Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
65. Operasi


__ADS_3

Gedung besar dengan cat dominan warna putih, tirai-tirai yang berwarna hijau. Bau khas pengharum lantai serta jajaran kursi tunggu yang memenuhi lorong.


Aku terduduk kaku. Menatap nanar pintu ruang operasi di depan ku. Hilir mudik perawat seolah tak terlihat, hanya bayangan percakapan terakhir ku bersama ayah yang kini terus menerus terngiang, berjejal memenuhi otak dan hati ku.


[Yasudah gak apa-apa kalau kakak gak pulang. Tetap semangat dan hati-hati ya. Ayah selalu do'ain kakak. Jangan lupa kalau pulang nanti kasih perhatian lebih ke Fani. Terus rukun sama adikmu ya kak...]


Rasanya baru kemarin kami mengobrol. Baru kemarin ayah mengajari ku naik motor. Baru kemarin beliau melepas ku balik kerja sembari berkaca-kaca menahan air matanya.


"Terima kasih nak......" Ucap tante Mina menggantung.


"Vero. Panggil saja Vero tante." Tukas kak Vero yang terdengar samar di telinga ku.


"Terima kasih nak Vero sudah membantu kami... Terima kasih sudah bersedia membayar operasi ibu Anya..... Terima kasih sudah........Hiks...."


"Tante sudah. Jangan bilang terima kasih lagi. Anya ini sudah saya anggap adik saya sendiri." Tukas kak Vero lagi.


Mereka di samping ku, namun perkataan mereka sama sekali tak membuat ku bergeming. Aku tetap diam dengan tatapan kosong tanpa tujuan.


Hanya ada tante Mina di sini ketika kami sampai. Suami tante Mina bekerja merantau, sedangkan anak tunggalnya tengah kuliah di kota B.


Beberapa menit kemudian dua orang polisi datang. Mereka bercakap-cakap serius dengan tante Mina dan kak Vero.


Aku tak tau lagi harus bagaimana. Mengapa semua ini terjadi? Lalu siapa yang akan bertanggung jawab?!


Tengah malam tadi, hatiku hampa penuh sesak ketika melihat tubuh kaku ayah di kamar jenazah. Lutut ku lemas bagai tak bertulang kala memandang wajah ayah yang pucat pasi tak di aliri darah.


Aku menangis histeris. Meraung dan menjerit mengeluarkan sesak emosi di dada ku hingga pandangan ku kian menggelap. Aku pingsan dalam pelukan tante Mina.


Ketika aku bangun, kuharap semua ini hanya mimpi. Mimpi buruk yang tak pernah ku harapkan akan menjadi nyata. Namun semua sia-sia, bagai Gada pangeran Bima yang memukul keras kesadaran ku.


Bahwasannya ini.


Adalah kenyataan pahit yang harus ku hadapi.


Pukul lima pagi. Kata tante Mina aku pingsan hampir dua jam. Aku mengambil wudhu, lalu sholat subuh walau sedikit terlambat.


Air mata lagi-lagi mengalir deras. Di antara bacaan sujud juga duduk tahiyat akhir ku.


Aku merunduk dalam ketika menengadahkan do'a. Meratap penuh emosi pada sang ilahi.

__ADS_1


Ayah yang kucintai kini tak ada lagi.


Dan kini. Aku menatap kosong lampu ruang OK yang sedetik lalu berubah menjadi warna hijau. Pertanda operasi ibu telah selesai.


Kepala ibu menghantam aspal jalanan hingga memerlukan dua kali operasi dengan biaya yang tak mungkin sedikit. Beruntung ada kak Vero, ia dengan sigap dan cekatan mengurus semua hal, sementara tante Mina sibuk menenangkan ku.


"Keluarga pasien bu Ami..! Alhamdulillah operasi pertama berjalan lancar." Ucap seorang dokter yang baru keluar dari ruang operasi. Wajahnya nampak lelah, tapi senyum manisnya tetap terukir kala berhasil dalam tugasnya.


"Alhamdulillah...ibumu sebentar lagi pasti sembuh Nya." Ujar tante Mina sembari mengelus lengan ku.


Aku lega. Namun tak dapat lagi tersenyum lebar. Setengah jam kemudian Kak Vero datang membawa sarapan pagi sementara tante Mina pamit pulang untuk mengurus pemakaman ayah.


Tubuh ku lunglai, bersandar pada dinding rumah sakit ini.


"Lo harus makan. Lo harus kuat. Lo masih punya ibu yang harus lo jaga. Masih punya adik yang harus lo kasih perhatian. Makan Nya." Suara pelan kak Vero mengalir halus di telinga ku.


Pelan tapi pasti, aku menyendok nasi pecel di hadapan ku dengan berlinang air mata. Mengecap dengan enggan. Kunyahan demi kunyahan makanan yang terasa hambar serasa kebas di lidah dan mulut ku.


