Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
19. Line sembilan


__ADS_3

Pagi yang semakin sibuk. Memakai seragam hitam putih dengan bet berwarna merah untuk hari Rabu. Membeli sarapan. Membawa ID Card dan mukena. Memastikan seragam rapi dan wangi lalu berangkat ke pabrik.


"Belum punya shift tetap Nya?" Tanya Hilda sambil memakai kaos kaki dan sepatunya di sebelahku.


"Belum. Mungkin nanti. Oiya, nanti Kia juga bakal kesini, kalau gue belum pulang tolong temani dia ya." Ucapku kemudian berdiri, siap untuk berangkat.


"Sip. Yuk berangkat."


Aku dan Hilda berangkat bersama sampai perempatan jalan di RT.09.


"Dari sini lu lurus aja Nya, mentok pertigaan lu belok kiri, lurus sampai ada parkiran besar penitipan motor. Nah dari situ gerbang pabrik udah kelihatan." Ucap Hilda menjelaskan arah jalan pintas menuju pabrik tempatku bekerja nanti.


"Wah ada jalan yang lebih cepat toh. Kirain bareng lu sampai jalan raya terus baru belok kanan lurus sampai pabrik." Ucapku sebelum berbelok.


"Itu kelamaan Nya. Yasudah gue duluan ya. Good Luck Nya...." Pamit Hilda seraya berlalu dari hadapanku.


"Of Course. I hope you, too."


Aku berjalan sendirian melewati jalanan yang ditunjukkan Hilda.


Beberapa pemuda nampak memperhatikanku namun tak ada yang menyapa. Mungkin mereka mengerti kalau aku ini masih anak baru.


"Anya. Ayo.....!" Seru seseorang di ujung jalan.


"Loh Bagas? Siska mana?" Tanyaku heran karena biasanya mereka selalu bersama.


"Siska pulang, gak jadi kerja di pabrik. Katanya lamaran kerjanya jadi sekretaris di perusahaan besar diterima." Ucap Bagas lirih, matanya menatap ke arah lain, seolah menghindari tatapanku, seolah meyakinkan dirinya baik-baik saja tanpa sang sahabat, tapi ekspresi sendunya telah mengatakan segalanya. Dia menganggap Siska lebih dari seorang sahabat, dia kemudian terdiam saat aku tak mengatakan sepatah katapun padanya.


"Oh gitu. Yasudah gak papa. Mungkin memang sudah jadi rejekinya." Akhirnya aku berkomentar singkat sambil berjalan beriringan dengannya.


Kami terus berjalan dalam diam sampai tiba di depan mesin ceklok. Ada beberapa teman yang sudah sampai duluan dan duduk-duduk di sekitar taman kecil di sebelah utara tempat ceklok ini.


Aku mendekatkan ID Card ku ke barcode sampai terdengar bunyi 'klik'. Lalu setelah muncul data diriku kutekan tombol enter. Tertera namaku, juga bagian kerjaku N-2. Apa mungkin nanti aku akan bekerja di gedung N-2..?


"Nya sini..." Teriak Dian dari seberang tempatku berdiri.


Aku berjalan ke arahnya. Sedikit kulirik Bagas yang juga berjalan ke arah teman-teman cowoknya.


"Tinggal sepuluh menit lagi jam tujuh. Lu udah tau bagian apa nanti?" Tanyaku pada Dian.

__ADS_1


"Di mesin ceklok tadi keterangannya gue di bagian B-2. Lu di mana?" Jawab Dian.


"Gue N-2. Bumbu itu gedungnya sebelum N-2 kan ya?" Tanyaku memastikan.


"Iya."


Beberapa menit kemudian bel berbunyi. Terlihat beberapa staf kantor berlarian memasuki gedung utama. Satpam yang bertugas langsung sigap dalam posisinya di depan pintu masuk kantor utama.


"Selamat pagi semuanya." Sapa pak Doni yang tiba-tiba sudah berada di depan kami.


"Pagi juga pak..." Jawab kami serempak.


Pak Doni mengamati kami satu persatu. Sudut bibir kanannya sedikit terangkat. Ekspresinya seperti sedikit kecewa. Apa dia tahu kalau beberapa dari kami ada yang mengundurkan diri?


"Tampaknya ada yang berkurang, tak apa mari kita mulai saja pekerjaan kita hari ini. Bagian kalian sudah tertera sewaktu kalian ceklok tadi. Yang berada di Noodle satu silahkan ikuti saya, yang di Noodle dua silahkan bersama bu Sonia." Jelas pak Doni kemudian.


Aku dan beberapa teman baruku membentuk dua barisan memanjang mengikuti bu Sonia.


"Rian, Aldo, Aan, Alan, Cyntia, Silvia, Ida dan Putri kalian masuk ke bagian proses, temui pak Angga." Perintah bu Sonia kepada beberapa temanku.


