Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
15. Hari baru..


__ADS_3

Ayam jantan berkokok bersahut-sahutan pertanda sang fajar akan menunjukkan kemilau pesonanya.


Suara adzan subuh menggema dari berbagai penjuru dunia. Semuanya damai, indah tertata sebagai pertanda hari baru akan segera dimulai.


Aku berangkat ke kota G seusai melaksanakan sholat subuh pagi tadi. Fani masih tidur. Ibu memberiku bekal untuk sarapan pagi nanti. Dan ayah? Sambil memandangku sendu beliau memberiku uang saku selama satu bulan ini.


"Ayah tidak usah, Anya masih punya tabungan, dan insyaAllah cukup sampai Anya nanti menerima gaji pertama," Tolak ku saat ayah bersikeras memberikan simpanan uangnya ke dalam genggaman tanganku.


"Nak, terimalah agar ayah tenang. Untuk cari kos, untuk tambahan transportasi. Maafkan ayah ya nak belum bisa membahagiakan kamu sampai sebesar ini." Lirih ayah sambil menahan butir air matanya.


"Ayah bicara apa sih yah," Aku berhambur memeluk ayah, "Ayah dan ibu adalah orang tua terbaik buat Anya. Anya sangat bahagia punya orang tua seperti kalian. Jadi jangan lagi bicara seperti tadi ya yah?", ucapku sambil berlinang air mata.


Ibu mengusap puncak kepalaku dengan berlinang air mata, "Semoga sukses ya kak. Semoga teman-temanmu semuanya baik. Jangan lupa sholat dan hormati orang yang lebih tua ya nak...".


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala menjawab nasihat ibu. Ah, ibuku sayang memang selalu menjadi idolaku. Beliau selalu mendampingi dan mengajariku semua hal dengan sabar. Selalu mendo'akan ku tanpa kuminta.


.


.


.


Perjalanan yang cukup cepat menurutku. Mungkin karena ini masih pagi jadi tak ada kemacetan berarti di sepanjang persimpangan jalan besar yang ku lewati.


Aku langsung menuju kos Anis. Semalam dia sudah memintaku untuk langsung tinggal ke kamar kosnya sebelum mencari kos sendiri.


"Anya? Wah lu udah dipanggil kerja hari ini?", sapa Hilda setelah aku masuk ke ruang tengah.


"Iya, berangkat bareng ya.." sahutku seraya duduk disampingnya.


"Sip. Lah si Kia gak dipanggil juga?" tanya Hilda sambil membuka bungkusan nasi pecel sarapannya.


"Entahlah, tadi malam gue tanya katanya belum ada kabar apa-apa." Jawabku lesu.


Kami sarapan dalam diam. Ada beberapa teman kos Hilda yang baru pulang kerja menyapa kami. Ada pula yang hanya tersenyum dan langsung pergi ke arah dapur.


Pukul 06.40 kami berangkat dari kos. Kami berjalan kaki menyusuri gang demi gang yang sebagian besar dihuni oleh karyawan PT. KingNoodle. Aku tahu karena itu terlihat dari seragam dan bet yang mereka kenakan.


"Gue duluan ya Nya. Good luck for you.." Pamit Hilda kemudian masuk ke pelataran parkir tempat kerjanya.

__ADS_1


Aku melanjutkan langkah kakiku. Sedikit berdebar karena kini aku sendirian, berbeda dengan kemarin saat aku bersama Kia.


'Bismillahirrohmaanirrohiim. Aku siap'. Ucapku mantap di dalam hati.


Aku mengedarkan pandangan saat memasuki pelataran parkir kantor tempatku kemarin melamar kerja. Ada 5 orang yang sudah menunggu.


"Pagi semua.. kalian dapat panggilan kerja juga?" Sapa ku seraya mendekat dan berdiri di samping mereka.


"Iya. Gue Dian, dari kota L." Jawab salah seorang dari mereka.


"Gue Siska dan ini Bagas, kebetulan kami teman dari SMP," Lanjut seseorang di sebelah Dian.


"Gue Anya dari kota J." Ucapku memulai perkenalan.


Kami mengobrol ringan sambil menunggu peserta lain yang mulai berdatangan. Kami mengakrabkan diri karena mungkin nanti kami akan menjadi rekan kerja di bagian yang sama.


Pukul 07.00 tepat. Aku melihat Andi dan juga Dimas yang muncul saat bel baru saja berbunyi.


"Duh hampir saja kita telat. Lo Anya kan? Kia mana?" Tanya Andi setelah berdiri di samping Bagas.


"Iya gue Anya. Kia belum dapat panggilan Ndi. Temen lo satunya gimana?" Balasku lirih, kemudian kami berjalan ke dalam kantor.


Beberapa detik kemudian pak Doni muncul bersama seorang wanita dengan dandanan formal yang cukup anggun.