Kenapa?? Kenapa ayah? Kenapa ibu? Kenapa Fani? Kenapa bukan aku saja ?!? Batin ku.


Aku hanya sanggup menghabiskan separuh porsi, lalu meminum setengah botol kecil air mineral yang di beli kak Vero untuk ku.


"Good. Lu temani Anya sebentar ya, gue tinggal dulu." Kak Vero pamit, kemudian menghilang dari pandangan ku.


"Sabar ya Nya....gue turut berduka.." Ucap kak Selly sembari mengelus punggung ku.


Jam delapan pagi ibu di pindahkan ke ruang perawatan. Kata dokter ibu tak boleh berfikir berat dan kami harus terus memotivasinya agar cepat sembuh.


"Assalamu'alaikum bu... Ini Anya, Anya pulang bu.... Ibu cepat sembuh ya, biar kita bisa rawat Fani sama-sama... Anya sayang ibu........" Air mata ku terus mengalir saat berbicara. Entah ibu mendengar atau tidak, namun aku tetap berbicara meski dengan suara serak dan tercekat.


Aku memperhatikan ruangan tunggal yang di tempati ibu. Bukankah ini ruang VIP? Ada sofa panjang, televisi, juga kamar mandi dalam.


"Tenang Nya. Nyonya Vero sudah mengatur semuanya." Jelas kak Selly ketika melihat ku mengernyit beberapa kali.


"Oh iya, makasih ya...kalian semua sudah menemani ku dari semalam...." Aku baru tersadar, kalau aku di sini tak sendiri. Ada kak Vero dan beberapa pengawalnya yang telah mengurus semuanya untuk ku.


"Of course. Sudah tugas kami." Kak Selly tersenyum hangat, membuat ku ikut tersenyum memandang wajah lelahnya yang nampak begitu tulus.


"Kakak pasti belum tidur kan? Tidur aja di ranjang sebelah ibu kak. Aku mau ngobrol lagi sama ibu." Ujar ku sedikit terharu. Pengawal-pengawal kak Vero yang sangat loyal dengan pekerjaan mereka.

__ADS_1


.


.


.


Sebuah hotel bintang lima di kota J.


Lantai tertinggi yang hanya di isi lima kamar suite di dalamnya.


Seorang lelaki dan wanita paruh baya tengah duduk anggun sambil menerima laporan dari seorang pengawalnya.


"Jadi dia belum mati? Dasar bod*h, begitu saja kalian gagal..!" Maki sang wanita dengan begitu geram. Ia bahkan melempar gelas kaca di tangannya ke atas lantai.


"Slow baby. Tenang. Suaminya meninggal dan anaknya koma, aku yakin habis ini wanita tua itu juga lebih memilih mati menyusul suaminya, hahaha..." Tukas si lelaki dengan tertawa dan menyeringai tajam menatap wanitanya.


"Kamu benar sayang. Dan selanjutnya tak ada lagi bukti atau saksi yang bisa mengganggu kita untuk menguasai HG Corp." Ucap sang wanita seraya mengubah posisi duduk nya lebih dekat menempel pada si lelaki.


"Bagaimana dengan berkas yang kalian cari?" Tanya si lelaki pada pengawal yang melapor.


"Semalam kami sudah menggeledah rumahnya, tapi nihil tuan. Tidak ada berkas apapun di sana, hanya buku-buku pelajaran dan beberapa koran bekas yang kami temukan tuan." Lapor pengawal lain yang baru masuk ke ruangan ini.


"Breng**k. Di mana wanita tua itu menyimpan nya?!?" Sahut sang wanita kembali emosi.


"Ssttt...tenanglah baby, setelah dia siuman kita paksa dia buka mulut, oke. Sekarang lebih baik kita buka-bukaan dulu. Kalian boleh keluar." Ucap si lelaki sembari melepas sebuah jas mewah yang melekat di tubuhnya.


Setelah pengawal pergi si lelaki mencium bibir sang wanita dengan rakus, kemudian membopongnya menuju ke kamar utama.


"Apa kau yakin berkas itu ada pada wanita tua itu sayang?" Tanya sang wanita seraya mengalungkan lengannya ke leher si lelaki.


"Yakin sekali. Hanya dia yang dekat dengan ayah mertua mu itu bukan.." Jawab si lelaki sembari menutup pintu lalu melempar tubuh sang wanita ke atas ranjang.


"Kau benar. Ahh......" Desah sang wanita kemudian.


Kedua manusia yang sudah gelap mata dan nafsu ini menuntaskan hasrat mereka. Saling memagut dan meraih kenikmatan bersama. Tak peduli pada orang-orang yang telah mereka sakiti. Juga tak memikirkan nasib keluarga yang telah mereka hancurkan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2