
Malam yang dingin terasa sunyi. Aku memastikan perlengkapan kerja ku diiringi tatapan kasihan dari Kia, Ike, Inda, Ira, Yessi, dan Monik.
Sejak aku sampai kos, hampir semua penghuni kos menatap ku sendu. Mereka mungkin tahu musibah yang menimpa keluarga ku, namun tak ada satu pun yang mengatakan tentang 'turut berduka'. Mereka hanya bersikap lebih ramah dan perhatian pada ku.
Ada yang menawari makanan dan minuman. Memberi ku camilan. Bahkan memasukkan gayung antrian mandi ku di urutan pertama.
"Udah deh kalian jangan lihatin gue kayak gitu. Gue gak apa-apa. Serius. Gue udah ikhlas, oke?" Protes ku pada mereka.
"Oke. Nih bawa permen Nya biar gak ngantuk." Ike memberi ku sepuluh permen mint dan menyisipkannya ke dalam tas selempang yang ku pakai.
"Jangan lupa pakai minyak kayu putih, biar gak mabok nanti." Kia juga memasukkan minyak kayu putih miliknya ke dalam tas ku.
"Butuh hansa***s atau sal***as gak? Taruh di pusar lu biar gak masuk angin." Giliran Inda menaruh apa yang dia bawa ke dalam tas ku.
"Udah, lu jangan ikutan naruh lagi Ir! Gak muat tas gue ini." Seru ku ketika melihat Ira akan mengatakan sesuatu.
"Hehe.. Enggak. Gue cuma mau bilang hati-hati aja, tetap semangat, jangan ngelamun, oke?" Ucap Ira sembari menepuk pundak ku santai.
"Udah yuk berangkat..!" Seru Monik seraya menarik ku keluar kamar.
"Ayo Yes...!" Teriak ku pada Yessi yang masih sibuk menggambar ujung alisnya.
"Udah sana duluan aja, nanti gue susulin..!" Teriak Yessi tanpa menoleh. Ia masih setia menatap cermin nya dengan santai meski ini sudah hampir telat dari jam biasa kami berangkat kerja.
Sementara itu di ruang kepala sif B, pak Ilham tengah terkejut dengan tingkah keponakannya. Ia berulang kali memandang sederet pesan di ponsel nya. Mengerutkan kening seraya menatap dalam setiap kata yang tertera dalam kalimat itu.
[Paman, nanti kalau karyawan bernama Anya masuk ke ruangan paman, tolong antar dia ke ruangan ku. Please!]
Cukup sederhana namun bukankah itu melanggar aturan? Bukankah tak ada yang boleh masuk ke lantai dua kantor utama selain manager dan direktur? Apalagi ini malam, bukan sore apalagi pagi hari.
Akh. Sungguh sial. Jika dituruti maka bos besar akan marah padanya. Namun jika tak dituruti maka sang keponakan pasti akan melakukan hal lain yang tentunya lebih ekstrem dari ini.
Dengan beberapa pertimbangan akhirnya pak Ilham membalas pesan keponakannya dengan sebuah ancaman yang tak mungkin ia bantah lagi.
[Kenapa malam-malam nyuruh tuh cewek ke ruangan kamu? Mau aku laporkan papamu hah?! Gak ada kesana! Cepat kesini ! Aku kosongkan ruangan ini buat kalian, oke?]
Terkirim.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Akhirnya ada sebuah balasan masuk dari sang keponakan.
[Baiklah paman tersayang. Thanks]
Hanya satu baris, namun sudah membuat sang paman tersenyum lega dan tak khawatir lagi.
"Ada-ada saja anak muda ini.." Lirihnya sembari geleng-geleng kepala dan memulai memeriksa beberapa berkas di mejanya.
...----------------...
"Haii semuanyaa...maaf ya Anya baru bisa masuk.." Sapa ku pada semua rekan ku di line 9 ketika aku masuk dan membawa sekantong besar minyak ke dalam sela konveyor mesin dua puluh tujuh.
"Loh nak...kamu sudah masuk? Gak apa-apa kah? Kita turut berduka ya..." Ujar kak Andini sembari menghampiri ku.
"Sabar ya Nya...." Sambung bu Tuti kemudian dan hanya ku balas dengan anggukan.
"Anya... Welcome back..." Teriak Feni dari ujung konveyor sembari menata mie yang akan masuk ke percabangan.
"Feniii yang bener kalau nata! Jangan sampek berjubel gitu..!" Perintah kak Dewi dari mesin dua puluh lima dengan suara lantang.
Aku hanya melambai sekejab membalas teriakan Feni.
"Anya geraldine pasti kuat.. Nanti kita nyanyi lagi sama-sama, oke?" Starla yang baru datang dan sepertinya mendengar ucapan mereka segera ikut bersuara di samping ku.
"Makasih semuanya...Aku sudah baik-baik saja." Ucap ku pada mereka seraya tersenyum samar.
Kami bekerja seperti biasa. Bercanda, bernyanyi, dan tertawa di antara keseriusan menatap konveyor membawa mie berjalan di hadapan kami.
