Kenapa Harus Aku..?.!?

Kenapa Harus Aku..?.!?
20. Nonshift


__ADS_3

Sepuluh menit berlalu seakan satu jam. Lama sekali. Lenganku kaku tatkala mengikuti mie yang bergerak. Aku bingung, bagaimana meletakkan bumbu dengan pas sementara mie-mie terus berjalan.


"Haha bingung ya. Santai saja. jangan mengikuti mie yang mengalir, nanti malah bikin pusing. Fokus mie di depan kamu saja, kalau terlewat biarkan, pasang saja di atas mie yang lewat selanjutnya." Ujar kak Mela mengingatkan.


"Mengalir bagai air. Hahaha, Missingnya jangan banyak-banyak ya dek.." Ucap Friska ikut mengingatkan.


Oh ternyata ini tak mudah. Mataku sedikit berkunang-kunang karena terus melihat mie yang terlewat di hadapanku.


"Santai dek. Santai. Mau minum dulu gak?" Tanya kak Mela perhatian.


"Enggak kak. Aku cuma belum terbiasa melihat banyak mie terlewat di depanku." Ucapku jujur.


"Rileks dek. Yang lewat biarkan, nanti gue bantuin ngisi, fokus yang lewat di belakangnya saja langsung isi. Nih mau permen? Biar gak kaku", Ucap kak Lani kemudian melempar dua bungkus permen ke arahku dan kak Mela.


Friska dan Yayuk tertawa kecil melihat ekspresiku. Kurasa Yayuk juga masih baru, tangannya belum bisa secepat Friska dalam menangani minyak, masih sering terlewat.


"Semangat Nya, ayo semangat. Gue juga masih baru tiga minggu di sini." Ucap Yayuk kemudian mengambil sesuatu dari kantung celananya. Ternyata dia juga membawa permen.


"Gak papa nih makan permen?" Tanyaku pada Yayuk.


"Gak papa asal gak ketahuan bu Eliza, ibu Quality Control yang tiap dua jam sekali berkeliling. Haha," Kak Mela yang menjawab pertanyaanku saat ini.


"Kak aku buka permen dulu ya," Ucap Yayuk pada Friska.


"Iya. Ambil kantung minyak sekalian ya, minyakku udah mau habis ini." Ujar Friska seraya menumpuk lebih banyak minyak di mejanya. "Go, now.!"


Secepat kilat Yayuk langsung membuka bungkus permen di tangannya. Melepas masker sebentar lalu memasukkan permen itu ke mulutnya. Memasang masker lagi lalu menyimpan bungkus permen ke saku celananya.


Yayuk kemudian berlari ke belakang melewati mesin packing, lurus melewati karton sampai mentok ke tembok gudang. Aku tak dapat melihatnya karena terhalang beberapa karton juga bapak operator yang mengutak-atik tombol speed mesin 27.


"Anya tolong pindah ke tempat Yayuk. Minyakku menipis!" Seru Friska.


Aku langsung bergeser ke tempat Yayuk tadi berdiri dan mencoba memasang minyak seperti yang dilakukan Friska.


"Santai dek santai. Tenang ya, pasang minyak harus tenang, kalau terburu-buru malah meleset jatuh semua nanti minyaknya." Teriak kak Lani mengingatkanku yang sedang berdebar cemas karena minyak yang kuletakkan di atas mie banyak yang meleset tidak bisa pas di tengah badan mie.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian Yayuk muncul membawa satu plastik besar berisi minyak-minyak kecil. Dia membuka ikatan plastik lalu menuangkan seperempat isinya ke cekungan konveyor luar di depan perutku.


"Thank Anya. Silahkan kembali.." Ucap Yayuk seraya tersenyum senang.


Aku bergeser kembali ke tempatku dengan sangat berdebar. Pasang minyak lebih sulit dibanding pasang bumbu. Banyak yang meleset tapi itu lebih baik daripada kosong semua.


Kak Mela dan Friska tertawa melihatku yang mengelus dada setelah sampai di posisiku semula.


"Kaget ya dek? Itu kalau minyak habis memang sering heboh. Yang bertugas mengambil minyak di dekat gudang harus cepat agar pasangannya tidak keteteran." Terang kak Mela padaku.


"Mau minum gak? Kasihan.. " Yayuk merasa prihatin melihatku.


"Ris tolong temani adeknya Mela minum dong..." Teriak Friska ke arah teman-temannya di mesin tengah, mesin 26.


