
...----------------πππππππ-------------...
Alhamdulillah sudah sampai episode 40. Terima kasih sebanyak-banyaknya ya.. untuk semua kawan-kawan yang telah mendukung karya saya.
Mohon maaf jikalau masih banyak typo atau bahasa yang belepotan karena ini karya pertama saya, masih butuh banyak belajar dan masukan dari kalian semua, oke?
And buat para pembaca yang baru melihat tulisan ini, please like, favorit, komentar, dan kalau bisa sekalian kasih vote yaa.. 😁😂
...... --------------πππππππ-------------......
Shubuh yang indah namun penuh drama.
Sejak adzan shubuh pertama dikumandangkan, kami semua bergantian keluar ruang packing untuk melaksanakan sholat shubuh. Ke toilet antri. Berwudlu antri. Mau sholat pun kita juga mengantri karena tempat yang disediakan cukup sempit, hanya bisa digunakan untuk delapan orang sholat dengan dua shof.
"Anyaaa..lama banget sih!!" Keluh kak Dinda padaku sembari tetap fokus memasang bumbu di depannya.
"Maaf kak, antrian sholatnya panjang banget." Sahutku seraya bersiap memasang minyak.
"Nak sini aja pasang garnis..!!, Lala yang pasang minyak." Aku bergeser tempat pasang dengan Lala, menuruti perintah kak Andini.
"Ayo Din, Lets go..!! Jangan lama-lama..!!" Seru bu Tuti ketika ia telah siap menggantikan posisi kak Dinda pasang bumbu.
Jadi setiap kali satu orang keluar sholat, maka kami juga akan berotasi tempat pasang. Menyesuaikan agar tugas pasang kami tetap berjalan dengan baik dan tak memberatkan bagian cekker.
" Nak sudah sehat beneran? Gak mual gak pusing?" Tanya kak Andini seraya memperhatikanku sekilas, nampak memasang garnis dengan penuh semangat, bahkan bisa sesekali membetulkan letak minyak yang agak miring sebelum ku tumpuki dengan garnis.
"Alhamdulillah sudah sehat wal'afiat kak. Sudah seger banget habis wudlu tadi, tapi antri sholat panjang banget, jadi lama." Ucapku panjang lebar tanpa menoleh ke arah kak Andin.
"Buk Tutii.. Anyaa.. minyakku keteteran... tolong bantu isiin yaaa..!!" Teriak Starla dengan panik tanpa menoleh ke kanan ataupun ke kiri.
"Ambilin minyak nak, biar gue yang ngisi kekosongan minyak, lu fokus garnis aja. Bentar tak siap-siap dulu.." Kak Andin memberiku instruksi.
"Oke kak.." Jawabku singkat. Kemudian kak Andini menumpuk garnis di meja konveyor sebelah kanannya.
"Sekarang nak. Go..!!" Secepat kilat aku menciduk memindahkan hampir separuh minyak dari cekungan konveyor depan Lala menyebrang ke cekungan konveyor depan kak Andini dengan kedua telapak tangan. (Bisa bayangin gak kawan?😁😁)
"Stop Nak, cukup, balik pasang garnis.!" Aku langsung memasang garnis kembali begitu mendengar teriakan kak Andini.
"Wah kompak ya sama adik-adiknya yang baru...haha .." Ujar pak Wan ketika berdiri di belakangku, entah mengomentari kami atau anak-anak pasang mesin dua puluh enam. Pak Wan sedang mengurangi speed mesin dua puluh enam, menutak-atik sejenak sampai terdengar helaan napas lega dari mereka yang terengah-engah memasang bumbu.
"Dari tadi dong pak.. haduh.. capek pak lajunya terlalu cepat.." Keluh bu Susi yang sekarang berotasi memasang bumbu sendirian, sementara Feni memasang minyak di bantu kak Sam.
"Haha... maaf maaf.. aku tadi kelamaan di kamar mandi jadi gak tau kalau sudah lewat waktunya mengurangi speed.." Pak Wan kemudian berbalik pindah ke mesin kami.
"Gimana An anakmu?" Teriak pak Wan sembari melempar garnis ke arah kak Andini.
"Apa sih pak? Sudah delapan puluh nih.. Jangan di gangguin dong..." Balas kak Andini sambil tetap fokus merapikan bumbu-bumbu di atas mie di depannya sebelum meluncur masuk ke dalam mesin packing.
Apanya yang delapan puluh sih? Batinku.
Pak Wan hanya tertawa-tawa mendengar ucapan kak Andin, kemudian beliau berlalu kembali ke area depan kartoning setelah berhasil sedikit mengurangi kecepatan laju mesin kami.
"Hai lama yaa.. gak kan.. hehee..." Kak Dinda muncul kemudian langsung kembali ke posisinya memasang bumbu, sementara bu Tuti bergeser ke kanan kembali pasang minyak.
