Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
45. Pizza


__ADS_3

Pukul 21.15


"Nya, sudah sampai kos..." Kak Selly membangunkan ku yang tertidur di mobilnya.


Satu jam yang lalu hujan turun, jadi kak Selly mengantarku pulang menggunakan mobilnya.


Aku menggeliat pelan, mengerjap dan menguap tanpa sadar. "Astaghfirullah.. Duhh,,maaf ya kak, gue malah ketiduran.."


"Gak apa-apa Nya,. Makasih banget ya buat hari ini. Nih hadiah dari Vero buat lu." Kak Selly mengambil sebuah paper bag dari kursi penumpang, kemudian menyerahkannya padaku.


"Apa nih kak? Ya Allah ada-ada aja... Boleh gue buka?" Kak Selly tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan ku.


Ada dua buah kemeja dan sebuah outer bunga-bunga merah yang begitu cantik di dalamnya. "Wah.. makasih banget ya kak..." Ucapku senang.


"Oke. Kata Vero lu harus sering-sering chat atau langsung main ke rumahnya.''


"Siap kak." Aku turun, lalu menyebrang jalan dan melewati bundaran. Ada anak-anak non-shift, Zumi, dan juga Putri di sana.


Warung bu Ratmi dan toko ibu kos masih ramai. Aku memutuskan untuk langsung naik ke atas.


"OMG... dari mana lu Nya? Tampilan lu kayak anak kuliahan gitu." Tanya Monik ketika ia keluar kamar dan aku hendak membuka pintu kamarku.


"Dari rumah kak Vero. Lu sendiri mau kemana udah dandan cantik malam-malam gini?" Tanyaku balik.


"Kencan lah. Makanya kalau di ajak cowok lu kencan mau aja, enak loh, hihihii..." Ledek Monik sembari berjalan melewatiku.


"Sialan Lu..! Tiati Mon, jangan begadang, besok masih kerja..!!" Teriakku pada Monik yang hanya dia jawab dengan lambaian tangan.


"Anyaa...!! Akhirnya lu pulang juga.!" Teriak Kia.


"Panjang umur lu Nya." Ucap Inda.


"Lu emang the best Nya." Ujar Ike seraya menunjukkan beberapa kotak pizza di atas meja.


"Kalian ini kenapa? Gue pulang kok heboh bener.. Terus ini siapa yang beli?.." Aku bertanya sembari meletakkan paper bag di samping almari ku.


"Teman lu. Gara. Dia delivery order ke kos kita." Ucap Ike, membuatku terdiam kaget.


What? Apa? Apalagi sekarang? Batinku.


"Iya, 25 kotak pizza tau gak? Udah gue bagi ke bu kos sama bu Ratmi juga.'' Ujar Inda, membuatku semakin terbelalak kaget, dengan dahi yang mengkerut heran.


"Tenang, kita bilang ke mereka kalau ini traktiran dari elu, jadi lu aman, gak bakal di tanyain aneh-aneh sama mereka." Ucapan Kia membuatku menghela napas lega. Aku mengambil air minum, lalu meminumnya perlahan sampai tandas.


Gara.. Gara... apa-apaan sih dia ini? Kenapa tiba-tiba ngirim pizza sebanyak ini? Apa dia tau kakaknya sembuh? Atau.............Batinku.


Aku terduduk di sebelah Kia sambil terus berpikir, menganalisis keadaan.


"Tadi pas lu masih di luar, si Gara telfon lu terus, jadi gue yang angkat." Aku reflek langsung menoleh ke arah Kia. Menantikan kelanjutan ucapannya.


"Dia tanya ada berapa orang di kos lu, terus mau kirim makanan sebagai tasyakuran atas kesembuhan kakaknya." Aku bernafas lega setelah mendengar penjelasan Kia.


"Oh gitu.. iya sih, nih gue juga dari rumah kak Vero, baju gue kotor, jadi kak Vero kasih baju jaman kuliahnya dulu ke gue, kebetulan pas." Aku mulai membuka kotak pizza di depanku.


