Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
7. Melamar kerja..


__ADS_3

"Nya Gue berangkat kerja dulu. Nanti jangan sampai telat. Gue udah ngomong sama Hilda tadi kalau kalian bakal berangkat bareng dia."


"Oke. Thanks ya Nis."


Ini masih pukul 05.20 dan Anis sudah berangkat sif pagi.


Kulihat di depan kos banyak juga yang lewat memakai seragam yang sama dengan Anis.


Aku berjalan ke depan, mengamati beberapa pedagang nasi bungkus yang mulai ramai pembeli. Oh rupanya mereka berangkat sekaligus membeli sarapan, menghemat waktu karena ini masih sangat pagi.


"Nya aku udah selesai." Teriak Kia setelah keluar dari kamar mandi. Aku bergegas masuk, mengambil handuk, sabun mandi dan baju ganti lalu masuk ke kamar mandi.


10 menit kemudian aku keluar. Sepi. Hanya 2 orang berada di teras kos, yang satu memakan camilan, yang satu menguncir rambutnya.


Aku memasuki kamar Anis, menyisir rambut, memakai bedak dan lipgloss pink favoritku.


"Nya ayo sini sarapan..!!", teriak Kia dari ruang tengah.


"Oke. Otw."


Rupanya tadi dia dan Hilda membeli nasi bungkus untuk kami sarapan. Aku berjalan ke arah mereka, kulihat Hilda masih sibuk dengan ponselnya sedangkan Kia membuka nasi bungkus di hadapannya.


"Beli dimana?", Tanyaku singkat.


"Di warung sebelah gang dekat gapura Nya. Katanya enak, bersih, murah lagi," Ucap Kia sambil menuangkan air minum.


"Bye sayang. Muach." Hilda mengakhiri panggilan di ponselnya dengan berseri-seri. "Maaf ya, tadi pacar gue baru pulang dari luar kota, katanya kangen banget makanya telfon lama, hehe", jelasnya.


"Oke. santai aja," Ucapku datar dan Kia hanya tersenyum simpul menanggapinya.


"By the way kalian udah lama kenal sama Anis?", tanya Hilda.


"Lumayan lama, dia teman kami dari SMP," jawab Kia.


"Wah lama juga yaa.. kalian udah tau pacarnya Anis donk?", tanya lagi Hilda.


"Belum." Jawabku singkat. Aku tak begitu suka orang yang baru kenal lalu menanyakan hal yang menjadi privacy orang lain.


Kia melirik sesaat, menyadari perubahan ekspresi tak suka dari ku, "Udah yok makan dulu, udah siang ini, jangan sampai kita telat nanti," ucapnya kemudian.


Kami makan dengan diam. Kia selesai paling akhir dari kami, lalu dengan cekatan membereskan piring dan gelas kami ke belakang.


Hilda masih sesekali sibuk membalas pesan di ponselnya, lalu tiba-tiba menatapku tajam. Mengerutkan kening, lalu menatap layar ponselnya kembali.


Kenapa sih ni anak? Tadi nanyain pacar Anis, sekarang melihatku seperti melihat keajaiban dunia. Heran. Batinku.

__ADS_1


"Nya, maaf nih ya, ini beneran elu apa bukan?" tanya Hilda sambil mendekatkan layar ponselnya ke hadapanku.


"Loh. Darimana lo dapet foto ini Hil?" ucapku heran.


Gila. Siapa yang kemarin fotoin aku yang hampir oleng ketabrak orang narsis? Pas banget lagi aku berhadapan sama dia kayak lagi mau tawuran. Dia menatap tajam, aku menatap kesal. OMG. Batinku kesal.


"Jadi ini beneran elu? Wah hebat lu Nya." Ucap Hilda sambil nyengir gak jelas.


"Hebat apanya? Itu kemarin gue bercanda sama Kia sama Anis, trus gue gak sengaja nabrak dia. Dia kesel gue tabrak terus gue dongkol karena dia narsis abis." Jelasku.


"Tapi foto ini jadi viral di tempat kerja gue Nya. Lihat nih caption postingannya. 'Baru kali ini bos di tabrak cewek malah senyum-senyum sendiri'. Tuh kan Nya, walaupun muka elu di blur, tapi gue ingat kemarin Anis cerita kalau elu nabrak orang ganteng, jadi ini elu. Wahh..." Hilda malah bercerita panjang lebar.


"Emangnya dia siapa Hil?" Tanyaku heran.


"Gue gak tau dia siapa. Tapi kemarin dia datang bawa asistennya, beli motor cash terus langsung pergi gitu aja, asistennya bilang bos ada urusan urgent jadi terpaksa pakai motor. Gila gak tuh. Ada urusan urgent langsung beli motor baru kayak kita beli nasi bungkus aja..." Hilda bercerita dengan kecepatan maximal lambe turah.


Kia yang baru datang dan kembali duduk di sampingku jadi melongo melihat Hilda bicara.


"Hilda ngomongin apa sih?" tanyanya heran.


