Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
80. Konferensi pers.


__ADS_3

Kilatan demi kilatan cahaya silih berganti berkelebat ketika sang Presdir beserta jajarannya memasuki ruang aula.


Beberapa wartawan telah siap dari satu jam yang lalu. Mengambil posisi paling strategis menurut mereka agar gambar serta berita kali ini tersaji dengan apik ke tangan masyarakat.


Setelah MC naik, mengatakan sepatah dua patah kata, kini giliran bos besar yang mulai berbicara, sang presdir yang penuh wibawa dan kharisma, meski usianya tak lagi muda.


Dengan tegas mengumumkan tentang pengunduran dirinya dan digantikan oleh sang putra.


Kini, perhatian awak media sepenuhnya terpusat pada seseorang yang mulai berdiri dari duduknya. Lampu flash perlahan berkelap-kelip, semua kamera tertuju untuk mengabadikan momen ini.


Kemunculan sang presdir muda, Krisna Hanggara.


Ia menerima mikrofon yang disodorkan sang papa, lalu mulai akan mengatakan sesuatu.


"Matikan flash kalian, atau silahkan keluar," Ujar sang presdir muda dengan suara tajam dan terkesan mengintimidasi, membuat awak media perlahan patuh menuruti perkataannya.


"Terima kasih atas kerjasama kalian. Assalamu'alaikum, selamat siang semuanya, saya Krisna Hanggara, siap menggantikan papa untuk memimpin HG Corp." Ujar nya mantap, kemudian menyapukan pandangannya pada semua yang hadir di hadapannya.


"Mungkin beberapa hari ke depan akan ada peraturan baru, ataupun beberapa perubahan kecil. Mohon dukungannya dan terima kasih atas kerja keras kalian selama ini." Lanjut sang presdir muda dengan lantang dan penuh aura kepemimpinan.


Hampir semua wanita menatap takjub, bahkan menganga dengan penampilan dan kata-kata sang presdir. Beberapa bahkan terus mengambil foto dengan kamera ponselnya, juga terus menyanjung seakan sang presdir adalah idola baru mereka.


"Astaga...itu presdir cocok banget jadi imam gue..."


"OMG keren banget....."


"Duhh...aura gantengnya bikin gue merinding..."


Sementara itu di pabrik dan beberapa kantor cabang HG Corp juga tak kalah heboh ketika mereka menyaksikan konferensi pers tersebut dari tayangan live di televisi.


"Ah...akhirnya bos besar pensiun juga, berasa di sidang gue tiap kali masuk ke ruangannya"


"Ini nih keluar kandang singa kecebur kolam buaya namanya...."


"Gila, anaknya lebih ganteng dan kliatan lebih songong tuh..."


Komentar beberapa staf pria silih berganti memenuhi riuhnya suasana istirahat siang. Tak ada habisnya mereka membicarakan tentang bos besar dan sang presdir muda tersebut.


.


.


.


"Nya...bangun..!!" Teriak Kia dan Inda hampir bersamaan.

__ADS_1


"Bentar, lima menit lagi ya.." Sahut ku malas.


"Astaga...nih anak belum bangun juga?" Tanya Monik yang kini masuk ke kamar kami.


"Nya udah jam sembilan ini...." Giliran Ike menggelitik telapak kaki ku.


"Aaaaaa...geli Ke..geliii.....iya iya gue bangun..." Ujar ku dengan wajah cemberut menatap teman-teman yang kini menertawakan ku.


"Hahaha...akhirnya bangun juga...buruan siap-siap, gue udah hampir selesai nih..'' Ucap Yessi seraya merapikan ekor alisnya.


"Iyaaaaaaa....." Sahut ku pasrah sembari melangkah keluar menuju kamar mandi.


Aku bersiap dengan cepat. Hanya berganti baju seragam, memastikan perlengkapan benar untuk malam ini, dan cukup memakai bedak tipis disertai liptint warna nude yang cukup menyamarkan tampilan muka ngantuk dari wajah ku.


"Heh...cepet amat. Lu gak pakai lipstik?" Tanya Yessi ketika kami memakai sepatu bersamaan.


"Buat apa? Udah malam ini Yes, gak perlu pakai warna mencolok kali..." Jawab ku cuek.


"Ayo gaes berangkat..." Seru Monik yang tengah melangkah mendahului kami.


