Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
90. Mini camera spy


__ADS_3

Krriiiiiiiiiiiiinnnnnnggggggg


Bunyi nyaring bel tanda pergantian sif menggema ke seluruh penjuru pabrik. Wajah-wajah lelah para pekerja sif satu kini berjejal, mengantri memanjang di depan mesin ceklok keluar.


Namun tiba-tiba semua berdiri mematung dengan pandangan lurus ke arah depan lobi utama kantor.


Sang presdir keluar beserta beberapa rombongan pria dan wanita berjas rapi. Mereka berjalan pelan, seirama, dan juga ekspresi datar yang sama, lalu berhenti tiga meter dari wilayah mesin ceklok.


Astagaaaa...ganteng banget. Batin pekerja wanita yang tengah mengantri ceklok.


OMG kerennya...lebih tampan dari foto-fotonya. Batin wanita lainnya.


Sial. Kenapa aura pemimpinnya kuat banget. Ini mah alamat nggak bisa ngomong kalau di depan dia. Batin pekerja pria yang juga mengantri ceklok.


Busyet. Itu muka apa porselen antik. Perfect. Bening gak ada noda sama sekali. Batin pria lainnya.


"Siang semua...terima kasih atas kerja keras kalian hari ini..." Sang asisten mulai membuka suara mewakili sang presdir muda. Sementara semua orang terdiam menikmati wajah tampan sang presdir.


"Goodjob semua, mulai bulan ini gaji kalian akan naik 10%". Ujar sang presdir sembari tersenyum ke arah para pekerja.


Hening.


Sepuluh detik.


Tiga puluh detik.


Ini orang-orang waras atau gimana sih? Kenapa malah diem semua? Batin sang asisten.


Satu menit.


Kenapa malah Bengong? Gue gak salah ngomong kan tadi? Batin sang presdir.


"Ah-haha.. Te-terima kasih pak.." Akhirnya ada yang mulai membuka suara.


"Iya pak, terimakasih.." lanjut yang lain.


"Arigato pak Kris.." Lanjut perwakilan kantor N-1.


"Thank you Mr." Lanjut perwakilan kepala gudang.


Akhirnya mereka semua bersahut-sahutan mengucapkan rasa terima kasih mereka. Ceklok pun berlanjut setelah sang presdir beserta rombongannya meninggalkan tempat itu.


Sementara itu di kantor pusat HG Corp. Veronika tengah memilah beberapa dokumen yang menurutnya sedikit janggal.


"Maaf nona, ini laporan yang anda minta kemarin" Laila, sang asisten pribadi masuk, lalu menyerahkan sebuah berkas kepada sang nona.


"Goodjob..'' Vero lantas menyingkirkan beberapa berkas yang sempat ia pilih, lalu beralih membaca berkas yang di berikan Laila.


Vero kemudian membaca halaman pertama.


Bagus. Sesuai prediksi gue. Semua ini dalangnya adalah dia. Batin Vero.


Lanjut halaman kedua.


Dua puluh detik kemudian..


"What the.....!" Umpat vero menahan geram, ia mengepalkan tangannya kuat, seakan menyalurkan kemarahan sekaligus kekecewaan yang kini hadir di hatinya.


"Nona tenang nona..." Seru Laila reflek memegang lengan Vero serta mengelusnya memberikan ketenangan.


"Gue bener-bener nggak nyangka La..." Air mata Vero perlahan turun. Mengalir santai disertai isakan kecil menyayat hati.


"Sabar nona..." Laila terus mengelus lengan Vero, lalu menyandarkan kepala Vero ke bahunya hingga perlahan isakan itu mereda dan akhirnya Vero terlelap.


Laila terdiam cukup lama, sembari membaca dokumen yang membuat sang nona menangis menahan amarah.


Huh. Pantas saja nona begitu syok. Ini sih di luar prediksi tuan besar juga. Batin Laila.

__ADS_1


Tak lama Laila pun membaringkan Vero dengan nyaman, lalu memanggil dokter keluarga dan melaporkan kejadian kali ini kepada bos besarnya yang tak lain adalah ayah Veronika.


"Hmmm jadi begitu. Permainan yang cantik.." Gumam pelan sang bos besar setelah mendengar seluruh cerita Laila.


