Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
17. Isa?


__ADS_3

Bangunan besar yang berjajar menyambut kepulangan kami. Pusat industri kota G memang benar-benar padat. Asap-asap yang mengepul di udara, bau bahan mentah juga bahan kimia campur baur di sekitarnya.


Aku melangkah sendirian. Siska dan Bagas sudah punya tempat kos, sedangkan Dian pulang ke rumahnya.


Aku melewati beberapa ruko sebelum bundaran pertama. Ada satu ruko yang menarik perhatianku, lantai satu merupakan toko besar dengan begitu banyak pembeli. Lantai dua tampak kosong, namun ada beberapa tali yang terhubung dari tiang satu ke tiang lainnya.


Jemuran baju kah?


Tiba-tiba ada seorang anak balita yang berlari keluar dari toko. Reflek aku menangkapnya karena dia terus berlari sampai mendekati jalan raya.


"Halo adik kecil mau kemana hayo..." ucapku setelah dia tenang dalam dekapanku. Dia hanya menunjuk-nunjuk arah bundaran. Tak ada apapun di sana, membuatku mengerutkan kening, bingung.


"Nafisa ya Allah jangan lari-lari nak..." Teriak seorang ibu dengan tergopoh-gopoh berlari keluar dari toko. Ibu ini membawa makanan bayi di tangannya, tak lupa kain gendongan yang menempel di pundaknya.


"Nana mah nana..." ucap anak balita ini sambil tetap menunjuk bundaran di depan sana.


"Bu sepertinya putri ibu maunya di suapi di bundaran sana." Ucapku mulai mengerti apa yang dimaksudkan si kecil dalam gendonganku.


"Nanti ya dek, tunggu kakak pulang dulu. Sekarang masuk toko lagi ya, masih banyak pembeli, nanti mama kasih mainan lagi, ya?" Bujuk ibu ini seraya menyodorkan tangannya ke putrinya.


"No no no." Ucap si balita sambil melingkarkan tangannya ke leherku. Aku tertawa geli melihat tingkahnya. Teringat Fani adikku semasa kecil dulu.


"Aduh nak maafin anak tante ya, kamu jadi gendong dia, kamu mau pulang kerja kan ya?" Ucap sang Ibu kuatir.


"Gak papa bu, saya santai kok. Adek mau kakak suapi di bundaran sana gak? Tapi adek duduk manis ya biar makin cantik." Ucapku sambil mengelus punggung si kecil.


"Mauuuuuu...." Teriaknya penuh semangat. Reflek aku langsung menutup mataku, kaget dengan suaranya yang melengking di telingaku.


"Aduh nak gak usah, nanti ngerepotin kamu." Ucap si Ibu sambil sesekali menoleh ke arah tokonya.


"Sudah tidak apa-apa bu, kebetulan saya juga punya adik di rumah yang mirip putri ibu," Ucapku kemudian mengambil makanan si balita dari tangan ibunya.


"Yasudah kalau begitu terimakasih ya nak. Ibu tinggal ke toko dulu. Nanti kalau sudah selesai silahkan temui saya di dalam." Ucap sang Ibu lalu berjalan kembali ke tokonya.


Si balita masih asik dalam gendonganku. Sesekali dia bergumam sesuatu, membuatku tersenyum geli membayangkan masa kecil Fani.

__ADS_1


Aku mendudukkannya di undakan di tengah bundaran. Dia masih bergumam-gumam tak jelas tapi tetap tenang duduk di hadapanku.


"Adek namanya siapa?" Tanyaku mulai mengajaknya bicara.


"Isa. Mamah oko lamai, isa using." Jawabnya sambil masih bergumam tak jelas.


Oh namanya isa, toko mamanya ramai jadi dia merasa pusing. Haha lucu sekali anak ini. Batinku.


Aku menyuapinya makan sambil mengajaknya bicara. Balita ini mungkin masih usia dua tahun lebih sedikit. Super aktif dan maunya ditemani. Tak heran jika dia merasa pusing karena di dalam toko itu cukup ramai.


Kulihat sang ibu kembali keluar toko untuk melihatku, lalu kembali masuk lagi ke tokonya. Ah rupanya beliau tak tega meninggalkan anaknya padaku.


Makanan sudah habis. Si balita masih asik bercerita sambil sesekali menguap. Lucu sekali.


