Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
Pulang?


__ADS_3

Serangkaian tes kesehatan yang menyita cukup banyak waktu terlewati dengan baik.


Pukul 13.30 semua pelamar kerja dipersilahkan kembali pulang dan mengenai pengumuman selanjutnya akan di hubungi melalui SMS atau e-mail.


Aku, Kia, dan Ocha keluar kantor dan langsung menuju ke warung yang ada di seberang jalan.


"Nya lo tadi kemana? Kok gue gak lihat lu sama sekali pas keluar habis tes darah, padahal antrian kita cuma berjarak dua orang..," Tanya Ocha setelah memesan makanannya.


"Emm gue ke toilet terus ke taman sebelah, nyari udara segar, perut gue mual bau obat-obatan rumah sakit," Jelas ku agak kaku.


Aku tak mungkin bercerita tentang keadaanku yang sebenarnya kepada mereka.


"Kalian enak selesai duluan, nah aku? Udah nomor dua dari belakang, panas, gak ada teman ngobrol, duhh pengen banget rasanya kabur ke kantin beli es teh manis, tapi gak jadi, takut nyasar," Gerutu Kia kesal.


"Huu..masak udah gede masih suka nyasar sih?" Ledek Ocha sembari menahan tawa.


"Eits, jangan salah, Kia ini kalau lewat jalan cuma sekali dua kali pasti gak bakalan ingat, hahaa..." Ujar ku ikut menjahili Kia.


"Hust diem kalian. Resek banget sih jadi manusia." Sungut Kia kesal, hingga membuat kami sukses tertawa lebar.


Beberapa menit kemudian pesanan kami datang. Kia langsung berbinar, tangannya terulur mengambil es teh manis pesanannya, meminumnya perlahan sampai hanya tersisa seperempat gelas.


"Alamak, lu haus apa doyan sih?" ledek Ocha, dia mengambil pesanannya lalu berpindah duduk di sebelahku.


"Haus banget tau. Lagian es teh Anya masih banyak, nanti setengahnya bisa buat gue. hehe," balas Kia.


"Gila lu. Punya temen di embat juga." Tukas Ocha sedikit kaget.


"Sudah biasa kali. Anya kalau minum es gak pernah abis, jadi daripada mubadzir yasudah buat gue aja,"


"Tapi ini Anya belum minum masak udah mau lo ambil sih?".


"Biarin. Suka-suka gue dunk,"


"Lo......" Ocha tak melanjutkan kata-katanya ketika beberapa pria datang ke meja kami.


Kepalaku masih terasa sedikit pusing mendengar perdebatan mereka, "Sstt udah diem, ayo kita makan aja, oke?" ucapku kemudian.


"Hai boleh gabung gak? Meja lain penuh.." sapa salah satu pria yang mendekati meja kami.


"Boleh, silahkan." Jawab Kia setelah meminta persetujuan kami lewat isyarat matanya.


"Gue Andi, yang pakai kacamata ini Doni dan yang ganteng itu Dimas," pria yang tadi menyapa memperkenalkan diri lalu duduk di depan meja kami.


"Gue Kia, sebelah gue Anya terus yang cantik itu Ocha," balas Kia sambil memperhatikan wajah ketiga pria di depan kami.


"Kalian baru di sini? Udah punya tempat kos atau saudara disini?" Tanya Andi lagi.

__ADS_1


"Kami baru. Belum punya tempat kos. Kalian gimana?" Kia menjawab semua pertanyaan Andi. Selanjutnya mereka menanyakan asal kota, pabrik mana yang kami tuju sekaligus alasannya.


Kia dan Andi aktif mengobrol sedangkan aku dan Ocha hanya menimpali seperlunya.


"Aku kemarin sudah melamar, tapi sebulan menunggu belum ada panggilan jadi aku datang lagi kesini mencari info," Ucapan pria yang bernama Doni membuat kami terdiam.


Apa? Selama itu kah kita harus menunggu . Batin Ocha.


Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang? Pulang atau tetap di kosan Anis dulu sementara? Batin Kia.


Ya Allah lama sekali menunggu satu bulan. Bisa jadi beban kalau kita tetap stay di kosan Anis. Batinku.


"Masak sih sampai selama itu kita menunggu?, Tanya Ocha setelah meneguk habis minumannya.


"Ya gak tentu juga. Katanya itu semua tergantung kebutuhan pabrik. Tetanggaku kemarin melamar kerja di sini, jarak satu minggu sudah dapat panggilan. Rejeki orang beda-beda gaes," jawab pria yang bernama Dimas.


Oke. Jadi begitu ceritanya.


"Baiklah. Mari kita berdo'a biar rejeki kita sama. Bareng-bareng dapat panggilan kerja disini besok." ucap Kia spontan, membuat kami semua tertawa kecil menanggapinya.