"Tuan, dokter Imran sebentar lagi sampai. Bagaimana jika tuan Dan yang menemani nona Vero?" Ujar Laila sedikit takut.


"Of course. Apa rencana mu?" tanya sang bos.


"Membobol keamanan gudang mereka serta membawa kembali nyonya besar." Jawab Laila dengan suara mantap.


"Jangan gegabah. Jika kau tertangkap maka mereka semua akan tahu rencana kita. Apa Kris tahu hal ini?"


"Belum tuan, saya belum menghubungi tuan muda."


"Baiklah, setelah membaik, bawa Vero pulang, biarkan Dan mengurus sisanya."


"Baik tuan." Laila menghela napas panjang. Ia pun sama sekali tak menyangka jika kehidupan sang nona akan dipermainkan seperti ini.


"Laila...bagaimana bisa Vero kolaps lagi?" Suara dokrer Imran yang baru datang membuyarkan lamunan Laila.


"Ada kabar buruk dok..sebentar," Laila dengan cekatan membersihkan dokumen di atas meja, kemudian mempersilahkan sang dokter untuk segera memeriksa sang nona.


"Tekanan darahnya rendah sekali..bisa kau lepaskan outer Vero ini biar tubuhnya lebih nyaman, aku akan menyiapkan infus vitamin." Sang dokter berbalik untuk menyiapkan jarum infus.


"Baik dok..." Laila melepas blazer silver favorit Vero, kemudian menggulung lengan kemeja sebelah kanannya sebatas siku.


"Biarkan dia bedrest ya.. Aku khawatir depresinya akan kambuh jika dia tetap memaksa beraktifitas." Ucap dokter Imran setelah berhasil memasang infus di pergelangan tangan kanan Vero.


"Siap dok, akan saya pastikan nona bedrest setelah ini." Ujar Laila patuh.


"Laila dimana Vero?" Pak Dan muncul dengan raut wajah khawatir.


"Dia sudah baikan Dan, tenang saja. Tapi pastikan dia bedrest paling tidak dua hari, oke?!'' Kali ini pak dokter yang menjawab.


"Oh baiklah, thanks bro..." Pak Dan mengantar dokter Imran keluar.


Kembali ke kantor PT. KingNoodle.


"Mereka memasang ini tuan. Sejenis camera cctv A9 mini spy milik kita, namun ini lebih canggih. Bisa menangkap gambar dan suara dengan sangat jelas meski dalam gelap dan bisa bertahan lebih dari sepuluh jam." Jelas Iwan sembari meletakkan beberapa kamera mini seukuran kuku ibu jarinya.


"Dimana saja kau menemukannya? Apa di sini juga ada?!" Tanya sang asisten khawatir.


"Lokasi pertama seperti yang di ketahui nona Anya, kemudian di depan gudang N-1, depan lobi kantor, depan rumah tuan besar, depan rumah nona Vero, terakhir di depan lobi kantor pusat." Jawab Iwan.


"Benar-benar licik. Kau bisa mengoperasikan alat ini?" Tanya sang presdir.


"Bisa tuan." Jawab Iwan bangga.


"Beli sepuluh dan pasang di wilayah yang aku tentukan.'' Perintah sang Presdir.


"Baik tuan. Mmmm....bolehkah alat ini saya miliki?'' Ujar Iwan ragu.


"Bawa saja. Apa rencanamu?"


"Saya dan tim kecil akan mencoba meng-hack kamera ini dan melacak apa yang diinginkan musuh sekaligus bagaimana mengecoh mereka." Jawab Iwan seraya tersenyum smirk.


"Good. Gue suka gaya lu. Nggak salah paman Dan naikin gaji kalian lebih tinggi." Puji sang asisten seraya tersenyum senang.


"Terima kasih bos. Satu lagi, tim kami sudah berhasil mengamankan ayah nona Nuriva." Iwan kembali tersenyum smirk melaporkan tugasnya.


"Bagus. Silahkan kembali dan jangan lupa dengan tugas utama kamu." Ucap sang presdir ikut tersenyum.


"Siap tuan. Permisi." Iwan memasukkan semua kamera mini spy ke dalam ranselnya kemudian keluar ruangan sang Presdir.


