Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
48. Tugas


__ADS_3

Brian's Cafe.


Kafe yang cukup besar dengan suasana indoor dan outdoor yang terletak tepat di seberang kampus universitas XX. Desainnya yang unik dan cozy serta membuat kafe ini selalu tampak penuh dengan para pengunjung.


Seperti siang ini, beberapa mahasiswa hilir mudik singgah. Ada yang menikmati makan siang, ada yang hanya memesan minuman sambil mengerjakan tugas kuliah dengan laptop mereka, juga ada yang berkelompok merayakan sesuatu.


"Bro, tadi siapa yang sembuh?" Tanya seorang pria dengan T-shirt biru lengan panjang pada temannya.


"Kakak gue," Jawab pria yang tadi baru keluar dari ruang sidang skripsi.


"Sayang kapan kita ke rumah kamu?" Tanya seorang wanita di sampingnya dengan suara manja.


"Nanti," Singkat pria ini, membuat sang wanita mematut dan nampak sedikit kecewa. Tak lama kemudian si wanita pun pamit karena masih ada jam kuliah.


"Kris, sampai kapan lu jalan sama Sicil?" Tanya seorang pria yang berbadan tinggi tegap layaknya bodyguard di depannya.


"Sampai gue bisa bongkar sabotase yang di lakukan bokap nya." Jawab pria yang dipanggil Kris tadi.


"Gue sama Alex duluan man, bentar lagi rapat BEM, kegiatan pecinta alam kita minggu depan dimulai." Pamit dua orang di sebelah kirinya. Dan Kris hanya menjawab dengan mengacungkan ibu jarinya ke arah mereka.


"Ky, apa rencana lu?" Tanya Kris sesaat setelah minuman di gelasnya tandas.


"Gimana kalau kita main ke rumah Sicil. Kita bagi tugas, lu alihkan perhatiannya, sedangkan gue bisa masuk ke ruang kerja bokap nya buat cari bukti." Ujar pria yang dipanggil Rizky.


"Gue ikut, gue bisa bobol cctv-nya dan bongkar kunci paling rumit sekalipun," Tukas seorang pria di samping Rizky tadi.


"Oke, nanti malam kita beraksi." Kris tersenyum smirk pada kedua temannya saat mengatakan hal itu.


.


.


......................


"Minggir-minggir...! Minggir kalian semua..!!! Teriak Sicil pada beberapa wanita yang mengerubungi Kris di kantin kampus. "Sayang, ayo kita pulang..."Ucapnya manja.


Beberapa wanita langsung membubarkan diri, tersisa Jane dan Karin yang tetap duduk manis di depan Kris.


"Oke, tapi gue masih mau ngerjain tugas sama Rizky dan Davit.


"Kalian kan bisa ngerjain di rumah gue nanti, ayolah....'' Sicil merayu sambil mencium pipi Kris sekilas, membuat Jane dan Karin mencibir tak suka.


"Sil, kita ikut ya..." Ucap Jane tiba-tiba.


"Ngapain? Ganggu aja.." Balas Sicil jutek.


"Kita kan bisa nemenin Rizky sama Davit.." Sahut Karin seraya mengedipkan sebelah matanya pada Sicil.


"Yaudah okey! Tapi kalian yang pesen makanan ya" Ujar Sicil sembari berdiri, kemudian menarik Kris untuk mengikutinya.


Sampai di parkiran mobil Sicil diam, ia memasang wajah cemberut dan mengerucutkan bibirnya, namun Kris tetap tak mempedulikannya.


Kris masuk ke mobilnya, membiarkan Sicil menggerutu kesal di sampingnya.


"Sayang kenapa sih kamu cuek banget, gak ada romantis-romantisnya sama aku..." Keluh Sicil setelah mobil berjalan meninggalkan kampus.


"Emang gue begini, mau gimana lagi?" Jawab Kris singkat.


"Ya panggil gue sayang kek, lebih banyak senyum atau gandeng gue gitu, gak bisa ya?" Sicil mulai protes dengan nada sedikit tinggi.


"Yang mau jadiin gue pacar siapa? Lu kan? Ya lu harus terima sikap gue lah. Kalau lu mau gue sayang sama lu, ya lu harus bisa nakhlukin sikap gue ini..." Jelas Kris panjang.


Sicil menganga, tak menyangka jika Kris bisa berkata demikian.


Ya, memang selama ini Sicil lah yang telah memaksa Kris untuk menjadi kekasihnya.


Bahkan ia tak segan-segan menyakiti atau membully wanita-wanita yang di kabarkan dekat dengan Kris.


Kris mau menerima asalkan Sicil berhenti bersikap arogan dan tak menyakiti siapapun lagi.


