Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
39. Mual?


__ADS_3

Dua jam pertama berjalan lancar. Kami bisa bekerja dengan santai dan tertawa. Starla sibuk bernyanyi sedangkan bu Tuti dan kak Andin ribut mengomentarinya.


"La udah deh ganti lagunya, jangan dangdut mulu. Tuh di lihatin Sam, lu gak malu apa?" Teriak bu Tuti seraya tersenyum jahil ke arah kak Andin.


"Iyo nak. Ganti lagu india ya..." Teriak kak Andini di sela-sela bising suara mesin di samping kanannya.


"Asyiaapp boskyu.... Dil ne yeh kaha he tumse.. Mohabbat ho gaye he tumse..." Starla mulai bernyanyi lagi dan akupun tak sanggup menahan tawaku lagi.


"Heh Nya kenapa lu ketawa? Gak suka sama suara gue?" Sentaknya kemudian seraya melempar pandangan sinis padaku.


"Bukan. Aneh aja, itu suara cowok lu bikin jadi suara cewek.. hihihii..." Jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


"Oke gue ganti... Perume banhan hai....... perume banhai hai payal me kajaya syut......" Kami diam sementara Starla terus bernyanyi.


"Ganti pop... ganti dong..!!" Teriak bu Susi, pasangan pasang minyak Feni di mesin dua puluh enam.


Akhirnya kami semua bernyanyi bergantian demi mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang.


Namun, lambat laun badanku mulai bergetar, pandanganku jadi tak bisa fokus. Kepalaku terasa nyut-nyutan. Kenapa ini? Mendadak suhu sekitarku terasa dingin, merayap melewati pori-pori tangan lalu berkumpul di perut.


Rasanya berdenyut-denyut tak jelas antara dada dan kerongkonganku. Lama-lama terasa berputar, sesak dan mendesak ingin keluar melalui mulutku.


"Buk...aku rasanya mual...kayak mau muntah.." Ucapku dengan bergetar pada bu Tuti.


"Anyaaa....pasang yang bener.. Ngantuk lu?" Kak Andin melemparku dengan satu sachet minyak.


"Ann....dia mau muntah An..!!" Teriak bu Tuti.


"Nya pakai plastik kosong sebelah lu kalau mau muntah.. kak Sam tolong bantuin pasang minyak sebentar...!!" Starla ikut berteriak.


Sam yang baru menata minyak di mesin dua puluh enam langsung berbalik dan membantu bu Tuti. Tanganku gemetar mengambil plastik kosong, membuka masker, lalu mengarahkan ujung plastik yang terbuka ke mulutku.


"Hueekkkk...Uekk...." Aku muntah. Benar-benar muntah. Makanan yang kumakan sore tadi keluar semua dalam keadaan halus seperti bubur yang kebanyakan air.


Ya Allah kenapa ini? Padahal berangkat kerja tadi sehat kenapa sekarang tiba-tiba badanku meriang????


"Walah nak..nak.. kurang tidur ya? Apa kurang makan? Baru tiga jam sudah masuk angin.." Gerutu kak Andin seraya melirikku yang tengah berjongkok menghadap kaki konveyor di depanku.


"Lemes gak Nya? Kalau lemas sana ke loker aja dulu, minta obat masuk angin sama penjaga kunci." Bu Tuti khawatir melihatku yang nampak pucat dan gemetar.


"Pakai minyak angin Nya. Dada, perut, punggung juga.." Sambung Starla tanpa melihatku, ia ikut merapikan minyak yang miring sebelum menumpuknya dengan garnis.


"Iya...maaf..." Ucapku lirih bahkan kurasa hanya kak Sam yang mampu mendengar suaraku karena dia yang paling dekat dengan posisiku saat ini.


Aku berjalan keluar line dengan perlahan dan sedikit berkunang-kunang. Langkah kakiku terasa berat dan keringat dingin mendadak membasahi punggung sekaligus kaos yang kupakai di balik baju kerja.


"Kenapa nak? Masuk angin? Sakit kepala?" Tanya penjaga kunci khawatir begitu melihatku keluar dari ruang packing sambil tertatih-tatih berjalan ke arahnya.


"Habis muntah tadi buk...." Ucapku singkat setelah berhasil sampai dan berbaring di sudut loker di dekat tempat duduk penjaga kunci loker ini.


"Panggil aja buk Ika. Bentar ya kuambil kan obat dulu, pusing gak?" Penjaga kunci ini sibuk memilih obat yang diletakkannya di kotak kecil, berjajar dengan kotak tempat kartu izin keluar di atas mejanya.