"Oke.... "


Di perjalanan kami bertemu dengan beberapa staf kantor yang tengah membicarakan pengangkatan presdir baru mereka. Presdir muda yang katanya sangat cool dan berkharisma.


Monik dan Yessi tak kalah antusias menceritakan tentang sang presdir, hingga kami sampai di depan ruang ceklok.


"Gue lihat di youtube, sumpah keren banget. Aura nya, kata-katanya, tatapannya tajem.." Monik menambahi dengan lebay.


"Gue duluan gaes. Nya, diem aja lu dari tadi, awas kesambet nih anak Mon..." Pamit Yessi seraya berbelok menuju N-1.


"Sip. Lu kenapa Nya? Masih ngantuk?" Tanya Monik.


"Hmmm...." Gumam ku malas. Entah kenapa rasanya malas sekali mendengar semua orang memuji-muji Gara.


"Nih lihat nih presdir baru kita, lebih handsome dari Arya Kamandanu lu itu tuh.." Ucap Monik sambil menyodorkan ponselnya pada ku.


Aku melihat sekilas, lalu menghela napas lesu.


Emang ganteng, tapi sayangnya resek dan suka seenaknya ngatur. Nih Mon-Mon juga ngapain sih pakai bahas kak Arya segala. Batin ku.


"Gimana? Ganteng kan?" Ujar Monik seraya menaik-naikkan sebelah alisnya.


"Iya." Jawab ku singkat.


"Heh kok lu B aja sih? Parah lu Nya." Gerutu Monik.

__ADS_1


Akhirnya kami sampai di N-2. Monik masuk terlebih dahulu, sedangkan aku memilih ke toilet sebentar.


.


.


.


"Sial. Kenapa si tua bangka itu malah memunculkan Kris?" Teriak seorang wanita paruh baya dengan frustasi. Ia gagal memasuki kantor pusat HG Corp meski sudah malam karena adanya peraturan baru dari sang presdir muda.


"Maaf nyonya, tidak ada yang boleh memasuki kantor pusat selain yang mempunyai id merah meski itu adalah keluarga." Ucapan tegas dari pengawal yang berjaga masih terngiang di telinga wanita paruh baya itu.


"Menarik. Dia lebih licik dari ku....." Gumam wanita itu seraya menyeringai lebar.


"Kenapa lagi sayang?" Tanya seorang lelaki yang baru masuk ke apartemennya.


"Rencana ku gagal. Tua bangka itu ingin bermain-main dengan ku." Jawab sang wanita dengan sedikit emosi.


"Well. Ku dengar putra nya yang langsung menggantikan. Aku melihat konferensinya tadi siang. Ku rasa kita bisa memanfaatkan putranya, bukankah dia masih muda" Ujar sang lelaki seraya melangkah ke arah sang wanita dengan gaya sombong nya.


"Putranya bahkan lebih licik dari tua bangka itu baby." Keluh sang wanita dengan nada manja.


"Oya? Jadi karena dia, kau tak bisa masuk kantor pusat?" Tanya sang lelaki menyelidik.


"Sudahlah jangan di bahas. Aku sedang kesal, kemarilah, layani aku..." Ujar sang wanita sembari membuka resleting atas gaun yang ia kenakan.


"Of course baby." Lelaki itu kemudian semakin mendekat, melingkarkan lengannya ke pinggang sang wanita dengan sedikit kasar.


"Emmhh...'' Sang wanita mulai mendesah pelan ketika bibir sang lelaki mengecup daun telinganya, lalu merambat kemana-mana.


"Besok selidiki semua peraturan batu yang dia buat. Aku tak mau menjadi bodoh seperti kemarin." Ucap sang wanita sembari melepas kancing atas kemeja sang pria.


"Okay..Sssshhh..Ahh...." Lenguh sang lelaki ketika tangan sang wanita mulai menjamah bagian bawahnya. Mengusap, membelai, kemudian melepas busananya.


Jauh di seberang apartemen itu, Veronika mendengarkan semua percakapan mereka dengan sangat jelas.


Ia cukup menganga, sekaligus merinding mendengar ucapan serta ******* yang perlahan menggema memenuhi gendang telinganya.


"Astaga..jadi dia ini mama apa bukan sih? Kenapa jadi vulgar banget?!" Gerutu nya sembari melepas earphone yang menempel di telinganya.


"But, wait. Tunggu dulu, sepertinya rencana Gara mulai menghasilkan titik terang ini." Gumam Veronika seraya tersenyum smirk.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2