Ada sekitar 50 orang disini. Kami berbaris rapi memanjang menjadi 5 baris.


"Selamat pagi semua. Bagaimana kabar kalian semua? Sehat?" Sapa pak Doni mengawali.


"Pagi pak... Sehat pak.. Baik pak.." jawab kami serempak.


"Oke selamat untuk kalian semua yang hari ini mendapatkan panggilan kerja. Agenda hari ini adalah pengenalan tempat kerja, peraturan kerja dan pembagian seragam." Pak Doni mengawali dengan penuh semangat. Kemudian mempersilahkan rekannya untuk memperkenalkan diri.


"Selamat pagi semua. Perkenalkan nama saya Sonia, nanti saya yang akan mendampingi kalian para wanita di lapangan. Tapi sebelumnya ayo silahkan isi terlebih dulu data diri kalian sesuai KTP untuk kemudian kami proses menjadi ID Card karyawan." Ucapnya singkat lalu membagikan kertas-kertas dokumen yang harus kami isi dan tanda tangani.


Kami dipersilahkan untuk duduk dan mengisi dokumen tersebut. Ada satu lembar data pribadi, satu lembar peraturan kerja beserta penjelasan jam kerja dan jumlah gaji per bulan.


"Yang ini adalah berkas kontrak kerja. Silahkan kalian baca, kemudian tanda tangan dengan materai di lembar terakhir." Ucap pak Doni kemudian membagikan dokumen itu kepada kami.


Kami semua terdiam dengan kertas masing-masing. Kulihat beberapa dari teman baruku mengerutkan dahi lalu melirik teman di sampingnya.

__ADS_1


"Kalau ada yang kurang jelas silahkan ditanyakan ya.." Ucap bu Sonia memecah kesunyian kami.


Andi tersenyum, lalu mengacungkan tangannya ke atas. "Pak disini tertulis kami menerima gaji setiap tanggal 8 di awal bulan. Yang saya mau tanyakan adalah, sekarang kami masuk tanggal 20, jadi apakah tanggal 8 bulan depan kami menerima gaji sesuai jumlah hari kerja atau masih akan diakumulasikan ke tanggal 8 bulan berikutnya?", Tanya Andi panjang lebar.


"Pertanyaan yang bagus. Pengalaman kerja kamu pasti sudah banyak ya." Pak Doni tersenyum simpul sebelum melanjutkan, "Tanggal 8 bulan depan adalah tanggal pertama kalian menerima gaji selama 2 minggu dihitung dari sekarang. Nah data diri yang kalian isi ini selain untuk membuat ID Card juga kami gunakan untuk pembuatan ATM atas nama kalian sebagai sarana pembayaran gaji, tapi kalau kalian mau slip gaji bisa di ambil disini keesokan harinya setelah kalian menerima gaji." Jelas pak Doni.


"Pak kalau sakit bagaimana prosedur izinnya?" Tanya Dian.


"Silahkan kalian periksa ke dokter, lalu minta surat keterangan dokter bahwa kalian memang sakit dan membutuhkan istirahat, lalu serahkan ke kepala bagian tempat kalian bekerja." Jelas pak Doni seraya mendekat ke arah bu Sonia.


Beberapa pertanyaan terus mengalir seputar peraturan kerja, jam kerja dan sif malam yang menjadi kekhawatiran kami.


Kami kembali diam setelah mengumpulkan dokumen kontrak kerja di meja bu Sonia.


"Baiklah setelah ini mari kita menuju ke tempat kerja kalian. Semoga betah dan have a nice day.." Ucap pak Doni santai kemudian berlalu dari hadapan kami.


Kami diarahkan untuk masuk ke minibus yang terparkir di samping kantor. Siska duduk di sampingku dengan tenang, disusul Dian dan juga Andi.


Kami semua terdiam dengan pikiran masing-masing selama perjalanan singkat menuju pabrik.


Hatiku berdebar. Bagaimana lingkunganku nanti di pabrik? Bagaimana teman-teman kerjaku nanti? Bagaimana atasanku nanti? Bagaimana kalau aku tidak bisa? Apa aku akan sendirian?


Semuanya berlarian di kepalaku. Silih berganti menjadi ketakutanku.


Stop it. Berhenti. Ini adalah keputusanku. Ini adalah jalanku. Jadi tenanglah hati. Tenang. Hadapi apapun yang ada di depanmu nanti. Batinku ikut berperang.


Aku mengeluarkan nafas dan menghembuskannya perlahan berulang kali sampai terasa rileks.


"Sudah, santai aja. Ayo keluar." Ajakan Dian di sampingku membuatku tersenyum kecil.


Ya. Aku tak mungkin sendiri. Aku masih punya banyak teman baru, dan yang harus kulakukan adalah bekerja dengan baik, berteman dengan damai, dan terima gaji dengan santai.


Just do it.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2