"Ja..jadi lu belum sayang sama gue?" Tanya Sicil lirih.


"Hmmm..." Gumam Kris menjawab Sicil.


Tiba-tiba Sicil tersenyum smirk ke arah Kris. "Oke, gue bakal buat lu cinta mati sama gue, tunggu aja, oke sayang..."

__ADS_1


"Of course.."


Mobil berhenti di sebuah rumah mewah keluarga Adijaya. Setelah masuk keduanya langsung keluar dari mobil menuju ruang santai keluarga.


"Rizky sama Davit bentar lagi sampai." Ucap Kris setelah masukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Ia duduk, kemudian mengeluarkan sebuah laptop dari dalam tasnya.


"Tunggu sebentar ya gue ganti baju dulu." Ucap Sicil, kemudian melenggang menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.


Di lantai satu ini ada tiga kamar. Di sebelah kiri ruang keluarga adalah kamar tamu, lalu di sampingnya adalah ruang kerja, kemudian di sebelahnya lagi adalah kamar asisten rumah tangga.


Tak lama kemudian Rizky dan Davit datang. Mereka membawa laptop, kunci L berbagai ukuran dan alat-alat lain, serta beberapa buku tebal sebagai pengalihan.


"Hei boys, kalian udah datang...!" Teriak Sicil dari tengah tangga. Ia mengenakan T-shirt putih garis-garis hitam berlengan pendek, serta hot pants hitam di atas lutut.


"Hei Sil..you're so sexy..." Ucap Davit dengan pandangan tak lepas dari setengah paha mulus Sicil yang terekspos sempurna di depannya.


Sicil tersenyum genit, menggigit sedikit bibir bawahnya, kemudian berjalan melenggak-lenggok melewati Davit dan juga Rizky.


"Siaga dua bro.." Bisik Rizky ke arah Kris.


"Sayang, ikut gue ke atas bentar yuk. Ada sesuatu yang mau gue tunjukin." Ujar Sicil seraya menarik lengan Kris agar segera berdiri dan mengikutinya.


"Gue masih mau beresin tugas Sil.." Ucap Kris datar, tanpa menoleh ke arah Sicil.


Sicil menutup laptop di depan Kris, kemudian menarik lengan Kris lebih kencang. "Bentar doang!", Singkatnya.


"Udah sana dulu, biar kita yang tangani di sini." Ucap Rizky seraya menaikkan sebelah alisnya ke arah Kris.


"Nah..kalian pengertian banget sih... nanti si Jane sama Karin bakal kesini bawa makanan, jadi kalian santai aja ya di sini..." Sicil tersenyum lebar, kemudian mengedipkan sebelah matanya ke arah Davit.


"Siipppp....." Tukas Davit sembari menggeser duduknya, kemudian membuka laptop yang sengaja di tutup oleh Sicil tadi.


Kris menghela napas kasar. "Baiklah...", Singkatnya, kemudian mengikuti Sicil naik ke lantai dua.


Setelah memastikan Kris dan Sicil hilang dari pandangan, Rizky langsung beraksi. Ia mematikan CCTV sementara, sedangkan Davit berkutat dengan beberapa kunci dan alat-alat lainnya untuk membobol sebuah pintu.


"Ky! Berhasil Ky!.." Seru Davit lirih.


"Oke, gue juga." Rizky perlahan melangkah mengikuti Davit yang telah berhasil membuka pintu ruang kerja ayah Sicil.


"Kita cari di mana dulu Ky? Terlalu banyak berkas" Ucap Davit setelah mengamati ruang kerja yang penuh dengan berkas perusahaan yang berserakan di atas meja.


"Oke, lu urus laptop sama komputer, gue cari almari, laci atau brankas tersembunyi." Ujar Davit sembari melangkah ke arah beberapa laci di sudut ruangan.


"Sip." Sahut Rizky.


"Komputer masih hangat, mungkin ayah Sicil baru mematikannya." Gumamnya lirih, seraya menancapkan flash disk, dan bersiap menyalin beberapa data yang kemungkinan berkaitan dengan sabotase yang di maksud Kris tadi.


Lima belas menit berlalu.


Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk ke halaman parkir rumah Sicil.


Deg..


Degg...


Rizky dan Davit sejenak saling berpandangan, kemudian tanpa ba-bi-bu mereka membereskan kekacauan yang mereka ciptakan.


Menata kembali beberapa berkas yang tercecer di meja, laci, serta memasukkan beberapa lembar mata uang asing ke dalam brankas kemudian menutupnya kembali.


"Sicil...I'm coming..!." Teriak Jane.


"Hei boys..!" Teriak Karin.


Rizky dan Davit berdiri kaku.