"Udah nak kalian gak usah tukar posisi lagi, tinggal empat puluh menit lagi kita pulang, oke."
"Oke kak..." Aku dan Starla kompak menjawab kak Andini.
Beberapa menit kemudian anak-anak sif pagi mulai berdatangan. Mereka nampak segar dan bersemangat memasuki area packing.
"Pagi semuanyaaaa....!!" Seru kak Linda, Cekker mesin dua puluh tujuh di sif A.
"Lin gantiin bentar dong gue mau makan permen nih.." Kak Linda langsung sigap menggantikan kak Andini.
"Gimana..gimana.. Udah ngantuk belum?" Tanya kak Linda pada kami.
"Ngantuk berat nih kak..." Starla kini yang menjawab.
"Teletubbiess..! pasang yang bener dong.. tinggal lima belas menit lagi pulang ini..!!" Gerutu bu Tuti yang mulai keteteran karena banyak mie yang terlewat tak dipasangi minyak oleh Lala.
"I'm coming...!! Loh kenapa ini bolong-bolong!!" Seru Nina, pasang minyak sif A, dia selalu penuh semangat saat datang. Setelah meletakkan satu plastik besar minyak di samping kanannya dia langsung membantu bu Tuti pasang minyak.
"Buka woii buka lebar matanya...!!!" Teriak kak Andini sambil melempar minyak ke arah Lala yang mulai tak bisa menahan kantuk.
__ADS_1
"Ngantuk kak.. gak nahannn..." Rengek Starla sembari mengerjab-ngerjabkan matanya berulang kali.
"Oke. Go go go! Silahkan pulang..!!" Starla langsung berlari keluar area line sembilan begitu mendengar ucapan Nina.
Kami semua keluar dan mengantri panjang untuk keluar dari area packing ini. Begitu keluar, rasanya sangat sangat lega, bagaikan keluar dari penjara, laksana terbang di atas awan, sungguh damai di hati dan tubuh lelah kami.
Merdeka...!!!
"Lesu amat Mon..lapar lagi?" Tanyaku pada Monik begitu kami bertemu di depan gerbang pabrik.
"Ngantuk banget Nya. Aduh.. mata gue tadi rasanya penuh lem.. lengket banget..." Keluhnya sambil terus berjalan di sampingku.
Kami berjalan pulang sambil bercerita apa yang terjadi sepanjang malam tadi. Monik bilang dia dan satu teman barunya terus dimarahi kakak-kakak senior karena setelah istirahat tengah malam, mereka malah mengantuk sampai pagi.
Kami sampai di bundaran yang penuh dengan pedagang makanan. Aku membeli sate ayam sedangkan Monik membeli gorengan dan pecel lele.
"Nya aku juga mau...!! Tolong beliin yaa..!!" Teriak Kia dari atas balkon.
Astaga. nih anak bikin gue kaget aja teriak-teriak dari atas. Batinku.
Aku menjawabnya dengan mengacungkan ibu jariku ke arahnya. Malas sekali ikutan teriak menjawab si barbie lokal ini.
"Nya gue naik duluan ya. Ngantuk nih..."
"Oke. Tolong antriin gue mandi di kamar mandi atas ya.."
"Siippp..." Monik melenggang masuk kos, sementara aku masih mengantri sate ayam.
"Nya baru pulang sif malam apa gak ngantuk?" Sapa bu Ratmi, pemilik warung kecil di samping kos kami.
"Tadi malam ngantuk bu, tapi sekarang sudah gak lagi. Hehe..." Jawabku sembari menghampiri bu Ratmi, kemudian duduk di depan warungnya yang baru ia buka.
"Mau teh hangat Nya? Aku buatin ya..."
"Boleh deh bu..biar badan makin segar." Bu Ratmi langsung sigap merebus air setelah mendengar jawabanku.
"Ini non satenya..." Pak penjual sate menyodorkan dua porsi sate pesananku.
"Makasih ya pak.." Pak penjual sate tersenyum menerima pembayaranku.
Bu Ratmi kemudian datang membawa teh hangat ke atas meja.
"Bu ini uangnya. Tehnya boleh kubawa ke atas kan bu?" Tanyaku.
"Boleh, tapi nanti gelasnya kembalikan ya.."
"Siap bu....."
Aku melangkah naik ke kos atas. Perlahan menaiki tangga yang entah kenapa terasa sangat berat di kaki.
Kia dan Ike selesai menjemur cucian, Inda baru keluar dari kamar mandi, sementara Monik tengah makan di depan tv.
"Nya lama banget lu, ngapain aja di bawah?" Tanya Monik sambil kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Nih beli teh hangat sekalian.." Ucapku seraya melewati Monik dan menuju ke kamarku.
Aku membuka pintu kamar, meletakkan teh hangat ke atas meja kecil kemudian mengambil baju ganti.
"Kosong nih? Gue mandi ya..." Tanyaku pada Monik.
