Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
84. Beda.


__ADS_3

Malam semakin larut, namun kesibukan jalanan tak pernah surut.


Anya berjalan sendirian ke kantin. Istirahat tengah malam begini hanya sebagian kecil yang menghabiskannya untuk membeli makanan. Sebagian besar lebih memilih untuk tidur.


"Nya, gak tidur? Hawa lagi dingin banget loh ini..." Sapa kak Sam ketika kami sama-sama mengantri soto ayam.


"Lapar kak. Hehe..kakak sendiri kenapa gak tidur?" Jawab ku datar, hanya menoleh sekilas ke arahnya.


"Gue jarang tidur kalau malam," Ucap kak Sam sembari terlihat memikirkan sesuatu.


"Oh gitu.."


Setelah mendapatkan makanan kak Sam langsung bergabung dengan teman-temannya sesama supplier bumbu, sementara aku duduk sendiri di dekat pintu keluar kantin.


Aku suka ketenangan ini. Membuat ku bisa merenungi segala hal. Membuat ku merasa bersyukur karena masih bisa menikmati lelahnya bekerja di bandingkan orang-orang yang kesusahan mencari kerja.


Membuat ku bersyukur karena bisa menikmati rasa makanan malam di bandingkan orang-orang yang tengah kelaparan.


Membuat ku bersyukur dengan kesehatan yang ku dapat di bandingkan orang-orang yang tengah terlelap dalam sakitnya.


"Nya, boleh gabung?" Kak Sam tiba-tiba muncul lalu duduk di depan ku.


"Boleh..." Ucap ku sedikit kaget karena renungan ku yang tercecer.


"Lu betah kerja di sini?" Tanya kak Sam.


"Yahh seperti yang kak Sam lihat." Jawab ku santai sembari menyelesaikan makan ku.


"Kau ini selalu tampil ceria. Gak centil gak suka kepo apalagi lebay, tapi menyimpan banyak rahasia." Ujar kak Sam sambil bersandar di sandaran kursi dan sedikit menyipit melirik ekspresi ku.


"Kak Sam ganti profesi ya? Jadi detektif atau pakar ekspresi wajah kayaknya cocok, hehe.." Kilah ku seraya terkekeh canggung.


"Entahlah Nya. Gue akhir-akhir ini ngerasa kalau lu itu beda."


''Haduh..kenapa sih adalagi yang bilang kalau gue ini beda? Bedanya apa coba? Apa ini karena cuma gue yang bisa duet lagu Naruto sama kak Sam?!"


"Mungkin...."


"Terus kenapa lagi?!"


"Saat musibah yang menimpa keluarga lu. Saat hampir semua orang membicarakan presdir baru. Lu tetap tenang." Kata-kata kak Sam membuat ku sedikit cemas.


"Ya itu memang pribadi gue, gue gak mau orang laik kasihan dengan hidup gue makanya gue diem aja, tetap netral." Jawab ku sedikit cuek.


"Lalu tentang presdir baru? Apa lu kenal" Tanya kak Sam tiba-tiba.


"Kak Sam kenapa sih? Kenapa tiba-tiba jadi wartawan gini?" Tanya ku mengalihkan perhatian nya.


"Jawab aja kenapa sih? Gue kan penasaran..." Ucap kak Sam sedikit memaksa.


"Mau tau jawabannya?"

__ADS_1


Kak Sam menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban ku.


"Rahasia..hahaha...." Jawab ku sambil terkekeh kemudian berlari meninggalkannya.


Sial. Dia gak ngaku. Batin Sam


"Kenapa lu datang-datang sambil ketawa?" Tanya kak Dewi saat aku datang dan duduk di sampingnya.


"Gak apa-apa kak." Jawab ku singkat.


"Ayo bangun-bangun semuanya...lima menit lagi waktu istirahat selesai..." Seru bapak operator mesin pada kami.


Teman-teman mulai bangun satu per satu, kemudian bersiap di tempatnya masing-masing sebelum konveyor mie ini berputar dan kami kembali bekerja.


Sementara di apartemen Veronika. Ia bersama adiknya telah selesai menganalisa beberapa kemungkinan.


Setelah sore tadi mereka menerima laporan dari semua pengawal bayangan, malam ini mereka langsung mendiskusikannya serta menentuka langkah selanjutnya.


"Ini terlalu beresiko kak." Ujar Gara pada sang kakak.


"Tapi ini yang harus kita lakukan agar kebohongan mereka cepat terbongkar dek.." Tukas sang kakak.


