Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
Pak Doni...


__ADS_3

Sore hari Anis mengajakku dan Kia berjalan-jalan. Dia menunjukkan warung nasi langganannya, tempat pedagang yang tiap pagi menjual lauk pauk lengkap, beberapa mesin ATM, sampai penjahit langganannya.


"Nanti kalau kalian sudah dapat seragam bisa di permak di tempat bu Sumi, jahitannya rapi dan ongkosnya murah buat anak rantau," jelas Anis ketika kami melewati rumah jahit langganannya.


"Loh kalau daftar sekarang bisa langsung dapat seragam kah?", tanya Kia.


"Ya belum. Nanti setelah kalian daftar, nunggu dulu diterima atau tidak, biasanya bakal dihubungi lewat SMS atau medsos kalian," ucap Anis.


Sampai di jalan raya ada perempatan bundaran pertama. Di sebelah kiri ada toko-toko kecil dan sebelah kanan berjejer warung makan. Kami menyebrang jalan, berjalan lurus melewati beberapa ruko.


"Di kanan itu dealer besar, Hilda kerja disitu, besok kalian bisa bareng hilda kalau mau," ucap Anis.


"Dealernya rame banget.. terus kantor yang kita tuju di sebelah mana?," tanyaku penasaran.


"Nah di sana, di dekat kantor pegadaian, yang ada papan tulisnya itu," tunjuk Anis pada deretan bangunan yang lebih mirip ruko dibandingkan kantor.


"Kok kecil?" protes Kia.


"Iya, itu kantor outsourcing, kalian bakal jadi pekerja kontrak nanti, tapi tenang aja gajinya sama dengan karyawan tetap cuma beda tunjangan doang," jelas Anis.


"Jadi kita gak bisa jadi karyawan tetap Nis?" Tanya ku pelan.


"Bisa, tergantung dari masa kerja dan penilaian dari atasan kita nanti. Udah yuk balik, gue udah lapar," balas Anis.


Beberapa langkah kemudian kami masuk ke warung nasi goreng. Anis yang mentraktir kali ini, katanya untuk menyambut kedatangan kami.


"Hai Nis, tumben jauh banget makan di sini?", sapa seorang lelaki dengan setelan kerja yang menawan.


"Pak Doni, hehe iya pak, lagi nemenin teman yang besok mau melamar kerja." jawab Anis.


"Oh ya? Bagus itu. Kebetulan pabrik lagi butuh banyak karyawan baru, gedung kedua sudah mulai operasi lusa." Ucap pak Doni.


Aku dan Anis berpandangan melihat pak Doni berbicara sambil memandang dalam ke arah Kia. Anis tersenyum simpul lalu memperkenalkan aku dan Kia ke pak Doni.


"ini kartu namaku, kalau ada yang perlu ditanyakan bisa langsung hubungi aku, oke?", pak Doni meletakkan kartunya di atas meja tepat di hadapan Kia.


Anis menaikkan sebelah alisnya ke arahku sementara aku langsung mengedipkan mata setuju.


"Terima kasih pak. Mohon bantuannya ke depan nanti," Ucapku sopan ketika dia berpamitan kepada kami.


Setelah kepergian pak Doni aku dan Anis langsung tertawa lepas, membuat Kia kebingungan menoleh ke arahku dan ke arah Anis.

__ADS_1


"Kalian waras?", ucap Anis.


"Sangat waras. Lo gak nyadar Ya kalau tadi pak Doni liatin lo terus?," tanya Anis.


"Ah gak tuh. Cuma perasaan kalian kali.." Sangkal Kia.


"Kayaknya pak Doni naksir sama elu deh.." Ucapku mendukung Anis.


"What? Hei Nya, bahasa mu udah kayak Anis, yakin gak pa-pa? gak demam?" ucap Kia kemudian menempelkan tangannya ke dahiku.


"Hahaha.. kita waras Ya, lo aja yang gak nyadar kalau dari tadi pak Doni cuma lihatin elu, dan gak biasanya dia langsung main kasih kartu namanya ke orang lain. Jadi fix, gue yakin tuh pak Doni ada rasa sama lu," Ucap Anis.