Tugas utama. Tugas yang mana?! .........


Aaa...tugasku adalah mengamankan Anya! Astaga, gue sampai lupa. Semoga si Anya nggak kemana-mana biar gue aman. Batin Iwan.

__ADS_1


"Kenapa lu?" Suara sekertaris presdir membuyarkan lamunan Iwan.


"Eh, nggak. Gue nggak kenapa-napa. Gue balik dulu ya. Bye..." Iwan langsung melenggang berlari secepat kilat dan menghilang di dalam lift.


"Dasar aneh. Untung pinter, jadi nggak di tendang kan di sini. Huft.." Gumam sang sekertaris sambil geleng-geleng kepala.


Dua menit kemudian..


"Maaf apa pak presdir ada?" Seorang wanita berseragam produksi tiba di meja sang sekertaris.


"Ada. Siapa?"


"Saya Nuriva. Tadi dapat...."


"Oh iya, silahkan masuk saja nona, anda sudah ditunggu presdir di dalam.." Potong sang sekertaris sembari berdiri, lalu mengantar Nuriva ke ruangan sang presdir.


Aduh...ada apa sih ini? Gue jadi deg deg an banget ini. Batin Nuriva.


"Masuk."


Nuriva perlahan melangkah dengan sedikit ragu dan takut. Keringat dingin tiba-tiba berkumpul di kedua telapak tangan dan keningnya bersamaan.


"Nuriva, 21 tahun, mahasiswi ekonomi semester tujuh. Hei jangan takut nona, kami tidak menggigit." Ucap sang asisten ketika Nuriva sampai di depan meja presdir.


"Pras hentikan." Sahut sang presdir. "Silahkan duduk nona.


"Maaf, sebenarnya ada apa pak?" Tanya Nuriva sedikit salah tingkah.


"Ehm..begini nona, kami sudah tahu tentang apa yang dilakukan Lilis, terhadap ayahmu dan juga dirimu tadi pagi."


"Maksudnya?"


Bagaimana bisa? Bukankah tak ada cctv maupun saksi satu pun? Tunggu..jangan-jangan.. Batin Nuriva.


"Tepat sekali. Nona Anya adalah saksi kunci kami. Apa dia teman anda?" Ucap sang asisten seakan mengerti apa yang dipikirkan Nuriva dilihat dari ekspresinya.


"Anya? Siapa? Apa gadis yang memberiku jaketnya?!" Tanya Nuriva tak mengerti.


Kris dan Pras berpandangan, lalu dengan kompak menghela napas bersama.


"Baiklah biar saya jelaskan. Nona Anya adalah salah satu karyawan khusus kami, dan harap nona merahasiakannya dari siapapun." Sang asisten akhirnya mengeluarkan statemen paling logis karena tahu Anya bukanlah teman Nuriva.


"Ba-baik pak."


"Kami sudah mengamankan ayahmu. Juga menghukum Lilis atas tindakannya. Dan sekarang kamu temui bu Ester, minta bimbingan pada beliau untuk mempersiapkanmu menggantikan posisi Lilis." Lanjut sang asisten.


"A-apa?!" Sahut Nuriva sedikit syok.


"Selamat atas loyalitas kamu untuk perusahaan ini. Kamu naik jabatan menggantikan posisi Lilis, sedangkan Lilis turun menjadi penjaga loker." Jelas sang presdir sembari menyodorkan tangan kanannya.


"Serius pak? Ya Allah..terima kasih pak. Terima kasih." Nuriva berdiri dan langsung menjabat tangan sang presdir dengan air mata haru.


"Eh sudah-sudah, lepasin tangan presdir.!" Seru sang asisten berlagak cemberut.


"Ah iya pak maaf. Sekali lagi terima kasih pak." Nuriva menghapus air matanya sembari tersenyum senang.


"Pras.." Sahut sang presdir.


"Hehe...yasudah silahkan temui bu Ester." Ujar sang asisten seraya tersenyum jahil.


"Baik tuan. Permisi." Nuriva melangkah keluar ruangan presdir dengan riang gembira.


"Tunggu.."


Aduh...ada apalagi ini??? Batin Nuriva.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2