dance? Atau latihan paskibra? Sudah kompak banget tuh." Lakar ku sembari duduk kembali.


"Wah...udah bisa ngomong nih anak.." Ucap Ike.


"Iya, sekalinya ngomong langsung ngeledek kita.." Lanjut Monik.


"Pdahal barusan nangis sampai ingusnya bertebaran." Lanjut Ira.


"Iya, mana wajah dan rambutnya mengenaskan lagi." Lanjut Kia.


"Sialan kalian." Balas ku seraya melempar kotak tissue pada Ira dan Kia yang kini duduk bersebelahan di hadapan ku.


"Udah dong gaes...." Lerai Inda, hingga membuat kami semua tertawa bersama-sama.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2