"Loh Anya sudah masuk? Alhamdulillah.. sudah bisa nyanyi juga." Sapa kak Sam ketika menyuplai minyak di belakang ku.
"Ia kak...." Jawab ku riang.
"Semangat ya nak. Atas nama semuanya, bapak turut berduka." Bapak operator yang tengah menurunkan speed mesin dua puluh tujuh juga ikut menyampaikan belasungkawanya pada ku.
"Kak Sam ayo ikut nyanyi. Kak Sam belum pernah nyanyi loh. Ayo dong. Mumpung kita ngerjain goreng lokal nih, santai." Teriak Starla semangat.
"Ayo Sam masak kalah sama Lala, Feni, Dewi, Ajeng, sama Anya geraldine." Sahut kak Dinda mengejek kak Sam.
"Gue gak bisa nyanyi lagu kalian." Ucap kak Sam serius.
__ADS_1
"Halah. Bohong lu." Tukas kak Andini.
"Iya nih..." Sambung bu Tuti.
"Ayo kak Sam nyanyi." Teriak Feni dari mesin dua puluh lima.
"Kalau Sam bisa nyanyi gue sawerin sepuluh ribu..." Sambung kak Ajeng, personil di mesin dua puluh enam.
"Baiklah. Baiklah...tapi ini lagu bahasa asing. Ada yang bisa gak?" Ujar kak Sam pasrah sembari menatap Feni dan kak Ajeng.
"Wooo sombongnyaa..." Komen kak Andin lagi.
"Kalau bahasa Inggris gue bisa." Sahut kak Ajeng percaya diri.
"Ini bahasa jepang. Hayo siapa yang bisa?" Tantang kak Sam.
"Halah kebanyakan drama lu. Cepet nyanyi sana Sam.!" Sahut bu Tuti tak sabar.
"Iya nih alasan aja." Tukas kak Dinda.
"Oke tapi kalau gak ada yang bisa nyambung lagunya kalian semua nyawer sepuluh ribuan ke gue ya!" Tantang kak Sam seraya tertawa jahil ke arah kami semua.
"Wah mana bisa gitu?" Protes kak Andini.
"Iya nih.. kita tiga mesin ini ada dua puluh tujuh orang, kalau sepuluh ribuan lu dapet dua ratus ribu lebih donk..." Sahut kak Dinda perhitungan.
"Kan kalian yang nantangin gue nyanyi.. Resiko dong." Jawab kak Sam sembari tersenyum remeh menatap kami semua.
"Gini aja Sam. Lu nyanyi dulu. Kalau gak ada yang bisa sambung lagu lu, kita semua sawer lima ribuan. Tapi kalau ada yang bisa sambung lagu, lu sawer dia seratus ribu." Ucap bapak operator mesin dengan bijak. Rupanya sejak tadi beliau telah mendengarkan perdebatan kami yang sungguh tak penting ini.
"Setujuuu..." Sahut kami semua kompak.
Tanpa sadar aku pun ikut tersenyum mendengar kekonyolan mereka semua. Teman-teman kerja ku yang sudah seperti saudara bagi ku.
"Curangnyaaa. Kenapa harus seratus ribu?" Protes kak Sam tak terima.
"Katanya lagu lu bahasa asing, lu juga percaya diri banget kita semua gak bakal ada yang bisa sambungin lirik lagunya kan?" Bantah bapak operator mesin dengan tenang, hingga membuat kak Sam tak berkutik.
"Baiklah...baiklah...hmmm lagu apa ya enaknya...." Kak Sam berpikir sembari mencari posisi tengah yang flexible sehingga kami semua bisa mendengar suaranya.
"Udah cepetan. Kayak mau konser aja lu." Teriak kak Ajeng dan kak Andin hampir bersamaan.
"Ayo kak Sam semangat. Moga-moga gue bisa nyambungin lirik lagunya." Teriak Starla antusias.
"Ekhmmmm...hmmm..." Kak Sam seperti akan memulai lagunya. Kami semua serentak bekerja dengan diam, fokus untuk mendengarkan suara kak Sam.
Beberapa personil line lain bahkan sampai banyak yang menoleh ke arah kami karena kami yang terkenal berisik seketika hening tanpa suara, hanya suara konveyor berjalan dan mesin seal yang menggema bersahutan, berdenting bergantian bagai backsound lagu yang akan kak Sam nyanyikan.
Dan perlahan...suara merdu yang begitu manly keluar dari mulut kak Sam. Menghipnotis semua telinga kami.
Habataitara modoranai to itte
Mezashita no wa aoi aoi ano sora
"Gimana? Ada yang bisa?" Kak Sam menaik-naikkan alisnya menatap kami semua.
"Kayak pernah denger...tapi dimana ya?" Ucap Starla ragu.
Lagu ini...bukankah Blue Bird nya Ikimonogakari ? Kak Sam juga suka anime naruto kah? Batin ku.
"Lagu apa itu Sam?" Tanya kak Andini dan kak Dewi hampir bersamaan.
