
Semilir angin sejuk menyentuh permukaan kulit. Udara hangat yang berpendar di antara rimbunan pohon terasa damai menerpa panca indra. Kupu-kupu yang berlarian di antara bunga-bunga menambah kecantikan taman kota ini.
"Nya, balik yuk." Ucapan Kia membuyarkan imajinasi ku.
"Loh kok cepat amat. Belum ada dua puluh menit ini. Yakin mau pulang?," Ucapku lirih, masih belum beranjak dari tempat duduk ku.
"Kak Zaky masih ada kerjaan. Udah ayo pulang, katanya kangen rumah."
"Iya iyaa," ku langkahkan kaki ku mengikuti Kia. Kulihat kak Zaky melambaikan tangan lalu pergi dengan motornya.
"Nya menurut kamu kak Zaky gimana?", tanya Kia setelah beberapa langkah menjauh dari taman.
"Gimana apanya?". Aku mengernyit heran.
'Ck'. Kia mendecak mendengar pertanyaan ku.
"Maksudku kak Zaky itu gimana? Ganteng apa baik apa gimana menurut kamu...".
"Oh, kirain apa. Menurutku dia....", sengaja menjeda ucapan ku, kulihat Kia berbinar menantikan kata-kataku. "Umpama kadar 100%, tampangnya itu 75 lah, baiknya 70, Jahilnya 85, tapi cocok kok sama kamu Ya.." ujar ku sambil menahan tawa.
"Hei Nya. Lu pikir dia itu senyawa kimia yang harus lu jabarkan kandungan pembentuknya berapa persen gitu!" Sentak Kia kesal.
"Hahaha. Sorry sorry. Itu kan menurut gue, lah menurut lu gimana? Ganteng kan relatif Ya, kalau menurut lo mungkin 99% ya kan?", ucapku menjahili Kia. Rasain, salah sendiri dari tadi jahilin aku.
"Hmm bener juga sih..," Kia nampak berfikir, "Eh gak 99% juga kali Nya! Rese lu ah. Tapi kalau kak Zidan berapa nilai lu?" tanya Kia balik sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Sial. Nih bocah selalu saja punya kartu buat jahilin gue.
"Gak ada. Gue gak menilai dia. Udah ayo naik angkot itu aja, ayo buruan pulang." Ucapku kesal dan Kia sukses tertawa lebar.
Aku menyeret Kia menuju angkot yang baru sampai. Kami duduk di belakang di sebelah kanan, di samping kami ada dua lelaki yang sepertinya warga desa sebelah tempat tinggal kami, di depan kami seorang ibu-ibu yang baru pulang entah dari mana.
"Kakaaakkk...". Teriak adikku saat kami baru turun dari angkot. Dia berlari ke arahku, berhambur memeluk kakiku. Kuusap kepalanya yang kemudian mendongak menatapku.
"Ciyee.. kangen banget ya sama kak Anya," ucap Kia seraya ikut mengusap belakang kepala adikku.
"Hu'um." Gumam adikku sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Kangen apanya dek dari kakak?", tanyaku haru.
"Apanya ya... " Dia terlihat berpikir keras, lalu tiba-tiba berseru, "Aaa.. mana mana kak onde-onde pesenan aku?" Adikku kemudian menengadahkan tangan kanannya dan berbinar menatapku.
__ADS_1
Gubrakk..!!
Gak jadi terharu.
Nih tuyul milenium malah ingat onde-onde?
Kia tertawa lepas menatapku.
Aku menghela napas panjang berusaha mengontrol keterkejutan ku. Aku berjongkok mensejajari tinggi adikku. Kutatap binar matanya yang serius menanti apa yang akan ku ucapkan padanya.
"Adikku yang cantik, yang imut, yang baiknya selangit, kakak belum mulai kerja, jadi belum bisa beliin kamu onde-onde." Ucapku pelan agar adikku mengerti.
"Oh gitu ya. Jadi nanti kalau udah kerja, kakak baru bisa beliin aku onde-onde?" Tanyanya polos.
"Iyaaa. pokoknya semua makanan yang kamu mau kakak beliin deh, oke?" Rayuku sambil menggamit tangannya, pulang.
"Oke kak." Ucapnya kembali riang.
Kami berjalan beriringan menuju rumah kami. Kia sampai duluan ke rumahnya. Terlihat ragu tapi akhirnya dia masuk juga.
"Ibuuu.. kakak sudah pulangg..!!" teriak adikku ketika kami sampai di pekarangan rumah.
"Sstt dek jangan teriak-teriak. Nanti ibu kaget loh." Ujar ku mengingatkan.
Oh rupanya ada tamu, pikirku.
Adikku langsung berlari masuk melewati ruang tamu dan berhenti di depan pintu kamar ibu.
"Ibu kenapa yah? Huaaaaa..." Adikku melangkah pelan ke pelukan ayah. Aku berdiri di ambang pintu, mencoba mencerna apa yang terjadi di depanku.
