Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
86. Bongkar


__ADS_3

Suasana riuh memenuhi jalanan sepanjang pabrik.


Pergantian sif malam ke sif pagi benar-benar santai akibat listrik yang tiba-tiba padam.


"Nya, ayo..!." Seru Monik setelah selesai ceklok dan mendapati aku masih menunggunya di samping taman kecil.


"Lo duluan aja deh Mon. Gue kebelet nih." Ujar ku dengan mengerutkan kening dan sedikit mendesis menahan sesuatu.


"Astaga...gak bisa di tunda nanti sampai kos aja napa." Protes Monik sambil cemberut.


"Ya nggak bisa lah. Aduh udah deh sana duluan, nanti sekalian pesenin gue sate ayam seperti biasa ya." Ujar ku cepat kemudian langsung meninggalkan Monik yang masih menggerutu kesal pada ku.


Tanpa menoleh sekitar aku langsung masuk ke toilet umum di antara gedung kantor dan gedung N-1.


Masuk ke salah satu bilik toilet, kemudian menikmati panggilan alam yang begitu mendesak pagi ini.


Ahhh leganyaaa...


Namun beberapa menit kemudian, setelah selesai dengan urusan pagi.


"Apa-apaan ini?!" Teriak seorang wanita dengan suara cempreng nan renyah yang tiba-tiba masuk.


Astaghfirullah. Ada apa sih di luar teriak-teriak? Ganggu orang aja. Batin ku.


"Apa-apaan lo bilang... Dengar baik-baik ya.. Nuriva, QC sok cantik sif B, kalau sampai lo laporin gue ke pak Ilham, tamat riwayat bokap lo." Ancam seseorang lagi dengan suara rendah yang terdengar cukup berkuasa.


"Gue nggak takut. Penghianat perusahaan harus di basmi.!" Tukas wanita yang bersuara cempreng dengan tegas.


"Benarkah? Bagaimana dengan ini?" Aku mendengar wanita yang berkuasa tadi sepertinya tengah menggertak dengan memperlihatkan sebuah video.


Gawat. Gue harus gimana ini? Apa yang bisa gue lakukan? Gak mungkin kan gue keluar terus terang-terangan bantuin... Ah rekam! Gue harus rekam percakapan mereka. Batin ku.


Aku segera mengeluarkan ponsel dan mulai merekam percakapan mereka selanjutnya.


"Jangan Lis, gue mohon, jangan sentuh ayah gue...." Wanita bersuara cempreng tadi memohon-mohon sembari mulai terisak.


"Itu tergantung sikap lo. Jangan laporin kalau gue udah ngambil dokumen keuangan itu dan ayah tersayang lo akan aman di tangan kakak gue." Ucap wanita yang cukup berkuasa seraya mematikan video di ponselnya.


"Iya iya gue bakal diem. Tapi please, jangan apa-apain ayah gue." Tukas wanita bersuara cempreng dengan terisak.


"Oh dan satu lagi. Jangan sok kecakepan lo di depan pak Ilham." Ancam wanita sok berkuasa itu.


Byurrrr.


Aku mendengar suara guyuran air. Tapi sepertinya bukan dari gayung. Itu tersengar seperti dari gelas atau baskom.


Brakkkh.


Pintu di tutup dengan kasar bersamaan dengan suara isak tangis yang menggema dari wanita yang bersuara cempreng.


"Hiks...ayah..maafin Nuriva...hiks.."


Aku mematikan rekaman di ponsel ku. Menyimpannya dengan baik, lalu menaruhnya kembali ke dalam tas slempang yang tergantung di balik pintu bilik toilet.


Aku keluar saat suasana telah sepi. Ku lihat wanita bersuara cempreng tadi tengah membasuh mukanya.


Seragam atasnya cukup basah, hingga sedikit mencetak dalaman berwarna gelap yang ia kenakan.


"Mmm maaf kak, mau pakai jaket ku nggak?" Ujar ku pelan sembari melepas jaket hitam yang ku pakai.


"Loh..kamu siapa?" Tanya nya kaget.

__ADS_1


"Nama saya Anya, anak packing N-2. Tadi habis ceklok kebelet, jadi langsung lari masuk kesini, hehe..." Jawab ku agak malu sembari menyerahkan jaket ku padanya.


"Makasih...gue emang butuh ini. Gue Nuriva, QC di produksi N-1." Ujarnya sambil menerima jaket ku.


"Sama-sama kak.." Ucap ku sambil tersenyum simpul menatap kak Nuriva.


Kasihan sekali. wajahnya cantik, orangnya ramah, jujur, tapi terkena ancaman plus di bully lagi. Huh, awas aja tuh nenek sihir. Batin ku.


"Hei dek...kenapa malah senyum-senyum?" Pertanyaan kak Nuriva membuyarkan lamunan ku.


"Oh enggak kak. Hehe...yasudah aku duluan ya kak." Pamit ku sembari melangkah meninggalkan kak Nuriva.


"Eh tunggu. Besok gue tunggu di taman dekat ceklok ya buat ngembaliin jaket lo..!" Seru kak Nuriva ketika aku membuka pintu toilet.


"Sif dua aja kakak kembalikan, sif tiga gini aku suka telat datang ceklok, hehe.. Bye kakak cantik." Seru ku balik tanpa menoleh lagi ke arahnya.


Cewek baik yang aneh. Pasti dia tadi dengar omongan Lilis kan? Tapi kenapa dia biasa aja? Kenapa dia nggak tanya apa-apa ke gue ya?" Batin Nuriva.


Aku keluar dari toilet, namun tidak langsung pulang. Aku berjalan setengah berlari menuju ke kantor pak Ilham.


Sampai di depan pintu aku mendengar beberapa orang yang tengah tertawa.