"Sedikit buk.." Ucapku lemah.

__ADS_1


Bu Ika memberiku obat masuk angin dan pusing. Setelah aku meminumnya beliau menyuruhku beristirahat sebentar di ruangan yang biasa digunakan untuk sholat.


"Hai.. masuk angin juga? Sini sebelah gue....." Ucap salah satu cewek yang berbaring di sudut ruangan ini.


Aku berbaring di sebelahnya dengan tubuh yang terasa tak karuan.


"Baru pertama sif malam ya? Nih kasih minyak kayu putih perut sama dada lu.." Aku langsung menerima botol minyak itu tanpa kata.


Kuolesi perut, dada, juga pelipis dan leherku dengan minyak kayu putih. Aromanya perlahan membuatku tenang, pandanganku semakin jelas dan rasa mual di perutku sedikit demi sedikit berkurang.


Sepuluh menit kemudian aku duduk, menoleh ke kanan dan ke kiri dengan sedikit merinding. Aku sendawa dua kali, menjadikan perutku yang mual kembali normal. Lantai ruangan yang berupa keramik putih terasa dingin menembus kulitku, udara yang berhembus juga semakin membuat suasana sepi menjadi kian mencekam.


Cewek di sebelahku sudah tertidur. Kuletakkan botol minyak kayu putih di dekatnya kemudian aku mulai beranjak berdiri. Agak lemas tapi sudah jauh lebih baik di banding saat aku pertama kesini tadi.


Aku melangkah pelan menghampiri bu Ika yang tampak mulai mengantuk. Ia terkesiap beberqpa saat lalu perlahan tersenyum ketika menyadari yang berdiri di hadapannya adalah aku.


"Sudah baikan nak?" Aku mengangguk mantap. "Yasudah nanti kalau istirahat makan ya, jangan tidur dulu.." Ujarnya kemudian.


"Iya bu.. makasih..." Aku melenggang meninggalkan bu Ika yang kurasa masih memandangi kepergian ku.


Aku bernafas teratur, dari hidung lalu ku keluarkan dari mulut dengan pelan seirama dengan langkah kakiku.


Aku harus bisa. Aku harus kuat. Aku harus semangat. Bismillahirrohmaanirrohiimm. Batinku.


"Nak sudah baikan ta?" Tanya kak Andin begitu aku memasuki area mesin dua puluh tujuh.


"Sudah kak...."Jawabku dengan sedikit berteriak dan tersenyum kecil, berusaha se-riang mungkin di depan mereka.


"Ndin jangan galak-galak, nanti anakmu pingsan loh....!!!" Teriakan kak Lisa yang melengking membuat kami semua tertawa.


"Oke. Nih permen biar gak ngantuk." Kak Sam menyodorkan sebungkus permen jahe padaku.


"Ciyeee.....!!!'' Seru Starla dan bu Tuti kompak.


"Sam aku juga mau loh..."Teriak kak Andini tak mau kalah.


"Semua kebagian, oke? Nih.. nih.. nih.. " Kak Sam membagikan semua permen yang ada di kantongnya kepada kami semua, kemudian berbalik kembali ke mesin dua puluh enam.


"Cepat banget Nya, dulu Lala bisa satu jam lebih kalau mabok gitu..." bu Tuti bertanya padaku di sela-sela kesibukannya mengisi kekosongan minyak yang terlewat ku pasang.


"Iiihhh gak sampai satu jam kali buk... nambah-nambahin nih bu Tuti..." Protes Starla sambil memasang kembali maskernya setelah memakan permen.


Bu Tuti hanya tertawa menanggapinya.


"Iya bu, Alhamdulillah cepat membaik." Ucapku lirih tanpa menoleh ke arahnya.


Empat puluh menit kemudian giliran kami line tujuh sampai line sepuluh untuk istirahat malam.


Sebagian besar kakak-kakak senior langsung menggelar plastik besar bekas wadah bumbu untuk alas tidur. Menatanya di pojok konveyor, atau di balik tiang bangunan yang di bangun cukup lebar. Kemudian mengambil persediaan bumbu plastik besar yang diposisikan layaknya bantal.


Sebagian lagi langsung berlari keluar seolah berlomba dengan waktu.


"Nya mau makan apa?" Tanya Feni setelah kami sampai di depan kantin.

