Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
89. Kedatangan Carla.


__ADS_3

Suasana istirahat siang begitu ramai. Para karyawan berbondong-bondong menuju kantin untuk mendapat jatah makan siang mereka.


"Kia, lu udah liat presdir kita belum?" Tanya Ike ketika mereka menikmati makan siang bersama.


"Udah sih sekilas, tapi...kayaknya familier ya.. kayak pernah ketemu, tapi gue lupa dimana.." Jawab Kia sembari menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Ah lu mah tiap cowok ganteng juga pasti bilangnya pernah lihat." Tukas Ira seraya meminum es teh manis pesanannya.


"Eh beliau kan selama ini di luar negeri, terus baru kali ini kan kesini, jadi mana mungkin elu pernah ketemu..." Ujar Inda berspekulasi.


"Iya juga ya...."


Tapi beneran gue lupa dimana pernah ketemu. Haduh kenapa gue nggak ingat sih? Batin Kia.


Sementara itu di kamar kos. Anya tengah berbahagia ketika mendapat kabar bahwa adik dan ibunya kini telah keluar dari rumah sakit.


Mereka tinggal di rumah bibi Mina karena rumah mereka telah di sita oleh istri alm. Juragan Warno. Hutang dan bunga yang menggunung mengakibatkan mereka tak mampu lagi membayar hutang sehingga rumah itulah satu-satunya harta yang dijaminkan oleh ayah Anya saat sebelum kecelakaan itu terjadi.


Sementara itu di sebuah bandara di kota G, seorang wanita cantik dengan body goals yang sempurna tengah jadi pusat perhatian. Ia berjalan berlenggak-lenggok santai seakan menikmati tatapan memuja dari orang-orang di sekelilingnya.


"Miss Carla. Silahkan..." Sapa seorang supir sembari membukakan pintu belakang untuk sang nona.


"Langsung ke pabrik Daddy ya..." Carla tersenyum tipis, kemudian masuk ke mobilnya.


Drrrttt...Drrrrttt


Daddy is calling.


"Yes Dad, Ala sudah sampai, sekarang langsung otw ke tempat Daddy." Jawab Carla tanpa basa-basi.


Hmmm gue penasaran gimana sih tampang presdir muda? Apa dia lebih tampan dari Bram? Atau lebih hot dari Nicho? Batin Carla.


Setengah jam kemudian Carla sampai. Ia masuk ke lobi kantor dengan penuh percaya diri seolah ini adalah kantor milik ayahnya.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu nona?" Sapa seorang resepsionis dengan ramah.


"Saya mau ketemu Daddy. Dimana ruangannya?" Tanya Carla dengan nada sedikit angkuh.


"Maaf atas nama siapa? Dan nama Daddy anda siapa nona?" Tanya sang resepsionis dengan nada tetap ramah.


"My name is Carla, and you know Mr. Smith? He's my Daddy.." Jawab Carla dengan bahasa inggris yang fasih, membuat sang resepsionis menghela napas menyetok kesabaran.

__ADS_1


Sabar. Sabar. Sabar. Anggap saja ini pahala, tetap rileks, santai, biarkan nona cantik ini lewat dan selanjutnya semua di urus asisten pak Kris. Fuh fuh fuh. Batin sang resepsionis.


"Of course. Nona silahkan naik ke lantai dua, Mr. Smith masih meeting dengan presdir kami di ruangan beliau." Jawab sang resepsionis dengan senyum paksa di bibirnya.


"Okay.." Carla langsung melenggang pergi naik ke lantai dua. Meninggalkan si resepsionis yang kini menggerutu kesal dengan sikapnya.


"Siapa Ta? Hot banget" Tanya Agung, kepala divisi gudang yang sering wara-wiri mengecek persediaan pengiriman bahan baku.


"Anaknya Mr. Smith. Cantik, sexy, kaya, kelihatannya juga pinter, tapi sayang attitude nol, huuffft..." Gumam sang resepsionis setelah melihat Carla menghilang di balik lift.


"Ngiri lu? Jangan nilai sembarangan.." Cibir Agung sembari menandatangani berkas surat jalan beberapa bahan baku yang baru sampai.