"Udah ayo kita Aamiin-kan saja lah gaes do'a Kia. Siapa tau besok langsung terkabul," ucapku sambil menahan tawa.


"Hahaha, oke deh oke. Aamiinnnn," seru Ocha tak dapat menahan tawanya diikuti ketiga pria di depan kami.


"Kalian kenapa sih? Kok malah Aamiin sambil ketawa? Oiya aku udah selesai nih, balik yuk," ucap Kia kesal.


"Okke. Thanks ya. Kami duluan. Bye," Ucap Kia setelah berdiri lalu menarik tanganku dan Ocha keluar.


"Ya lu gimana sih kok main terima aja dibayarin sama mereka?" Protesku setelah berjalan beberapa langkah dari tempat makan kami.


"Biarin. Salah sendiri nyebelin," jawab Kia masih dengan kekesalannya.


"Udah Nya santai aja. Yang namanya Andi itu kayaknya orang kaya, jam tangannya aja mewah gitu,".


Ucapan Ocha membuat kami langsung menoleh ke arahnya. Kok lu bisa tau? Itu yang coba aku dan Kia sampaikan lewat pandangan mata kami.


"Kenapa? Kaget kenapa gue bisa tau?"


Aku dan Kia mengangguk setuju.


"Karena jam tangannya sama dengan yang di pakai pak Doni tadi tau," ucap Ocha, membuat kami terperangah takjub.


Gila nih woman. Kok bisa sih sedetail itu merhatiin apa yang di pakai cowok?


"Ah sudahlah gue pulang dulu ya gaes. Jangan lupa kabari gue kalau kalian dapat panggilan, oke? Bye...", Pamit Ocha kemudian menghilang di pertigaan jalan bersama angkot yang membawanya.


Aku dan Kia melanjutkan perjalanan kami. Menyusuri jalan berpaving menuju kosan Anis. Beberapa pedagang kaki lima sudah mulai tampak keluar dari gang besar. Anak-anak kecil bermain berlarian di depan rumah-rumah yang kami lewati.

__ADS_1


Hampir pukul tiga sore Anis pasti sudah pulang kerja. Kami melepas sepatu lalu masuk ke dalam kos. Kia langsung menuju kamar mandi sedangkan aku duduk selonjoran di ruang tengah.


Badanku sudah lebih segar, tapi kepala masih agak pusing. Jadi bagaimana? Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Kalau pulang sekarang lalu apa yang akan kita lakukan di rumah? Bisa emosi tiap hari aku kalau dengar hujatan dan hinaan dari tetangga sekitar rumahku.


Hufff. Aku meniup ujung poni di dahi ku.


Baiklah sepertinya lebih baik pulang saja dulu, dari pada di sini hanya merepotkan Anis dan teman-temannya. Batinku.


"Gimana Nya? Sukses?" Pertanyaan Anis membuyarkan lamunanku.


"Alhamdulillah Nis. Btw berapa lama ya kira-kira kita menunggu panggilan kerja?" Tanyaku to the poin. Masih penasaran dengan tenggang waktu menunggu.


"Aku gak bisa mastiin soal itu. Aku dulu seminggu langsung dapat panggilan. Dua temanku satu bagian ada yang dua minggu ada yang tiga minggu." Jawab Anis


"Emm gitu ya." Ucapku lemas.


"Nya gue udah. Cepetan gih mandi. Oiya Nis menurut lu, gue sama Anya sebaiknya langsung pulang apa disini dulu?" Ucap Kia setelah keluar dari kamar mandi.


"Udah jam segini, kalian nginep aja dulu. Kalau mau pulang besok aja," Jawab Anis cukup bijak.


Aku melangkah pelan ke kamar Anis, membuka tas ranselku, mengambil baju ganti lalu menuju kamar mandi.


Samar-samar aku masih mendengar percakapan Anis dan Kia. Mereka bercerita satu sama lain dengan gembira. Aku tersenyum simpul mendengar mereka tertawa, entah apa yang mereka bicarakan tapi tampaknya cukup seru.


Aku bersyukur masih punya teman seperti Anis. Yang baik, yang cantik, yang bersedia menolong teman, yang tanpa sungkan menyuruh kami menginap lagi di kamarnya. Ah, sudah terasa seperti saudara.


.


.


.


...****************...


Note:


Kalau kalian punya teman yang seperti Anis, jangan lupa untuk selalu mendo'akannya.


Dia yang menampung kita saat masa sulit kita.


Dia yang mengulurkan tangan saat kita kesusahan.


Dan sekarang, meski kita tak bisa membalas jasanya setidaknya kita masih bisa berdo'a untuk kebahagiaannya bukan?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2