Setelah delapan orang memasuki bagian Proses, kami melanjutkan masuk ke dalam bagian Packing.


"Pak Jo, mohon bimbingannya buat anak baru sif dua besok ya." Ucap bu Sonia pada bapak operator line tujuh.


"Siap bu." Balas pak Jo singkat.


Aku melihat dua temanku masuk ke area line tujuh dengan gelisah. Selanjutnya aku dan Feni masuk ke area line sembilan. Hampir semua orang menatap kami sambil tersenyum.


"Pak Han mohon bimbingannya untuk anak baru sif dua besok ya." Ucap bu Sonia singkat. Kurasa beliau sudah hafal dialog ini setiap kali mengantar kami ke bagian kami.


"Oke bu." Jawab pak Han singkat.


Aku dan Feni memasuki area line sembilan. Aku melirik beberapa temanku yang masih mengikuti bu Sonia berjalan ke area line selanjutnya.


"Hai dek.. kalian masih imut-imut sekali, baru lulus ya? Sapa salah satu operator mesin saat kami memasuki area percabangan mesin.


"Iya kak," Fani yang menjawab sementara aku masih mengamati sekitarku.


Satu konveyor dari bagian proses yang memanjang ke area line sembilan ini bercabang menjadi tiga konveyor kecil dengan nomor mesin packing 25, 26, dan 27.

__ADS_1


Tiap mesin ada kurang lebih enam orang berpasangan memasang bumbu, minyak, juga garnis di sisi kanan kiri konveyor kecil.


"Anya dan Feni ya. Anya coba bantu pasang bumbu di mesin 27, Feni coba di mesin 26." Perintah pak Han tadi kepada kami.


"Sini-sini adik kecil. Temani aku pasang bumbu." Sapa ramah salah satu operator pasang bumbu mesin 27 kepadaku.


Aku mendekat dan memperhatikan bagaimana mereka dengan santainya meletakkan bumbu-bumbu di atas mie yang berjalan seperti mobil-mobilan di atas konveyor.


"Mel yang rukun ya sama adiknya. Jangan dijahilin," Ucapan pak Han mengundang gelak tawa hampir semua operator di line ini.


Aku hanya tersenyum kecil. Setidaknya mereka semua ramah, tak seperti bayanganku kemarin.


"Namaku Mela, yang pasang minyak itu Friska dan Yayuk. Yang pasang garnis itu Fatim dan Lisa. Yang dekat mesin packing itu namanya Lani, job-nya disebut Cekker, memastikan semua bumbu, minyak, dan garnis terpasang rapi di atas mie, utuh tanpa missing dan pas ditengah mie, tidak boleh miring," Jelas kak Mela kepadaku.


"Kenapa gak boleh miring kak?" Tanyaku pelan, tapi tetap terdengar teman-teman operator disamping kak Mela.


"Ya harus lurus dek, kalau miring nanti stres, bisa dimasukin rumah sakit jiwa tau.." Seloroh Friska, teman operator di samping kak Mela.


Ucapannya mengundang tawa teman-teman satu mesin ini. Aku hanya mengernyit heran, tak menyangka bakal ada jawaban absurd macam ini.


"Hahaha... itu mah elu Fris yang masang minyak miring mulu, stres lu?" Seloroh Lani sambil melempar satu sachet minyak mie ke arah Friska.


"Sialan lu Lan, jadi gak keren kan gue di hadapan anak baru ini." Ucapan Friska membuat kami semua kembali tertawa.


"Udah deh jangan dengarkan Friska dek. Ini masangnya gak boleh miring karena nanti kalau masuk ke mesin packing bisa terjepit dan ambyar di dalam. Jadi produk gagal. Gak bisa masuk karton." Jelas kak Mela.


"Oh gitu ya kak." Ucapku sambil memperhatikan bagaimana cepatnya tangan mereka memasang bumbu-bumbu itu tepat di atas mie yang berjalan.


"Ayo coba. Nih caranya begini." Kak Mela menumpuk bumbu di atas bagian datar konveyor yang seperti meja di hadapanku. lalu mengambil beberapa bumbu ditangan kanan dan memasangnya berurutan di atas mie yang berjalan di sisi tengah konveyor yang cekung. Setelah di tangan kanan habis berganti tangan kiri, sementara tangan kanan mengambil bumbu lagi.


Ini terlihat menyenangkan. Seperti bermain mobil-mobilan dan kita yang meletakkan beban di atas mobil itu. Haha. Aku menahan tawa melihat kak Mela mengajariku.


"Kenapa senyumnya ditahan? Lucu ya? Ayo coba kalau bisa..!" Tantang Friska padaku.


Aku mencoba mengambil beberapa bumbu. Gerakanku sedikit ragu. Tanganku kaku dan kepalaku agak pusing melihat mie yang terus berjalan di hadapanku.


Apa ini?


Mengapa mie-mie ini seolah mengejekku???

__ADS_1


__ADS_2