__ADS_1


"Apa ya.. yang hangat aja lah kalau bisa." Kami kemudian berjalan ke arah stand makanan dengan antrian paling sedikit.


Aku mengambil soto ayam dan teh panas sedangkan Feni mengambil nasi goreng dan es jeruk.


"Nyaa.. sini sini..!!" Teriak Starla dari meja di dekat pintu keluar. Kami pun menghampirinya dan duduk di tempat duduk yang masih kosong di sebelahnya.


"Loh cepet banget udah habis?" Tanyaku heran melihat piring Lala yang tersisa tinggal daun jeruk dan beberapa kerupuk kecil saja.


"Iya lah, gue tadi lari biar cepet terus setelah makan bisa langsung tidur sebentar, lumayan kan." Ujarnya sembari mengambil es teh manis kemudian meminumnya sampai habis. "Gue duluan ya.....Da daaa...." Pamit Lala.


Aku dan Feni hanya mengacungkan ibu jari ke arah Starla pergi, kemudian kami menikmati makanan kami dengan santai.


"Lu gak mual sama sekali tadi Fen?" Tanyaku setelah soto ayam di piringku habis tak bersisa.


"Gue gak mual tapi pusing banget, ngantuk gue Nya." Jawab Feni seraya mengambil tissue dari dalam kotak di atas meja kami.


"Gue heran Fen...pas berangkat kerja gue baik-baik aja, sehat, malah nyanyi-nyanyi juga tadi sambung-sambungan lagu sama Lala. Nah kok tiba-tiba udara jadi dingin terus perut gue mual ya?" Keluhku sembari menatap ekspresi Feni yang langsung serius menanggapi kata-kataku.


"Apa mungkin lu di gangguin penunggu sini Nya?" Aku terkesiap dengan kesimpulan Feni, mataku melebar dengan kening yang mengkerut dalam.


"Ngaco lu. Gak mungkin lah, kalau iya, masak cuma gue?" Balasku tak percaya.


"Mungkin yang menarik cuman elu kali, makanya yang diganggu cuma elu.." Feni meringis mengatakan hal itu.


"Ngantuk lu? Halu nya gak masuk akal banget, Astaga. Yaudah yuk masuk." Aku tersenyum lirih dan menggeleng-gelengkan kepalaku ke arah Feni yang nampaknya masih memikirkan spekulasinya.


"Yaudah deh ayok.. mungkin emang lu lagi lapar banget, makanya berdiri tiga jam langsung mual-mual..Hahaha.." Feni kemudian berjalan cepat di depanku setelah mengejekku.


"Sialan lu...."


Kami kembali ke line sembilan. Suasana sepi karena banyak yang masih tertidur nyenyak dengan posisi masing-masing.


Feni berbelok ke mesinnya kemudian duduk bersandar di sebelah tiang yang ada di antara mesinku dan mesinnya.


Aku memutuskan bergabung duduk dengan anak-anak kartoning mesin depan.


"Nya gimana keadaan lu? Lu tadi muntah-muntah kan?" Tanya kak April setelah aku duduk di sampingnya.


"Alhamdulillah udah mendingan kak." Jawabku singkat.


"Pasti kurang makan kurang tidur ya? Wajar anak baru. Usahakan sebelum berangkat makan dulu nak, biar perut gak kosong." Pak Wan bapak operator line sembilan ini ternyata perhatian sekali dengan anak buahnya.


"Iya pak..."


"Nih Nya, biar nanti gak ngantuk." Kak Dinda yang baru terbangun dari tidurnya memberiku dua permen mint.


"Thanks kak...."


Aaaa gue terharu... walau gue anak baru tapi orang-orang di sini sangat baik dan perhatian... mereka memaklumi keadaanku.. gak ada yang membentak atau memarahiku.. bahkan bapak operator memberiku tips bagaimana caranya agar tidak mual di sif malam seperti ini. Ah air mata gue rasanya mau jatuh saking terkesimanya gue sama semua kebaikan kalian. Semoga kalian semua sehat, rejwki lancar, dan tetap baik padaku sampai kapanpun. Batinku.


---------------∆∆∆∆∆∆∆---------------


Note:

__ADS_1


Mual dan muntah saat pertama kali sif malam bekerja di pabrik ini pengalaman pribadi saya ya kawan-kawan. Entah kenapa ini berlangsung selama 2-4malam, selanjutnya sudah lancar jaya tanpa mengantuk tanpa mual tanpa pusing.


__ADS_2