"Pelanggannya kemarin siang." Ucapku singkat.


"Udah yok berangkat. Hil udah ya stop jangan cerita kalau itu gue. Oke?," pintaku pada Hilda.


Akhirnya kami berangkat dengan tenang. Sesekali Kia bertanya tentang beberapa gang yang kami lewati. Beberapa lelaki menyapa Hilda ramah, sekedar tersenyum, menganggukkan kepala, atau say hay basa-basi.


Tiba di jalan raya bundaran pertama aku dan Kia terperangah kaget. Bundaran ternyata sangat ramai, ada banyak pedagang keliling yang menjajakan beragam masakan dan pernak pernik wanita, warung-warung kecil, juga banyaknya motor yang terparkir di trotoar jalan. Ini lebih mirip pasar kaget daripada jalan raya dengan satu bundaran di tengahnya.


"Kia, Anya, ayo...," Hilda menarik tanganku dan Kia ketika menyebrang jalan.


Kulihat beberapa pasangan duduk berjajar di dekat pedagang nasi pecel. Beberapa berseragam coklet muda dan kuning duduk melingkar di warung di kanan jalan. Ada juga yang berseragam hitam putih seperti Anis tadi sedang mengantri membeli gorengan. Yah kurasa mulai sekarang kami harus membiasakan diri dengan pemandangan seperti ini.


"Kalian udah tau kan kantornya yang mana?," tanya Hilda ketika kami sampai di depan dealer tempat kerjanya.


"Udah. Thanks ya Hil udah mau bareng kita," Ucap Kia.


"Santai aja. Kita sama-sama anak rantau harus saling bantu kan?", ucapnya kemudian berpamitan pada kami dan langsung masuk ke pelataran parkir dealer.


Aku dan Kia melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa langkah. Dari sini terlihat kantor yang kami tuju telah penuh dengan anak-anak dengan pakaian hitam putih seperti kami.


"Nya gimana? Masuk sekarang apa nanti dulu? Ini masih jam tujuh kurang," tanya Kia sambil melihat jam di ponselnya.


"Udah ayo masuk aja. Kita bisa kenalan sama mereka dulu sambil nunggu tesnya dimulai. Banyak teman banyak rejeki Ya," ucapku kemudian berjalan masuk. Kia mengikutiku sambil menebar senyum ramah.


"Hai, mau melamar kerja juga?" sapa seorang gadis cantik di sampingku.

__ADS_1


"Iya, kamu juga? Dari kota mana?" jawabku.


"Aku dari kota T, kalian dari mana?" tanyanya ramah.


"Aku dari kota J. Namaku Anya, ini temanku Kia," ucapku sambil mengulurkan tangan menjabat tangannya.


"Aku Monica, panggil aja Ocha. Udah ayo sini duduk di belakangku, masih kosong kok," ucapnya sambil menggeser sedikit tempat duduknya, memberi kami jalan untuk lewat ke belakang kursinya.


"Oke. Thanks ya," ucapku kemudian.


Kami sedikit berkenalan dengan orang-orang di sebelah kiri kanan kami, sampai kemudian sebuah suara membuat kami diam seketika.


"Selamat pagi semua. Nama saya Doni, saya hari ini yang bertanggung jawab untuk tes lamaran kerja kalian semua. Are you ready?", ucap pak Doni singkat, padat, jelas.


"Of course pak,"


"Ready pak,"


"Ok pak,"


Jawab kami serentak. Kemudian orang di belakang kami membagikan dua lembar kertas ke setiap meja kami.


"Lembar pertama kalian isi biodata kalian, alasan kalian memilih bekerja di sini, plus siapa orang yang merekomendasikan tempat ini untuk kalian." Pak Doni menjelaskan kemudian beralih menatap kami semua. Pandangannya berhenti di sebelahku. Yups. You know why? Kia. Pandangannya terkunci di wajah Kia yang hari ini tampak sangat imut dengan sedikit eye liner dan lipgloss peach kesukaannya.


Aku sedikit menyenggol lengannya.


"Apaan sih Nya?", bisiknya padaku.


"Tuh dilihatin babang Doni.." ucapku sambil menahan tawa.


"Sialan lu. Udah pura-pura gak tau aja, ayo isi jawaban lalu mari kita hidup dengan tenang," ucap Kia ngelantur.


"Yakin bisa hidup tenang? Tuh bahasamu udah ketular juga kan sama Hilda..," bisikku.


"Pssst, udah deh Nya nanti aja kalau mau ribut." ucap Kia kesal. Dia melempar tip-ek ke atas kertasku sambil mendelik tajam.


Aku tertawa kecil tanpa suara lalu menempelkan ujung jari telunjukku ke ibu jari, membentuk lingkaran kecil isyarat tanda mengatakan 'Oke' untuk membalasnya.


Kia diam. Aku diam. Kami semua diam. Sibuk dengan kertas masing-masing seperti sedang mengerjakan ulangan harian.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2