"Ngiri? Helloo..nganan aja kali pak, buang-buang energi aja pakai ngiri sama cewek model begitu." Kilah Sang resepsionis sembari mendelik ke arah Agung.


"Well...terserah lu aja deh, gue cabut dulu. Eh nanti kalau ada bu Ester tolong lu kasih ini ke beliau." Pamit Agung setelah meletakkan sebuah dokumen pengiriman di atas meja.


Halah.. dimana-mana cowok sama saja, selalu lihat cewek dari covernya doang. Batin sang resepsionis.


.


.


"Thanks.."


"Hello my little queen...bagaimana perjalananmu?" Sambut Mr. Smith ketika Carla muncul.


"Very nice Dad.." Carla berhambur ke pelukan sang ayah, mencium pipi kanan-kiri, kemudian menjawab pertanyaannya dengan riang gembira.


"Wah ternyata nona Carla lebih cantik dari fotonya ya..." Puji sang asisten sembari menyenggol pelan lengan sang presdir.


Hot banget nih. Tinggi, putih, sexy, berisi, cantik, smart, kaya, duhh apa kekurangannya ya? Kok lebihnya banyak banget, terutama ukuran dadanya. Batin sang asisten.


Sementara sang presdir hanya melirik sekilas, dan masih fokus membaca dokumen kerjasama antar perusahaan mereka.


"Benarkah? Apa anda stalking ig saya?!" Ujar Carla dengan nada centil.


"Ah-haha. Sepertinya anda memang cerdas nona, sejak tuan Smith bilang proyek kali ini putrinya yang akan menghandle, maka saya otomatis ingin mengenal bagaimana sosok little queen dari tuan Smith ini kan." Jawab sang asisten dengan gaya cassanova nya.


"Jangan cuma penampilan, kinerja juga dong. Dan ini..pasti presdir muda yang sempat viral itu kan.." Ujar Carla mengalihkan pembicaraan.


"Selamat datang di salah satu pabrik kami nona. Panggil saja Krisna." Ucap sang presdir sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah Carla.

__ADS_1


Carla tak hanya menyambut uluran tangan Krisna, namun langsung menarik, memeluk kemudian berniat cipika-cipiki seenaknya.


Srreeet, bug.


Presdir reflek mundur, kemudian merentangkan punggung telapak tangannya ke wajah Carla.


"Maaf nona, presdir kami anti bersentuhan dengan sembarang orang, terutama yang baru dikenalnya." Ujar sang asisten seraya menjauhkan Carla dari sang presdir.


"Oh. Oke. " Jawab Carla kaku. Tak menyangka jika omongan sang Daddy ternyata benar adanya.


Sial. Ternyata dia memang seperti dewa. Tampan tapi tak tersentuh. Batin Carla.


"Silahkan duduk nona, mari kita bahas proyek ini..." Ucap sang presdir dengan wajah datar, tak memperdulikan ekspresi Carla yang kini mulai kesal sekaligus penasaran.


"Baiklah......" Jawab Carla pasrah.


Huh. Lihat saja nanti, lu akan bertekuk lutut di hadapan gue seperti cowok lain yang awalnya jaim banget di depan gue. Batin Carla.


Mereka kemudian terlibat pembicaraan serius. Hingga waktu makan siang pun tiba.


"Tuan, nona, mari kita makan siang bersama. Ah iya.. Nona tak keberatan bukan jika kita makan di kafetaria kantor ini?" Sang asisten berinisiatif mengajak makan, agar kerjasama ini berjalan semakin lancar dan menguntungkan.


"No, saya bisa makan dimana saja asalkan bersih." Jawab Carla sembari mengemasi perlengkapannya ke dalam tas.


"Baiklah.. Mari silahkan ikuti saya.." Sang asisten kemudian memimpin jalan.


Saat turun hampir semua laki-laki memandang takjub dengan sosok Carla. Banyak pula di antara mereka yang hanya beraji curi-curi pandang ke arahnya.


"Siapa sih? Bening banget..''


"Gila bro, bikin panas dingin..''


"Seksi man.. Depan belakang mantap.."


Begitulah beberapa komentar mereka ketika Carla dan rombongan telah lewat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2