"Ah, gila kalian. Aku masih mau hidup normal di sini. Belum apa-apa masak udah ada yang naksir," Kia menggerutu kesal. Wajahnya yang cantik dan imut memang menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran di sekitar rumah, di sekolah, di tempat magang, bahkan di sini selalu ada saja yang menyukainya.


"Eh barbie lokal, yang mau hidup gak normal tuh siapa, lagian cuma naksir doang, gak ngajak aneh-aneh kan.." ucap Anya.


"Iya, gak langsung ngajak nikah kayak kak Zidan, uupppss.." Kia menutup mulutnya spontan setelah mengatakan hal itu. Aku menatapnya tajam, bisa-bisanya nih anak ngomongin kak Zidan di sini.


"Siapa Zidan? Ngajak nikah lu Nya? Serius? Hahaha.." Anis malah menertawakan ku.


Menyebalkan. Kalian mana tau ribetnya kasus itu. Membuatku tak bisa tidur nyenyak beberapa malam.


"Iya iya. Tapi nanti cerita ya gimana Zidan itu. Ganteng mana sama pak Doni barusan?", tanya Anis penasaran.


"Ganteng an Itachi Uchiha." balasku kesal, lalu berjalan cepat mendahului mereka.


"Hei Nya yang bener lu. Wah parah nih anak gitu aja ngambek. Ya menurut lu ganteng mana?". Tanya Anis.


"Ganteng an Lee Min Ho." jawab Kia asal, lalu berjalan menyusul ku, meninggalkan Anis yang menggerutu kesal di belakang kami.


"Woi kalian gak lucu, jawab yang bener dunk. Bikin gue penasaran aja," teriak Anis sambil berlari kecil mengejar ku.


Aku dan Kia menambah kecepatan langkah, semakin cepat, membuat kami terlihat seperti bermain kejar-kejaran.


"Udah Nya, aku capek." ucap Kia, nafasnya tampak ngos-ngosan, lalu berhenti di tikungan terakhir sebelum masuk ke gang kosan Anis.


"Ah tinggal dikit Ya, nanggung." Ucapku sambil berjalan mundur ke belakang, memperhatikan Anis yang baru sampai di dekat Kia.


Namun tiba-tiba..


Brukkk...!!

__ADS_1


Badanku oleng ke samping tapi tak sampai jatuh.


Sial. Sepertinya aku menabrak sesuatu. Atau seseorang? Jangan sampai aku nabrak orang. Jangan sampai. Batinku.


"Lain kali gak usah jalan mundur. Untung nabrak orang ganteng, jadi gak sampai jatuh, coba nabrak yang lain pasti kalau gak jatuh ya dipeluk-peluk kayak sinetron di tv," Ucap seseorang di belakangku.


Aku terhenyak.


Tersentak dari posisiku.


Narsis sekali orang ini ngaku ganteng.


Spontan aku berbalik ke arahnya.


Subhanallah...


Nih Arjuna yang naik kuda perang apa Krisna yang naik kereta kuda? Auranya berwibawa, pandangan matanya tajam namun meneduhkan. Dia memakai kemeja gelap dengan lengan digulung sampai siku plus kacamata bening yang menambah kesan bossy di wajahnya. Fix, he just looks perfect.


"Anya. Lo gak pa-pa?." Ucapan Kia membuyarkan fokus ku yang memperhatikan penampilan lelaki di hadapanku.


"Maafin temen kita ya. Dia emang kehabisan obat makanya jalan mundur."


Aku membulatkan mata mendengar ucapan Anis. What? Dia pikir aku sakit? Nih anak bukannya belain malah ngejatohin.


"Of course," Ucap lelaki itu singkat, kemudian melangkah berlawanan arah dengan kami. Kulihat ia sedikit menarik sudut bibirnya, entah apa yang coba dia tertawakan.


"Nya, lu terpesona ya sama tuh cowok?",ucap Anis tiba-tiba.


"Apaan sih lu Nis.." balasku singkat, lalu berjalan kembali ke arah kosan.


"Ya menurut lu ganteng mana si Zidan sama laki-laki tadi?," tanya Anis pada Kia.


"Emmm kayaknya masih ganteng Lee Min Ho deh Nis..," jawab Kia lalu berjalan cepat menyusul ku.


"Kiaaa....!!!", Teriak Anis melengking. Ia menghentakkan kaki kesal, lalu berlari menyusul Kia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2