"Eh itu bukan punya lu Nya.." Ike langsung menutup pizza yang mulai ku buka.


"Lah terus punya siapa? Punya gue yang mana dong.." Protes ku, sembari melayangkan tatapan kesal ke arah Ike.


"Punya anak baru, nah itu dia muncul.." Kali ini Inda yang menjawab, tepat ketika seseorang muncul di balik pintu kamar kami.


"Hai.. gue Yessi, lu pasti Anya kan? Gue juga sif B, tapi di N-1.." Ucap Yessi memperkenalkan dirinya.


"Hai juga.. iya gue Anya..." Kemudian aku menoleh ke arah Ike kembali. "Terus punya gue mana? Masak gue gak kebagian..."

__ADS_1


"Anya sayang.. nih bagian lu.. spesial tanpa keju." Kia meletakkan satu kotak pizza berukuran besar ke hadapanku. Tanpa sadar dadaku berdebar dan aku pun tersenyum lebar tanpa suara.


"Ciah dia senyum malu gaes.." Sahut Ike yang langsung mendapat tatapan sinis dariku.


"Gue rasa si Gara ini suka deh Nya sama lu. Sampai ingat kalau lu gak suka keju.." Ujar Inda seraya ikut mengamati ku yang mulai membuka kotak pizza di depanku.


"Ya gak mungkin lah Inda sayang...wong dia udah punya pacar, gue juga punya pacar." Balasku tanpa menoleh ke arah mereka yang nampaknya saling melempar senyum satu sama lain.


"Eh, ada suratnya.." Kia langsung mengambil kartu ucapan di sisi kanan kotak pizza yang kubuka.


"Baca Ya, baca."


"Baca yang keras."


Inda dan Ike heboh sekali, sedangkan Yessi hanya tertawa melihat tingkah kami.


"Ekhem.. Khem..." Kia mulai bersuara. "Hai Sora, Gue tau, tak ada kata terima kasih untuk teman. Tapi gue tetap berterima kasih buat lu yang udah nepatin janji buat jadi teman baik kakak gue. Thank You. Kakak udah sembuh dan gue lulus skripsi S2. Ini adalah tasyakuran gue buat itu. So, semoga lu suka." Kia melirik ku dari balik bulu matanya ketika selesai membacakan kartu ucapan dari Gara.


"Ciyeeee...." Mereka kompak menyoraki ku. Membuatku tersenyum makin lebar dan langsung mencomot sepotong pizza di depanku.


Sweet banget sih si Gara ini. Hmmm.. fix, nih cowok pasti pacarnya banyak.. Gara juga pasti bukan orang sembarangan. Tapi, kenapa dia bohongin gue ya?? Batinku.


.


.


...----------------...


Keesokan harinya.


Kami semua pulang kerja dengan penuh semangat. Ini hari sabtu, kami bekerja setengah hari dan besok adalah hari libur.


Putri dan Zumy sudah siap berangkat mudik ketika aku, Yessi, dan Monik sampai di depan kos.


Yessi sampai duluan. Kemudian aku, lalu Monik.


Akhirnya aku dan Monik memutuskan untuk mandi di kamar mandi bawah.


"Males banget Nya. Kamar mandinya kotor." Keluh Monik ketika kami sampai di kamar mandi bawah.


"Yaudah lu mandi aja dulu, nanti gue bersihin, hari ini piket gue kan.. gue mau ke toko dulu, sampo gue abis." Ucapku santai, kemudian berjalan beberapa langkah menuju toko ibu kos.


.


.


...----------------...


Pukul 14.00


Aku menunggu kak Arya di ujung anak tangga bawah. Kak Arya juga setengah hari, jadi kemungkinan sebentar lagi dia sampai di kosku.


Drrttt...Drrrtt..


Nada dering ponselku berbunyi. Dari nomor baru.


Hai Nya. Ini gue, Veronika.. Lu jadi pulang kampung sekarang?


