Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
29. Hadiah untuk kakak


__ADS_3

Pagi datang dengan kegembiraan tersendiri. Sinar mentari membangunkan para pekerja sif pagi. Mereka dengan semangat menyongsong hari demi hari demi sesuap nasi.


Di kos kami ada dua orang yang masuk sif pagi. Fia dan Ghea yang menempati kamar nomor satu yang berada di sebelah kiri kamar mandi atas.


"Lo Anya kan ya? Kok udah bangun jam segini?" Tanya Fia saat aku keluar dari kamar mandi.


"Iya, tadi abis sholat subuh kebelet, hehe. Lo Fia apa Ghea? Kata Monik yang sif A cuma kalian berdua kan di sini?"


"Gue Fia. Ghea lagi mandi di kamar mandi bawah." Fia kemudian masuk ke kamar mandi sedangkan aku keluar menikmati udara pagi di teras balkon.


"Nya siapa di kamar mandi?"


Aku menoleh, ternyata Kia yang baru bangun.


"Fia, penghuni kamar nomor satu. Ya sini deh gue mau cerita." Jawabku


"Apaan? Tentang bubur ayam kemarin ya?" Tanya Kia kemudian duduk di sampingku.


"Bukan. Ini lebih serius. Tadi malam kak Zidan dan kak Arya chat gue Ya." Aku menunjukkan bukti chat mereka ke hadapan Kia.


"Wah gila. Dua cowok populer PDKT sama lu nih. Jadi lu pilih yang mana Nya?" Ujar Kia antusias. Matanya berbinar seperti anak kecil yang mau dibelikan ice cream. Menggemaskan.


Hufffth. Aku meniup ujung poniku. Tak menjawab pertanyaan Kia.


"Oke gue ngaku. Dulu kak Zidan pernah minta tolong ke gue buat jagain lu dari cowok-cowok, tapi itu dulu, sekarang gue gak ada kontak apapun sama dia. Kalau kak Arya, ya gue yang kasih nomor lu ke dia. Hehe.." Jelas Kia sambil ketawa nyengir.


"Astaghfirullah. Dasar barbie lokal, lu kenapa sih seneng banget jodoh-jodohin gue?" Kali ini aku cukup kesal dengan ulah Kia.


"Sabar dulu, dengerin cerita gue Nya. Pertama kak Zidan itu tulus suka sama elu, lu aja yang gak peka. Terus kalau kak Arya, katanya lagi patah hati, nah pas tuh lu bisa masuk ke hatinya yang kosong, lu kan pernah naksir dia Nya." Kia menaik-turunkan alisnya ke arahku. Membuatku merona malu karena ingat kalau Kia juga tau tentangku yang dulu sempat jadi pengagum rahasia kak Arya.


"Ah resek lu. Kenapa kasih nomor gue sih?" Aku masih tetap pada mode kesal pada Kia.


"Udah deh Nya gak usah acting depan gue. Gak mempan tau. Saran gue pilih salah satu dari mereka, biar lu gak jomblo Nya. Hahaha" Kia ketawa ngakak seraya berlari masuk ke dalam.


"Kia... awas lu ya..!!" Teriakku kesal.


Apaan sih si berbie lokal ini? Memang apa salahnya gak punya pacar? Gue bahagia tuh, gak perlu ribet kasih laporan lagi dimana, besok jadwalnya apa, ataupun ngerasa cemburu gak jelas. Batinku.


.


.


.


.


Pukul sepuluh pagi aku turun ke bawah. Toko ibu kos agak sepi di jam seperti ini. Kulihat dua pegawai toko sedang menata dan merapikan beberapa barang yang baru datang dari sales langganan mereka.

__ADS_1


"Eh nak Anya mau ke mana?" Tanya ibu kos sambil menyuapi Nafisa bubur pisang.


"Gak kemana-mana bu. Gak bisa tidur jadi ke bawah sini saja cari suasana lain, barangkali habis ini jadi ngantuk." Ucapku sambil duduk di samping ibu kos.


"Akak..akak.. nendon isa.. akak.." Nafisa berceloteh lucu di depanku.


"Apa sayang.. mau di gendong kakak? Yuk yuk yuk.." Aku menyodorkan tangan bersiap menggendong Nafisa tiba-tiba..


Tin. Tinn.


Sebuah motor matic berhenti di depan toko. Seorang pria yang duduk di boncengan motor turun, lalu melangkah masuk ke toko sementara satu pria yang duduk di depan tetap santai memainkan ponselnya.


Nafisa menangis kaget mendengar suara bel motor matic tersebut, lalu ibu kos dengan sigap menggendongnya.


"Maaf ya Nya, Nafisa kayaknya udah ngantuk makanya dengar bel langsung kaget, haha.." Ujar ibu kos sambil menepuk-nepuk paha balita di gendongannya.


"Iya bu gak papa. Anya keluar dulu ya bu cari udara segar." Ibu kos hanya mengangguk setuju.


Aku berjalan keluar toko. Tanpa sengaja aku menoleh ke arah si pengendara motor matic yang menaikkan kaca helmnya karena sedang menelfon seseorang.


Loh itu kan Gara? Ngapain dia jam segini kesini? Tunggu. Yang tadi masuk ke toko siapa? Bosnya atau temannya? Kelihatannya seumuran. Batinku bertanya-tanya.


Tingg...!!


OMG.