"Oke kak. Ayo ikut gue minum.." Balas salah seorang operator mesin 26 sambil berteriak ke arahku.


kak Mela mempersilahkanku untuk minum dengan isyarat kepalanya yang digerakkan sedikit mengikuti langkah kaki operator yang mengajakku minum.


Aku mengikutinya keluar dari area line sembilan. Berjalan di belakangnya melewati line sepuluh, sebelas, dan seterusnya sampai line dua puluh lima lalu berbelok ke kanan menuju tempat minum.


"Lu Anya ya. Gue Risa, gue masuk bareng sama Yayuk." Ucapnya sambil memutar kran minum lalu meletakkan gelas kosong dibawahnya.


Kami minum dengan cepat. Beberapa operator juga masuk dan keluar tempat ini dengan tertib tanpa obrolan panjang.


"Betah-betahin ya disini. Line sembilan orangnya asik-asik kok. Cuma agak galak kalau sif malam. Haha.." Ucap Risa setelah kami keluar dari area minum.


Kami berjalan kembali ke line sembilan. Risa kembali ke mesinnya dan akupun kembali ke mesinku.


.


.


.


Pukul 11.45 kami dipersilahkan istirahat sholat dan makan. Aku bersama Feni berjalan beriringan bersama kerumunan operator line sembilan lainnya menuju ke kantin.

__ADS_1


"Nya kaki gue pegel banget tau. Kaki lu gimana?" Tanya Feni setelah kami semua sampai di depan kantin dan berpencar mencari tempat duduk yang masih kosong.


"Sama aja Fen, kaki gue juga pegel, tapi kepala udah gak pusing." Jawabku setelah duduk di sampingnya.


"Gue masih agak pusing Nya. Oiya, besok kita sif sore, gimna orang-orangnya ya Nya? Gue takut nanti mereka judes dan sinis lagi, atau suka marah-marah..." Ucap Feni sambil mulai memakan makanannya.


" Sudah jangan difikirkan. Hadapi saja besok. Semoga orang-orangnya juga welcome seperti sif ini." Ucapku menenangkan Feni.


Feni tak menjawab. Dia masih mengunyah makanannya sembari menatap kosong piring di depannya. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang cukup ramai.


Dari jauh di sudut musholla besar aku melihat beberapa orang yang berjalan bersama bu Sonia. Aku menilik lebih tajam agar aku bisa melihat apakah ada Kia diantara mereka.


"Lihatin apa sih Nya?" Tanya Feni.


"Itu, anak baru yang sama bu Sonia di musholla. Kali aja ada teman gue." Ucapku kemudian meminum segelas es teh manis sampai tandas.


"Oh mereka itu nonshift Nya." Ucap Feni mengagetkanku. Membuatku langsung menoleh ke arahnya.


"Apa itu nonshift? Darimana lo tau?"


"Nonshift itu masuk pagi terus, gak ada sif dua sif tiga. Gue tahu kemarin dari teman gue di N-1, katanya bagian BS membutuhkan banyak personil nonshift." Jelas Feni kemudian menghabiskan minumannya.


"Oh gitu. Balik yuk, kita sholat dluhur dulu." Ajakku.


"Lo duluan aja, gue lagi halangan," Ucap Feni sambil mengeluarkan ponselnya.


"Oh oke. Gue duluan ya." Ucapku kemudian meninggalkan Feni sendiri di mejanya.


Aku melangkah menuju gedung N-2 kembali. Di depan ruang loker ada toilet besar, juga dua ruangan kosong yang bisa digunakan untuk sholat.


Aku melepas sepatu dak kaoskaki. Meletakkannya di loker lalu masuk ke barisan toilet yang cukup ramai.


Selesai buang air aku menuju beberapa kran air di luar toilet. Mengambil wudlu lalu berjalan lima langkah menuju ruangan kosong yang kini telah terisi beberapa orang yang melaksanakan sholat dluhur.


Aku mengambil mukena lalu memakainya di sisi kanan ruangan yang masih kosong.

__ADS_1


Aku bersyukur berada di tempat ini. Walau belum mengenal banyak orang tapi mereka cukup ramah dan mengerti dengan kondisi 'anak baru' di lingkungannya.


Semoga besok lebih baik lagi. Semoga besok lebih semangat lagi. Semoga besok aku bisa mengerjakan bagianku dengan baik. Do'aku di akhir sujudku.


__ADS_2