Hai juga kak.. Iya ini udah mau otw.


Sama siapa? Pacar lu?


Iya kak.. hehe...

__ADS_1


Kapan-kapan gue boleh ya ikut lu pulang?


Hah serius? Iya kak, boleh...


Kami mengobrol seru sampai ku dengar suara motor terparkir di depan pintu kos.


Aku mengakhiri panggilan kemudian berjalan keluar.


Kak Arya datang dengan setelan kantornya. kemeja putih yang kancing atasnya terbuka dua biji, dengan jas merah yang membuat penampilannya makin mempesona.


"Lu makin cantik Nya pakai outer bunga-bunga merah gini.." Puji kak Arya ketika aku memakai helm dan menaiki motornya.


"Kakak juga makin keren pakai jas begini. Pasti cewek-cewek di kantor pada terpesona.." Kak Arya tersenyum lebih lebar mendengar pujianku.


Dasar. Pasti banyak nih cewek kantor yang naksir dia. Batinku.


"Iya yang naksir banyak, tapi yang bisa bikin gue jatuh hati cuma Anya Zahrotul Jannah.." Kak Arya terkekeh melihatku mengerucutkan bibir mendengar gombalannya.


"Gak mau di gombalin, maunya di kasih cinta tiada akhir." Balasku sembari meletakkan tas ranselku ke pelukanku.


"Hahaha... eh sayang, tas lu taruh sini aja. Nah, begini lebih nyaman kan?" Kak Arya mengambil tasku kemudian menaruhnya di depan di antara kakinya.


"Kaki lu aman? Nanti kesemutan loh kena tas gue.." Ujarku khawatir.


"Santai aja. Sini naik, peluk ya biar gak jatuh."


"Modus lu."


"Ya Allah gini amat ya pacaran sama orang yang terlanjur akrab, berasa sahabatan tau daripada pacaran." Keluh kak Arya sebelum menjalankan motornya, membuatku terkekeh geli mendengarnya.


"Yang sabar ya bos.." Ledek ku, dengan meniru suara kartun Sopo Jarwo.


"Suka-suka tuan putri Anya sajalah...." Balas kak Arya sembari menambah kecepatan laju motornya.


"Kak jangan ngebut..!" Teriak ku cemas.


"Pegangan Nya..!" Kak Arya meletakkan tanganku melingkari pinggangnya. Menempelkannya erat, hingga dadaku otomatis menabrak punggungnya.


Aku berdebar. nafasku tersendat, dan lenganku terasa mendingin. Ini pertama kali aku bisa sedekat ini dengan lawan jenis. Bulan lalu saat kami pulang bersama, tasku ada di tengah, namun sekarang sungguh berbeda.


Kak Arya tampak menikmati perjalanan ini. Ia memilih rute jalan alternatif yang lebih banyak jalannya yang berlubang.


Ah, ini sungguh tak nyaman bagiku, namun bagaimana caraku mengatakannya?


Sampai kemudian kami melewati pinggiran hutan, lalu kak Arya berhenti disebuah wisata perbukitan yang gerbangnya bertuliskan 'Bukit Asmara'.


Tempat apa ini? Ramai, namun terkesan sepi di beberapa sudut. Kenapa kak Arya berhenti di sini? Batinku.


"Yuk naik, gue mau tunjukin sesuatu yang indah di atas sana." Kak Arya menunjuk salah satu bukit, lalu mengenggam tanganku untuk melangkah mengikutinya.


"Kak, gue merinding nih. Langsung pulang aja yuk.." Keluhku seraya memandang sekeliling kami. Hanya ada beberapa pasang anak muda yang duduk santai di depan pondok-pondok kecil dan ayunan yang berjajar di antara pohon pinus.


"Sebentar doang Nya. Ayolah...."


Aku terpaksa mengikuti langkah kak Arya.


Ya Allah..semoga ini cuma perasaanku saja. Kak Arya sedikit berubah sejak menjemput ku tadi. Batinku.


.


.


.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2