Semoga gak lihat. Semoga dia panggling. Semoga dia gak ingat gue. Batinku.


Gara tersenyum lalu melambaikan tangannya ke arahku. Aku celingukan menoleh ke kakan dan ke kiri. Tak ada orang. Aku menunjuk diriku sendiri, isyarat bertanya 'memanggilku kah?'. Gara mengangguk.


Haduh bagaimana ini? Kalau gue ke sana kan malu, ngapain coba? Tapi kalau gak ke sana dia pasti manggil gue, aduh nanti kalau ibu kos tahu terus nanya-nanya gimana? Batinku.


Akhirnya ku putuskan untuk menghampirinya. Aku berdiri di sampingnya dengan jarak dua langkah kaki. Tak mau sampai orang lain tahu jika kami saling mengenal.


"Yuk naik, gue mau beli hadiah untuk kakak gue. Tolong bantu pilihin ya." Pintanya seraya menurunkan kaca helm lalu memutar arah motornya.


"Tapi yang di dalam itu...." ucapanku mengggantung. Entah kenapa aku seperti kesulitan berbicara jika pertama kali berhadapan dengannya.


"Dia punya urusan sendiri. Udah ayo. Lu sif dua kan? Masih lama ini kalau mau berangkat kerja."


Sial. Kenapa dia bisa tau kalau gue sif dua sih? Padahal tadi mau nolak dengan alasan mau berangkat kerja. Batinku.


"Iya. Iya gue naik." Aku naik motornya dengan posisi menyamping, tak mau kalau menghadap ke depan karena aku sedang memakai rok panjang.


Kami diam sepanjang perjalanan. Melewati beberapa toko, alun-alun, pasar, juga swalayan besar di daerah ini.


Sebenarnya ini mau ke mana?

__ADS_1


Aku tetap diam. Walau banyak yang ingin kutanyakan tapi ku tahan dulu, menurutku bicara di atas motor itu tak nyaman karena suaranya lebih sering tak terdengar atau hanya samar-samar sampai ke telinga.


Kami sampai di sebuah ruko tiga lantai. Lantai pertama menjual pernak-pernik wanita. Lantai kedua berisi baju-baju santai serta kaos dan sejenisnya. Lantai tiga tidak terlihat karena tertutup tirai.


Cukup lama kami terdiam sambil mengamati beberapa stand butik yang menjual gaun dan accessories yang mungkin cocok untuk kakak Gara.


"Kakakku seorang janda. Anaknya satu. Suaminya selingkuh lalu meninggalkannya. Sekarang kakakku depresi, yang dia ingat hanya ayah dan aku, adiknya." Ujar Gara tiba-tiba dengan suara lirih. Nada kegetiran sedikit terasa saat dia menceritakan tentang kakaknya.


"Setidaknya dia masih mengingat keluarganya. Aku yakin cepat atau lambat dia akan mengingat semuanya. Kita hanya harus lebih sabar merawat dan mengerti kondisinya." Ucap ku sok bijak.


Gara sempat terperangah sebentar dengan kata-kata itu, namun secepat kilat dia menjadi datar lagi.


Kami masuk ke dalam salah satu toko. Aku mengikuti Gara naik ke lantai dua. Dia memilih beberapa blouse dan kaos lalu menunjukkannya padaku.


Bertanya yang mana yang akan di sukai kakaknya.


"Hei, aku belum pernah ketemu kakakmu, jadi mana bisa aku tau seleranya bagaimana." Ucapku sambil mengamati beberapa kaos pilihannya.


Aaa..pilihannya bagus-bagus banget. Duh kalau nanti gajian wajib kesini nih ngajak Kia. Dia pasti seneng liat baju bening-bening begini. Batinku.


Gara terdiam mendengar ucapanku. "Besok ulang tahun kakak." Ucapnya lirih, hampir tak terdengar.


Aku berpikir sejenak. Memikirkan beberapa ide yang muncul di kepala ku.


"Hei, lu bilang dia suka naruto kan? Gimana kalau kaos polos ini lu bawa ke tempat sablon? Kasih gambar tokoh favoritnya." Aku mencoba memberi ide konyol, tapi Gara tiba-tiba berbinar bahagia.


"Great..!! Kenapa gue gak kepikiran ide itu ya. Thanks ya Nya." Gara langsung berlari dengan antusias memilih tiga kaos polos beda warna dan dua blouse cantik berlengan panjang.


"Lu mau yang mana? Ayo pilih, gue bayarin sebagai ucapan terimakasih." Ucap Gara sebelum kami sampai di depan kasir.


"Gak usah, baju gue masih banyak. Lagian buat teman gak ada kata terimakasih, oke!" Ucapku sok bijak.


Gara terdiam, namun sedetik kemudian dia tersenyum penuh arti.


Aku ikut tersenyum lalu melangkah keluar sementara Gara membayar belanjaannya ke kasir.


Sebenarnya seperti apa kakaknya Gara ya? jadi penasaran. Batinku.


"Nya mau ikut ke tempat sablon atau gue antar balik ke kos?" Tanya Gara sembari meletakkan tas belanjaannya ke gantungan depan motornya.


"Ikut aja deh, baru setengah dua belas kan? Nanggung kalau balik sekarang." Sejujurnya aku juga penasaran dengan gambar apa yang mau di sablonkan ke kaos kakaknya. Haha.


"Okelah. Yuk naik."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2