"Aaaa...aku tahu.! Aku tahu..!! Itu lagu naruto kan?" Teriak Feni senang, seperti tengah memenangkan undian hadiah pertama.
"Ah iya benar..!" Sahut Starla semangat.
"Ayo Feni sambung... Ayo Starla..sambung.." Teriak kak Dewi dan kak Ajeng kompak.
"Aku gak bisa, gak hafal liriknya kak..." Seru Feni dengan suara lesu.
"Aku malah ingat instrumennya doang.." lanjut Starla dengan semangat menurun.
"Haduhh kalian gimana sih...." Sewot kak Andin dan kak Dewi bersamaan.
Sementara lagu dilanjutkan kembali oleh kak Sam.
Kanashimi wa mada oboerarezu
Setsunasa wa ima tsukami hajimeta
Anata e to idaku kono kanjou mo
Ima kotoba ni kawatteku.
__ADS_1
"Ayo siapapun yang bisa sambung..." Teriak kak Sam seraya tersenyum lebar menatap kami.
"Ayo nak sambung..!!" Seru kak Andini berapi-api. Namun Feni dan Starla hanya diam tak bergeming.
"Yah sayang sekali seratus ribu nih.." Ujar kak Dinda dan bu Tuti pasrah.
Gimana nih? Apa gue lanjutin aja? Kasihan banget muka mereka.. kalah dari kak Sam kok kayak malu banget gitu. Batin ku.
"Ayo anak-anak.. jangan malu-malu.. nanti aku tambahin lima puluh ribu buat beli teh hangat." Kali ini bapak operator ikut bersuara karena melihat wajah lesu bawahannya.
"Gue naikin jadi dua ratus ribu nih.. Masak gak ada yang bisa...ayo ikutin gue..." Sahut kak Sam sombong, yakin sekali kalau tak akan ada yang bisa menyambung lagunya.
Dihh sombongnyaaa. Awas lu kak gue ikutin lagunya beneran nih. Batin ku.
"Hoo ayo anak-anak...usaha..sayang banget dua ratus lima puluh ribu nih.." Teriak kak Dewi mengompori kami.
Dan.. tepat ketika tiga kata lirik lagu diucap kan, aku spontan bersuara mengikuti suara kak Sam.
Michinaru sekai no (suara kak Sam)
Yume kara mezamete (suara ku keluar)
"Woooo Anya bisa...!!" Teriak kak Andin, Starla, bu Tuti, dan kak Dinda kegirangan.
"Lanjut nak..!" Seru kak Ajeng dan kak Dewi semangat.
Kono hane wo hiroge tobidatsu (suara ku sendiri, kak Sam diam dan berjalan ke arah ku)
"Keren Nya!! Lanjut...!!" Teriak Feni dan Starla seraya tertawa lebar.
Akhirnya aku dan kak Sam bernyanyi bersama.
Habataitara modoranai to itte
Mezashita no wa shiroi shiroi ano kumo
Tsuki nuketara mitsukaru to shitte
Furikiru hodo aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
[ Blue Bird~ Ikimonogakari ]
"Huuuu....cakep..!!" Seru hampir semua teman-teman satu line ini kompak, hingga membuat beberapa personil line lain kembali menoleh ke arah kami dengan raut penasaran.
"Gila..suara kalian seksi banget, walau gue gak tahu itu artinya apa..haha." Seru kak Dinda setelah kak Sam berdiri di samping ku sembari mengeluarkan dompetnya.
"Nak bagus nak..hebat..tiba-tiba muncul bernyanyi bikin kita semua lega.." Sahut bu Tuti.
"Anya jempolan nih.. gue tambahin lima puluh ribu." Teriak kak Ajeng dengan suara riang.
Aku tersenyum mendengar semua pujian mereka. Sejenak melupakan semua kesedihan yang menimpa ku.
"Nih Nya..dari gue sama si Ajeng." Bapak operator menghampiri ku dan memberi dua lembar uang lima puluh ribuan ke depan konveyor ku.
"Makasih..." Ucap ku senang.
"Nih Nya. Dua ratus ribu. Haduh gak nyangka gue lu bisa sambung lagu ini. Suka naruto juga?" Kak Sam memberi ku uangnya seraya mengeluh dan bertanya pada ku.
"Suka banget kak." Jawab ku cepat, secepat aku memasukkan uang ini ke dalam saku seragam ku.
Asikk..satu lagu dapat tiga ratus ribu. Haha. Batin ku.
"Suka tokoh siapa? Pasti sasuke..." Tanya kak Sam lagi.
"Bukan. Gue lebih suka itachi sama pain kak." Jawab ku.
"Kenapa?"
"Mereka ganteng, keren, dan tangguh." Jawab ku jujur.
Sementara kami mengobrol, tiba-tiba bapak operator muncul dan mengatakan bahwa aku dipanggil ke kantor kepala sif B.
Ah di panggil pak Ilham lagi. Apa nanti gue di kasih hukuman beneran ya? Batinku.
.
.
.
__ADS_1