"Gak apa-apa sayang. Cuma di periksa rutinan sama kak Dewi. Biar ibu sehat terus, biar bisa masakin Fani terus," ucap kak Dewi dengan suara merdu, menenangkan adikku yang tengah menangis tersedu-sedu di pelukan ayah.
Kak Dewi berdiri lalu melangkah ke arahku setelah memasukkan stetoscope dan peralatan medisnya ke dalam tas.
"Bisa bicara sebentar?",Ucap kak Dewi to the point.
"I-iya kak, ayo ke ruang tamu aja," Jawabku sedikit terbata karena keterkejutan ku.
"Ibu kamu tensinya naik lagi Nya. Mungkin faktor makanan, bisa juga karena stres terlalu memikirkan sesuatu," ucap kak Dewi setelah kami duduk berhadapan di ruang tamu.
"Sejak kapan kak? Terus apa yang harus saya lakukan?", tanyaku dengan suara parau menahan tangis.
__ADS_1
"Aku sudah kasih resep obat tadi ke ayah kamu, tenang saja." Kak Dewi meraih tanganku, seolah menguatkan batinku yang lebih dulu menjerit.
Apa ini? Jangan-jangan ini semua karena aku menolak kak Zidan, lalu dia pergi, lalu banyak tetangga dan fans kak Zidan yang mencibirku jadi ibu kepikiran sampai tensinya naik? Batinku berspekulasi.
"Apa ini karena aku kak?" ujarku lirih. Kak Dewi tersenyum lalu berpindah duduk di sebelahku.
"Sudah jangan menyalahkan diri kamu sendiri Nya. Itu malah akan membuat ibu kamu sedih. Kamu harus tetap semangat dan ceria di samping beliau, oke?" kak Dewi mengelus lengan atas ku.
Ah, mungkin begini rasanya punya kakak ya. Dari dulu aku kepingin sekali punya seorang kakak. Tapi mana mungkin bisa? Aku kan anak pertama.
"Maafin aku ya kak, gara-gara aku kak Zidan pergi," ucapku mengaku, kak Dewi ini baik sekali jadi aku tak mau kalau sampai dia nanti salah paham terhadapku.
"Kenapa minta maaf. Zidan kan sudah dewasa, dia tau apa yang harus dia lakukan untuk dirinya sendiri," Ucapan bijak kak Dewi membuatku langsung terhenyak, menatapnya dengan kagum.
"Kak Zidan pasti salah menafsirkan hatinya nih. kak Dewi baik banget, ramah, cantik, bijaksana pula. Kenapa kak Zidan malah sukanya sama aku yang pecicilan dan kekanak-kanakan coba," Gerutuku kesal.
Kak Dewi terkikik geli mendengar ucapanku. "Kamu ini ada-ada saja Nya,"
"Lah emang bener kak. Ibaratnya nih dia itu kesasar, bukannya memilih berlian, malah ngarepin rempahan rengginang." Ucapku sambil mendenguskan tawa hambar.
"Hahaha. Perumpamaan kamu ini lucu banget sih. Mana ada sih kesasar yang begituan. By the way memangnya kamu gak ada rasa gitu sama dia?" kak Dewi akhirnya menanyakan hal itu juga. Di chat ponsel Kia dia sudah bertanya tapi Kia tak menjawabnya.
"Jujur ya kak, kalau suka sih iya, siapa sih disini yang gak suka sama kak Zidan? Hampir semua orang kurasa suka. Tapi, rasa suka aku cuma sebatas adik ke kakaknya." Jelas ku panjang lebar pada kak Dewi.
"Beneran?" ujar kak Dewi berbinar, seolah menemukan harta karun terpendam di dasar laut.
"Iya kaakkk. Anya dari dulu pengen punya kakak tapi gak kesampaian, hehe, Anya kan anak sulung. Jadi begitu dapat perhatian tuh kayak selalu ter-setting di fikiranku 'oh mungkin gini ya rasanya punya kakak' gitu kak" Jelas ku lagi.
"Poor you..." ucap kak Dewi sendu, "kalau gitu kamu boleh anggep kakak jadi kakak kamu, kebetulan aku juga pengen punya adik cewek tapi gak kesampaian, aku anak bungsu, Haha."
Kami pun bercerita kesana-kemari dengan riang. Kak Dewi ini sosok yang ramah dan berjiwa mulia, mau di panggil kesini padahal rumahnya cukup jauh. Saat berpamitan pulang ayahku menyodorkan amplop untuknya tapi di tolak dengan sopan, katanya untuk membeli resep obat ibuku saja. Baik dan loyal sekali kan dia sebagai calon bu bidan?.
...****************...
.
.
.
Kalau di lingkungan kalian masih menemukan dokter atau bidan atau tukang servis yang mau di panggil ke rumah, bersyukurlah.
__ADS_1
Alhamdulillah kalian di kelilingi orang-orang yang baik dan tulus, lalu do'akan untuk kebahagiaan mereka. Bukankah mendo'akan orang lain maka kebaikannya akan menular ke kita? Just do it.