Rizky berdiri satu langkah dari tempat duduk, sedangkan Davit berada dua langkah dari depan pintu ruang kerja ayah Sicil.


"Loh kenapa kalian berdiri?" Selidik Karin seraya melangkah ke tempat mereka.


"Gue mau ke toilet," Sahut Davit cepat.


"Gue mau lihat siapa yang datang, ternyata kalian. Bawa apa tuh?" Ucap Rizky santai, mengalihkan perhatian Karin. Sementara Davit langsung menuju toilet di ujung dapur.


"Ini..ada benerapa camilan, ayam geprek sama es boba.. Kalian pasti lapar kan habis ngerjain tugas..." Jawab Jane, kemudian meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja.

__ADS_1


"Pas banget...gue laper.. makasih ya Jane.." Ujar Rizky sembari tersenyum semanis mungkin, membuat Jane tersipu dan wajahnya memerah malu.


"Sicil sama Kris mana?" Tanya Karin.


Rizky menunjuk lantai atas menjawab pertanyaan Karin, kemudian mulai membuka makanan di atas mejanya.


.


.


......................


Sebelum penggeledahan berlangsung....


Sicil mengajak Kris naik ke lantai dua, lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia membiarkan Kris mengamati isi kamar, seolah memamerkan beberapa koleksi barang branded yang terpajang di beberapa almari kaca di salah satu dinding kamarnya.


Tak lama kemudian ia menggenggam jemari tangan Kris, mencium punggung tangannya beberapa saat, menariknya pelan, lalu perlahan mendudukkan Kris di ranjangnya.


Sicil masih berdiri, menatap genit ke wajah Kris, kemudian tanpa berkata-kata ia melepas kaosnya, hingga nampaklah sepasang bukit yang penuh, mulus dan sungguh sexy, berbalut bra berenda hitam di depan wajah Kris.


"Jadi, maksud lu mau nunjukin sesuatu tuh ini?" Ucap Kris datar, sembari menunjuk salah satu bukit Sicil.


"Bukan hanya ini sayang. Kalau kamu mau, kamu boleh kok lihat isinya sekalian..." Goda Sicil, kemudian tanpa malu mulai mendekat dan duduk di pangkuan Kris.


"Yakin?" Singkat Kris, seraya menatap tajam kedua mata Sicil.


Sicil mengangguk, kemudian tangannya meraba-raba dada Kris.


Wajahnya mendekat.


Lebih dekat.


Dekat ke leher Kris


Kris memejamkan mata, seakan menikmati ciuman dan jilatan lidah Sicil yang menari-nari di lehernya.


Ia membiarkan Sicil bermain di dada dan lehernya.


Membiarkan dada Sicil menempel di tubuhnya ketika wanita itu sibuk menggigit-gigit kecil daun telinganya.


Sepuluh menit berlalu.


Kris membuka kelopak matanya, melirik wajah Sicil yang nampak merona dan terengah-engah akibat terbakar gairahnya sendiri.


"Wait a minutes, tunggu sebentar." Kris mulai bergerak, lalu merebahkan tubuh Sicil ke ranjangnya.


.


.


.


...----------------...


"Loh kok, lu turun sendirian? Sicil mana?" Tanya Karin ketika melihat Kris menuruni anak tangga seorang diri. Ia nampak segar dengan poni sedikit basah yang turun ke pelipisnya.


"Masih di kamar mandi, nanti juga nyusul." Jawab Kris sembari duduk di hadapan Rizky. Ia mengamati Jane dan Karin yang tengah menikmati es boba di sebelah tempat duduk mereka.


"Tugas selesai bro, tinggal lu kasih bagian penutup doang." Davit menyerahkan sebuah flash disk pada Kris, kemudian lanjut menghabiskan makanannya.


"Beberapa part juga udah gue edit, tinggal lu periksa dan besok bisa langsung lu kasihkan pak Haidar." Rizky menggeser laptopnya ke hadapan Kris.


"Oke guys, gue percaya sama kemampuan kalian. Balik yuk." Ucap Kris sembari memasukkan flash disk dan laptopnya ke dalam tas.


"Lu gak makan dulu Kris?" Tanya Jane.


"Gak, gue rasa teman kalian lebih butuh makanan itu dari pada gue," Kris tersenyum simpul serta menatap dalam ke arah Jane dan Karin, hingga keduanya sedikit salah tingkah dan tersenyum malu-malu.


"Gila. Senyum Kris emang damage nya gak ketulungan....." Lirih Rizky seraya melangkah keluar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gila..gila.... Buaya mau di kadalin...." Lirih Davit sembari berjalan mengikuti Rizky.


"Bye...." Kris berlalu, kemudian melambaikan sebelah tangannya ke arah Jane dan Karin yang masih mematung melihat senyumannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2