Aduh gimana ini? Masuk apa enggak ya?!? Batin ku.


"Kenapa dek? Ada yang bisa di bantu?" Sapa seseorang mengagetkan ku.


"Mmm pak Ilham ada pak? Ada yang perlu saya tanyakan..." Jawab ku agak kaku.


"Sepertinya di dalam, ayo masuk." Ujar orang yang menyapa ku tadi.


Dia memakai kemeja, bukan seragam seperti kami. Apa mungkin dia staf kantor? Batin ku.


Di dalam ruangan pak Ilham ternyata ada tiga orang laki-laki dan satu perempuan.


"Sering-sering ya Lis, hehe.." Lanjut teman pak Ilham.


"Sip..." Balas si perempuan.


Lis? Bukankah tadi yang ku dengar nama orang yang mengancam Nuriva itu juga Lis? Apa dia orang yang sama?! Batin ku.


"Woi Ham...ada yang nyariin lu nih." Seru orang yang menyapa ku tadi ketika kami sampai ke hadapan pak Ilham.


"Kamu siapa?" Tanya perempuan yang di panggil Lis tadi pada ku dengan wajah sinis.


"Nama saya Anya, dari N-2 kak." Jawab ku santai.


"Mau apa cari Ilham?" Tanya perempuan tadi dengan raut wajah tak suka.


"Heh santai dong Lis, kenapa lu yang sewot sih?" Tegur salah satu teman pak Ilham.


Hmmm sepertinya dia orang yang sama. Aku harus hati-hati ini. Batin ku.


"Ayo duduk dulu semuanya. Kita bicarakan ini baik-baik." Ujar orang yang membawa ku kesini tadi.


Kami semua kemudian duduk, namun tatapan tajam terus saja perempuan tadi layangkan pada ku.


"Kenapa Nya?" Tanya pak Ilham kemudian.


Duhh...harus cari alasan lain nih. Nggak mungkin langsung bongkar tindakan Lis ini sekarang kan?. Batin ku.


"Saya cuma mau tanya pak, kalau mau izin cuti prosedur barunya bagaimana ya?" Akhirnya aku menemukan alasan yang pas untuk di tanyakan tanpa di curigai oleh perempuan tadi.

__ADS_1


"Oh kirain mau apa." Gumam perempuan tadi yang kini nampak lebih santai menatap ku.


"Kamu sudah berapa lama kerja disini?" Tanya pak Ilham.


"Satu tahun delapan bulan pak." Jawab ku mantap.


"Cukup kamu lampirkan saja alasannya apa, lalu serahkan ke staf HRD agar nanti di Acc." Jawab pak Ilham singkat dan jelas.


"Emm begitu ya pak. Baiklah, terima kasih pak." Ucap ku sopan, kemudian berdiri.


"Sudah cuma itu saja?" Tanya teman pak Ilham sembari menaikkan sebelah alisnya, tanda tak percaya.


"Iya pak, hanya itu saja. Permisi..." Jawab ku santai, tak peduli bagaimana penilaian mereka terhadap ku.


Aku melenggang pergi setelah mendapat persetujuan dari pak Ilham.


Ternyata di luar sudah sangat sepi, tinggal aku dan seorang satpam yang menjaga tempat mesin ceklok.


Aduh bagaimana ini?! Gimana caranya aku menyampaikan ke pak Ilham? Komunikasi sama Gara ataupun kak Vero kan sementara mereka larang. Batin ku.


"Cewek..!! Hei...ojek yuk..!! Woii..." Teriak seorang tukang ojek sok kenal sembari mensejajarkan motornya dengan langakah kaki ku.


Ini siapa sih? Sok kenal banget. Batin ku.


Aku terus melangkah ke depan, tak peduli dengan panggilan tukang ojek tidak jelas yang tiba-tiba muncul mengekori ku.


"Nya ayo naik. Cepet." Tukang ojek tadi tiba-tiba berhenti di depanku dan menyuruh ku naik ke motornya.


"Lu kenal gue?" Tanya ku curiga. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepi.


Jangan-jangan penculik, duh mimpi apa gue semalam masak mau di culik sih? Batin ku.


"Gue bintang tiga. Udah buruan naik." Tukasnya cepat seraya menghidupkan motornya.


Tanpa ba bi bu aku bergegas naik ke motornya. Menyilangkan kaki, kemudian sedikit bergerak untuk mengambil posisi duduk yang paling nyaman.


"Lu bang Iwan?" Tanya ku memastikan setelah ia melajukan motornya.


"Nah itu lu ingat. Lu kenapa sih dari tadi gue panggil ngelamun mulu?" Tanya Iwan.


"Ya aneh aja, tiba-tiba ada tukang ojek sok kenal muncul di depan pabrik." Jawab ku sedikit kesal.


"Gue sengaja nyamar. Lu nggak keluar-keluar dari pabrik, jadi gue kira lu kenapa-kenapa." Jelas Iwan.


"Lu masih ngawasin gue?" Tanya ku heran.


"Ya masih. Makanya lu gue anter pulang, tugas gue cuma memastikan lu aman doang." Jawab Iwan serius.


"Lu bisa nyampein pesen gue ke Gara atau kak Vero nggak?" Tanya ku penuh harap.


"Apaan? Kalau penting ya bisa." Jawab Iwan enteng.


"Stop-stop-stop.!!" Teriak ku tiba-tiba hingga Iwan reflek langsung menarik rem motornya.


"****. Lu kenapa teriak-teriak di telinga gue sih?" Protes Iwan dengan nada cukup kesal.


"Hehe..ya maaf. Ayo masuk, kita sarapan dulu." Ujar ku santai setelah turun dari motornya.


Gilasih nih cewek aneh banget. Seenaknya ngatur pula. Haduh.. Batin Iwan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2