"Kaka cucu mamah. Kaka main isa. Isa mau cucu." Celoteh si balita sambil menyodorkan tangannya ke arahku.


"Iya sayang, ayo kita ke toko mama ambil susu." Ucapku kemudian menggendongnya lagi.


Aku berjalan pelan sambil mengayunkan pelan si balita agar dia mengantuk. Dan berhasil. Sampai toko dia mulai menguap lebar. Sang Ibu dengan tergopoh menghampiriku.


Aku masuk ke ruangan dalam mengikuti si Ibu. Ternyata si ibu sudah menyiapkan botol susu anaknya di meja kecil di samping box tempat tidur si balita.


"Bu, saya pamit pulang saja ya bu," Pamitku.


"Eh nak tunggu. Ayo makan siang dulu sama ibu. Nama ibu Ningsih, nama kamu siapa?" tanya si ibu.


"Saya Anya bu. Maaf tapi saya pulang saja bu, sudah ditunggu teman di kos." Pamit ku lalu melangkah keluar toko.


Masih ada tiga orang yang berbelanja di toko ini, ada dua orang wanita yang melayani pembeli. Tiba-tiba ibu Ningsih mengejar ku yang sudah selangkah di luar toko.


"Nak ini buat camilan di kos ya. Mohon diterima," Ucapnya seraya menyerahkan bungkusan plastik hitam ke tanganku.


"Apa ini bu? Gak usah bu, saya ikhlas tadi main sama isa. Dia lucu sekali." Ucapku seraya mengembalikan bungkusan itu ke tangan bu Ningsih.


Ibu Ningsih tersenyum senang, namun tetap meletakkan bungkusan itu ke tanganku.

__ADS_1


"Ibu tau kamu ikhlas, ini cuma camilan buat kamu di kos. Kamu anak baru kan? Baru diterima kerja kan? Anggap saja ini rejeki kamu sebagai ucapan selamat datang di kota ini." Ucapnya kemudian berlalu dari hadapanku


Aku tersenyum lantas mengucapkan terimakasih pada bu Ningsih. Ah ternyata selalu ada orang baik di manapun aku berada. Ucapku dalam hati.


Aku kembali berjalan pulang ke kos Anis. Pukul 15.21 aku sampai di kos. Melepas sepatu juga kaos kaki, lalu duduk di teras meluruskan kaki.


"Baru pulang Nya? Capek gak? Lu udah di kasih tau besok kerja di bagian mana?" Tanya Anis yang baru masuk setelah membeli sesuatu dari luar.


"Iya, lumayan capek sih tapi asik juga. Pabriknya gede banget Nis. Lu bagian apa? Gue belum di kasih tau besok bagian apa tapi tadi udah di kasih seragam sama ID Card," Jawabku seraya beranjak mengikuti Anis masuk ke dalam kos.


"Gue packing N-1, mungkin lu besok bakal di N-2 soalnya tuh gedung masih baru masih butuh banyak personil." Ucap Anis kemudian duduk di ruang tengah.


"Lumayan jauh tuh dari gerbang kalau ke N-2. Oia nis, nih gue dapat camilan gratis," Ucapku seraya meletakkan bungkusan plastik hitam ke hadapan Anis.


"Camilan gratis? Kok bisa?" Tanya Anis heran.


"Iya tadi pas gue pulang ada anak balita kabur dari toko di ruko selatannya bundaran. Nah nih anak nemplok sama gue, yasudah gue ajak main sama suapin bentar. Terus pas pulang gue di kasih camilan sama ibunya." Jelasku kemudian masuk ke kamar mengambil handuk dan perakatan mandi.


"Oh anaknya bu Ningsih? Haha bisa aja lu dapat gratisan." Ucap Anis sambil terkikik geli. Mungkin membayangkan aku bermain dengan balita lucu.


"Udah jangan ketawa mulu. Makan aja, rejeki anak sholihah itu. Gue tinggal mandi dulu ya." Ucapku lalu melenggang masuk ke kamar mandi.


"Siap nyonya." Candanya lalu mulai membuka bungkusan di hadapannya.


Di kamar mandi kudengar beberapa penghuni kos mulai berdatangan. Ada yang ikut makan bersama Anis, ada yang langsung ke kamar, ada yang ke dapur.


Mereka begitu rukun. Seperti keluarga.


Hmmmm bagaimana bila nanti aku mencari kos sendiri? Apa bisa se-rukun dan se-kompak mereka?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2