"Gue yang mau mandi, tapi yasudah lu duluan aja, sarapan gue belum habis." Jawab Monik sembari menghabiskan makanannya.
Aku langsung masuk ke kamar mandi. Mandi dengan cepat kemudian langsung bersiap sarapan.
"Gimana Nya, sif malam pertama lu?" Tanya Kia sambil mengoleskan krim pagi ke wajahnya.
"Gak enak banget Ya. Gue gak terlalu ngantuk sih, tapi malah masuk angin, sampai muntah-muntah lagi." Keluhku seraya menaruh seragam kerjaku ke dalam kardus pakaian kotor.
"Yang bener lu? Terus gimana?" Kali iki Ike yang bertanya.
"Ya gue di suruh keluar ke loker, terus di kasih obat masuk angin sama yang jaga kunci loker." Aku meraih teh hangatku, lalu meminumnya perlahan.
"Tapi lu gak apa-apa kan Nya?" Tanya Kia khawatir.
__ADS_1
"Alhamdulillah gak apa-apa. Sehat selamat sampai kos. Hehe.."
Kia, Ike, dan Inda kembali sibuk bersiap-siap sementara aku mengambil piring, mau sarapan. Kia sudah memasak nasi jadi kami tinggal membeli lauk sesuka hati.
-----Satu jam kemudian---
Anak-anak nonsif sudah berangkat beberapa menit yang lalu. Monik sudah tidur di kamarnya, Zumy sedang mencuci baju, sementara Putri menonton drama korea di ponselnya.
Drrrttt...Drrrttt...
Beberapa pesan chat masuk ke ponselku yang baru kunyalakan data internetnya. Kubaca dan langsung kubalas pesan mereka.
Kak Arya:
Pagi Nya, lagi apa nih? Sudah sarapan?
Pagi juga kak.. Lagi santai di balkon nih.. sudah.. kak Arya sendiri lagi apa? Balasku.
Selly:
Pagi Anya. Besok pagi bisa datang ke tempat Vero gak? Gue jemput pulang kerja, gimana?
Pagi juga kak. InsyaAllah bisa kak, tapi jemput jam tujuh aja dari kos ya kak.. Balasku.
Kak Zidan:
Assalamu'alaikum Anya. Lagi apa? Sudah sarapan belum?
Wa'alaikumsalam kak. Lagi santai aja nih, kebetulan aku sudah sarapan. Kakak sendiri lagi apa? Balasku.
Kia:
Nya, gue punya kejutan buat lo. Stay di bawah ya, jangan tidur dulu..!!!
Kejutan? Kejutan apa Ya? Balasku.
Aku mengernyit heran. Pesan dari Kia sungguh membuatku penasarn. Bola mataku bergerak ke atas, ke kiri lalu kemudian ke kanan.
Apakah Kia membeli barang online lalu aku yang harus membayarnya ketika barangnya sampai di bawah nanti?
Atau dia memang membelinya untukku?
Tapi ulang tahunku masih lama..
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalaku.
Apaan sih Kia ini. Bikin gue penasaran aja. Batinku.
Aku kembali ke kamar. Mengganti celana pendek yang kukenakan dengan celana panjang training. Mengambil outer rajut lengan panjang, memakai pasmina, lalu keluar turun ke bawah.
"Hallo Nafisa sayang... Seger banget.. baru mandi ya..." Aku melihat bapak kos yang baru membuka toko, juga ibu kos yang menggendong Nafisa di sampingnya.
"Ka ka ka ka...Nendon isa ka ka ka.." Nafisa berceloteh lucu sambil mengangkat kedua tangannya ke arahku.
"Eh kak Anya pasti capek habis sif malam. Nafisa sama ibu saja ya.."
"Gak apa-apa bu. Anya juga belum mengantuk. Yuk sayang sama kak Anya dulu."
"Yasudah kalau begitu titip Nafisa ya Nya, kutinggal buka toko dulu.." Aku langsung menggendong Nafisa kemudian duduk di teras toko.
"Ka ka ka tatu, huwa,..." Nafisa berceloteh lucu menghitung permen lolipop di tangannya.
"Satu.. Dua.. Tiga.. Empat... Lima..." Aku ikut menghitung, mengajarinya.
"Fat.. i-ma.. ye ye yee..." Nafisa menirukanku lalu tertawa-tawa sambil bertepuk tangan.
"Pintar sekalii...." Tiba-tiba ada suara renyah, agak ngebas, terdengar manly sekali muncul di depanku.
Siapa ini? Batinku.
Aku mendongak, manatap asal suara di depanku. Sepatu sport biru, celana levis biru, kaos lengan panjang hitam dengan motif garis-garis putih.
"Anya? Bener Anya kan?"
__ADS_1
Aku menatapnya kaku. Wajah bulat baby face dengan hidung sedikit mancung serta lesung pipi yang muncul ketika dia tersenyum.
Bukankan dia.......................