"Bagaimana jika gagal?" Tanya Gara.


"Optimis dong dek. Jangan negatif duluan.!" Protes Vero


"Oke, Gara ikutin skenario kakak. Lalu plan B apa?"


"Akh Carla lagi. Males banget gue kak. Drama queen banget tuh cewek." Keluh Gara.


"Halah...bukannya cocok ya, lu king drama nya, hahaha..." Ejek Vero.


"Ngaco lu kak. Tapi kalau nanti kita kalah start gimana kak?" Tanya Gara.


"Ya elu pikirin dong cara atasinnya. Masak gue mulu yanga ngatur strategi, gimana sih?" Keluh sang kakak.


"Hehe...gue udah pusing mikirin kantor soalnya kak. Oia, minggu depan gue visit ke Kingnoodle, kakak gak ada nitip apa gitu?" Tanya Gara.


"Gak ada. Eh ada sih. Ah gak jadi deh..." Jawab Vero bingung.


"Kenapa sih kak? Aneh..."


"Gue mau nitip sesuatu sama si Anya. Tapi kan lu gak boleh ketemu sama dia dulu..."


"Yaelah itu mah gampang. Serahin aja sama si iwan." Jawab Gara seraya tersenyum sinis.


"Lah iya ya...kanapa gak kepikiran dari tadi.."


"Kakak kebanyakan ngatur drama sih..."


"Ya inikan buat perusahaan kita juga dek.."

__ADS_1


"Iya iyaaa...." Ucap Gara sembari melangkah keluar.


"Dek jangan lupa rencana besok harus berhasil..!!." Teriak Vero dan hanya di acungi jempol okeh sang adik.


"Heran. Punya adik satu kok sifatnya gak beda jauh, jadinya perang terus kan ini..." Gerutu Vero sembari merapikan beberapa berkas penting di atas mejanya.


Drrrttt.... Drrrttt


Ponsel Vero berdering.


Dari salah satu detektif yang is sewa.


"Ya. Ada apa?" Tanya Vero tanpa basa-basi.


"Nyonya besar berhasil menguasai cabang 5 dan 6. Cabang 4 gagal. Tapi dia berhasil membawa surat wasiat yang nyonya maksud ke meja hijau." Lapor sang detektif.


"Astaga...yasudah lanjutkan tugasmu," Ujar Vero sedikit lemas.


Aaaakkkhhhh...mama...kenapa sih harus seperti ini??? Batin Vero.


Di saat yang sama di hotel KV. Carla baru saja sampai setelah sibuk syuting seharian.


"Sayang aku nginep sini ya..." Pinta Hans ketika ia mengantar Carla masuk ke kamar apartemennya.


"Jangan sayang. Ini atas nama papa yang pesan hotel, nanti kalau papa tahu gimana? Nanti kamu bakal penuh kesan jelek loh..." Tolak Carla secara halus.


"Iya sih..aku kan harus jadi calon menantu idaman." Ucap Hans setuju.


"Nah itu tahu..." Carla tersenyum menggoda seraya merapikan dasi Hans.


"Baiklah aku ijinkan kamu dekati presdir sombong itu demi papa." Ujar Hans kemudian mengambil tangan Cerla dan menciuminya.


"Serius? Ah sayang memang lelaki terbaik..." Ujar Carla senang lalu mencium pipi Hans.


"Tapi aku gak tahan sayang. Kamu cantik dan menggoda sekali..." Hans langsung menarik tengkuk Carla dan mulai mencium bibirnya dengan rakus.


"Emmmhh....Hans...." Carla mende*** dan tersenyum senang menikmati sentuhan Hans di leher dan tulang selangka nya.


"Malam ini saja sayang. Oke. Besok pagi aku harus terbang ke negara K untuk mewakili papa menghadiri pernikahan kolega bisnis kami." Lirih Hans dengan suara serak tertahan.


"Baiklah sayang. Tapi jangan lirik wanita lain di sana nanti." Rayu Carla sembari mulai melepas busananya.


"Siap nyonya...." Ucap Hans sembari melucuti busana Carla serta langsung menjamahnya dimana-mana.


Dua sejoli yang dipenuhi hawa nafsu itu terlalu sibuk dengan dunianya hingga mengabaikan tatapan meremehkan dari Jena yang tak sengaja mendengar obrolan keduanya.


Dasar buaya darat. Gampang banget nurut sama kakak tersayang. Batin Jena.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2